Rumah Malaikat

Reads
982
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Bab 3

Pagi hari yang cerah. Alexa masuk ke kamar, anak anak tampak masih tertidur. Alexa membangunkan mereka.
“Selamat pagi anak anak. Ayo semua mandi.”
Tampak anak anak malas bangun. Alexa mendekati tempat tidur Sarah. saat berada di dekat Sarah, ia menggoyang-goyangkan tubuh Sarah. “Sarah, ayo bangun.”
“Enggak usah dikasih tau juga kita udah tau harus ngapain. Orang baru jangan sok galak deh.”
Alexa melongo mendengar jawaban ketus dari Sarah yang di luar ekspektasinya bahwa anak kecil bisa sekasar itu ke gurunya.
Sarah kemudian pergi bersama anak anak yang lain, termasuk Arjanggi. Kemudian ada satu yang masih di atas tempat tidur. Alexa perlahan menjulurkan tangannya.
Semakin dekat … semakin dekat... tiba tiba sebuah tangan keluar dari bawah tempat tidur. Ternyata itu adalah Adella yang bersembunyi di bawah tempat tidur.
Adella tertawa. Begitu juga Sarah, Diandra, Imanuel dan Chicco yang mengintip di balik pintu. Mereka kemudian berlarian meninggalkan Alexa.
Alexa melihat ke arah mereka menggeleng dengan kesal. Sial, gue dikerjain anak-anak, batin Alexa.
Tanpa Alexa sadari sesosok hantu anak, Ezra yang mengenakan topeng, baru saja keluar dari kolong.
***
Ibu Cantika dan Pak Broto sedang berjalan masuk di koridor. Kali ini ia membawa tas yang berbeda dari yang kemarin dipakai.
Mereka tampak celingak celinguk mencari sesuatu. Alexa kemudian menghampiri mereka.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau ketemu Ibu Maria. Ada?”
“Oh maaf, Ibu Maria sedang keluar kota selama seminggu ini. apa sebelumnya sudah buat janji?”
Ibu Cantika melihat ke arah suaminya dengan kecewa.
“Maaf saya berbicara dengan Ibu siapa? Nanti bisa saya sampaikan ke Ibu Maria.”
“Saya pak Broto. Nanti tolong disampaikan ya.”
“Baik, Pak. Nanti saya sampaikan.”
Kemudian muncul Diandra sedang berjalan. Ibu Cantika kemudian memanggil Diandra.
“Hey, cantik! Sini sayang.”
Wajah Ibu Cantika berubah menjadi sangat ramah. Cantika tersenyum dan berjalan ke arah mereka.
“Kamu cantik sekali, kulit kamu bagus, putih dan bersih.”
Ibu Cantika merasakan lengan Diandra dengan punggung tangannya, merasakan kehalusan kulit Diandra. Kemudian mencubit pipi Diandra gemas.
“Nama kamu siapa?”
“Nama saya Diandra, Bu.”
“Oh … Diandra, nama yang indah.”
Ibu Cantika melihat ke arah Pak Broto. Lalu, tersenyum. Muncul Arjanggi dari arah yang lain. Ibu Broto kemudian melihat Arjanggi. Ibu Broto terkejut.
“Hey, kamu ... sini!”
Arjanggi menoleh ke belakang, tidak ada orang lain.
“Iya, kamu ... sini…”
Arjanggi kemudian menjulurkan lidahnya ke Ibu Cantika dan kabur. Ibu Cantika kaget dan marah.
“Huh! Dasar anak nggak sopan. Dipanggil baik-baik, malah kabur! Yuk, Pah kita pulang!”
Ibu cantika mengusap kepala Diandra, ia tersenyum.
“Ibu pergi dulu ya Diandra, nanti kita ketemu lagi ya.” Pandangan Ibu Cantika beralih ke arah Alexa. Mbak tolong disampaikan ke Ibu Maria ya kalau saya datang.”
“Tentu Bu, terima kasih sudah datang.”
Ibu Cantika dan Pak Broto meninggalkan Alexa dan Diandra. Terdengar Ibu Cantika masih membahas Diandra yang manis.
***
Alexa sedang bersih-bersih. Kemudian, ia mau memasukkan sesuatu ke dalam lemari.
Alexa kemudian membuka lemari dan ternyata di dalam lemari ada baju baju yang digantung. Matanya tertuju bagian bawahnya ada kaki yang mengenakan sepatu berwarna merah.
Alexa kaget dan langsung menutup pintu lemari. Karena penasaran, ia membuka kembali lemari itu dan ternyata sudah tidak ada apa-apa.
Terdengar suara seruling.
Alexa melihat di pojok ruangan ada anak perempuan yang menghadap tembok dengan baju dan pita warna merah. Anak itu sedang bermain seruling dengan nada ritual lagu Hymne Rumah Malaikat.
“Kamu siapa?”
Anak perempuan itu berhenti bermain seruling.
“Kamu siapa?” Alexa mengulang kembali pertanyaannya.
Anak perempuan itu malah kabur keluar ruangan. Alexa menaikkan sebelah alis, kebingungan.
“Hey, tunggu!”
Alexa mengejar anak itu. yang melintasi koridor.
Alex sampai di sebuah pintu. Ia melihat ke kiri dan ke kanan. Kemudian, matanya tertuju ke pintu itu. Ia meraih gagang pintu, terkunci. Ia berjongkok serta mengintip di lubang pintu. Gelap. Ia tampak bingung.
***
Alexa sedang mengisi air minum di sebuah botol. Tiba-tiba lampu berkedip kedip.
Alexa mendesah napas berat. Ia pikir pasti ulah iseng anak-anak lagi yang mengerjainya.
“Anak-anak, kalian belum capek ya ngerjain saya? Sudah malam lho. sebaiknya kalian segera tidur. Atau akan saya adukan ke Ibu Maria nanti.”
BLAR! Lampu padam. Alexa menghela napas. Alexa berusaha meraba raba sekitarnya. Ia mencari senter. Tangannya tidak sengaja menyenggol sebuah gelas. Seketika gelas itu terjatuh di lantai.
Akhirnya, Alexa menemukan senter. Ia mengarahkan cahaya senter ke sana kemari. Tidak ada siapa siapa. Secara mengejutkan, muncul sosok anak kecil menggunakan topeng.
Alexa kaget dan terjatuh. Tangannya kena pecahan beling. Ia berusaha menahan sakitnya.
“Kamu siapa? Kenapa ada di sini? Ayo kembali masuk ke kamar kamu.”
Ezra kemudian berjalan maju ke Alexa yang masih terduduk di lantai menahan sakit.
Ezra mengangkat tangannya yang berlumuran darah. Alexa bergidik ngeri. Ajaibnya, lampu menyala. Ezra sudah tidak ada.
Alexa melihat sebuah mobil mobilan di depannya. Ia mengambil mobil-mobilan itu.
***
Anak-anak sedang tertidur. Sarah kemudian terbangun. Sarah melihat anak anak semua sudah tertidur.
Sarah kemudian duduk di tempat tidur. Lalu, mengeluarkan sebuah tas kecil. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan sebungkus rokok dan korek gas.
Sarah kemudian turun dari tempat tidur. Lalu, mengumpat di bawah tempat tidur.
Di bawah tempat tidur Sarah menyalakan korek apinya. Tiba tiba ada ada sepasang kaki. Sarah kaget hingga kepalanya terbentur tempat tidur.
“Aduh!” pekik Sarah seraya mengusap kepalanya yang sakit.
Muncullah pemilik kaki yang ternyata kaki itu milik Diandra.
“Sarah! Kamu ngapain?” tanya Diandra heran.
“Gue lagi nyari... lagi... nyari…”
“Nyari apa?”
“Nyari ...”
Sarah bingung mau berbohong. Kalau jujur pasti Diandra akan mengadu ke Ibu Maria atau guru baru yang tidak disukainya.
“Anting! Anting gue!”
“Memangnya kamu pake anting?”
“Pakelah! Elo aja gak pernah lihat.”
“Memang nggak pernah sih.”
“Udah sana! Tidur!”
“Sarah.”
“Apa lagi?”
“Kamu tahu kan kalo berbohong itu hukumannya apa?”
“Tau, enggak usah sok nasehatin gue deh.”
“Enggak, cuma ngingetin aja. Kamu kan udah sering bohong. Makanya kamu engga pernah dijemput sama orang tua menuju ke rumah abadi.”
“Heh! Denger ya! Itu bukan urusan elo! Udah sana tidur!”
Diandra kemudian meninggalkan Sarah.
“Selamat tidur Sarah.”
Diandra kembali ke tempat tidurnya. Sarah kemudian kembalilagi masuk ke bawah kolong tempat tidur. Ia mengeluarkan rokok dan korek api. Sarah menyalakan korek dan siap menyulut rokok. Kemudian, terlihat lagi di belakang Sarah sepasang kaki. Ia pikir itu kaki Diandra lagi.
“Aduh, ganggu aja deh. Apa lagi sih?”
Sarah menyembunyikan rokoknya. Ternyata kaki itu malah naik ke atas tempat tidurnya.
“Heh! Ngapain naik ke tempat tidur gue!” bentak Sarah.
Sarah segera keluar dari bawah kolong tempat tidur dengan kesal. Sarah kaget di atas tempat tidurnya tidak ada siapa-siapa. Ia ketakutan setengah mati dan segera naik ke atas tempat tidurnya.
***
Alexa sudah bersama 7 orang anak panti. Wajahnya sedikit tegang. Ia sedikit gugup untuk memulai percakapan. Takut mendapat jawaban kasar dan kurang menyenangkan.
“Beberapa hari yang lalu saya menemukan sebuah manekin, di depan kamar saya. Manekin itu ditarik dengan tali sehingga seolah kelihatan berjalan sendiri.”
Beberapa anak tampak tersenyum.
“Dan saya yakin itu adalah ulah kalian.”
“Itu bukan kami,” sahut Sarah.
Alexa berdecik kesal. “Jadi kalau bukan kalian siapa lagi?”
“Hantu mungkin.” Adella ikut menyahut.
“Hantu? Hari gini masih percaya hantu? Hahaha,” celetuk Tito seraya tertawa terbahak-bahak.
Beberapa dari mereka ikut tertawa.
“Saya enggak percaya hantu.”
“Pasti itu ulah hantu, Kak. Kakak tahu gak kalo panti ini dulunya rumah sakit.”
“Bukan! dulunya Penjara!” timpal Adella.
“Rumah sakit jiwa!” sahut Immanuel tak mau kalah.
“Baiklah kalau tidak ada yang mau mengaku, lain kali kalau kalian berulah lagi, saya akan melaporkan langsung ke Ibu Maria. Sekarang kalian boleh pergi.”
Anak anak kemudian bubar. Sarah yang paling belakangan meninggalkan ruangan.
“Sarah…”
Sarah menggulirkan bola matanya ke atas.
“Apa lagi?”
“Kamu sebagai yang paling tua di antara mereka harusnya kamu menjadi contoh buat adik-adik kamu.”
Sarah semakin menatap sinis Alexa. Ia semakin tidak menyukai guru di depannya. “Pertama, mereka bukan adik kandung aku. Dan kedua, Kakak bukan siapa-siapa di sini. Kakak enggak berhak ngatur-ngatur aku harus gimana. Aku cuma mau nurut sama Ibu Maria.”
Sarah meninggalkan Alexa. Alexa mengelus dada agar lebih sabar menghadapi ketusnya ucapan Sarah.

Other Stories
After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Download Titik & Koma