Rumah Malaikat

Reads
977
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Bab 8

Alexa sedang bermain tutup petak umpet bersama anak anak berjumlah 7 orang. Mereka sangat senang.
“Ayo sekarang giliran Kak Alexa yang jagaaaa.”
Giliran Alexa yang kini matanya ditutup. Adella dan Diandra menutup mata Alexa dengan kain warna hitam.
“Kak Alex engga boleh curang yaaa ga boleh ngintip,” ujar Diandra.
“Kalo ngintip harus dihukum yaaa,” timpal Adella
Badan Alexa diputar-putar. Setelah itu, berbondong-bondong anak-anak lari di ruang tengah.
Alexa mengejar anak-anak. Di antara ana- anak muncul hantu Magdalena, ELia dan Ezra.
Ketiga hantu ini kemudian melebur bersama anak-anak seakan anak-anak tidak melihat mereka.
Alexa menangkap hantu Elia.
“Kena kamu ... siapa kamu? Petunjuknya apa?”
“Aku selalu memakai pita warna merah.”
“Apa?”
Alexa kemudian membuka penutup matanya. Ternyata yang dipegang adalah Adella. Adella langsung kesurupan dan teriak-teriak.
“Adella! Adella! Kamu kenapa?”
Semua ketakutan melihat Adella kesurupan. Arjanggi tampak ketakutan dan menutup kupingnya, ia terduduk di pojokan.
Diandra tiba-tiba kesurupan juga. Alexa melihat ke arah Diandra.
Tak lama setelahnya, Sarah juga mulai kesurupan. Kali ini Sarah menyerang Alexa terjatuh.
Di depan muka Alexa, Sarah yang kesurupan berbisik. “Sakit .... sakit .... sakit .... tolong, Kak! Jangan bawa kami ke ‘Rumah Abadi’.”
Muncul Elia dengan sekujur tubuh tanpa kulit, hanya otot. Elia mencengkeram bahu Alexa dengan keras dan berbicara di depan muka Alexa.
Alexa melihat tubuh Elia yang tanpa kulit dan ketakutan.
“Sakit! Sakit! Perih, Kakkk,” rintih Elia.
Alexa langsung berteriak.
Ibu Maria dan Bibi Arum muncul setelah mendengar kegaduhan. Mereka langsung panik, mereka segera membantu Alexa. Saat itu juga Adella, Diandra dan Sarah tersadar.
“Apa yang terjadi Alexa?”
“Kami tadi sedang bermain, terus tiba-tiba mereka kesurupan.”
“Kesurupan? Kamu jangan mengada-ada, Alex! “
“Benar, Bu. Tadi mereka teriak-teriak.”
“Apa yang kamu lakukan Alexa!”
Saya nggak melakukan apa-apa Bu!”
Ibu Maria panik. Alexa berusaha menolong.
“Jangan sentuh anak anak saya!”
Alex tertegun dengan ucapan Ibu Maria. Ekspresi tampak sangat serius. Ibu Maria sedang menatap Alex. Ibu Maria tampak geram. “Kamu harus pergi dari sini!”
“Maksud Ibu?”
“Iya, kamu bisa berkemas dan pulang malam ini juga.”
“Tapi, Bu, materi skripsi saya …”
“Maaf, Alexa, keputusan saya sudah bulat. Kamu harus pergi.”
“Boleh saya bertanya satu pertanyaan sebelum saya pergi?”
“Silakan Alexa.”
“Apa yang terjadi dengan Elia, Magdalena dan Ezra?”
Ibu Maria tercengang Alexa menanyakan tiga anak itu. “Mereka sudah bersama orang tua angkat 10 tahun yang lalu. Ada yang aneh?”
“Bagaimana dengan Tito? Saya melihat Tito beberapa hari yang lalu dan saya yakin itu bukan wujud sebenarnya.”
Maksud kamu apa Alex?”
“Saya melihat mereka dalam wujud hantu.”
Ibu Maria kemudian tertawa. Ibu Maria menganggapnya lucu.
“Alexa, kamu termakan dengan isapan jempol anak anak di sini. Tidak ada bedanya juga diri kamu dengan Ibu Irma.”
“Saya benar melihat mereka Bu Maria. “
“Sudah pukul tujuh. Sebaiknya kamu bersiap-siap.” *
Alexa menatap Ibu Maria tajam. “Saya enggak akan pergi. sebelum Ibu menjelaskan semuanya. Ada yang tidak beres terjadi di panti ini.”
Ibu Maria menahan kemarahannya. “Pergi sekarang juga!”
Alexa mengeluarkan sebuah amplop dari kantongnya. Amplop itu sudah kumal. Dari dalam amplop itu Alex mengeluarkan sebuah gelang.
“Mungkin gelang ini bisa membantu Ibu menjelaskan.”
Ibu Maria melihat gelang di tangan Alexa. Namun, ia diam saja.
“Aku tidak mengeti maksud kamu apa.”
“Seminggu sebelum saya datang ke sini, saya menerima surat dari alamat panti ini. Di dalam surat itu terdapat gelang ini. Ini adalah gelang adik saya yang hilang 3 tahun yang lalu! didalam surat itu mengatakan kalau Sheila ada di sini, tapi saya harus menjemput dia sendiri.”
“Saya enggak tahu kamu ngomong apa.”
“Sebaiknya Ibu mengaku!”
Ibu Maria gusar. Ia bangkit dari tempat duduk dan mulai kehilangan kesabarannya. “PERGIIII!”
“Saya akan kembali! Saya akan melaporkan panti asuhan ini ke polisi!”
Alexa kemudian pergi. Bibi Arum bersembunyi dibalik pintu.
***
Alexa sedang merapikan kopernya dengan terburu. Ia melihat foto seorang anak perempuan berusia 10 tahun mengenakan sebuah gelang yang sama dengan yang dikenakannya Anak perempuan itu adalah Sheila.
Sheila memiliki bercak-bercak tanda lahir pada wajah dan tangannya.
“Sheila ... maafin Kakak. Kakak enggak bisa temuin kamu.”
Kamar Alexa kemudian diketuk. Saat ia membuka pintu, ternyata itu adalah Arjanggi.
“Arjanggi? Kenapa kamu di sini? nanti kamu dihukum sama Ibu Maria lho.”
“Boleh aku masuk, Kak?”
“Ayo masuk.”
Arjanggi masuk ke kamar. Arjanggi melihat foto Sheila.
“Ini siapa, Kak?”
“Itu foto adik Kakak, Sheila.”
“Kakak punya adik?”
“Iya, 3 tahun yang lalu. Hari Selasa, 6 Januari Kakak telat menjemput Sheila di sekolah. Hari itu aku janji mau mengajak Sheila ke toko buku, tapi aku enggak berhasil menemukan dia. Kata teman-temannya Sheila sempat menunggu di depan gerbang sekolah. Tapi aku terus menunggu dia, dia enggak muncul juga.”
Alexa meneteskan air mata saat menceritakan kejadian hilangnya Sheila pada Arjanggi.
“Dia... diculik.”
“Diculik?”
“Kami sudah meminta bantuan polisi, berbulan bulan tapi tidak ada jejak. Hingga akhirnya kami merelakan kepergian Sheila.
Arjanggi memeluk Alexa. “Kak Alexa jangan tinggalin aku, Kak. Jangan pergi, Kak! aku enggak mau pergi ke rumah abadi, Kak!”
Alexa melepas pelukan Arjanggi. Ia menatap dalam Arjanggi. Alexa berlutut di depan Arjanggi.
“Kenapa? bukankah Semua anak di panti ini mau pergi ke ‘rumah abadi’?”
“Aku enggak mau! Kata mereka rasanya sakit.”
“Mereka siapa?”
“Elia, Magdalena dan Ezra.
“Arjanggi, mereka sudah meninggal, kan?”
Arjanggi mengangguk.
Alexa terkejut dengan perkataan Arjanggi. Tiba-tiba pintu diketuk oleh seseorang.
Alex dan Arjanggi terkejut. Arjanggi segera bersembunyi di dalam lemari. Ia membukakan pintu.
Dari bilik lemari, Arjanggi mengintip. Ia melihat Bibi Arum memukul Alexa. Alexa terjatuh pingsan. Arjanggi kaget dan spontan ia bersuara.
Hal itu menyebabkan Bibi Arum menoleh serta berjalan ke arah lemari. Lemari dibuka. Arjanggi tercengang.
***
Ruangan Ibu Maria gelap. Ibu Maria berjalan dari kegelapan menuju terang. Ibu Maria sedang bercermin. Ia menatap wajahnya. Lipstiknya sudah pudar. Ia tampak kusut. Rambutnya sedikit berantakan.
Ibu Maria menangis memandangi wajahnya. Kemudian mengambil sekuntum bunga mawar merah dari kumpulan tangkai yang ada di vas bunga. Ibu Maria mencium bunga itu. Sebuah telepon berdering.
Ibu Maria mengangkat telepon.
“Oh sudah di depan ya? Baik saya akan segera ke depan.”
Ibu Maria menutup telepon. Kemudian, kembali bercermin. Ibu Maria memakai lipstiknya dan merapikan rambutnya.
***
Bibi Arum masuk ke kamar Ario, Ia melihat Ario dan anak perempuan sedang tertidur. berkeringat.
Bibi Arum menyelimuti mereka dengan penuh kasih sayang. Ario terbangun.
“Tidur lagi Nak, sudah malam. Ingat, nanti jangan keluar kamar ya. Dan pastikan dia tidak bersuara. Ibu Maria masih di panti.”
Ario mengangguk.
“Bu.”
“Ya Ario, ada apa?”
“Lala sudah beberapa hari ini engga mau makan.”
“Kenapa?”
Ario memberikan gambar yang dibuat oleh Lala. Gambar Alexa dan Lala.
“Dia tahu, Bu.”
“Maksud kamu apa?”
“Maafkan Ario, Bu. Dua minggu yang lalu Ario kirim surat ke Kak Alexa agar ia menjemput Lala. Lala sudah pulih dari shocknya, Bu. Dia sudah bisa mengingat kakaknya. Dia ingin pulang, Bu. Ario melakukan semua ini buat Lala. Karena Ario sayang Lala.”
“Ibu sudah anggap Lala sebagai anak Ibu sendiri sama seperti kamu. Ibu melakukan ini agar kamu memiliki teman dan bahagia.”
“Ario mau Lala juga bahagia.”
“Kamu mau kehilangan lala? Kamu mau enggak punya temen lagi?”
“Biarkan Lala pergi, Bu. Cuma itu yang bisa bikin Ario bahagia.”
Bibi Arum menampar Ario. Namun, sesaat Bibi Arum menyesal serta menangis.

Other Stories
Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Mewarnai Bawah Laut

ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Download Titik & Koma