Half Crew, Full Heart
Vlog — pre-shift. Kamera di bawah atap halte. Langit Bekasi mendung, suara teriakan demo samar-samar terdengar. Lukas menatap ke jalan: ratusan buruh berjaket hujan tipis berjalan, bawa poster, beberapa pakai sandal basah. Kamera goyah seolah spontan.
“Grey sky, distant drums… I thought it was thunder. But it’s footsteps. Hundreds—maybe thousands—marching, soaked, still shouting. Workers, moving like one long river.” (nada serius, shock)
Ia menutup vlog sebentar, langsung menelpon Aji. Layar HP muncul: Aji angkat dengan gaya cuek, suara motor bising di belakang
.
LUKAS (shock berat, terdiam beberapa saat, hanya memperlihatkan video call): “Oh God, Aji, can't you see that?”
AJI (campur, ceplas-ceplos): “Bro, you see the parade? That’s not carnival—that’s demo buruh. Welcome to Indonesia, Forest Boy. Paychecks kecil, harga naik, hati panas. Kalau nggak demo, kapan didengar?”
LUKAS (masih shock): “In Germany… protests are different. Organized, police lines, banners neat. Here—it’s raw. Wet clothes, tired eyes, still shouting. It’s… heavier. Feels personal.”
Lukas menunduk, suara mengecil. Jemarinya gemetar sebentar, kamera goyah.
LUKAS: “My chest feels… tight, Aji.”
AJI (ketawa pendek, nyeletuk): “Of course personal! Duit yang ilang bukan di spreadsheet, tapi di meja makan. That’s why they walk in rain, Bro. It’s survival. Bro, relax. Lu nggak harus bawa Bekasi di dada, Bro. Bawa knife roll, sama kaus kaki basah lu aja.”
Lukas akhirnya tertawa kecil, lega. Call berakhir lalu menatap kamera lagi. Suaranya lembut, reflektif.
“I came to chase Oma’s taste. Before stoves, I saw another heat—the kind you can’t season away. Still they walk, soaked and loud. If that’s not spirit, what is?”
Ia tarik napas dalam, mencoba tersenyum. Kamera menyorot sepatu basahnya sendiri, lalu kembali ke wajahnya.
“So here’s today’s pre-shift thought: if you cross town, bring water, bring a song. And maybe—carry someone’s hope along the way.”
Lobi Restoran. Kaca tenang, suara orasi dari jauh seperti bass samar. Rico/FOH memegang memo, Maya/HR di samping. Kru berkumpul separuh.
RICO: “Brief singkat. Demo di bundaran—sekitar satu kilometer dari sini. Jalan kita tidak diarahkan ke pusat massa, tapi manajemen minta roster ringan. Hanya reservasi pre-booked dan tamu hotel sebelah lewat koridor penghubung.”
MAYA: “Keamanan minta tutup lebih awal. Target last order 18.30. Kalau situasi aman, kita percepat closing. Yang rumahnya searah bundaran, boleh pulang lebih awal. Koordinasi sama saya.”
LUKAS: “Kenapa masih ada yang makan eksklusif hari begini?”
RICO: “Ada tim kontrak dari pabrik—meetingnya pindah ke sini karena ruang hotel penuh. Ada juga dua tamu in-house—penerbangan mereka reschedule, butuh makan sebelum obat. Jadi kecil, tapi tetap ada.”
ARMAN (ringkas, ke Maya): “Catat, beberapa staf standby sampai jam normal untuk Pak Hashimoto. Yang lain ikuti tutup awal sesuai arahan keamanan.”
MAYA: “Siap. Saya atur jadwalnya.”
Dapur. Kru tidak penuh, Pak Darto (steward) terhalang barikade, junior pastry sakit izin.
NADIA: “Pembagian: Sari di pass, Bimo grill, Lukas sauté sambil bantu garde. Ani pegang prep dingin dan runner cuci—rotasi. Kita hemat tenaga, bukan hemat standar.”
SARI: “Stok microgreens menipis, supplier muter jauh.”
LUKAS: “Backup, herb oil lemongrass-daun jeruk. Pickled belimbing tipis. Elegan, tetap lokal.”
BIMO: “Gas cadangan terlambat?”
NADIA: “Ada. Satu tabung telat karena jalan ditutup. Pakai induction untuk satu pan. Jangan ngedumel—alat adaptasi, rasa tetap.”
Lampu berkedip sekali, lalu stabil. Printer testing.
SARI (di pass): “Order masuk, empat pax set menu kontrak, jadwal maju. Satu tamu minta no garlic, satu GF. Ulang!”
LINE: “No garlic! GF!”
Ritme mulai sibuk. Ani membawa tray, tergelincir seujung sepatu—Lukas menahan dengan siku, tray selamat.
Napas Lukas masih pendek, sisa shock berangkat kerja tadi masih menempel. Ia menahan punggung Ani dengan hati-hati, lebih lama dari perlu—seperti menenangkan dirinya sendiri juga.
SARI: “Mantap. Ganti glove, Ani. Napas.”
ANI (mengatur nafas): “Trimakasih Kak Lukas. Siap.”
Dentum orasi samar lagi, dapur membalas dengan klik panci, ssss wajan. Arman mengecek kaldu, satu sendok, angguk.
ARMAN: “Kaldu pas. Jangan over. Fokus.”
Tiket berikut muncul. Rico melongok.
RICO: “Heads-up, tutup awal tetap jalan. Ingat, sebagian staf standby sampai jam normal.”
NADIA: “Lock.”
SARI: “Mr. Hashimoto biasanya 19.30 kursi pojok.”
ARMAN: “Menu favoritnya siap prep. Saat datang, kita re-sear singkat. Ani, siapkan teh hangat.”
LUKAS: “Aku marinade ringan kunyit-serai. Kulit tetap crispy.”
Service kecil tapi padat. Bimo di grill, Lukas dobel stasiun, Ani serba bisa. Keringat di pelipis, tapi candaan tetap.
BIMO: “Crew setengah, tiket kok berani penuh.”
LUKAS: “Biar pun setengah kru, humor jangan setengah.”
SARI : “Save jokes, save plates.”
Piring set menu naik. Arman cicip titik saus, angguk pendek. Rico membawa keluar. Sunyi beberapa detik lalu mengangkat ibu jari dari kejauhan.
RICO (kembali, berbisik): “Tim kontrak puas, minta dessert dua—kita punya pastry minimal?”
NADIA: “Junior pastry izin. Solusi?”
LUKAS: “Panna cotta cepat batch kecil—pakai gelatin sheet. Chill blast chiller sepuluh menit, topping jeruk nipis & belimbing.”
SARI: “Jalan. Catat substitusi di menu log.”
Mereka bergerak seperti mesin. Mendekati 19.00, lampu front dim closing mode. Dapur tetap hangat, staf standby bertahan sesuai instruksi Arman.
RICO (muncul di pintu ayun): “Pak Hashimoto memasuki lobi. Basah sedikit, jalan pelan.”
ARMAN: “Lukas plating ikan, Bimo re-sear cepat. Ani, teh hangat. Sari jaga pass.”
Mr. Hashimoto duduk di kursi favorit—pojok dekat kaca. Ia menunduk, menaruh payung, mengusap kacamata. Tanpa banyak kata. Rico menyodorkan handuk kecil.
RICO: “Konbanwa, Hashimoto-sama.”
MR. HASHIMOTO (dengan logat Jepang, pelan tapi jelas, sambil membungkuk tipis): “Arigato… Here… arwaysu warmu… in disu place-u..”
Dapur bergerak tanpa gaduh. Lukas mengangkat ikan dari pan; kulit berbisik crisp. Piring mendarat di pass. Sari cek, kirim.
Dari jauh, Mr. Hashimoto makan perlahan. Ia menatap ke arah dapur sejenak, menunduk kecil—seperti membungkuk dari kejauhan.
ANI (mengintip dari celah, berbisik): “Kayak melihat kakek sedang makan di rumah.”
LUKAS (senyum kecil): “Kadang rumah cuma butuh kursi yang sama, jam yang sama.”
Beberapa menit kemudian. Rico kembali membawa piring kosong.
ARMAN (ke Maya, telpon singkat): “Terima kasih, jadwal standby-nya pas. Sekarang kita tutup. Inventori singkat, bersih, pulang tertib.”
BIMO: “Kru hanya setengah, cintaku tetep full 100%.”
SARI: “Dasar buaya darat.”
Tawa letih. Mereka bongkar stasiun. Ani menyapu sambil bersenandung, Lukas menutup knife roll pelan.
Vlog — post-shift, quiet alley away from the road. Kamera agak gemetar, Lukas duduk di trotoar basah, punggung ke dinding. Ia menarik napas panjang, suaranya serak.
“Half crew, heavier kindness. I wasn’t the strong chef on paper today—I was the boy who froze at a bus stop. Maybe work is this: showing up when your mind scatters and letting the table steady you.
I walked home slower. It felt like a good decision. If your City is loud tonight, may your dinner be gentle. See you tomorrow.”
Other Stories
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...