Diary Anak Pertama

Reads
712
Votes
1
Parts
7
Vote
Report
Penulis Cell

Bab 5 – Pilih Kasih

Hari-hari berikutnya, rasa tak adil makin sering menyembul di kepalanya. Bukan hanya soal pekerjaan rumah, tapi juga hal-hal kecil yang seharusnya tak begitu berarti. Namun di hati Alisa, itu seperti luka yang dikorek berulang.

Suatu sore, Bu Ratna pulang membawa kantong belanjaan. Kirana dan Arina berlari menyambutnya, wajah mereka bersinar. Dari kantong itu keluar sepatu baru dengan pita biru untuk Kirana, dan hoodie kekinian yang sudah lama diinginkan Arina.

“Coba dipakai dulu, biar Ibu lihat pas atau nggak,” kata Bu Ratna sambil tersenyum lebar.

Kirana memutar badan di depan cermin, Arina berpose dengan jaket barunya. Semua tertawa.

Alisa hanya duduk di kursi pojok ruang tamu, menatap sepatunya yang mulai pudar warnanya, solnya tipis, dan jahitannya sudah terbuka di sisi. Sepatu itu ia pakai sejak kelas 2 SMA, dan sekarang sudah semester lima kuliah.

Tak ada yang menoleh padanya. Tak ada yang berkata, “Alisa, kamu juga butuh sepatu baru, kan?”

Alira berdiri di samping kakaknya, ikut memperhatikan adegan itu dengan wajah tanpa ekspresi. Lalu pelan-pelan ia meremas tangan Alisa. Hanya itu tanda simpati yang ia punya.

Kecemburuan itu makin terasa ketika soal makanan. Di meja makan, Bu Ratna sering menyajikan lauk yang cukup mewah, seperti ayam goreng, sup daging, bahkan kadang ada pizza.

Namun entah kenapa, porsi untuk Kirana dan Arina selalu lebih dulu ditaruh dengan lengkap. Ayam bagian paha untuk Kirana, dada untuk Arina.

Alisa dan Alira sering dapat bagian sisa, entah itu sayap kecil atau sekadar kuah sup tanpa daging.

Pernah suatu kali, Alisa pulang terlambat karena tugas kelompok. Di meja hanya tersisa nasi dingin dan beberapa remahan lauk.

Bu Ratna hanya berkata singkat, “Makan aja yang ada. Lain kali pulangnya jangan malam-malam.”

Alisa menunduk, menahan perih. Ia tahu, Kirana dan Arina tak pernah dibiarkan makan sisa. Kalau mereka pulang telat, Bu Ratna rela memanaskan lagi atau bahkan memesankan makanan khusus.

Alira yang duduk di depannya hanya menatap piring kosong itu, lalu mendorong sisa telurnya ke arah kakaknya. “Kak, makan ini aja,” bisiknya.

Alisa tersenyum pahit, “Makan bareng aja, Ra.” Dan mereka pun berbagi setengah telur, seolah itu hal biasa.

Rasa iri itu makin lama berubah jadi luka yang mengendap. Setiap kali melihat Kirana bersandar manja di pangkuan ibunya, atau Arina bercerita panjang lebar lalu ditanggapi dengan tawa hangat, ada suara kecil dalam diri Alisa, "Kenapa aku tidak pernah diperlakukan begitu? Apa aku tidak pantas merasakan kasih sayang seorang ibu?"

Ia ingin sekali merasakan belaian rambut, dipeluk saat lelah, atau sekadar didengarkan. Tapi bayangan itu terlalu mewah.

Sedangkan ayahnya? Tidak tahu. Lelah bekerja membuatnya hanya punya energi untuk tidur atau menatap layar ponsel. Ia tidak melihat ketimpangan yang begitu jelas di depan matanya.

Alisa sering mendapati dirinya menatap langit-langit kamar larut malam. Pertanyaan itu terus muncul, "Kalau Ibu kandungku masih ada, apa aku juga akan diperlakukan seperti ini?"

Air mata yang ia tahan siang hari, tumpah di malam sepi. Pernah, pada suatu akhir pekan, Bu Ratna mengajak Kirana dan Arina jalan-jalan ke mal. Ayah ikut mengantar.

Alisa dan Alira ditinggal di rumah.
Alisa, tolong ya jagain rumah. Sekalian beresin cucian, nanti sore baru kami pulang,” pesan Bu Ratna sebelum pergi.

Alisa hanya mengangguk. Ia menutup pintu, lalu memandang Alira yang berdiri dengan wajah kecewa. Anak SD kelas 6 itu menggigit bibirnya.

“Kak, kenapa sih kita nggak pernah diajak?” tanyanya lirih. Alisa menarik adiknya ke pelukan. “Entahlah, Ra. Mungkin… karena kita bukan anak kandung.”

Kalimat itu terhenti di tenggorokan. Ia tahu Alira masih kecil, tapi cukup besar untuk memahami arti “pilih kasih.”

Hari itu, mereka berdua hanya duduk di ruang tamu, menonton televisi dengan suara kecil. Hati mereka kosong, sepi.

Kemarahan dalam diri Alisa makin sering muncul. Bukan karena ia ingin dimanja seperti Kirana atau Arina, tapi karena perasaan diperlakukan tidak adil itu membunuhnya pelan-pelan.

Ia merasa seperti bayangan di rumah itu—ada, tapi tak dianggap. Kadang, ketika ia melihat Kirana dan Arina memamerkan barang-barang baru, ia berpura-pura sibuk agar tidak terlihat iri. Tapi di kamar, ia memeluk bantal erat-erat, seolah ingin menghancurkan perasaan itu.

Ia ingin kuat. Ia ingin tetap jadi kakak yang bisa diandalkan bagi Alira. Namun, di balik ketegaran itu, ia hanyalah gadis yang merindukan hal sederhana, dihargai, diakui, dan disayangi sama seperti yang lain.

Malam itu, setelah semua tertidur, Alisa duduk di teras rumah. Udara dingin menusuk kulitnya. Ia menatap bintang, mencari jawaban.

“Kenapa, Tuhan?” bisiknya. “Apa salahku sampai harus merasakan ini semua? Kenapa aku harus jadi yang paling kuat, sementara aku juga manusia biasa."

Tak ada jawaban, hanya sunyi.
Namun dalam kesunyian itu, ia merasakan genggaman kecil di tangannya. Alira duduk di sampingnya, matanya sayu tapi penuh keteguhan.

“Kak, jangan sedih, ya. Kalau nggak ada yang sayang sama kita… aku masih ada buat Kakak.”

Alisa menoleh, menatap adiknya yang polos. Air matanya jatuh juga, tapi kali ini ia biarkan. Ia memeluk Alira erat, seolah hanya pelukan itu yang meneguhkan dirinya untuk bertahan.

Di tengah rumah yang terasa asing, hanya mereka berdua yang benar-benar saling perduli.

Other Stories
November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

The Ridle

Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...

Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Download Titik & Koma