32 Detik

Reads
4.1K
Votes
795
Parts
23
Vote
Report
Penulis Ign Indra

Chapter 21: Jawaban Dari Hantu

Satu minggu berlalu setelah aku mengirim email pada Wira Adiwangsa. Lalu dua. Aku sudah melakukan pengarsipan mental atas tindakan itu, memasukkannya ke dalam folder berjudul “Eksperimen yang Dilakukan untuk Kepentingan Proses, Bukan Hasil.” Aku kembali pada ritme kehidupanku yang baru: popok, podcast, dan puisi-puisi buruk yang kutulis di aplikasi Notes pada pukul tiga pagi saat menyusui Sakti.

Lalu, pada suatu hari Sabtu yang terik dan membosankan, saat aku sedang berkunjung ke rumah ibuku untuk mengambil beberapa pakaian bayi yang beliau belikan, ibuku menyodorkan sebuah amplop.

“Ini datang kemarin,” katanya, tanpa ekspresi. Tapi tangannya yang meletakkan amplop itu di meja sedikit gemetar, seakan anomali seismik kecil dalam ketenangannya yang biasanya sempurna.

Amplop itu berwarna putih gading yang sudah agak kusam. Alamat ibuku tertulis dengan rapi, dan namaku—Kirana Azzahra—ditulis dengan tulisan tangan yang miring dan maskulin, menggunakan tinta hitam yang sedikit luntur oleh kelembapan. Tidak ada nama pengirim. Tapi aku tahu. Hantu tidak perlu menuliskan alamat balasan.

Aku tidak membukanya di sana. Aku memasukkannya ke dalam tas dengan hati-hati, seolah benda itu adalah relik suci atau bom waktu yang belum dirakit. Aku mengucapkan terima kasih pada ibuku, mengambil barang-barang Sakti, dan segera pulang.

Di kamar kosku, dengan Sakti yang tertidur di boksnya, napasnya yang teratur menjadi satu-satunya suara di dunia, aku duduk di lantai dan melakukan forensik amatir pada amplop itu selama sepuluh menit. Aku adalah seorang sejarawan yang baru saja menemukan satu-satunya sumber primer dari peradaban yang hilang—peradaban kehidupanku sendiri. Aku mempelajari setiap detail: prangko yang dicap di kantor pos kota lain, cara huruf ‘K’ pada namaku ditulis dengan sedikit tekanan berlebih, tekstur kertasnya yang terasa tebal dan mahal.

Dengan napas tertahan, aku merobek amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada selembar kertas, dilipat menjadi tiga. Tulisan tangannya sama.

Surat itu tidak dimulai dengan “Anakku Kirana,” atau sapaan canggung lainnya. Surat itu langsung ke intinya, dengan kejujuran seorang pria yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan.

Kirana,

Aku ingat namamu. Aku tidak pernah melupakannya.

Emailmu sampai padaku seperti gema dari kehidupan lain. Kehidupan di mana aku adalah pria yang lebih berani. Aku membaca setiap katamu, dan tidak ada satu pun yang bisa kusangkal. Kau benar. Aku adalah ruangan kosong di dalam rumah hatimu.

Aku tidak akan memberimu daftar alasan atau pembenaran. Tidak ada pembenaran untuk seorang pengecut. Ayahku, ibuku, tekanan ekonomi, masa depan—semua itu hanyalah catatan kaki. Kebenaran yang sesungguhnya lebih sederhana dan lebih jelek: aku takut. Aku takut pada tanggung jawab. Aku takut pada seorang perempuan luar biasa yang pantas mendapatkan lebih dari seorang pria yang ragu-ragu. Jadi aku lari. Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku, dan aku telah membayarnya dengan keheningan selama dua puluh dua tahun.

Kau bilang kau punya seorang putra. Sakti. Nama yang indah. Dan kau sedang mencoba memutus rantai. Kalimat itu menghantamku lebih keras dari apa pun.

Aku tidak tahu apakah aku berhak mengatakan ini, tapi aku akan mengatakannya juga. Dulu, ibumu dan aku… kami saling mencintai. Tapi kau tidak dilahirkan dari cinta itu. Kau dilahirkan dari ketakutanku. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa kamu, Kirana, adalah cinta yang tak sempat aku pelajari.

Aku tidak meminta untuk masuk ke dalam hidupmu. Sudah terlambat untuk itu. Tapi jika kau suatu hari nanti mengizinkan, aku hanya ingin melihatmu. Dari jauh pun tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat seperti apa jadinya cinta yang tak sempat kupelajari itu saat ia sudah tumbuh dewasa.

Wira

Aku selesai membaca. Kertas itu terasa lemas di tanganku. Aku tidak menangis. Aku tidak marah. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Kesedihan seorang peneliti yang baru saja mengkonfirmasi hipotesisnya yang paling buruk: bahwa monster yang menghantuinya ternyata hanyalah seorang manusia biasa yang menyedihkan.

Pria ini, hantu ini, ternyata hanyalah data point lain dalam tesisku. Sama seperti Daka. Sama seperti Reksa. Sama seperti ibuku. Sekumpulan manusia yang terluka dan ketakutan, yang tanpa sengaja saling melukai satu sama lain dalam upaya putus asa mereka untuk selamat.

Aku melipat kembali surat itu dengan hati-hati. Aku berjalan ke meja belajarku, membuka kotak kayu kecil itu. Arsip Sakti. Di dalamnya ada satu amplop dari Daka. Aku meletakkan surat dari Wira di sebelahnya.

Dua surat. Dari dua ayah. Yang satu mencoba hadir dari kejauhan, yang satu mencoba kembali dari masa lalu. Keduanya terlambat. Keduanya tidak sempurna. Keduanya manusia.

Aku menutup kotak itu. Bab dalam hidupku yang selalu kuisi dengan tanda tanya yang besar dan tebal, kini akhirnya memiliki tanda baca. Bukan tanda seru yang bahagia. Bukan pula koma yang menjanjikan kelanjutan. Hanya titik.


Other Stories
Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Baca Tanpa Dieja

itulah cara jpload yang bener da baik ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

7 Misteri Di Korea

Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...

Download Titik & Koma