Diary Anak Pertama

Reads
897
Votes
1
Parts
7
Vote
Report
Penulis Cell

Bab 3 – Babak Baru

Hari itu, pagi terasa berbeda. Mobil pikap berhenti di depan rumah nenek, siap mengangkut tumpukan kardus dan koper. Di halaman, Alisa dan Alira membantu ayahnya menata barang. Suara ayam berkokok bercampur dengan derit kardus yang diseret ke teras.

“Barang-barang ini cukup, Kak?” tanya Alira sambil mengikatkan tali sepatunya. Wajahnya serius, tidak ada tawa-tawa berlebihan.

“Cukup, Ra. Tinggal koper Ayah aja,” jawab Alisa, tersenyum tipis.

Nenek berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan. Wajahnya menyimpan senyum sekaligus kesedihan. “Jaga diri kalian baik-baik, ya. Jangan lupa sering pulang,” pesannya, suaranya serak menahan haru.

Mobil pun melaju. Jalanan yang berkelok mereka lalui membawa pada babak baru. Di kursi belakang, Alira menatap keluar jendela, memperhatikan sawah yang berganti gedung-gedung.

“Kak,” ujarnya pelan, “menurutmu… kita bakal betah nggak di rumah baru?”

Alisa meliriknya. Ada rasa bangga sekaligus terharu karena adiknya sudah bisa berpikir sejauh itu. “Entahlah, Ra. Tapi kita coba jalani aja,” jawabnya lembut.

Beberapa jam kemudian, mobil berhenti di depan rumah baru. Rumah itu lebih besar dari rumah nenek, dengan cat dinding krem dan pagar besi hitam yang kokoh. Halamannya luas, ada pohon mangga di sudut, dan teras yang dihiasi pot-pot bunga.

Di depan pintu, ibu baru mereka sudah menunggu bersama dua anaknya yaitu Kirana dan Arina.

“Selamat datang di rumah kita,” sambutnya dengan senyum hangat. Kirana dan Arina berdiri di sampingnya, malu-malu.

Ayah turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Alisa dan Alira. “Ayo, ini rumah kita sekarang,” katanya dengan nada penuh keyakinan.

Alisa melangkah masuk dengan hati-hati. Lantai marmer berkilau, aroma kayu baru memenuhi udara, dan di ruang tamu tergantung foto keluarga lama mereka. Hatinya tercekat. Langkahnya terasa berat.

Kamar mereka sudah disiapkan. Kamar Alisa dan Alira bersebelahan dengan kamar Kirana dan Arina.

Alira menaruh tasnya di kursi, lalu duduk sebentar. “Kamarnya bagus, ya, Kak. Tapi… aku masih kangen kamar kita di rumah nenek.”

Alisa duduk di sampingnya, menepuk bahunya. “Kakak juga, Ra.”

Malam itu, lampu-lampu rumah baru menyala terang. Dari kamar sebelah, suara Kirana dan Arina terdengar jelas, tawa, cerita, dan sedikit gaduh.

Alira ikut mendengar, lalu bergumam pelan, “Sepertinya mereka seru, ya. Tapi… aku nggak tahu bisa langsung akrab atau nggak.”

Alisa memandang adiknya, kagum karena Alira tidak sekadar larut dalam euforia, tapi juga jujur soal perasaannya. “Santai aja, Ra. Kita nggak harus langsung akrab. Pelan-pelan.”

Kemudian ia menatap bayangan dirinya di kaca jendela, memeluk lututnya. Dalam hatinya ia berbisik, “Mulai sekarang, ini rumahku juga… tapi kenapa rasanya bukan seperti rumah?”


Other Stories
Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Cerella Flost

Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...

Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Download Titik & Koma