Bab 1
2 TAHUN KEMUDIAN.
Di depan kursi itu berdiri sebuah tripod dengan handycam. Seorang anak kemudian duduk didepan handycam. Wajahnya tampak ketakutan. Dia adalah Arjanggi. Wajahnya misterius dan dingin.
Arjanggi memegang Mr. Bunny, boneka kelincinya yang tampak sudah usang.
Alexandra, seorang mahasiswi yang mulai hari ini jadi guru pengganti di panti asuhan Rumah Malaikat memasuki kelas. Pandangannya tertarik ke arah gadis kecil memegang Mr. Bunny.
“Nama kamu siapa?” tanya Alexandra.
“Ar...ar...janggi...”
“Umur kamu?”
“8 tahun.”
“Kamu ingat kapan pertama kalinya kamu tinggal di sini?”
Arjanggi terdiam. Dengan jeda sebentar, Arjanggi kemudian menjawab. Alexa mengulang kembali pertanyaannya.
“Kamu ingat—“
Arjanggi segera menjawab. “Tidak.”
Tiba-tiba lampu berkedip kedip.
Kemudian Alexandra yang sedang duduk di belakang kamera. Lukisan bergoyang goyang. Pintu kemudian terbuka sendiri dan tertutup berulang kali. Alexa tampak kaget.
“Ada apa ini?”
Meja kemudian mulai bergetar. Semakin kencang.
“Itu ... mereka.”
“Mereka? Mereka siapa?”
Alexa melihat ke arah Arjanggi, Alexa ketakutan. Sebuah kursi terlempar ke tembok. Alex menjerit.
Tiba tiba listrik padam. semua diam, meja berhenti bergetar. Terdengar sebuah teriakan wanita.
“Ahhhh! Jangan ganggu saya!”
Alex terkejut mendengar suara itu.
***
Alex berlari di koridor yang gelap karena lampu padam. Suara jeritan masih terdengar.
Alex mendapati seorang wanita berumur 30 tahunan ketakutan. Tangannya masih memegang kumpulan kunci. Wanita ini bernama Irma. Irma tergeletak dil antai sambil menutup mukanya, ia tampak sangat ketakutan.
“Saya engga ganggu! Saya engga ganggu! Jangan bunuh saya! Saya engga mau mati!”
Alexa mendekati Irma. Irma tampak gemetar, wajahnya pucat.
“Mbak engga apa-apa?”
“Mereka tidak suka sama saya ... saya engga mau mati...,” ucapku tegang.
“Mereka siapa?”
“Anak anak itu...”
Ibu Irma menunjuk ke kegelapan, Ibu Irma kemudian pergi sambil menangis.
Alexa melihat sebuah seruling di lantai, Alexa kemudian mengambil seruling itu. Alexa menerawang ke kegelapan, Alex kemudian berjalan perlahan menuju ke kegelapan.
“Halo?”
Sebuah tangan kecil muncul dari kegelapan dan mengambil seruling itu. Alexa ketakutan.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Alexa. Ia kaget dan berbalik, ternyata Ibu Maria, ketua yayasan “Rumah Malaikat” yang berusia 45 tahun. Ibu Maria berada dibelakang Alex.
Tampak Ibu Maria memegang lampu sentir. Wajah Ibu Maria tampak ramah. Tampak Ibu Maria mengenakan sebuah bros mawar merah di bajunya.
“Kamu tidak apa apa Nak Alexa?” tanya Ibu Maria sambal tersenyum.
***
Listrik masih mati. Ruangan Ibu Maria walaupun dalam kegelapan masih tampak rapi.
Foto-foto tua berjajar rapi di dinding. Ada sebuah bingkai berisi rajutan bergambar sebuah rumah dengan tulisan “Rumah Malaikat”. Sebuah vas bunga di atas meja dengan bunga mawar yang sudah layu, beberapa kelopaknya sudah berserakan di dekat vas.
Ibu Maria dan Alexa duduk berhadapan, mereka hanya diterangi oleh lampu senter. Ibu Maria berbicara dengan sangat santun dan bersahabat. “Mohon maaf sebelumnya. Listrik memang suka tiba tiba mati di sini. Gedung lama. Tapi tidak apa apa, pukul 7 memang harusnya sudah tidak ada kegiatan di panti.”
“Maaf Bu Maria saya jadi merepotkan.”
“Tidak apa Nak Alexa, saya hanya khawatir anak anak kelelahan dan tidak bisa beraktivitas dengan normal besok pagi.”
“Kalau begitu saya akan datang lagi esok hari.”
“Saya rasa ada baiknya begitu. Maaf sekali Nak Alexa, bukan bermaksud mengusir tapi ... memang begitu adanya peraturan di sini.”
“Baiklah kalau begitu Ibu Maria. Sekali lagi terima kasih atas kesempatannya untuk menginterview anak anak. selamat malam.”
“Selamat malam.”
Alexandra keluar ruangan.
***
Alexa berjalan di koridor yang gelap sambil membawa tas dan tripodnya. Alex melewati kegelapan. Suara langkah kaki terdengar menggema di kesunyian malam.
Alexa melewati 3 sosok anak kecil yang berdiri di kegelapan. Alexa berhenti.
“Terima kasih ya anak anak, sampai ketemu besok.”
Alex kembali berjalan. Kemudian di depannya baru saja lewat 3 orang anak sedang digiring masuk oleh Bibi Arum, seorang wanita berusia 60 tahun dengan wajah tidak bersahabat, rambutnya tampak tidak rapi. Lalu, ada Sarah anak 15 tahun penghuni panti yang paling tua, berwajah jutek dan sombong. Ada juga Adella yang usia 10 tahun, memiliki kulit yang gelap dan rambut keriting. Terakhir, Tito berusia 13 tahun yang berkulit albino, dan Arjanggi.
“Selamat malam.”
“Malam,” balas Alexa.
Alexa tampak bingung. “Lho? Kok?”
Alexa melihat ke arah Bibi Arum yang menjauh. Alexa tampak bingung kemudian kembali berjalan.
Alexa menoleh ke belakan. Nampak bangunan panti asuhan “Rumah Malaikat” tampak kokoh, bergaya arsitektur kolonial belanda, pintu dan jendelanya besar. Alexa kemudian keluar dari pintu panti. Wajahnya berpikir keras. Kemudian muncul Mbak Irma dari pintu sambil membawa kopernya. Dia keluar masih pucat dan menangis. Alexa memperhatikan Mbak Irma yang pergi.
***
Tangan Alexa memencet bel. Alexa sedang menunggu didepan pintu asuhan. Tidak lama Bibi Arum membukakan pintu.
“Selamat pagi Bi, Ibu Maria sudah datang?”
“Selamat Pagi, Ibu Maria sedang ada tamu, silahkan menunggu dulu di dalam,” jawab Bi Arum ketus.
“Sepagi ini?”
Alexa mengikuti Bi Arum masuk.
Bibi Arum mengantar Alexandra menuju ruang tengah.
“Bibi sudah lama kerja di sini?”
Bibi Arum diam saja.
“Ada berapa kamar di panti sebesar ini, Bi?”
“10 kamar.”
“Pastinya banyak kamar yang tidak terpakai ya.”
“Setiap kamar dihuni 4-6 anak.”
Mereka kemudian melewati sebuah taman yang ditumbuhi oleh 4 buah pohon mawar merah yang bermekaran dan cantik.
Tampak seorang laki laki berusia 25 tahun sedang mengurus tanaman-tanaman itu, Laki-laki itu bernama Ario. Ario sempat menoleh ke Alexa. Namun, ia buru-buru segera membuang mukanya.
Alexandra dan Bibi Arum sampai di ruang tengah. Ruang tunggu tampak rapi. Banyak foto-foto penguni panti sebelumnya dengan berbagai macam ukuran frame. Dekorasinya terlihat tua.
“Silakan.”
“Terima kasih, Bi.”
Ternyata di ruang tengah sudah ada seorang wanita berusia 40 tahun dengan tampilan mewah. Ibu Cantika. Tas tangannya berada di atas meja depannya, terbuat dari bahan kulit yang mahal. Ibu Cantika memperhatikan Alexa dari atas hingga bawah.
Alexa kemudian duduk di dekatnya. Ibu Cantika kemudian mengambil tasnya dan meletakannya di pangkuannya. Pandangannya teralihkan ke arah Arjanggi sedang mengintip di balik sebuah pintu. Alexa tersenyum ke Arjanggi kemudian Arjanggi pergi.
Suami Ibu Cantika, Pak Broto datang. Mereka berdua kemudian kemudian pergi.
***
Ibu Maria tampak sedang membereskan beberapa map. Alexa kemudian mengetuk pintu.
“Masuk.”
“Selamat pagi Bu Maria.”
Bu maria menghela napas. “Selamat pagi Nak Alexa. Maaf pagi pagi saya sibuk mengurus administrasi calon orang tua angkat buat anak anak.”
“Engga apa apa kok, Bu. Maaf, saya mengganggu waktunya. Begini, setelah saya pikir pikir lagi semalam, saya rasa saya akan meminta waktu yang lebih lama untuk pengumpulan data di panti asuhan.”
Ibu Maria memotong perkataan Alexa sambil bersikap ramah. “Berapa lama?”
“Kalau setiap hari saya bisa mewawancara 3 anak seperti kemarin, itu berarti saya bisa menghabiskan waktu 5-6 hari untuk mewawancara seluruh anak anak penghuni panti. Kemudian setelah itu setiap anak akan membutuhkan 5 sesi khusus dan setiap sesi akan …”
Tiba tiba pintu diketuk.
“Sebentar ya Nak Alex, Masuk...” ujar Bu Maria.
Bibi Arum kemudian masuk.
“Ya ada apa, Bi Arum?”
“Bu Maria, ada kabar buruk Bu. Ibu Irma sudah meninggalkan panti. Saya sudah bujuk tapi ternyata dia tidak mau bekerja lagi di sini.”
Ibu Maria menghela napas. “Kenapa bisa begitu? Bukannya dia sudah 6 bulan kerja di sini.”
“Iya, Bu, tapi dia bilang dia kali ini sudah tidak tahan karena...”
“Cukup. Nanti kita bicarakan lagi, saya sedang ada tamu.”
“Maaf Bu Maria.” Alexa menimpali ucapan Bu Maria. “Bagaimana kalau saya saja Bu yang menggantikan Bu Irma? Saya enggak keberatan kok.”
“Kamu?”
“Iya, Bu. Dengan begitu saya akan memiliki waktu lebih banyak bertemu anak-anak.”
Ibu Maria menatap Bibi Arum. Ibu Maria menarik napas panjang. “Baiklah, tapi ingat peraturan di sini sangat ketat. Nak Alexa boleh di sini sampai kami mendapatkan pengganti yang tepat untuk Irma.”
Ibu Maria kemudian memberikan sebuah buku dan memberikannya kepada Alexa.
“Ini buku pedoman peraturan. Pelajari yah Nak Alexa.”
Alexandra tersenyum. “Terima kasih Ibu Maria.”
Other Stories
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Kk
jjj ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Kala Kisah Tentang Cahaya
Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...