Membabi Buta

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Bab 10

Sulasemi tersadar dari pingsannya. Ia membuka mata dan melihat ke sekeliling. Ia merasakan sakit di kepala bagian belakang. Kemudian melihat ke pintu atas yang sudah dikunci Mariatin dari luar.
Sulasemi mengambil sebilah pisau belati yang tergantung di dinding. Lalu, melangkah mendekat ke arah perempuan yang dirantai di sebuah kursi.
Sulasemi membelai-belai rambut si perempuan. Ada pisau tajam di tangannya. Pisau itu menjelajahi wajah si perempuan. Perempuan ini bergetar dan ketakutan. Perlahan, Sulasemi menyingkapkan rambut panjang si perempuan ke samping. Pisau didekatkan ke daun telinga si perempuan. Dengan sadis, pisau itu berayun dan memutuskan telinga si perempuan dengan sekali tebas.
Terdengar irisan pisau yang mengenai tulang lunak telinga. Si perempuan menangis tiada henti. Darah terus mengucur dari bagian telinga kanannya. Kuping tergeletak di lantai dan darah berceceran.
Terdengar lagi bunyi alat lainnya. Sulasemi seperti sedang memilah alat yang pas untuk mengeksekusi si perempuan. Sulasemi memilih tang dari tempatnya. Tang dilesakkan ke dalam mulut perempuan itu. Mulut si perempuan enggan terbuka. Sulasemi terus memaksa hingga mulut si perempuan terbuka.
Terdengar gesekan antara tang dan gigi yang bergemeletuk. Tang ini mencapit salah satu gigi si perempuan. Kemudian giginya dicabut dari gusinya. Teriakan si perempuan memekakkan telinga. Teriak tiada henti. Kesakitan.
Suara teriakan ini menguasai seisi ruangan.
Mariatin tersentak kaget mendengar suara teriakan perempuan yang disiksa di basement. Ia melangkah dan bersiaga di dekat pintu.
Suasana hening. Mariatin masih bersiaga menanti kemungkinan terburuk. Lama tidak terdengar suara dari luar. Mariatin kemudian memberanikan diri membuka pintu kamarnya sambil memegang sebilah kayu.
Dia berjalan keluar dan mengunci pintu. Meninggalkan Asti sendiri di dalam kamar.
Mariatin melangkah pelan. Melihat pintu basement masih terkunci. Ia berjalan hati-hati melintasi lorong menuju kamar Sundari. Ia melihat pintu kamar Sundari sedikit terbuka. Ia tetap waspada dan melihat ke area di sekelilingnya. Perlahan ia mendekati pintu kamar Sundari. Kayu yang dibawanya dipegang dengan erat.
Mariatin memberanikan diri masuk ke kamar Sundari. Kayu sudah siap dilayangkan jika terjadi sesuatu. Pintu kamar Sundari perlahan terbuka. Mariatin masuk melangkah perlahan dengan tetap siaga. Ia melangkah ke arah meja rias Sundari.
Mariatin sudah tidak melihat jubah dan topeng di kamar Sundari ini. Mariatin mulai buru-buru mencari kunci pintu keluar dan ia menemukan beberapa kunci di meja rias tersebut. Mariatin tidak yakin dengan kunci-kunci itu. Kemudian, Mariatin menuju pintu lemari pakaian dan membukanya. Mencoba mencari kunci lainnya di dalam lemari. Lalu, ia menemukan banyak kunci lainnya di sini. Mariatin terlihat kesal karena terlalu banyak pilihan kunci.
Mariatin mengambilnya lalu melangkah keluar dari kamar Sundari. Dengan hati-hati ia melangkah melintasi lorong yang sedikit gelap menuju ruang tengah. Di tangannya masih tergenggam sebilah kayu. Dan tangan satunya memegang banyak kunci.
Ruangan terlihat gelap. Penerangan hanya berasal dari bias cahaya yang masuk dari luar rumah melalui jendela. Mariatin melangkah perlahan sambil terus waspada melihat ke sekelilingnya.
Mariatin semakin dekat dengan pintu keluar. Ia mulai mencocokkan kunci yang diambilnya tadi dari dalam kamar Sundari.
Mariatin terlihat terburu-buru mencocokkan beberapa kunci ke lubangnya. Kunci itu jatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi bising. Mariatin mengambilnya lagi dengan cepat sambil menoleh kiri kanan.
Sudah berapa kunci dicoba tapi ia belum bisa membuka pintu keluar. Lama kemudian Mariatian berhasil membuka pintu keluar. Pintu terbuka. Bertepatan dengan itu, Mariatin mendengar suara gaduh di lorong. Suara seperti pintu dihancurkan dengan kapak.
Mariatin bergumam. “Asti?”
Mariatin melihat Sulasemi sudah berdiri di depan pintu kamar Mariatin sambil memegang kapak. Sulasemi kembali mengayunkan kapak ke pintu kamar Mariatin. Pintu kamar Mariatin sudah terlihat rusak dan hancur.
Mariatin takut Asti disakiti.
“Sulasemi!” teriak Mariatin.
Sulasemi menoleh dan melangkah ke arah Mariatin dengan cepat. Mariatin berlari cepat ke arah sudut lain.
Baru saja Mariatin bersembunyi, sosok jubah merah sudah berdiri di sampingnya. Rambut Mariatin dijambak dan diseret. Mariatin mencoba melawan dengan sebilah kayu yang sudah dipegangnya dari tadi. Namun, ia tidak sanggup melawan saat Sulasemi menghantam dengan mata kapaknya. Mariatin pingsan.
Suasana hening. Pintu ke atas basement terlihat hancur berantakan akibat sulasemi yang tadi berusaha keluar tanpa kunci. Sulasemi dan jubah merah terlihat menyeret tubuh mariatin menuruni anak tangga. Mariatin masih terlihat pingsan.
Jubah merah menarik sebuah potongan drum minyak yang masih kosong. Terlihat ia mencampuradukkan pasir dan semen serta ditambahkan dengan air ke dalam drum. Jubah merah tersingkap dan terlihat wajah sundari yang bengis. Sundari mengaduk adoan semen itu dengan sekop.
Mariatin masih terkapar di lantai tak bergerak. Sundari menyudahi adukan semennya. Kemudian menghampiri Sulasemi.
“Mbakyu. Adonan semen sudah disiapkan. Silahkan Mbakyu potong-potong tubuh Mariatin sebelum semennya mengeras,” ucap Sundari melihat tubuh Mariatin yang masih terkapar.
“Mbakyu pasti senang melihat potongan tubuh babu kurang ajar itu masuk ke drum.”
Sulasemi menatap Mariatin. Siap mengeksekusi.
***
Ruang tengah terlihat sepi dan berantakan. Pintu keluar sedikit terbuka dan angin bertiup pelan.
Dari kejauhan terlihat Broto naik sepeda mendekat ke teras. Broto melihat pintu yang sedikit terbuka. Ia melangkah menuju pintu dan mendorong pintu hingga terbuka lebar. Broto masuk ke dalam rumah.
***
Tubuh mariatin diseret mendekat ke adukan semen oleh Sulasemi. Sementara Sundari mengambil pisau pemotong daging dari meja peralatan.
Tiba-tiba perempuan yang di kursi berteriak-teriak sehingga membuat panik Sundari dan Sulasemi. Mariatin seperti terbangun karena teriakan tersebut. Ia bergerak pelan. Sundari dan Sulasemi tidak menyadari keadaan tersebut.
Sundari dan Sulasemi sibuk memegangi tubuh perempuan yang berteriak. Mulut perempuan tersebut akhirnya diikat tali dalam keadaan menganga.
Sundari berjalan ke posisi Mariatin tergeletak. Ia terkejut melihat sosok Mariatin sudah tidak ada di tempat sebelumnya.
“Mbakyu... Mbakyu ... babu itu berhasil kabur.” Sundari panik.
Sulasemi mendekat dan terlihat sangat marah saat ia tidak melihat Mariatin di tempatnya. Mereka berpencar mencari Mariatin.
“Mariatin ... Mariatin. Di mana kamu, Mar. Jangan bikin Ndoro Sulasemi marah, Mar. Mbakyu ingin tubuh kamu dipotong-potong, Mar.” Sundari teriak memancing Mariatin keluar.
Mariatin tidak terlihat sama sekali. Ia berdiri di belakang tumpukan drum yang belum terpakai. Ia dikelilingi besi rajut yang berbentuk kerangkeng besi.
Sulasemi sudah berdiri dekat posisi Mariatin tapi ia tidak melihat Mariatin.
“Mariatin...”
Mariatin nekat memukul Sulasemi dengan tangan kosong yang membabi buta. Sulasemi terjengkang. Tubuhnya berada di bawah Mariatin. Mariatin duduk di atas tubuh Sulasemi.
Pukulan mariatin terus bersarang di kepala dan badan Sulasemi. Hingga Mariatin terlihat kelelahan. Dan Sulasemi terlihat tidak bergerak. Tiba-tiba tangkai sekop menghantam pelipis Mariatin dari samping. Mariatin jatuh terjengkang, tapi masih dalam keadaan sadar.
Sulasemi sudah tidak bergerak. Mukanya penuh lumuran darah.
Rambut Mariatin diseret Sundari dengan keji. Sundari sangat murka dengan babu yang satu ini. Tiba-tiba di belakang Sundari muncul sosok Broto yang mendorong Sundari sampai terjatuh.
Mariatin terlepas dari genggaman tangan Sundari. Melihat kesempatan ini. Mariatin langsung menyerang Sundari dengan sekop ke arah kepala Sundari. Mariatin makin menggila menghujani tubuh Sundari dengan pukulan sekop. Mariatin di puncak kegilaannya.
Sundari sudah tidak bergerak dan berlumur darah akibat serangan Mariatian.
Broto perlahan melangkah mendekati perempuan yang duduk di kursi. Matanya mencoba menegaskan pandangan yang ada di hadapannya.
“Ayu? Ayu di sini?”
Broto memeluk perempuan yang dipanggilnya Ayu. Ini adalah istri Broto yang sudah lama hilang.
“Mas terus nunggu kamu, Yu. Ayu kenapa ada di sini?”
Broto menyeka darah yang ada di wajah perempuan bernama Ayu ini.
“Mas,” ucap Ayu pelan.
Broto dan Ayu menangis. Mariatin melihat kejadian itu.
Sesaat Mariatin langsung teringat Asti. Ia melangkah menaiki anak tangga dengan sisa tenaga yang tersisa. Mariatin melangkah lelah dengan pakaian yang sudah berantakan. Ia memaksakan lari sepanjang lorong ke kamarnya.
“Asti. Asti. Astiii.”
Mariatin masuk ke kamarnya lewat pintu yang sudah tidak berbentuk.
Mariatin muncul di pintu yang sebagian sudah hancur di kapak sulasemi. Asti terlihat tidak bergerak. Mariatin mendekap Asti yang sudah terlihat lemah dengan napas berat.
“Ibu. Asti tidak kuat, Bu,” ujar Asti lemah.
“Asti. Jangan tinggalin Ibu, Ti.”
Mariatin membelai-belai wajah Asti yang lemah. Asti terbatuk. Mariatin lalu menggendong Asti menuju lorong.
Ruang tengah terlihat berantakan. Mariatin muncul melangkah sambil menggendong Asti. Kembali terdengar Asti memanggilnya.
“Ibu.”
“ASTI.”
Mariatin berhenti melangkah. Ia melihat Asti yang semakin melemah.
Mata Asti terlihat hampir menutup. Mariatin panik. Ditepuk-tepuknya pipi Asti. “Asti? Asti?”
Mariatin terduduk di lantai ruang tengah. Asti sudah tidak bergerak. Tubuhnya terkulai menandakan Asti sudah meninggal di pelukan Mariatin. Mariatin teriak histeris.
Menangis.
“Astiiiiii ...”
Mariatin mendekap Asti dengan kuat. Seakan Mariatin tidak ingin melepaskan Asti selamanya.

Other Stories
Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Akibat Salah Gaul

Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

Download Titik & Koma