The Drop In
Vlog — pagi. Kamera handheld, Lukas naik ojol. Jalanan Bekasi mulai padat, suara motor bersahut, pedagang sarapan sibuk. Lukas pakai helm hijau pinjaman driver, senyum lebar ke kamera.
“Good morning, everyone! Guess what—yesterday’s vlog went crazy! Everyone’s asking, What is Bekasi? What is Indonesia like? Well… let me show you on my ride to work.”
Ia miringkan kamera ke driver ojol di depannya. Driver melirik kamera, senyum ramah.
OJOL DRIVER (tatapan fokus ke depan): “Hello Mister YouTube! My Name is Mamat. Nice To Meet You. Kalau kesini, order saya ya. Bekasi macet parah… kayak rollercoaster. Pegangan yang erat. haha!”
Lukas tertawa, lalu kamera cut — turun di depan gedung. Satpam favoritnya sudah melambai dari jauh.
SATPAM (senyum lebar): “Morning Mister Chef! Kamera lagi? Tolong info teman temanmu—Saya masih single, sedang cari jodoh. Bekasi selalu panas, meski sepatu sering basah dan hati saya terjaga kehangatannya!”
LUKAS (tertawa, ke kamera): “You heard him! Wet shoes, warm hearts and search for soulmate.”
Kamera geser sedikit ke warung tenda. Penjual bubur ayam sedang sibuk menyendok kuah, tapi tersenyum ke arah Lukas.
PENJUAL BUBUR ( sambil nyendok): “Halo, Mister. Sarapan bubur ayam lagi kagak hari ini?biar hati juga ikut panas… eh, hangat!”
LUKAS (ketawa): “See? This is breakfast poetry. Hot porridge, warm heart. That’s Indonesia.”
Kamera kembali ke Lukas, wajahnya cerah. Ia melambai ke kamera sambil mengangkat gulungan pisau dari ranselnya.
“So to everyone watching from Germany or from anywhere—this is Bekasi. Chaos, yes. But kindness is louder than traffic. Today, I go to the kitchen with a smile already seasoned by the street. See you after shift!”
Ia tepuk kamera pelan, lalu cut.
FOH — early dinner. Musik lembut. Rico/FOH menyetel lampu. Dapur sudah hidup, Sari di pass, Arman meninjau.
Pintu berdering. Seorang food blogger dan dua kru kecil masuk dadakan, tanpa reservasi. Ring light lipat di tangan.
HOSTESS: “Selamat malam. Meja untuk berapa?”
BLOGGER: “Dua. Dan kita shooting. Cepat ya—konten on-the-spot.”
RICO (mendekat, senyum profesional): “Silakan. Untuk rekaman, sesuai kebijakan: hanya meja Anda, tanpa wajah tamu lain, dan tanpa close-up staff tanpa izin. Untuk kolaborasi, kami jadwalkan via PR—hari ini kunjungan reguler.”
BLOGGER (setengah pelotot): “Saya biasanya dapat kompensasi.”
RICO: “Malam ini sesuai menu. Kami bisa bawakan tasting kecil—program standar—bukan barter review.”
Hening pendek. Mereka duduk, tetap mengeluarkan ring light.
Area Dapur. Printer ting. Sari membaca.
SARI: “Order dadakan, steak well-done tapi juicy, risotto truffle half, satu no garlic.”
NADIA: “Takaran truffle standar.”
LUKAS: “Steak pakai short rib slow-cook, finish grill, glaze jus tipis. Pasta no garlic—panci baru.”
BIMO: “Garnish?”
SARI: “Herb oil, pickled belimbing sehelai. Fungsional, bukan kosmetik.”
Lukas hampir mengambil garlic-infused oil karena botol mirip.
ANI: “Kak, label hijau—itu infused.”
LUKAS (freeze setengah detik): “Thanks, Good catch.”
Ganti ke olive oil biasa. Lukas usul labeling strip besar beda warna untuk minyak infused.
ARMAN: “Besok berlaku.”
Line bergerak. Arman cicip kaldu, angguk. Ani siapkan talenan hijau. Ritme klik–sss–ting.
Meja Blogger.
Kamera mereka membidik piring sendiri. Rico meletakkan tasting flight kecil.
BLOGGER: “Bisa bikin special plating buat kamera?”
RICO: “Plating kami konsisten untuk semua tamu. Kalau butuh pencahayaan, kami bisa redupkan sedikit lampu meja sebelah.”
BLOGGER (ke kamera, lirih): “Kita uji… servis beneran.”
Mereka makan, sesekali mendekatkan mic ke kulit steak, menunggu bunyi “crisp”.
Beberapa menit kemudian. Rico masuk ke dapur dengan nada hati-hati.
RICO: “Feedback meja blogger, ‘risotto kurang truffle’. Mereka minta extra tanpa charge.”
ARMAN: “Sampaikan, takaran truffle ditakar untuk keseimbangan. Bisa tambah—ada harganya. Tawarkan juga shaved parmesan sebagai alternatif tanpa mengubah struktur.”
RICO: “Copy.”
Rico pergi. Bimo menyeringai kecil.
BIMO: “Kalau barang gratisan, semua rasa jadi ‘pas’.”
LUKAS: “Biar rasa yang bicara.”
Meja Blogger lagi. Mereka lanjut rekam. Tidak ada keributan, tapi hasilm review: “plating sunyi”, “harga dewasa”.
Rico menjaga jarak aman, memastikan aturan filming ditaati.
Selesai makan, blogger berdiri cepat, sempat merekam ke arah open kitchen. Rico menutup angle dengan sopan.
RICO: “Maaf, area dapur tidak untuk direkam. Silakan ke PR besok kalau ingin tur.”
BLOGGER: “I know the drill.” (Mereka pergi.)
Ruang Staff, beberapa menit kemudian. Ani melihat ponsel.
ANI: “Story mereka naik, caption ‘kaku, truffle pelit’. Komennya ramai.”
BIMO: “Ya, begitulah.”
ARMAN (tenang): “Tidak ada yang ingin balas secara personal. Rico?”
RICO: “Saya kirim respons singkat dari akun resmi, terima kasih masukannya, takaran truffle kami demi keseimbangan aroma. Bisa tambah—ada harganya. Alternatif, shaved parmesan—umami tanpa ubah struktur, diskusi bisa lanjut lewat DM/email PR.”
MAYA: “Log malam ini sudah tersimpan, jam saji, suhu inti steak, komposisi risotto. Kalau ada klaim faktual, kita klarifikasi fakta saja.”
NADIA: “Ada yang bisa kita perbaiki?”
SARI: “FOH bisa tambah bahasa empatik saat menolak extra truffle, jelaskan ‘keseimbangan rasa’ dengan contoh.”
LUKAS: “Aku bantu desain kartu kecil di meja, ‘Truffle kami ditakar agar aromanya hadir tanpa menutupi rasa lain.’”
ARMAN: “Setuju. Kita masak untuk meja, bukan algoritma. Yang setia akan kembali.”
Back door. Udara lembap. Rico duduk di tangga besi, menepuk-nepuk rambut yang basah, Lukas menjulurkan kaki, memeras kaus kaki setetes.
RICO: “Hari panjang… Sepatumu ikut lembur ya?”
LUKAS: “Mereka sekarang full-time spons. Aromanya… experimental.”
Keduanya cekikikan kecil. Hening enak.
RICO: “Soal blogger tadi… rasanya seperti saat turun hujan, kadang nyuburin, kadang bikin banjir bandang.”
LUKAS: “Setuju. Versi sehat itu yang datang bayar sendiri kalau bukan undangan, tulis disclaimer kalau sponsor, nanya dulu ‘boleh rekam apa enggak’ dan soal alergi. Ada salah? ya bilang revisi. Simple, kan.”
RICO: “Di lapangan, hak kita buat bilang ‘nggak’ ke barter aneh. Kewajibannya, SOP jalan, tamu aman, crew waras. Urusan publik, kita lempar ke PR—bukan adu komen.”
LUKAS: “Dan yang pegang kamera, termasuk saya… jangan sampai nyandera restoran pakai follower. Ceritain kerja tim, bukan drama. Kalau mau bantu, sebut juga steward sama dishwasher—kalau lagi ada gerakan komunitas, kasih tautan donasi, bukan bensin.”
RICO: “Sayangnya, gak semua orang seperti yang kita mau. Kira kira besok timeline masih ribut?”
LUKAS: “Biarin. Yang penting kompor kita tetap menyala.”
Rico mengangkat gelas plastik.
RICO: “Untuk kompor yang berapi api.”
LUKAS (menyentuhkan): “Dan meja yang tetap hangat.”
Dari dalam, terdengar siulan Pak Darto, panci beradu pelan. Mereka duduk sebentar lagi—capek, tapi lega.
Vlog — malam. Kamera handheld. Lukas duduk di trotoar belakang restoran, lampu neon jauh memantul di genangan. Ia kelihatan letih, tapi matanya masih bercahaya. Rico muncul, masih dengan masker setengah terpasang, lalu menurunkannya sedikit untuk bicara. Lukas arahkan kamera ke mereka berdua.
“Shift’s done. Noise off, pans clean, city humming low. Tonight I had my first table with bloggers—ring lights, quick takes, louder than forks.
And it made me think, storytelling isn’t just crisp steak sounds—it’s context and respect. If you film food, remember the hands behind it. Chase truth. Share the process and the people. That’s how work stays real when the lights turn off.”
Rico mencondongkan badan, suara tenang tapi hangat. Logat Inggrisnya rapi, dengan pilihan kata yang jelas, terasa pernah belajar beberapa bahasa lain. Ia bicara sopan, tapi penuh keyakinan.
RICO (Lembut, terukur): “In Indonesian we say, rasa—taste—is also perasaan, feeling. A dish is both. So if you capture it, respect both: the taste and the people. That’s the language every culture understands.”
Lukas menoleh, terkesan. Ia tertawa kecil, mengangguk.
LUKAS: “That’s Rico, our FOH poet. He speaks to guests, he speaks to the crew, and now—he speaks to you.”
Rico tersenyum sopan ke kamera, kembali pasang maskernya. Lukas ambil alih lagi, suara lebih lembut.
LUKAS: “Lights can be loud, but the quiet light is people doing things right—plate by plate. Alright, team. That’s our note for tonight. Tomorrow, new tickets, new stories. Until then—rest well, wherever you are.”
Ia memberi salam kecil dengan dua jari, Rico ikut angguk hormat. Kamera cut.
Other Stories
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...