Membabi Buta

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Bab 3

Mariatin di dalam kamar. Terlihat berpikir setelah melihat tatapan Sundari. Kemudian ia teralihkan dengan isi kamarnya.
Kamar ini terasa pengap dan berdebu. Seperti sudah lama tidak ditempati dan dibersihkan.
Sesekali Mariatin mencolek beberapa sudut ruangan untuk melihat ketebalan debu. Kemudian ia membersihkan tangannya yang berdebu dengan mengelapkannya ke pakaiannya.
Tiba-tiba handphone Mariatin berdering. Mariatin kaget dan membuka tasnya dengan tergesa-gesa. Telepon dari Norma.
Mariatin memencet tombol answer.
“Mar, kamu di mana? Markum nyariin kamu nih. Aku baru tau kalo kamu pinjem duit dari majikan gila itu... Jadi ini yang bikin kamu buru-buru minggat dari rumah.” Terdengar suara Norma.
Mariatin hanya diam.
“Mar? Maria? Jawab!”
Mariatin cuma diam mendengarkan Norma meracau di telepon. Wajah Mariatin terlihat tidak suka diceramahi oleh kakaknya seperti itu di telepon.
“Maria! Denger aku! Aku tidak mau ibu malah yang dirongrong si bangsat itu.”
Mariatin menarik napas sebelum menjawab. “Pokoknya Kak Norma tenang saja. Kali ini aku mau kerja sungguh-sungguh. Kalo nanti aku sudah punya uang banyak. Aku pasti pulang dan aku bayar semua hutang-hutangku.”
Kemudian Mariatin mematikan handphone-nya. Dan melempar handphone-nya ke dalam tas. Seakan menyalurkan kekesalan pada kakaknya dengan cara seperti itu.
Mariatin melihat Asti keluar dari kamar mandi dengan membawa ember dan lap. Ia menoleh pada Asti yang senyum. “Pintar sekali anak ibu.”
Mariatin tersenyum. Ia mengambil ember yang dibawa Asti dari kamar mandi. Kemudian mencelupkan lap ke dalam air dan memerasnya.
Mariatin dan Asti bersama membersihkan kamar yang berdebu ini.
***
Mariatin baru pertama kali masuk dan melihat keadaan dapur. Semua tertata rapi. Semua peralatan dapur diletakkan pada tempat yang seharusnya. Terlihat set dapur di rumah pada umumnya. Kecuali beberapa perabotan kotor yang belum sempat dicuci.
Mariatin kemudian melihat jendela yang dipaku dari dalam. Tidak bisa dibuka. Mariatin cukup heran dengan keadaan itu. Kemudian Mariatin membereskan peralatan dapur yang terlihat sedikit berantakan dan kotor. Beberapa piring terlihat berjamur dan berkerak. Ada gelas yang berisi air yang warnanya sudah kekuningan.
Mariatin menggelengkan kepalanya. “Jorok.”
Mariatin mencuci piring dan gelas. Menikmati pekerjaan yang baru dimulainya.
Tak lama kemudian, Sundari muncul masuk ke dalam dapur dan menghampiri Mariatin. Di tangannya, Sundari membawa seragam pembantu untuk Mariatin. Masih bersih dan rapi.
“Mar, ini seragam kamu. Mulai besok biasakan pakai seragam selama kamu bekerja.”
Mariatin mengelap tangannya yang basah pada pakaiannya sendiri. Lalu menghampiri Sundari.
Mariatin mengambil seragamnya dari tangan Sundari. Kemudian membuka lipatan seragamnya untuk melihat sekilas.
“Iya Ndoro. Terima kasih, Ndoro.”
Sundari melihat jendela dapur, seakan tahu Mariatin tadi berusaha membuka jendela. “Jangan pernah membuka jendela di rumah ini... Jangan sekali-kali!”
Mariatin menoleh ke jendela dapur. Bingung. “Kenapa Ndoro? Kan biar udara dan sinar matahari bisa masuk.”
“Mbakyu Sulasemi tidak suka cahaya yang terlalu terang. Dan suara bising dari luar.”
Mariatin diam dan mengangguk walau tidak mengerti apa yang dimaksud Sundari.
“Dan perlu kamu ingat. Semua sampah cukup dimasukkan ke dalam kantong plastik lalu kumpulkan di pojok dapur. Lampu utama setelah jam 9 malam harus dimatikan. Jangan begadang sampai larut malam.”
Mariatin terlihat mendengarkan berusaha paham.
“Dan jangan coba-coba mengambil barang yang bukan hak kamu di rumah ini.”
Mariatin terlihat ingin bicara. Ketika...
“Satu hal lagi... jangan banyak tanya!”
“Baik, Ndoro.”
“Yasudah, kalo kamu sudah selesai membereskan dapur. Tolong buatkan kopi untuk saya.”
“Baik, Ndoro.”
Setelah memesan secangkir kopi, Sundari meninggalkan Mariatin di dapur.
Mariatin kembali melipat seragam kerjanya dengan asal. Lalu meletakkannya di atas meja. Mariatin mulai mengambil gelas dan mencari stoples bubuk kopi di laci lemari.
***
Maritain berjalan menyusuri lorong membawa secangkir kopi untuk Sundari. Semakin Mariatin berjalan menuju lorong, semakin terdengar suara Sulasemi bersenandung langgam mocopot megatruh.
Mariatin tidak memahami mocopot yang disenandungkan itu.
Sigra milir kang gethek sinangga bajul... Kawan dasa kang njageni... Ing ngarsa miwah ing pungkur...
Mariatin terus berjalan dengan perlahan. Hingga ia tiba di dekat pintu kamar Sulasemi.
Pintu kamar Sulasemi sedikit terbuka, Mariatin memperlambat langkahnya berusaha mengintip dari jauh ke dalam kamar Sulasemi.
Mariatin berhenti tepat di celah pintu yang terbuka. Dari luar, ia bisa melihat Sulasemi duduk di atas kursi goyangnya. Posisinya membelakangi pintu.
Dari sini, Mariatin melihat dandanan Sulasemi sama persis dengan apa yang sering dipakai oleh Sundari. Kebaya dan lainnya, tapi tidak serapi Sundari.
Mariatin masih mendengarkan mocopot megatruh.
...Tanapi ing kanan kering. Kang
gethek lampahnya alon...
Mariatin mematung di depan pintu kamar. Ia merasa Sulasemi tidak menyadari keberadaanya di sana. Mariatin seakan melamun terbawa langgam yang ditembangkan Sulasemi.
Suara Sulasemi terhenti.
Tiba-tiba beberapa detik kemudian pintu kamar Sulasemi tertutup dengan keras dari dalam. Menimbulkan suara keras yang mengejutkan.
Mariatin seakan langsung tersadar dari lamunannya. Ia terkejut, dengan cepat ingin balik badan, namun Sundari sudah berada tepat di hadapan wajah Mariatin.
Mariatin kembali terkejut. Napasnya naik turun dengan cepat.
“Itu Mbakyu Sulasemi. Dia tidak suka kamu berdiri di depan kamarnya.”
Mariatin tertunduk. “Maaf, Ndoro. Saya... Saya cuma kebetulan lihat Ndoro. Habis pintu kamarnya terbuka.”
Ada momen hening sejenak.
“Kalo kamu bisa bersikap baik selama kerja di sini. Kamu aman.”
Mariatin terdiam. Kemudian menganggukkan kepalanya.
“Baik, Ndoro.”
***
Mariatin melangkah sepanjang lorong kamarnya menuju ruang tengah.
Senandung langgam mocopot megatruh yang ditembangkan Sulasemi terdengar mengalun pelan memenuhi ruang seisi rumah malam itu.
Sigra milir kang gethek sinangga bajul... Kawan dasa kang njageni...
Mariatin melangkah pelan, ia sadar mendengar langgam mocopot dari kamar Sulasemi.
Setelah sampai di ruang tengah. Mariatin mencari sakelar lampu, kemudian mematikan lampu ruangan dalam satu per satu. Sesekali ia menoleh kesana kemari sambil menuju sakelar lainnya.
Setelah semua lampu selesai dipadamkan. Mariatin berjalan kembali ingin menuju kamarnya. Namun tiba-tiba terdengar pintu utama diketuk dari luar dengan keras.
Mariatin terlonjak kaget. Seseorang di depan pintu seperti menggedor-gedor pintunya. Mariatin tidak punya bayangan siapa yang bertamu semalam ini.
Mariatin memberanikan dirinya. Perlahan ia berjalan kembali ke arah ruang tengah. Ia mendekat ke arah pintu.
Mariatin berdiri agak jauh dari pintu.
Mariatin bergumam ragu. “Siapa?”
Tak ada jawaban. Ketukan di pintu berhenti.
“Siapa di luar?” Mariatin mengulang ucapannya. Namun, tetap tak ada jawaban membuatnya semakin penasaran. Hening.

Other Stories
Dream Analyst

Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...

2r

Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Kesempurnaan Cintamu

Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Download Titik & Koma