Bekasi Dulu, Bali Nanti

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Bekasi dulu, bali nanti
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Penulis S.L Verde Author

No Pungutan. Yes Table


Siang. Matahari memantul di genangan tipis. Back door sedikit ramai: troli sayur, peti ikan, bau es mencair. Lukas mengecek daftar delivery sambil bercanda dengan Pak Darto.

LUKAS: “Kalau ikan bisa ngomong, dia pasti minta sunscreen.”

PAK DARTO: “Dia minta es batu tambah, bukan tanning.”

Seorang preman berjaket lusuh mendekat, menyelonjorkan telapak.

PREMAN: “Pakai jalur sini, ada uang keamanan.”

SUPLIER (cemas): “Bang, ini masuk resmi—ada di daftar.”

JOKO (Satpam- melangkah di antara mereka, tangan terbuka): “Bang, ini area terdaftar. Uang apa pun—no. Kalau ada urusan, lewat manajemen.”

PREMAN (merengut): “Gue juga jaga tempat ini.”

JOKO (tetap hangat tapi tegap): “Yang jaga kami. Ada kamera, ada laporan. Jangan bikin saya pilih cara panjang.”

Hawa menegang setitik; Lukas menahan troli agar tidak bergeser.
Rico datang dari dalam, Maya di belakangnya memegang papan dokumen.

RICO: “Siang, Bang. Semua delivery sudah tercatat. No pungutan di sini.”

MAYA (menunjuk lembaran): “Kalau ada klaim, isi form ini. Kami tindaklanjuti lewat building management. Sekarang mohon tinggalkan area kerja.”
Detik menggantung. Preman menatap satu-satu, lalu menghembuskan napas—mundur dua langkah.

PREMAN: “Lain kali jangan songong.”

JOKO (masih sopan): “Lain kali bawa surat resmi.”

Ia memberi isyarat ke pos. Dua security gedung muncul, mencatat dan mengantar preman menjauh tanpa ribut.

SUPPLIER (lega): “Makasih, Pak.”

RICO: “Maaf bikin tegang. Jalur resmi saja, aman buat semua.”

LUKAS (berbisik ke Joko): “Baru tahu saya… model begitu.”

JOKO (senyum tipis): “Namanya di kota chef. Kita tanggapi pakai prosedur, bukan otot.”

Suasana mencair. Nadia muncul, cek suhu bahan. Sari menarik napas, mengetuk papan klip seperti mengatur tempo.

SARI: “Oke. Kita lanjut kerja. Troli masuk, lantai dijaga kering.”

Beberapa menit kemudian. Keramaian mereda. Dari ujung gang, dua anak berseragam muncul—yang dulu minta makanan. Seragamnya kusut rapi; tas ringan.

ANAK 1 (Rangga): “Om…”

LUKAS (menunduk, tersenyum): “Hei, juara.”

ANAK 2 (Nisa): “Kami… ada hadiah kecil.”

Nisa menyodorkan amplop cokelat tipis. Di dalam: gambar krayon—gambar mereka bertiga, kedua anak itu mencium pipi Lukas. Di pojok ada tulisan rapih: “Kakak Chef tersayang”. Ada selembar kartu pos kecil—stiker bintang menempel miring.

Lukas membaca, bibirnya bergerak tanpa suara. Matanya basah cepat—tak sempat disembunyikan. Ia menekan bibir, lalu merengkuh mereka ke pelukan hangat, hati-hati, singkat.

LUKAS: “Terima kasih… Ini… sempurna.”

JOKO (menyeka keringat yang bukan keringat): “Kalian habis sekolah? Sudah makan?”

RANGGA (mengangguk): “Hari ini sudah, kemarin Sekolah kami… program makan gratis belum ada, Om. Katanya nanti gelombang berikut. Nisa orangtuanya sering lembur, Aku nunggu ayahku sembuh. Tadi lewat sini, sekalian kasih… gambar.”

NISA: “Kami kadang makan di warung, kalau dikasih uang saku… kami nunggu sampai Ibu pulang. Kalau ke sini, nggak tiap hari—takut ganggu.”

Mereka pamit dan langsung lari. Lukas tersenyum haru menatap kepergian mereka.
Sari menempelkan stiker bintang dari kartu pos ke apron Lukas.

SARI: “Bintang dapur.”

LUKAS (mengusap sudut mata sambil tertawa kecil): “Bintang… rempah.”

Dari arah lobi,Mr. Hashimoto melintas siang ini—jarang, tapi hari ini ada. Ia berhenti, memperhatikan gambar krayon di tangan Lukas.

Mr. HASHIMOTO: “Ahh… nai-su draw-ingu… verii… heart-o warm-u.”

LUKAS: “From our friends, Sir.

Mr. Hashimoto tersenyum, melanjutkan langkah—tenang seperti biasa.
Dapur kembali berdenyut: klik, sssst, ting.

BIMO (muncul dari dalam, pura-pura cemberut): “Kalau ada bintang satu lagi, apron Lukas bisa jadi langit.”

LUKAS: “Langitnya dibagi ya—biar kalian dapat matahari.”

SARI: “Udah, penyair. Balik line. Kita punya empat tiket no garlic.”

LUKAS: “Siap.”

Ia menyelipkan gambar krayon ke saku knife roll—hati-hati seolah surat resmi.

Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Download Titik & Koma