Bab 2
Ibu Maria sambil berjalan menjelaskan ke Alex tentang sejarah panti.
”Gedung ini sudah tua, sudah beberapa kali beralih fungsi, mulai dari rumah sakit, kantor pajak, hingga menjadi seperti sekarang ini.”
“Sudah berapa lama gedung ini menjadi panti asuhan, Bu?”
“Sudah 20 tahun panti asuhan ini berdiri, yang kemudian ditutup. Lalu, saya mengambil alih dan membuka kembali panti ini. Anak-anak yang kamu lihat sekarang semua didikan saya dari awal.”
:Sudah berapa lama Ibu Maria mengurus panti ini?”
“Belum lama, baru 15 tahun.”
“Apakah ada batasan umur tertua untuk diasuh di sini?”
“Anak-anak yang kami asuh sejauh ini berusia 3-13. Biasanya ketika seorang sudah lebih dari 13 tahun kami akan membekalkan mereka dengan keterampilan tertentu dan kami pindahkan ke panti lain yang memiliki fasilitas yang lebih baik dibandingkan di sini.”
Alexandra mengangguk paham.
Tiba tiba muncul Ario. Ibu Maria tampak kaget melihat Ario. “ARIO! Kamu ngapain di sini?”
Ario tertunduk. Lalu, memberikan empat buah tangkai bunga mawar merah.
“Buat Ibu Maria.” *
Ibu Maria mengambil keempat tangkai bunga itu.
“Terima kasih Ario. Alexa, ini Ario anaknya Bibi Arum, tukang masak di panti ini. Ario perkenalkan ini Alexandra, mulai hari ini dia akan bekerja disini menggantikan Ibu Irma. Ario baik-baik sama dia ya.”
Ario tampak terkejut melihat Alexa. Ario kemudian pergi. *
***
Ibu Maria dan Alexa sampai di sebuah ruangan besar yang difungsikan sebagai ruang makan. Alexa memperhatikan seluruh ruangan dan aktivitasnya. Beberapa anak-anak melihat kedatangan Alexa dan Bu Maria dan mulai berbisik.
“Kamu bisa lihat, makanan yang kami sajikan di sini. Saya sangat * memperhatikan faktor gizi buat anak-anak panti.”
Meja meja panjang yang diserta kursi panjang tertata rapih. Anak anak sedang sarapan dengan tertib, hanya terdengar dentingan dentingan sendok dan garpu yang beradu.
Makanan yang disajikan tampak bergizi dan sehat. Daging, ayam, sayur sayuran segar dan buah buahan seperti pisang, apel yang belum dipotong tersaji di piring masing masing anak-anak.
Di balik sebuah meja yang terletak di sisi lain yang dipenuhi makanan, tampak Bibi Arum sedang membereskan makanan. Bibi Arum melakukan pekerjaannya dengan ekspresi datar dan tidak bersahabat. Bibi Arum menyerahkan piring yang sudah berisi makanan ke Arjanggi.
Tiba-tiba …
GUBRAKKKK! Terdengar suara nampan jatuh. Tampak Arjanggi terjatuh dan makanannya berantakan. Semua anak menertawai Arjanggi.
Ibu Maria kemudian menggeleng. “Dia lagi...”
Bibi Arum segera membantu Arjanggi dan membersihkan makanan yang tumpah. Ibu Maria memberikan semacam kode ke Bibi Arum.
Bibi Arum segera mengecek keadaan Arjanggi, memeriksa tangannya, lututnya tidak ada yang memar ataupun terluka. Kemudian Bibi Arum memberika kode menggeleng ke Ibu Maria.Ibu Maria kemudian tersenyum.
“Dia memang berbeda dengan yang lainnya.”
“Maksud Ibu?”
“Agak bandel kalo dibilangin.”
Ibu Maria tersenyum.
***
Anak-anak penghuni panti sudah berbaris di ruang tengah, mereka semua berjumlah 7 anak. Yang paling kecil tampak masih berumur 6 tahun bernama Chicco. Mereka bergantian memperkenalkan diri kepada Alexa. Sementara Bibi Arum dan Ibu Maria mendampingi di samping Alexa.
“Nama saya Adella, umur saya 12 tahun, hobi saya menulis puisi, senang berkenalan dengan Kakak.”
“Nama saya Sarah umur saya lima belas …”
Ibu Maria langsung memotong. “Umurnya 13 tahun, tapi badannya memang bongsor. Sarah, masa kamu lupa sama umur kamu sendiri.”
Ibu Maria mengusap kepala Sarah.
“Nama saya Sarah, umur saya 13 tahun. Hobi saya memasak. Senang berkenalan dengan Kakak.” Sarah mengulang ucapan perkenalannya.
“Nah, anak-anak, mulai hari ini Kak Alexa yang akan menggantikan Ibu Irma. Semoga Kak Alexa bisa akrab ya dengan kalian.”
“Halo, nama saya Alexandra, tapi bisa panggil saya Alexa. Mungin beberapa dari kalian sudah mengenal saya kemarin waktu sesi wawancara. Saya sedang membuat skripsi dan saya butuh bantuan kalian semua. Semoga kita bisa menjadi teman baik ya.”
Tiba-tiba Immanuel muntah. Semua kaget. Sarah dan Adella menahan tawa.
“Immanuel kamu kenapa? Bibi Pagi tadi dia makan apa?”
Bibi Arum tampak ketakutan dan cemas. “Menu biasa kok Bu, mungkin Imanuel kebanyakan makan, Bu.”
“Coba dibawa kebelakang ya. Tolong diperhatikan porsi mereka lain kali ya.”
“Baik Bu Maria.”
Bibi Arum membawa Imanuel ke belakang.
Ibu Maria melihat ke arah Alexandra dan tersenyum.
“Maaf ya Nak Alexa. saya engga tahu kenapa badan dia bisa berkembang sebesar itu.”
“Kami berusaha sebaik mungkin untuk mengatur asupan gizi mereka. Namun, kadang kadang Immanuel suka bandel kalo urusan makanan.”
“Enggak apa-apa kok, Bu.”
“Oh ya, besok saya akan pergi seminggu keluar kota untuk menjemput teman baru kalian, jadi kalian jangan nakal ya sama Kak Alexa.”
Anak-anak kemudian saling melihat.
***
Suasana panti asuhan ketika sudah malam sangat sepi. Alexa sedang membawa kopernya masuk. Alexa disambut oleh Bibi Arum.
“Pukul 7...”
Alexa melihat jam di tangannya. “Di jam saya masih pukul enam empat lima... lima belas menit lagi. Memangnya kenapa, Bi?”
“Pukul 7 sudah tidak ada yang boleh keluar kamar. Termasuk kamu.”
“Maksud Bibi? Oh, peraturan di sini ya.”
“Jangan pernah melanggar peraturan.”
“Iya Bi, saya paham. Saya sanagt bersyukur bisa dikasi kesempatan untuk tinggal di sini. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menaati peraturan di sini.”
Alexa meneruskan berjalan bersama Bibi Arum. Sementara itu Ario tampak mengintip di balik kegelapan.
***
Alexa sudah berada didalam kamar. Kamarnya tampak suram. Tampak kopernya masih berada di samping pintu kamarnya. Ia berjalan berkeliling kamar, melihat sekitar kamarnya. Kemudian, ia duduk di pinggir tempat tidur.
Alexa membuka kopernya dan mengeluarkan sebuah foto. Ia kemudian termenung. “Maafkan aku, aku engga bisa menjaga kamu dengan baik.”
Alexa mencium foto itu dan menangis. Lalu, memasukan foto itu ke dalam lemari kecil di samping tempat tidurnya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
“Ya, siapa?”
Alexa kemudian berjalan ke arah pintu. Alexa kemudian membuka pintu.
Dahinya berkerut. Tidak ada siapa siapa di depan pintu. Ia berpikir positif mungkin ada anak yang iseng mengerjai. Ia menutup kembali pintu.
Alexa kembali berjalan ke tempat tidur. Kemudian ia mendengar lagi ketukan pintu. Dengan malas ia berjalan perlahan ke arah pintu. Kali ini sebelum dibuka, ia mengintip ke lubang kunci, tampak tidak ada siapa siapa.
Tiba tiba dari lubang kunci muncul wajah anak kecil bertopeng. Alexa kaget. Alexa segera membuka pintu itu.
Tampak 3 sosok anak kecil baru saja berlari pergi dari pintu. Mereka terdengar riang.
Alex menyusuri koridor mengejar 3 sosok anak itu itu.
“Anak-anak sudah lebih dari jam 7. Kalian tidak boleh berkeliaran.”
Alex kemudian terhenti. Hening. Tidak ada suara apa apa. 3 sosok anak itu sudah tidak ada.
Alexa terus berjalan menyusuri lorong panti. Ia penasaran dengan 3 sosok anak kecil itu. Tak terasa kaki Alexa tiba di depan pintu kamar anak-anak. Rasa penasaran semakin membuncah. Dibukanya sedikit pintu kamar anak. Terlihat kamar anak terdiri dari 6 tempat tidur yang terbuat dari besi. Tempat tidur sudah tampak tua. Masing masing tempat tidur ditiduri satu anak. *
Semua anak sudah tertidur. Alexa membantin, siapa 3 anak tadi? Ia menutup kembali pintunya.
***
Anak anak sedang sarapan pagi.
“Selamat pagi anak-anak,” sapa Alexa ramah.
Alex membawa makanannya, kemudian ia melihat Arjanggi yang duduk sendirian. Sekitarnya pun kosong.
“Halo, selamat pagi. Boleh saya duduk di sini?”
Arjanggi kemudian menggeleng.
“Tempat duduk di sana sudah penuh. Jadi, boleh ya duduk di sini.”
Alex tersenyum ramah.
Arjanggi menampakkan wahag tidak suka ke Alexa. “Tempat duduk di sini juga sudah terisi.”
“Lho? mana? Saya lihat engga ada siapa siapa.”
“Karena kadang kadang mereka tidak menampakkan diri.”
Dahi Alexa berkerut. “Maksud kamu?”
Beberapa anak berbisik bisik melihat Alex dan Arjanggi.
“Baiklah kalau begitu.”
Alex kemudian pergi. Kemudian kita melihat dibawah meja ada 3 kaki yang sedang duduk bersama Arjanggi.
***
Alexa, Bibi Arum, Ibu Maria bersama anak-anak panti sudah berada didepan pintu. Mereka mau melepas kepergian Ibu Maria.
“Ingat Alexa, pukul 7 semua sudah ada di balik pintu kamar. sudah tidak ada kegiatan lagi. Termasuk kamu. Paham?” pesan Bu Maria pada Alexa.
“Paham Bu Maria. Hati hati di jalan.”
“Bi Arum tolong makanan anak anak dijaga ya, jangan lupa vitamin vitamin mereka.”
“Baik Bu Maria.”
Ibu Maria menoleh ke Immanuel. “Immanuel…”
“Ingat ya pesan Ibu kan?”
“Ingat, Bu. Anak yang gendut tidak akan bisa masuk rumah abadi, karena pintu rumah abadi terlalu sempit untuk anak seperti saya. Bukan begitu, Bu?”
Ibu Maria menghela napas. “Bagus kalua ingat. Batasi makanan kamu.” *
“Siap Bu Maria.”
“Saya pergi dulu ya, Bi.”
“Iya Bu, hati hati, Bu.”
Ibu Maria kemudian pergi bersama supirnya. Ia naik ke dalam mobil. Semua anak melambaikan tangan melepas kepergian Ibu Maria.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 7. Alexa berjalan di koridor kemudian mengunci semua pintu dan mematikan lampu. Ia tampak terburu buru. Terdengar sebuah suara barang jatuh. Ia menoleh ke sekelilingnya. Tidak ada siapa-siapa.
“Halo? Siapa itu?”
Alexa berjalan ke arah koridor lain.
“Halo?”
Alexa berbelok ke koridor lain. Dari kejauhan Alexa melihat sesosok perempuan bergaun panjang melintasi koridor.
“Hei...”
Alexa segera menghampiri sosok itu yang kemudian menghilang dibalik tikungan. Ia mencari cari sosok itu, tapi tidak ada. Ia pun kembali ke kamarnya.
Alexa sudah siap tidur. Tiba-tiba ada suara langkah kaki dari luar. Alexa kemudian bangun dan mengintip dari lubang kunci.
Tampak sosok perempuan dengan gaun panjangnya sedang berdiri membelakangi Alexa. Karena penasaran, ia membuka pintu. Lagi-lagi tidak ada siapa-siapa.
Alexa berjalan keluar, kemudian mencari-cari sosok anak bergaun panjang itu. Kemudian tampak secarik kertas dengan tulisan menggunakan cat air berwarna merah darah. “Pergi dari sini!”
Seketika terdengar suara bisik bisik dan sesuatu yang besar terjatuh.
Alexa melihat dibalik tembok terdapat manekin yang dipakaikan baju gaun dan di bawahnya kakinya ditempel roda pada sebuah papan. Tampak benang transparan terkait di papan itu.
Alex menggeleng melihat benda benda ini.
Other Stories
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...
Seoul Harem
Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...