Keputusan Pindah Ke Seoul
Rumah keluarga Aditya di pinggiran Sukaraya terasa sepi dan pengap. Sukaraya adalah kota fiksi yang sibuk, penuh motor berhenti di warung mie ayam dan pasar malam yang ramai. Tapi hari ini, hanya bau dupa dari pemakaman ayah yang menyelimuti ruang tamu. Ayah, seorang pedagang kain kaya, mati mendadak karena serangan jantung. Warisannya besar: uang tunai 5 miliar rupiah, tanah, dan saham. Raka Aditya, anak sulung berusia 25 tahun, duduk di kursi kepala keluarga. Badannya tegap, otot dada bidang terlihat di balik kaos hitam ketat, matanya lelah tapi tegas.
Di sekitarnya, ibu dan enam adik perempuannya menatap penuh harap. Ibu Sari, 48 tahun, wajahnya pucat dengan rambut acak-acakan. Laras (23) tomboy berotot halus, Mira (21) seksi berpayudara montok, Nita (20) imut genit, Rina (19) manja polos, Sinta (18) misterius berpinggul lebar, Tika (17) culun lucu dengan mata besar. Mereka semua clingy ke Raka, kakak idola yang selalu lindungi mereka.
Raka: "Ibu, adik-adik. Ayah udah pergi. Kita nggak bisa stuck di Sukaraya ini. Ekonomi lesu, peluang nol. Warisan ayah cukup buat hidup baru. Aku usul: kita pindah ke Seoul, Korea Selatan. Beli apartemen bagus, aku kerja IT, kalian kuliah atau apa. Fresh start!"
Ruangan hening. Ibu Sari usap air mata, ingat suaminya yang mati karena stres dagang kain basi di Sukaraya.
Ibu Sari: "Seoul? Jauh amat, Nak. Kenapa nggak stay di sini? Jual tanah, buka toko kecil-kecilan."
Raka geleng kepala. Dia riset semalaman di HP. Sukaraya bikin orang mati pelan-pelan, seperti ayah. Seoul? K-Pop, job bagus, impian. Komedi dark mulai muncul di benaknya.
Raka: "Bu, Sukaraya ini kuburan hidup. Ayah mati gara-gara kain nggak laku, besok kita ikutan. Di Seoul, kita hidup mewah pakai warisan. Ayah pasti senyum dari atas atau bawah, kalau dosanya banyak, hehe."
Tawa kecil pecah dari Mira dan Nita. Dark humor itu nyantol, campur duka jadi ringan. Adik-adik langsung setuju, mata berbinar. Mereka lompat peluk Raka, rebutan posisi dekat kakak gantengnya. Comedy chaos meledak.
Laras: "Yes! Seoul! Kak Raka bawa Laras dong! Peluk!"
Laras peluk dari samping, dada kenyalnya menempel dada Raka. Raka tersipu, tapi tangannya peluk balik pinggang tomboynya.
Mira: "Eh, aku duluan! Kak, Mira mau di pangkuan!"
Mira dorong Laras, duduk di paha Raka. Pinggul bulatnya bergesek jeans Raka, bikin dia tegang sedikit reaksi cowok normal.
Nita: "Nita juga! Kak, pegang tangan Nita!"
Nita tarik lengan Raka, bibir imutnya cium pipi kakaknya. Rina manja gigit bibir, Sinta senyum licik pegang bahu, Tika culun peluk kaki.
Rina: "Kak Rina mau duduk paling deket! Jangan rebut!"
Sinta: "Kalian berisik. Kak, Sinta setuju pindah, asal kamu jagain aku terus."
Tika: "Kak Tika takut jauh dari kamu. Peluk ya?"
Raka kewalahan, tangan pegang pinggang mereka bergantian. Otot lengannya menonjol, keringat bikin kaos basah lengket di perut sixpacknya. Ibu Sari geleng-geleng sambil tersenyum.
Ibu Sari: "Sudah, kucing-kucing kecil! Raka emang kepala keluarga sekarang. Kalau dia bilang Seoul, ya sudah. Warisan ayah buat masa depan kita semua."
Rapat selesai cepat. Mereka setuju jual rumah, pesan tiket minggu depan. Sore itu, Pak Budi, agen properti genit berusia 40-an, datang. Badannya gempal, mata suka lirik adik-adik Raka.
Pak Budi: "Wah, keluarga cantik semua! Rumah ini laku keras di Sukaraya. Uangnya cukup apartemen Gangnam, Seoul. Mau aku cariin? Gratis, asal hehe, nomor WA Mira boleh?"
Mira meringis jijik. Raka kasih jabat tangan dingin.
Raka: "Makasih, Pak. Cepet jual ya. Kami cabut minggu depan."
Malam packing dimulai. Rumah kacau: kardus berserakan, baju kemana-mana. Raka angkat-angkat barang berat, keringat mengalir di dada bidangnya, bikin adik-adik curi-curi pandang. Slice of life drama keluarga terasa: duka ayah campur semangat baru, tapi penuh godaan clingy.
Lalu di kamar Mira, Dia packing baju dalam sendirian, pakai lingerie hitam transparan yang nempel ketat di payudara montok D-cupnya. Bokong bulatnya menggoyang saat membungkuk ambil kardus dari bawah kasur. Pintu kamar kebuka sedikit katanya nggak sengaja. Raka lewat bawa kardus besar, mata langsung nyangkut ke celah pintu.
Siluet Mira bugil sempurna di balik cahaya lampu kuning: payudara bergoyang bebas saat dia regang, puting samar menonjol, pinggang ramping melebar ke pinggul lebar, paha mulus mengkilap keringat. Rambut panjangnya menutupi punggung telanjang. Raka panik, tangan tutup mata, tapi jari-jarinya renggang. Kontolnya langsung keras di celana jeans, nabuh-nabuh pinggang Mira. "Astaga, Mira!" pikirnya, napas memburu.
Mira (teriak pura-pura kaget, tapi mata nakal melirik celah pintu): "Kyaa! Kak Raka! Jangan liat! Bajuku jatuh semua!"
Mira "tak sengaja" tarik lingerie-nya ke bawah, posenya makin vulgar punggung lengkung, bokong terbuka separuh, siluet vaginanya samar menggoda. Dia pelan-pelan tutup pakai tangan, tapi gerakannya lambat, sengaja. Raka mundur cepat, mukanya merah membara, kontolnya sakit ketahan jeans.
Raka: "Ma-maaf, Mir! Aku nggak sengaja! Hati-hati packingnya!"
Dia lari ke ruang tamu, napas ngos-ngosan, tangan depan nutupin tonjolan celana. Adik-adik lain notice, langsung godain komedi dark.
Nita: "Kak, muka tomat! Mira bugil lagi ya? Siluet seksi itu bikin Kak tegang kan? Hihi!"
Laras: "Dasar Mira si perusak. Nanti di Seoul, Laras yang kasih pemandangan lebih bagus buat Kak!"
Rina: "Ayah mati, tapi Kak Raka 'hidup' gara-gara Mira. Dark banget!"
Tawa meledak. Sinta bisik ke Tika, "Kak suka yang begini." Ibu Sari cuma geleng, "Dewasa dikit, kalian. Fokus packing."
Dua hari kemudian, Pak Budi datang dengan uang muka penjualan rumah. Total warisan aman. "Mau bonus cameo? Han Ji Suk lagi di Sukaraya syuting iklan skincare. Aku kenal managernya."
Raka setuju. Sore di kafe pinggir jalan Sukaraya, Han Ji Suk muncul. Aktor Korea ganteng berusia 30-an, rambut disisir stylish, senyum memikat. Keluarga kagum, adik-adik berdecak.
Han Ji Suk (bahasa Indonesia lancar, suara dalam): "Halo keluarga Aditya! Dengar kalian pindah Seoul. Selamat! Tips saya: belajar makan kimchi pedas dulu, dan nikmati K-Pop live. Semoga sukses. Foto bareng yuk!"
Mereka foto. Mira peluk lengan Han Ji Suk erat, dada montoknya menempel. Raka cemburu dikit, tapi senyum. Laras bisik, "Kak lebih ganteng." Cameo singkat ini bikin semangat meledak. "Impian Seoul jadi nyata," kata Raka.
Hari keberangkatan, bandara Sukaraya penuh. Peluk-pelukan, air mata Ibu Sari campur tawa adik-adik. Pesawat take off, Sukaraya mengecil di bawah awan. Di pesawat kelas bisnis (pakai warisan), adik-adik clingy lagi: Mira tidur sandar bahu Raka, tangan Nita pegang paha kakaknya, Laras kaki saling silang.
Raka(dalam hati): "Ayah, maaf tinggalkan Sukaraya. Ini demi mereka. Seoul, siap-siap godaan baru."
Di sekitarnya, ibu dan enam adik perempuannya menatap penuh harap. Ibu Sari, 48 tahun, wajahnya pucat dengan rambut acak-acakan. Laras (23) tomboy berotot halus, Mira (21) seksi berpayudara montok, Nita (20) imut genit, Rina (19) manja polos, Sinta (18) misterius berpinggul lebar, Tika (17) culun lucu dengan mata besar. Mereka semua clingy ke Raka, kakak idola yang selalu lindungi mereka.
Raka: "Ibu, adik-adik. Ayah udah pergi. Kita nggak bisa stuck di Sukaraya ini. Ekonomi lesu, peluang nol. Warisan ayah cukup buat hidup baru. Aku usul: kita pindah ke Seoul, Korea Selatan. Beli apartemen bagus, aku kerja IT, kalian kuliah atau apa. Fresh start!"
Ruangan hening. Ibu Sari usap air mata, ingat suaminya yang mati karena stres dagang kain basi di Sukaraya.
Ibu Sari: "Seoul? Jauh amat, Nak. Kenapa nggak stay di sini? Jual tanah, buka toko kecil-kecilan."
Raka geleng kepala. Dia riset semalaman di HP. Sukaraya bikin orang mati pelan-pelan, seperti ayah. Seoul? K-Pop, job bagus, impian. Komedi dark mulai muncul di benaknya.
Raka: "Bu, Sukaraya ini kuburan hidup. Ayah mati gara-gara kain nggak laku, besok kita ikutan. Di Seoul, kita hidup mewah pakai warisan. Ayah pasti senyum dari atas atau bawah, kalau dosanya banyak, hehe."
Tawa kecil pecah dari Mira dan Nita. Dark humor itu nyantol, campur duka jadi ringan. Adik-adik langsung setuju, mata berbinar. Mereka lompat peluk Raka, rebutan posisi dekat kakak gantengnya. Comedy chaos meledak.
Laras: "Yes! Seoul! Kak Raka bawa Laras dong! Peluk!"
Laras peluk dari samping, dada kenyalnya menempel dada Raka. Raka tersipu, tapi tangannya peluk balik pinggang tomboynya.
Mira: "Eh, aku duluan! Kak, Mira mau di pangkuan!"
Mira dorong Laras, duduk di paha Raka. Pinggul bulatnya bergesek jeans Raka, bikin dia tegang sedikit reaksi cowok normal.
Nita: "Nita juga! Kak, pegang tangan Nita!"
Nita tarik lengan Raka, bibir imutnya cium pipi kakaknya. Rina manja gigit bibir, Sinta senyum licik pegang bahu, Tika culun peluk kaki.
Rina: "Kak Rina mau duduk paling deket! Jangan rebut!"
Sinta: "Kalian berisik. Kak, Sinta setuju pindah, asal kamu jagain aku terus."
Tika: "Kak Tika takut jauh dari kamu. Peluk ya?"
Raka kewalahan, tangan pegang pinggang mereka bergantian. Otot lengannya menonjol, keringat bikin kaos basah lengket di perut sixpacknya. Ibu Sari geleng-geleng sambil tersenyum.
Ibu Sari: "Sudah, kucing-kucing kecil! Raka emang kepala keluarga sekarang. Kalau dia bilang Seoul, ya sudah. Warisan ayah buat masa depan kita semua."
Rapat selesai cepat. Mereka setuju jual rumah, pesan tiket minggu depan. Sore itu, Pak Budi, agen properti genit berusia 40-an, datang. Badannya gempal, mata suka lirik adik-adik Raka.
Pak Budi: "Wah, keluarga cantik semua! Rumah ini laku keras di Sukaraya. Uangnya cukup apartemen Gangnam, Seoul. Mau aku cariin? Gratis, asal hehe, nomor WA Mira boleh?"
Mira meringis jijik. Raka kasih jabat tangan dingin.
Raka: "Makasih, Pak. Cepet jual ya. Kami cabut minggu depan."
Malam packing dimulai. Rumah kacau: kardus berserakan, baju kemana-mana. Raka angkat-angkat barang berat, keringat mengalir di dada bidangnya, bikin adik-adik curi-curi pandang. Slice of life drama keluarga terasa: duka ayah campur semangat baru, tapi penuh godaan clingy.
Lalu di kamar Mira, Dia packing baju dalam sendirian, pakai lingerie hitam transparan yang nempel ketat di payudara montok D-cupnya. Bokong bulatnya menggoyang saat membungkuk ambil kardus dari bawah kasur. Pintu kamar kebuka sedikit katanya nggak sengaja. Raka lewat bawa kardus besar, mata langsung nyangkut ke celah pintu.
Siluet Mira bugil sempurna di balik cahaya lampu kuning: payudara bergoyang bebas saat dia regang, puting samar menonjol, pinggang ramping melebar ke pinggul lebar, paha mulus mengkilap keringat. Rambut panjangnya menutupi punggung telanjang. Raka panik, tangan tutup mata, tapi jari-jarinya renggang. Kontolnya langsung keras di celana jeans, nabuh-nabuh pinggang Mira. "Astaga, Mira!" pikirnya, napas memburu.
Mira (teriak pura-pura kaget, tapi mata nakal melirik celah pintu): "Kyaa! Kak Raka! Jangan liat! Bajuku jatuh semua!"
Mira "tak sengaja" tarik lingerie-nya ke bawah, posenya makin vulgar punggung lengkung, bokong terbuka separuh, siluet vaginanya samar menggoda. Dia pelan-pelan tutup pakai tangan, tapi gerakannya lambat, sengaja. Raka mundur cepat, mukanya merah membara, kontolnya sakit ketahan jeans.
Raka: "Ma-maaf, Mir! Aku nggak sengaja! Hati-hati packingnya!"
Dia lari ke ruang tamu, napas ngos-ngosan, tangan depan nutupin tonjolan celana. Adik-adik lain notice, langsung godain komedi dark.
Nita: "Kak, muka tomat! Mira bugil lagi ya? Siluet seksi itu bikin Kak tegang kan? Hihi!"
Laras: "Dasar Mira si perusak. Nanti di Seoul, Laras yang kasih pemandangan lebih bagus buat Kak!"
Rina: "Ayah mati, tapi Kak Raka 'hidup' gara-gara Mira. Dark banget!"
Tawa meledak. Sinta bisik ke Tika, "Kak suka yang begini." Ibu Sari cuma geleng, "Dewasa dikit, kalian. Fokus packing."
Dua hari kemudian, Pak Budi datang dengan uang muka penjualan rumah. Total warisan aman. "Mau bonus cameo? Han Ji Suk lagi di Sukaraya syuting iklan skincare. Aku kenal managernya."
Raka setuju. Sore di kafe pinggir jalan Sukaraya, Han Ji Suk muncul. Aktor Korea ganteng berusia 30-an, rambut disisir stylish, senyum memikat. Keluarga kagum, adik-adik berdecak.
Han Ji Suk (bahasa Indonesia lancar, suara dalam): "Halo keluarga Aditya! Dengar kalian pindah Seoul. Selamat! Tips saya: belajar makan kimchi pedas dulu, dan nikmati K-Pop live. Semoga sukses. Foto bareng yuk!"
Mereka foto. Mira peluk lengan Han Ji Suk erat, dada montoknya menempel. Raka cemburu dikit, tapi senyum. Laras bisik, "Kak lebih ganteng." Cameo singkat ini bikin semangat meledak. "Impian Seoul jadi nyata," kata Raka.
Hari keberangkatan, bandara Sukaraya penuh. Peluk-pelukan, air mata Ibu Sari campur tawa adik-adik. Pesawat take off, Sukaraya mengecil di bawah awan. Di pesawat kelas bisnis (pakai warisan), adik-adik clingy lagi: Mira tidur sandar bahu Raka, tangan Nita pegang paha kakaknya, Laras kaki saling silang.
Raka(dalam hati): "Ayah, maaf tinggalkan Sukaraya. Ini demi mereka. Seoul, siap-siap godaan baru."
Other Stories
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...