Chapter 19: Kerusakan Teritori Musuh
Beberapa minggu setelah email pertamanya, Daka mengirim sebuah pesan singkat. Pesan yang terasa seperti panggilan pengadilan untuk vonis yang tidak kusadari sedang kutunggu.
Bisa kita ketemu? Ada yang perlu aku sampaikan langsung. Tentang Reksa.
Kami bertemu di kedai kopi yang sepi di luar area kampus, teritori netral yang tidak terkontaminasi oleh memori. Ruang konferensi pasca-perang kami. Dia sudah menunggu saat aku datang, dengan Sakti yang tertidur pulas di dalam gendongan di dadaku, napasnya yang teratur menjadi satu-satunya irama yang menenangkanku. Daka terlihat seperti hantu dari dirinya sendiri. Lingkaran hitam di bawah matanya bukan lagi sekadar tanda kurang tidur; itu adalah memar psikis.
Dia tidak langsung bicara. Dia hanya menatap Sakti, dengan ekspresi yang merupakan campuran antara kerinduan, rasa sakit, dan ketakutan yang begitu telanjang. Seolah menatap planet yang ia tahu ia bantu ciptakan tapi tidak akan pernah bisa ia kunjungi.
“Dia… mirip denganmu saat tidur,” bisiknya.
Aku tidak menjawab. Kami tidak di sini untuk bernostalgia. Kami di sini untuk laporan kerusakan.
“Reksa…” Daka memulai, suaranya berat, serak. “Dia tidak di rumah lagi. Dia… sedang dirawat.”
Aku menunggu, membiarkan keheningan mendesaknya untuk melanjutkan.
“Aku akhirnya memberanikan diri menghadapinya dua minggu lalu,” lanjut Daka, menatap cangkir kopinya yang tidak tersentuh. “Aku memuntahkan semuanya. Tentang videonya, tentang kehamilanmu, tentang kehancuran sistematis yang dia sebabkan. Awalnya dia menyangkal, marah, bilang aku dan kamu adalah kebohongan yang pantas dihancurkan. Tapi kemudian… dia hancur. Dia menangis seperti anak kecil, bilang kalau dia tidak tahu kenapa otaknya begitu penuh kebencian. Dia bilang dia takut, karena dia merasa dirinya pelan-pelan berubah jadi monster.”
Daka berhenti, menelan ludah. “Malam itu dia mencoba… menyakiti dirinya sendiri. Ibu menemukannya. Sekarang dia di sebuah fasilitas perawatan jiwa.”
Aku duduk diam, memproses informasi itu. Otakku, dengan refleks seorang analis, langsung bekerja. Aku mencari perasaan yang seharusnya kurasakan. Kemenangan? Kepuasan? Perasaan bahwa keadilan kosmik, dalam bentuknya yang paling puitis dan kejam, telah datang?
Tapi aku tidak merasakan apa-apa dari semua itu.
Yang kurasakan hanyalah sebuah kesedihan yang dingin dan akademis. Aku tidak melihat Reksa sebagai monster yang akhirnya dikalahkan. Aku melihatnya sebagai produk akhir yang cacat dari sebuah sistem keluarga yang beracun. Aku melihat studi kasus tentang maskulinitas toksik: seorang anak laki-laki yang rasa irinya pada saudaranya yang “sempurna” dibiarkan membusuk tanpa diobati hingga menjadi kanker. Aku melihat bayangan dari ayahnya yang selalu membanding-bandingkan, dan ibunya yang lebih peduli pada citra daripada cinta. Reksa bukanlah penyebab utama. Dia hanyalah gejala yang paling parah dari penyakit yang diwariskan.
Sakti bergerak sedikit dalam tidurnya, sebuah helaan napas kecil. Mata Daka dan mataku sama-sama tertuju padanya sejenak.
“Aku tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya, Ran,” kata Daka, suaranya pecah. “Keluargaku… hancur.”
Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya, aku melihatnya bukan sebagai laki-laki yang telah mengecewakanku, tapi hanya sebagai seorang anak laki-laki yang kebingungan di tengah reruntuhan rumahnya.
“Beberapa hal memang tidak bisa diperbaiki, Ka,” kataku pelan. Dan kata-kata itu tidak terasa pahit. Kata-kata itu terasa seperti sebuah diagnosis. Seperti gravitasi, atau fajar.
Keadilan yang sesungguhnya, aku sadar saat itu, bukanlah melihat musuhmu menderita. Keadilan yang sesungguhnya adalah kebebasanmu untuk tidak lagi peduli pada nasib mereka. Kebahagiaanku tidak bergantung pada penderitaan Reksa. Kebahagiaanku bergantung padaku, dan pada makhluk kecil yang sedang bernapas dengan tenang di dadaku.
Sebelum kami berpisah, Daka menyodorkan sebuah amplop tertutup berwarna cokelat.
“Surat pertama,” katanya. “Untuk Arsip Sakti.”
Aku menerimanya.
Saat aku berjalan pulang sore itu, aku tidak merasakan kemenangan. Aku hanya merasakan akhir. Akhir dari bab yang penuh amarah dan keinginan untuk balas dendam. Bab itu kini telah kututup. Bukan dengan pengampunan, tapi dengan pemahaman. Pemahaman bahwa beberapa orang sudah begitu hancur sehingga satu-satunya cara mereka merasa utuh adalah dengan menghancurkan orang lain.
Dan aku, menolak untuk menjadi bagian dari siklus itu lagi. Berkas kasus Reksa Prasetya, di dalam kepalaku, kini telah resmi ditutup dan diarsipkan.
Other Stories
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...