Buronan Negara
Berita di televisi nasional berulang kali menayangkan laporan resmi: “Prajurit Elit TNI, Aditya Pranawa, tewas dalam kecelakaan latihan udara.” Wajahnya muncul sekilas foto seragam tempur yang koyak, pesawat yang hancur berkeping-keping. Sebagian masyarakat menangis, sebagian lagi terdiam dalam hening. Mereka percaya, pahlawan mereka telah pergi.
Tetapi di balik layar, realitas berbeda. Satelit milik pemerintah mendeteksi sosok bersayap hitam melesat di langit pinggiran kota. Bayangan itu terlalu cepat, terlalu bertenaga, dan terlalu nyata untuk diabaikan.
Di sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota, Aditya menunduk di sudut gelap, menyaksikan layar laptop yang menampilkan peta kota dan titik-titik pergerakan militer. Tubuhnya masih terluka, sayap hitam terlipat di belakang, darah mengering di seragam yang koyak. Setiap detak jantung terasa berat, setiap tarikan napas nyeri.
Aditya (bergumam): “Mereka pikir aku mati tapi aku hidup dan mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi.”
Di luar, helikopter patroli berputar rendah. Lampu sorotnya menembus malam, menyapu gudang tua yang menjadi tempat persembunyiannya. Kamera satelit melacak setiap gerakan, algoritma AI menghitung kemungkinan rute pelarian. Negara yang dulu ia lindungi kini menjadi pemburunya.
Aditya menatap sayapnya sendiri. Mereka hidup, berdenyut dengan energi Singularitas. Setiap pukulan angin dari sayapnya bisa menghancurkan kendaraan lapis baja. Tapi ia tahu jika ia memakainya sekarang, ribuan warga sipil akan terjebak dalam ledakan kekuatan yang belum ia kendalikan sepenuhnya.
Aditya (bergumam, menahan rasa sakit): “Aku tidak bisa mereka harus melihat aku tapi bukan sekarang bukan seperti ini”
Tiba-tiba, radar militer mendeteksi pergerakannya. Suara alarm di gudang tua berbunyi pelan, membuat adrenalinnya memuncak. Ia tahu, waktu untuk bersembunyi hampir habis.
Di atas atap gedung yang berdebu, ia melompat. Sayapnya mengepak, membelah udara malam. Angin memotong sekeliling, debu beterbangan, lampu sorot helikopter berusaha menembus kegelapan.
Pilot Helikopter (di radio, panik): “Target terdeteksi! Hitam terbang cepat! Jangan biarkan dia melarikan diri!”
Aditya bergerak cepat, menukik di antara gedung-gedung, setiap pukulan sayapnya menciptakan pusaran angin yang memecahkan kaca jendela dan menumbangkan papan reklame tua. Beberapa kendaraan di jalan kota terseret hembusan angin, kaca pecah dan logam terpelintir.
Aditya (berteriak, menahan rasa sakit): “Aku bukan musuh rakyat tapi mereka tidak akan mengerti belum!”
Dari gedung tinggi, drone militer muncul, berdesing dengan lampu merah menyala. Mereka dikendalikan dari pusat komando, diprogram untuk melumpuhkan target dengan minimal korban. Tetapi energi dari sayap hitam Aditya terlalu kuat. Setiap drone yang mencoba mendekat, diterjang pusaran angin mematikan, tubuhnya hancur berantakan, serpihan logam beterbangan, mengiris jalan dan kendaraan di bawahnya. Darah dan puing menumpuk, mengisi udara dengan aroma besi panas dan asap.
Operator Drone (panik): “Tidak dia terlalu cepat semua unit gagal!”
Aditya menyadari ia bukan lagi sekadar buronan ia adalah simbol yang lebih besar, ancaman bagi mereka yang mengkhianatinya. Namun, ia juga tahu kekuatannya belum sepenuhnya terkendali. Setiap kali ia menggunakan Mode Garuda Amarah bahkan sedikit, tubuhnya terasa hancur. Darah mendidih, tulang berderak, dan energi purba yang mengalir melalui ototnya menguji batas fisiknya.
Ia meluncur menembus lorong-lorong kota, mengamati dunia yang dulu ia lindungi. Gedung-gedung tinggi yang bersinar di malam hari kini terasa asing. Jalanan ramai dengan kendaraan yang berdesak, orang-orang yang panik melihat sosok bersayap hitam menari di langit. Dalam sekejap, dunia modern yang dulu ia kenal berubah menjadi arena pertarungan tak terlihat.
Aditya (bergumam): “Mereka melihatku sebagai monster padahal aku yang dulu melindungi mereka”
Sementara itu, di pusat komando rahasia, para pejabat tinggi militer menatap layar dengan ketegangan tinggi.
Jenderal (mengetuk meja, marah): “Ini tidak boleh terjadi! Dia seharusnya mati! Bagaimana bisa seorang prajurit tewas dan sekarang muncul lagi seperti entitas supernatural!”
Operator Satelit: “Pak, satelit mendeteksi pergerakan tinggi kecepatan di area industri. Kami kehilangan beberapa unit drone semua dihancurkan.”
Jenderal (menepuk meja): “Siapkan unit elite! Jangan biarkan dia keluar kota! Kita tidak peduli kita tidak boleh membiarkannya hidup!”
Di udara, Aditya memutuskan untuk turun ke area pinggiran, tempat hutan dan kota bertemu. Di sana, ia bisa menutupi jejaknya, memulihkan sedikit tenaga, dan menganalisis pergerakan musuh. Tubuhnya terasa seperti dihancurkan dari dalam otot menegang, sayap berdenyut sakit, darah mengalir tanpa henti. Tetapi naluri bertahan hidup mendorongnya terus.
Ia mendarat di atap gudang tua, darah menetes dari luka di wajah dan tangannya. Mata hitamnya menatap kota yang ramai, suara sirene militer terdengar di kejauhan.
Aditya (berbisik pelan): “Aku harus bertahan mereka tidak boleh menang bukan sekarang”
Sebuah getaran halus terasa di tanah. Artefak Garuda yang tertanam di tubuhnya bereaksi. Energi Singularitas memancar melalui setiap tulang dan otot, memperingatkan bahwa ancaman lebih besar dari sebelumnya muncul.
Dari bayangan kota, muncul sosok hitam lain, lebih cepat dan lebih terlatih. Bukan manusia biasa mereka unit rahasia yang menggunakan teknologi eksperimental, dibekali senjata canggih dan eksoskeleton. Mata mereka menyala biru di malam hari.
Pemimpin Unit (di radio, dingin): “Target terdeteksi. Jangan biarkan dia melarikan diri. Ingat, hidupmu tidak penting. Hentikan dia mati atau hidup tidak masalah.”
Aditya merasakan adrenalinnya memuncak. Dengan refleks insting, ia meloncat ke udara, sayap mengepak dengan kecepatan tinggi. Setiap pukulan sayap menciptakan ledakan angin yang merobohkan unit pertama, menghancurkan senjata mereka, dan melempar mereka ke gedung-gedung kosong. Darah dan logam berantakan, menghiasi malam dengan kilauan merah dan biru dari luka dan percikan listrik.
Aditya (teriak, menahan rasa sakit luar biasa): “Kalian tidak tahu siapa yang kalian lawan! Aku Garuda Hitam dan aku tidak akan menyerah!”
Pertempuran itu tidak lama, tapi brutal. Tubuhnya terluka parah, darah menetes deras, kulit terkoyak di beberapa bagian. Namun kekuatan dari artefak Garuda mengalir, memperbaiki luka sedikit demi sedikit, meski setiap regenerasi terasa seperti ribuan pisau menembus daging.
Akhirnya, para unit elite mundur, meninggalkan kota dalam kepanikan. Aditya berdiri di atap, napas tersengal, sayap terbentang, darah mengalir dari seluruh tubuh. Kota menyaksikan bayangan hitam di langit pahlawan yang dulu mereka kenal, kini diburu oleh negara sendiri.
Aditya (berbisik, menatap lampu kota): “Dulu aku melindungi kalian sekarang kalian menganggapku ancaman dunia ini benar-benar berubah”
Ia menunduk, menatap sayapnya sendiri, darah masih menetes, tulang terasa seperti hancur, tetapi matanya bersinar dengan tekad baru.
Aditya (berbisik lagi):“Jika mereka ingin aku mati biarlah mereka mencoba tapi aku tidak akan menyerah. Aku Garuda Hitam dan aku akan hidup untuk mereka yang tidak bisa melindungi diri sendiri”
Dari balik bayangan, artefak Garuda bergetar, menyebarkan energi Singularitas. Dunia di bawahnya mungkin menganggapnya buronan, tapi Aditya tahu satu hal namanya baru saja lahir sebagai simbol perlawanan dan kekuatan yang tidak bisa dihentikan oleh negara manapun.
Malam itu, langit Nusantara menjadi saksi kebangkitan seorang pahlawan yang akan membuat dunia dan pemerintahnya sendiri menggigil.
Tetapi di balik layar, realitas berbeda. Satelit milik pemerintah mendeteksi sosok bersayap hitam melesat di langit pinggiran kota. Bayangan itu terlalu cepat, terlalu bertenaga, dan terlalu nyata untuk diabaikan.
Di sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota, Aditya menunduk di sudut gelap, menyaksikan layar laptop yang menampilkan peta kota dan titik-titik pergerakan militer. Tubuhnya masih terluka, sayap hitam terlipat di belakang, darah mengering di seragam yang koyak. Setiap detak jantung terasa berat, setiap tarikan napas nyeri.
Aditya (bergumam): “Mereka pikir aku mati tapi aku hidup dan mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi.”
Di luar, helikopter patroli berputar rendah. Lampu sorotnya menembus malam, menyapu gudang tua yang menjadi tempat persembunyiannya. Kamera satelit melacak setiap gerakan, algoritma AI menghitung kemungkinan rute pelarian. Negara yang dulu ia lindungi kini menjadi pemburunya.
Aditya menatap sayapnya sendiri. Mereka hidup, berdenyut dengan energi Singularitas. Setiap pukulan angin dari sayapnya bisa menghancurkan kendaraan lapis baja. Tapi ia tahu jika ia memakainya sekarang, ribuan warga sipil akan terjebak dalam ledakan kekuatan yang belum ia kendalikan sepenuhnya.
Aditya (bergumam, menahan rasa sakit): “Aku tidak bisa mereka harus melihat aku tapi bukan sekarang bukan seperti ini”
Tiba-tiba, radar militer mendeteksi pergerakannya. Suara alarm di gudang tua berbunyi pelan, membuat adrenalinnya memuncak. Ia tahu, waktu untuk bersembunyi hampir habis.
Di atas atap gedung yang berdebu, ia melompat. Sayapnya mengepak, membelah udara malam. Angin memotong sekeliling, debu beterbangan, lampu sorot helikopter berusaha menembus kegelapan.
Pilot Helikopter (di radio, panik): “Target terdeteksi! Hitam terbang cepat! Jangan biarkan dia melarikan diri!”
Aditya bergerak cepat, menukik di antara gedung-gedung, setiap pukulan sayapnya menciptakan pusaran angin yang memecahkan kaca jendela dan menumbangkan papan reklame tua. Beberapa kendaraan di jalan kota terseret hembusan angin, kaca pecah dan logam terpelintir.
Aditya (berteriak, menahan rasa sakit): “Aku bukan musuh rakyat tapi mereka tidak akan mengerti belum!”
Dari gedung tinggi, drone militer muncul, berdesing dengan lampu merah menyala. Mereka dikendalikan dari pusat komando, diprogram untuk melumpuhkan target dengan minimal korban. Tetapi energi dari sayap hitam Aditya terlalu kuat. Setiap drone yang mencoba mendekat, diterjang pusaran angin mematikan, tubuhnya hancur berantakan, serpihan logam beterbangan, mengiris jalan dan kendaraan di bawahnya. Darah dan puing menumpuk, mengisi udara dengan aroma besi panas dan asap.
Operator Drone (panik): “Tidak dia terlalu cepat semua unit gagal!”
Aditya menyadari ia bukan lagi sekadar buronan ia adalah simbol yang lebih besar, ancaman bagi mereka yang mengkhianatinya. Namun, ia juga tahu kekuatannya belum sepenuhnya terkendali. Setiap kali ia menggunakan Mode Garuda Amarah bahkan sedikit, tubuhnya terasa hancur. Darah mendidih, tulang berderak, dan energi purba yang mengalir melalui ototnya menguji batas fisiknya.
Ia meluncur menembus lorong-lorong kota, mengamati dunia yang dulu ia lindungi. Gedung-gedung tinggi yang bersinar di malam hari kini terasa asing. Jalanan ramai dengan kendaraan yang berdesak, orang-orang yang panik melihat sosok bersayap hitam menari di langit. Dalam sekejap, dunia modern yang dulu ia kenal berubah menjadi arena pertarungan tak terlihat.
Aditya (bergumam): “Mereka melihatku sebagai monster padahal aku yang dulu melindungi mereka”
Sementara itu, di pusat komando rahasia, para pejabat tinggi militer menatap layar dengan ketegangan tinggi.
Jenderal (mengetuk meja, marah): “Ini tidak boleh terjadi! Dia seharusnya mati! Bagaimana bisa seorang prajurit tewas dan sekarang muncul lagi seperti entitas supernatural!”
Operator Satelit: “Pak, satelit mendeteksi pergerakan tinggi kecepatan di area industri. Kami kehilangan beberapa unit drone semua dihancurkan.”
Jenderal (menepuk meja): “Siapkan unit elite! Jangan biarkan dia keluar kota! Kita tidak peduli kita tidak boleh membiarkannya hidup!”
Di udara, Aditya memutuskan untuk turun ke area pinggiran, tempat hutan dan kota bertemu. Di sana, ia bisa menutupi jejaknya, memulihkan sedikit tenaga, dan menganalisis pergerakan musuh. Tubuhnya terasa seperti dihancurkan dari dalam otot menegang, sayap berdenyut sakit, darah mengalir tanpa henti. Tetapi naluri bertahan hidup mendorongnya terus.
Ia mendarat di atap gudang tua, darah menetes dari luka di wajah dan tangannya. Mata hitamnya menatap kota yang ramai, suara sirene militer terdengar di kejauhan.
Aditya (berbisik pelan): “Aku harus bertahan mereka tidak boleh menang bukan sekarang”
Sebuah getaran halus terasa di tanah. Artefak Garuda yang tertanam di tubuhnya bereaksi. Energi Singularitas memancar melalui setiap tulang dan otot, memperingatkan bahwa ancaman lebih besar dari sebelumnya muncul.
Dari bayangan kota, muncul sosok hitam lain, lebih cepat dan lebih terlatih. Bukan manusia biasa mereka unit rahasia yang menggunakan teknologi eksperimental, dibekali senjata canggih dan eksoskeleton. Mata mereka menyala biru di malam hari.
Pemimpin Unit (di radio, dingin): “Target terdeteksi. Jangan biarkan dia melarikan diri. Ingat, hidupmu tidak penting. Hentikan dia mati atau hidup tidak masalah.”
Aditya merasakan adrenalinnya memuncak. Dengan refleks insting, ia meloncat ke udara, sayap mengepak dengan kecepatan tinggi. Setiap pukulan sayap menciptakan ledakan angin yang merobohkan unit pertama, menghancurkan senjata mereka, dan melempar mereka ke gedung-gedung kosong. Darah dan logam berantakan, menghiasi malam dengan kilauan merah dan biru dari luka dan percikan listrik.
Aditya (teriak, menahan rasa sakit luar biasa): “Kalian tidak tahu siapa yang kalian lawan! Aku Garuda Hitam dan aku tidak akan menyerah!”
Pertempuran itu tidak lama, tapi brutal. Tubuhnya terluka parah, darah menetes deras, kulit terkoyak di beberapa bagian. Namun kekuatan dari artefak Garuda mengalir, memperbaiki luka sedikit demi sedikit, meski setiap regenerasi terasa seperti ribuan pisau menembus daging.
Akhirnya, para unit elite mundur, meninggalkan kota dalam kepanikan. Aditya berdiri di atap, napas tersengal, sayap terbentang, darah mengalir dari seluruh tubuh. Kota menyaksikan bayangan hitam di langit pahlawan yang dulu mereka kenal, kini diburu oleh negara sendiri.
Aditya (berbisik, menatap lampu kota): “Dulu aku melindungi kalian sekarang kalian menganggapku ancaman dunia ini benar-benar berubah”
Ia menunduk, menatap sayapnya sendiri, darah masih menetes, tulang terasa seperti hancur, tetapi matanya bersinar dengan tekad baru.
Aditya (berbisik lagi):“Jika mereka ingin aku mati biarlah mereka mencoba tapi aku tidak akan menyerah. Aku Garuda Hitam dan aku akan hidup untuk mereka yang tidak bisa melindungi diri sendiri”
Dari balik bayangan, artefak Garuda bergetar, menyebarkan energi Singularitas. Dunia di bawahnya mungkin menganggapnya buronan, tapi Aditya tahu satu hal namanya baru saja lahir sebagai simbol perlawanan dan kekuatan yang tidak bisa dihentikan oleh negara manapun.
Malam itu, langit Nusantara menjadi saksi kebangkitan seorang pahlawan yang akan membuat dunia dan pemerintahnya sendiri menggigil.
Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
Tes
tes ...
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Seoul Harem
Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...