My 24

Reads
225
Votes
1
Parts
3
Vote
Report
Penulis Aogsta

Pulang

Udara lembap bercampur dengan aroma tanah basah menyambut Genta begitu ia turun dari bus. Perjalanan hampir seharian penuh membuat tubuhnya pegal. Ia merentangkan tangan, meluruskan persendian, lalu menarik napas panjang. Di hadapannya terbentang jalan kota kecil dengan pohon-pohon trembesi yang masih setia menaungi trotoar.
“Kota dengan banyak perjuanganku,” gumamnya lirih, hampir seperti doa.
Namun rasa hangat itu hanya sebentar. Di dadanya masih ada ruang hampa yang menyesakkan. Entah karena Sarah tak ada di sisinya, atau karena dirinya sendiri yang seakan hilang di tengah jalan. Ia tak yakin.
Langkah kakinya menuntunnya ke rumah peninggalan orang tuanya. Cat dinding yang pudar, pintu kayu berderit ketika ia buka. Debu menyambut, bau apek menusuk. Keheningan rumah itu menelan dirinya bulat-bulat. Genta menatap ruang tamu yang kosong, sofa usang yang dulu jadi saksi ketika ia belajar dialog film, meja kayu tempat ayahnya dulu membaca koran setiap pagi. Semua itu membuat dadanya semakin berat.
Kesepian yang sama… sama seperti di kota. Bedanya, di sini tidak ada sorot kamera, tidak ada gemerlap, hanya aku dan bayangan masa lalu.
Ia membeli makan siang di warung pojok gang, nasi pecel dengan lauk tempe goreng, makanan sederhana yang sudah lama tak ia sentuh. Usai makan dan membereskan rumah sebisanya, pandangannya jatuh pada sepeda tua peninggalan ayahnya. Ban kempes separuh, rantainya berkarat. Namun itu adalah kendaraan satu-satunya untuk mencari Sarah.
Dengan sedikit usaha, ia berhasil menghidupkan sepeda itu. Suara rantai berdecit keras, cukup membuat beberapa tetangga keluar rumah. Anak-anak kecil berhenti bermain, ibu-ibu yang menjemur pakaian menoleh. Sejenak keheningan berubah jadi bisik-bisik.
“Itu… Genta, ya?”
“Pulang juga dia.”
“Sudah ingat sama rumah paling.”
Genta mengangkat tangan, mencoba tersenyum meski di matanya jelas masih ada sisa angkuh. “Sore, Bu… Pak…” sapanya singkat. Beberapa menjawab, beberapa hanya menatap dengan mata yang tak bisa ia artikan: antara sinis, kagum, atau sekadar penasaran.
Perjalanannya berlanjut. Tiga puluh menit kemudian ia berhenti di depan rumah mertuanya. Pintu dibuka oleh seorang pria paruh baya. Ayah Sarah yang langsung tersenyum lebar.
“Genta!”
Mertua itu memeluknya erat. Ada rasa bangga yang jelas terlihat. “Lihat kamu sekarang, sutradara, aktor top, masuk TV tiap minggu. Tapi… mana Sarah? Kok pulang sendirian?”
Pertanyaan itu menusuk tepat ke jantung. Genta terdiam sejenak, senyum kaku membeku di wajahnya. “Ah… Sarah ada di Jakarta, Pak. Nggak bisa ikut kali ini. Masih ada kerjaan.”
Genta bingung, pertanyaan itu menandakan Sarah tidak pergi ke rumah orang tuanya.
Mertuanya mengangguk, meski raut kecewa sempat melintas. “Ya sudah. Salam buat Sarah kalau nanti telponan. Bilang ayah kangen.”
Mereka berbincang ringan. Tentang film terakhirnya, tentang penghargaan, tentang kabar keluarga. Tapi tidak ada satu pun kata tentang masalah rumah tangga. Genta hanya mendengarkan, sesekali menimpali dengan jawaban singkat.
Ketika pamit, senyum mertuanya masih hangat, tapi di dada Genta justru makin sesak. Sarah tidak di sini. Jadi di mana dia sebenarnya?
Matahari sore condong ke barat ketika ia kembali menaiki sepedanya. Angin membawa aroma sawah basah. Sampai di persimpangan jalan utama kota kecil itu, matanya tertuju pada sebuah kafe sederhana. Plang kayu bertuliskan “Nyejuk Slowbar” menggantung, mengingatkannya pada masa muda.
“Tempat ini…” ia bergumam. Ada rasa tak asing yang menyeruak.
Ia memutuskan singgah. Meletakkan sepeda di parkiran, lalu masuk. Jam dinding berdentang jarum jam menunjuk pukul 17.10. Suasana hangat menyambut, aroma kopi pekat memenuhi ruangan. Hanya ada beberapa meja terisi: sekelompok anak muda tertawa riang di pojok, dua bapak paruh baya sibuk berbincang soal politik, dan seorang pelayan muda yang tampak cekatan.
“Selamat datang, Kak. Pesan apa?” tanya pelayan itu dengan senyum ramah.
“Americano ice… sama satu churros ya kak.”
Pelayan itu terkekeh ada customer yang memesan churros.
“Mohon maaf kak, menu churros sudah dari lama tidak ada.”
Genta hanya mengangguk, memesan menu snack yang lain. Beberapa menit kemudian, segelas americano dingin diletakkan di mejanya. Genta menatapnya lama sebelum meneguk. Rasa pahit menyentuh lidah, tapi pahit itu justru terasa akrab.
Saat ia menaruh gelas, snack pesanannya datang. Pelayan muda tadi membawa piring kecil berisi French fries. Namun sebelum meletakkan, tatapannya sempat terpaku pada segerombolan gadis muda di pojok ruangan. Mereka tertawa ceria, bercanda, sesekali menoleh ke arah pelayan.
“Kalau suka jangan cuma dilihat, Dik. Gentle aja langsung deketin,” suara Genta memecah keheningan, nada godaannya ringan.
Pelayan itu kaget, hampir menjatuhkan piring. “Eh… om, eh… kak maksudnya.” Wajahnya memerah. “Keliatan banget ya kalau tatapanku kaya orang kagum?”
Genta terkekeh kecil. “Nggak juga. Mungkin karena aku udah banyak pengalaman, jadi gampang nebak.” Ia mencondongkan tubuh, senyumnya tipis. “Kutebak, yang bondol dan pakai dress batik itu kan?”
Pelayan itu melongo. Lalu senyum tipis tersungging. “Mana iya lagi…”
Genta ikut tersenyum, heran kenapa bisa tepat menebak. “Kalau mau tips dan triknya, sekalian aja konsul ntar. Biar gak cuma kagum.”
Malam merayap turun, membawa udara dingin. Kafe mulai sepi, hanya tersisa Genta dan pelayan itu yang kini sudah selesai shift. Mereka duduk berseberangan, membiarkan obrolan terus mengalir.

Other Stories
Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Download Titik & Koma