Jaki Satu
Di suatu pagi menjelang siang, sama seperti sebelum-sebelumnya. Aku beranjak dari ranjangku yang setipis roti tawar digilas itu. Busa kasurnya hampir menempel lantai. Lengkap dengan kain lusuh di atasnya. Ceritanya, sprei.
Mengenakan kaos oblong tanpa lengan dan celana boxer, aku berhenti sejenak di depan muka pintu kamar, mengulatkan tubuhku sambil mengangkat kedua tangan hingga bulu ketekku yang lebat ini terpampang nyata. Tato naga di lengan kananku, dan anting kancing hitam di telinga kiriku, memperjelas bahwa aku adalah seorang “sampah masyarakat”.
“Hoaaammm ....”
Mulutku mencecap, sambil satu tanganku menggaruk punggung. Mata segarisku yang masih mengantuk, menoleh ke arah dapur. Kudengar suara aktivitas yang begitu familier terdengar dari arah sana.
“Nyokap,” batinku. Samar-samar, tercium aroma khas nasi yang baru matang.
Kumelangkah ke sana, melirik meja makan. Ada tempe goreng di piring. Nyokap terlihat sedang membungkuk seraya mengaduk-aduk nasi panas dari dandang. Dia menoleh padaku. Tangannya terhenti. Aku sembari mengambil piring dan berjalan ke arahnya.
“Mak—”
“Ck, belom dapet-dapet kerja juga, Jak?” sela wanita setengah baya berpostur gemuk pendek yang selalu mengenakan daster dan penutup kepala itu dengan nada ketus, seperti biasa.
Aku menjawab sekenanya sambil menyodorkan piring. Perutku sudah terlalu keroncongan untuk memulai hari ini dengan perdebatan yang itu-itu saja. Bosan.
“Ho’oh, belom. Bagi nasi dong, Mak.”
Nyokap menegak dan langsung memukul kepalaku dengan centong nasi.
TOENG!
“Mak! Apa, sih?!” ujarku sambil mengelus kepala.
“Urusan makan aja cepet, ya!” desisnya. “Jawab dulu!”
“Susah, Mak. Susah cari kerja zaman sekarang, tuh. Apalagi, Jaki cuman lulusan SMA. Mamak enak, cuman nyuruh-nyuruh doang!”
Mengenakan kaos oblong tanpa lengan dan celana boxer, aku berhenti sejenak di depan muka pintu kamar, mengulatkan tubuhku sambil mengangkat kedua tangan hingga bulu ketekku yang lebat ini terpampang nyata. Tato naga di lengan kananku, dan anting kancing hitam di telinga kiriku, memperjelas bahwa aku adalah seorang “sampah masyarakat”.
“Hoaaammm ....”
Mulutku mencecap, sambil satu tanganku menggaruk punggung. Mata segarisku yang masih mengantuk, menoleh ke arah dapur. Kudengar suara aktivitas yang begitu familier terdengar dari arah sana.
“Nyokap,” batinku. Samar-samar, tercium aroma khas nasi yang baru matang.
Kumelangkah ke sana, melirik meja makan. Ada tempe goreng di piring. Nyokap terlihat sedang membungkuk seraya mengaduk-aduk nasi panas dari dandang. Dia menoleh padaku. Tangannya terhenti. Aku sembari mengambil piring dan berjalan ke arahnya.
“Mak—”
“Ck, belom dapet-dapet kerja juga, Jak?” sela wanita setengah baya berpostur gemuk pendek yang selalu mengenakan daster dan penutup kepala itu dengan nada ketus, seperti biasa.
Aku menjawab sekenanya sambil menyodorkan piring. Perutku sudah terlalu keroncongan untuk memulai hari ini dengan perdebatan yang itu-itu saja. Bosan.
“Ho’oh, belom. Bagi nasi dong, Mak.”
Nyokap menegak dan langsung memukul kepalaku dengan centong nasi.
TOENG!
“Mak! Apa, sih?!” ujarku sambil mengelus kepala.
“Urusan makan aja cepet, ya!” desisnya. “Jawab dulu!”
“Susah, Mak. Susah cari kerja zaman sekarang, tuh. Apalagi, Jaki cuman lulusan SMA. Mamak enak, cuman nyuruh-nyuruh doang!”
Other Stories
Aku Ingin Kau Menjadi Ibu Dari Anak-anakku
Cerita ini mengisahkan perjalanan cinta dan perjuangan Maya, seorang desainer muda, dan Ra ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...