Sang Maestro

Reads
993
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Queena Adhelia

Bab 4. Kehancuran

Lagi-lagi Maya mendapatkan hantaman ke dadanya kembali. Karyanya dirusak lagi. Kanvas yang penuh makna dari puisi itu menjadi tidak ada artinya. Akhirnya tugas dia kali ini tidak memuaskan seperti biasanya. Meskipun dia masih bisa mendapatkan nilai lebih bagus dari temannya tetapi perasaan sakit di dadanya pun tetap ada.

Apa kesalahan yang kuperbuat? Aku nggak pernah mengganggu mereka.
Ini adalah pengalaman baru yang dialami selama hidupnya. Tanpa sebab teman-temannya merusak karyanya. Banyak orang yang berempati. Tidak hanya itu sang pembully mulai berani kepadanya.

“Eh apa ini. Lo bikin ini semua?” Kata sang pembully. “Lo bisu apa gimana dah, ditanya nggak dijawab. Aneh banget lo.” Kata sang pembully yang ingin memprovokasi.
“Aku tidak perlu menjawab pertanyaan tidak penting itu kan?” Kata Maya.
“Lo ya!! Sekarang sudah berani ya! Lo bisa apa. Memang lo mau mukul kita!?” Kata sang pembully sambil tersenyum ketus.
“Aku bisa membuat karya inilah yang bisa melawanmu.” Kata Maya dengan senyum sinis.
“Hah! Karya lo kalo dibakar juga hilang tu.” Kata sang pembully.

Maya yang mendengar itu merasa pukulan yang luar biasa hebatnya. Dengan mudah sang pembully mengatakan hal itu. Dengan mudahnya sang pembully mengganggu dan menertawakannya. Dengan mudah sang pembully membuat Maya tersulut oleh kemarahan yang tidak biasa itu. Maya yang terkenal elegan itu memukul orang dengan kuatnya. Bagaimana bisa seorang yang seharusnya menjaga sikapnya melakukan hal itu.

Maya dilaporkan ke pihak kampus setelah adegan pemukulan itu. Pembully yang menangis palsu, Maya yang terdiam, dan banyaknya orang dewasa yang berada di sisi sang pembully. Disaat Maya kesulitan seperti itu tidak ada yang menolongnya termasuk orang tuanya. Ayahnya sedang bekerja di luar negeri sedangkan ibunya harus bekerja setiap harinya. Hampir tidak ada waktu untuk membela anaknya. Maya tau jika orang tuanya sangat sibuk makanya dia hanya bisa terdiam dan termenung. Meninggalkan julukannya sang Maestro itu. Dunia yang dahulu berada di pihak Maya sekarang menjadi kebalikannya. Maya sang Maestro sudah tidak ada. Sekarang julukan itu berganti menjadi Maya sang emosional.

Fans-fans mulai menjauh. Banyak dari mereka yang merasa kasihan dengan sang pembully. Sang pembully mendapat perlakuan lebih dari banyak orang akibat dari kejadian itu. Mereka pun juga memberikan julukan kepada sang pembully adalah sang Maestro. Semua fans Maya mulai mengikuti sang pembully. Inilah awal dimana Maya mejadi seseorang yang gagal.

Sang pembully itu bernama Zara. Zara seorang mahasiswi yang cantik jelita, kaya, dan bertalenta. Hanya saja Zara ini memiliki sifat yang lebih buruk daripada Maya. Zara hanya mencari cara agar dia terkenal dibanding mengembangkan talentanya. Dengan sekuat tenaga dia pun ingin menjatuhkan Maya. Dia merasa iri dengan apa yang dilakukan oleh Maya. Rencana liciknya yang sudah lama itu akhirnya terwujud pula dengan pukulan yang dilontarkan oleh Maya. Melihat Maya yang hancur membuat Zara sangat senang. Akhirnya dia bisa menempati posisinya. Dia bahkan bisa membuat tren baru karena menjadi seorang yang populer. Maya suka memakai pakaian yang elegan sedangkan Zara dia lebih menyukai pakaian yang terbuka. Karya-karya yang diperlihatkan pun mulai berganti. Semua karya Maya mulai berganti dengan karya-karya dari Zara. Semua yang telah dibangun oleh Maya akhirnya hancur.

Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku bahkan sudah turun pamor.
Maya yang putus asa itulah yang akhirnya menjalani kehidupan kuliahnya saat ini. Akibat dari banyaknya karya dia yang rusak dan namanya yang hancur. Sering kali di kampus dia tidak bisa menikmati membuat karyanya seperti dahulu. Dia sangat ketakutan jika karyanya dirusak lagi dan lagi. Bahkan banyak orang yang mencaci maki Maya. Banyak orang yang tutup mata oleh kejadian yang sedang terjadi. Bahkan pihak kampus pun tidak mau melihat Maya kembali. Semua hal itu seperti mengatakan jika Maya sudah benar-benar tamat. Dia tidak akan bisa kembali seperti dahulu.

Kebiasaan Maya yang melukis di rumahnya dan menjual karya-karyanya ke orang lain. Membuat banyaknya karya-karya yang hebat itu. Kini ketika melihat kondisinya yang sekarang. Maya bahkan tidak bisa fokus dengan karyanya. Dia tidak bisa membuat karya kembali. Sangat sulit baginya untuk mendapat ide. Jadi inilah yang dinamakan artblock. Kondisi yang membuat Maya kesulitan mendapatkan ide. Bahkan Maya merasakan adanya tembok yang tinggi ketika melihat kanvas putih itu. Kondisi yang berat inilah yang membuat Maya semakin lama semakin turun namanya.





Other Stories
After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Reuni Mantan

Iko dan tiga mantan Sarah lainnya menghadiri halalbihalal di vila terpencil milik Darius, ...

Tenda Dan Hujan Bercerita

Perjalanan liburan kali ini, terasa lebih istimewa baginya. Selain bahagia berkumpul bers ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Download Titik & Koma