Breast Beneath The Spotlight

Reads
61
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Breast Beneath The Spotlight
Breast Beneath The Spotlight
Penulis Sexy Writternim

Persaingan Memanas

Hari keempat di Starlight Entertainment terasa seperti pisau yang perlahan menusuk lebih dalam. Dari lima ratus gadis yang tersisa setelah seleksi vokal, pagi ini hanya dua ratus yang akan bertahan. Aula dance utama sudah penuh sesak, cermin raksasa di setiap dinding memantulkan wajah-wajah lelah, tubuh basah keringat, dan mata yang mulai kehilangan cahaya mimpi. Lampu sorot menyilaukan, musik bass berat menggetarkan lantai seperti detak jantung yang panik. Hari ini tes dance bukan dance biasa, tapi dance beast: gerakan agresif, sensual, penuh kekuatan dan godaan, seperti predator yang siap menerkam mangsanya.

Coach Min kembali menjadi algojo utama, kali ini ditemani dua choreographer wanita yang dingin dan satu pria misterius bernama Director Kim—eksekutif tingkat menengah yang jarang muncul di latihan biasa. Matanya selalu tertutup kacamata hitam, tapi semua tahu dia sedang mengamati. “Dua ratus nama akan disebut,” kata Coach Min dengan suara datar. “Yang lain, pulang. Atau… hilang. Pilih sendiri.” Kata “hilang” itu kini bukan lagi rumor; setelah Lan, ada dua gadis lagi yang tak muncul pagi ini. Tak ada penjelasan resmi. Hanya bisik-bisik: “Mereka dipanggil malam tadi. Ke ruang eksekutif.”

Latihan dimulai dengan koreografi baru: lagu tema “Beast Mode” yang belum rilis, beat-nya keras, liriknya penuh hasrat dan kekerasan tersirat. Gerakan harus tajam, pinggul bergoyang liar, mata menantang kamera imajiner. Ji-eun memimpin baris depan, tubuhnya bergerak seperti mesin yang sempurna. Setiap putaran, setiap drop, dia melakukannya dengan presisi yang membuat trainer mengangguk. Tapi di balik senyumnya, ada ketegangan—dia tahu, ranking bukan cuma soal skill.

Aisha berada di baris kedua, rap-nya menyatu dengan dance, tubuh atletisnya bergerak dengan kekuatan mentah. Tapi saat bagian bridge yang membutuhkan gerakan sensual lambat, pinggulnya bergoyang terlalu agresif, terlalu “street”. Coach Min berteriak, “Kim! Lo terlalu liar! Ini K-Pop, bukan club underground!” Aisha berhenti, napasnya memburu. “Liar? Lo maksud gue terlalu hitam buat gerakan sexy kalian?” Jawabannya tajam, tapi ada nada sakit di dalamnya.

Ji-eun berbalik, alisnya naik. “Aisha, lo bikin kita semua kelihatan buruk. Kontrol diri lo dong.” Kata-kata itu seperti percikan api. Aisha melangkah maju, jarak mereka hanya beberapa senti. “Kontrol? Lo yang selalu kontrol segalanya, Ji-eun. Lo pikir karena lo Korea-Amerika kaya, lo berhak jadi leader? Lo cuma cewek manipulatif yang rela apa aja demi ranking!” Ruangan hening. Musik masih mengalun pelan di latar, tapi semua mata tertuju ke mereka.

Melodrama meledak. Aisha menunjuk dada Ji-eun. “Gue tahu lo tidur sama siapa aja buat naik. Gue lihat lo keluar dari kamar mandi sama Lila malam itu, wajah lo merah kayak habis orgasme!” Ji-eun tertawa dingin, tapi matanya berkilat marah. “Dan lo? Lo cuma bisa marah-marah karena lo nggak punya apa-apa selain kulit gelap dan mulut besar. Lo iri karena gue bisa dapat apa yang lo cuma mimpiin.” Air mata Aisha menggenang, tapi dia tak menangis. “Iri? Gue cuma muak lihat lo pura-pura polos. Lo beast, Ji-eun. Tapi beast yang busuk.”

Coach Min memisahkan mereka dengan satu teriakan. “Cukup! Kalian berdua, extra drill malam ini. Kalau nggak bisa kerja sama, kalian berdua pulang.” Tapi pertengkaran itu meninggalkan bekas. Aisha mundur ke sudut, menyeka wajahnya dengan lengan. Ji-eun kembali ke posisinya, tapi gerakannya kini lebih kaku, seperti robot yang rusak.

Di sisi lain ruangan, Lila Chen diam-diam mengamati semuanya. Matanya menyipit saat melihat Director Kim berbisik dengan Coach Min, lalu melirik papan ranking digital yang baru saja muncul di layar besar. Nama-nama bergeser naik turun secara aneh—beberapa gadis yang performanya biasa-biasa saja tiba-tiba naik tinggi. Lila mendekati Zara, berbisik, “Lihat itu. Ranking nggak masuk akal. Ada yang main curang. Gue curiga manajemen punya daftar ‘pilihan spesial’. Konspirasi, Zara. Ini bukan cuma kompetisi.” Zara mengangguk pelan, matanya tajam. “Gue juga perhatiin. Kalau bener, kita harus cari bukti. Tapi hati-hati. Mereka bisa buat kita ‘hilang’ kapan saja.”

Tes dance berlanjut sampai sore. Sofia Ramirez tampil dengan energi penuh, meski kakinya masih sakit dari latihan kemarin. Gerakannya sensual, pinggulnya bergoyang seperti api, membuat beberapa trainer tersenyum licik. Saat selesai, rankingnya naik drastis—dari posisi 150 ke 45. Dia tahu kenapa. Malam sebelumnya, setelah threesome dengan Mr. Han, dia dapat pesan pribadi dari CEO muda agensi, Mr. Yoon—pria berusia 32 tahun, tampan, kaya, dan dikenal sebagai “pemain” di kalangan trainee.

Malam itu, setelah pengumuman dua ratus nama lolos, Sofia dipanggil ke lantai eksekutif. Lift naik pelan, jantungnya berdegup kencang. Pintu ruang pribadi Mr. Yoon terbuka, ruangan luas dengan sofa kulit hitam, lampu redup, dan aroma parfum mahal. Mr. Yoon berdiri di depan jendela, kemejanya sudah terbuka dua kancing, memperlihatkan dada berotot. “Sofia,” katanya dengan suara lembut tapi berbahaya. “Ranking lo naik hari ini. Lo tahu kenapa?”

Sofia menelan ludah, tapi tersenyum. “Karena gue dance bagus?” Mr. Yoon tertawa pelan. “Dance bagus membantu. Tapi yang bikin naik drastis… adalah kesediaan lo.” Dia mendekat, tangannya menyentuh pipi Sofia. “Malam ini, lo bayar lebih. Anal. Kalau lo rela, besok ranking lo masuk top 20. Kalau nggak… lo tahu apa yang terjadi pada yang menolak.”

Elemen paksaan itu terasa seperti belenggu yang dingin, tapi ada godaan panas di baliknya. Sofia mengangguk pelan. “Gue rela. Demi debut.” Mr. Yoon tersenyum puas, menarik Sofia ke sofa. Dia melepas bajunya perlahan, memperlihatkan tubuh Latina yang sawo matang, payudara penuh, pinggul lebar. Mr. Yoon mencium lehernya, gigitannya meninggalkan bekas merah. “Bagus. Lo akan menikmatinya… atau setidaknya berpura-pura.”

Adegan dimulai erotis tapi penuh kekerasan tersirat. Mr. Yoon membalik tubuh Sofia, menekannya ke sofa hingga wajahnya menempel bantal. Tangan kirinya meremas pantat Sofia, jari-jarinya menyusup ke belakang, melumasi dengan pelumas dingin yang dia ambil dari laci. “Santai,” bisiknya, tapi nada itu perintah. Sofia menggigit bibir, tubuhnya gemetar. Penis Mr. Yoon sudah keras, menyentuh lubang belakangnya perlahan.

Dia mendorong masuk pelan, tapi tetap paksa. Sofia mengerang keras, campuran sakit dan sensasi aneh yang mulai berubah jadi kenikmatan terlarang. “Ah… pelan…” desahnya. Mr. Yoon tak mendengar—atau pura-pura tak dengar. Dia mendorong lebih dalam, ritmenya meningkat, tangannya menampar pantat Sofia pelan, seperti BDSM ringan yang tak diminta. “Lo beast, Sofia. Lo suka ini, kan?” Sofia mengangguk lemah, air mata mengalir, tapi tubuhnya mulai bergerak balik, mencari lebih.

Gerakan semakin ganas. Mr. Yoon menarik rambut Sofia seperti tali kekang, memaksa kepalanya terangkat. “Katakan lo rela.” Sofia mengerang, “Gue… rela… demi ranking…” Kata-kata itu membuat Mr. Yoon semakin liar. Dia mempercepat, tubuh mereka beradu keras, suara benturan daging bergema di ruangan. Sofia merasakan orgasme datang dari dalam, meski sakit—kenikmatan twisted yang membuatnya malu. Mr. Yoon menyelesaikan di dalam, cairan panas mengisi Sofia, membuatnya bergetar hebat.

Dia menarik diri, meninggalkan Sofia tergeletak di sofa, napas tersengal, tubuh basah keringat dan cairan. “Bagus. Besok lo top 20.” Mr. Yoon berpakaian kembali, seolah tak ada yang terjadi. “Pulang. Dan ingat, ini rahasia kita.” Sofia bangkit pelan, kakinya lemas. Saat keluar ruangan, dia tersenyum kecil—dark comedy dalam dirinya muncul. “Haha… anal demi ranking. Gue jadi idol termahal di dunia.”

Kembali ke dorm, Sofia berjalan pincang sedikit. Aisha melihatnya, alisnya naik. “Lo kenapa?” Sofia tertawa lemah. “Latihan ekstra. Sama CEO muda. Anal sex. Lumayan buat naik ranking.” Aisha terdiam, lalu tertawa gelap. “Gila. Lo beneran beast.” Ji-eun mendengar dari tempat tidurnya, matanya menyipit. “Lo naik ranking karena itu?” Sofia mengangguk. “Ya. Dan lo? Lo masih bertengkar sama Aisha buat apa?”

Malam itu, ketegangan semakin tebal. Lila berbisik ke Zara dan Elena, “Konspirasi ini nyata. Ranking dimanipulasi. Kita harus cari bukti sebelum kita jadi korban berikutnya.” Di luar jendela, bayangan Director Kim lewat di koridor, kacamata hitamnya memantulkan cahaya bulan. Misteri semakin gelap, persaingan semakin panas, dan harga yang harus dibayar semakin mahal.

Other Stories
Pada Langit Yang Tak Berbintang

Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Mauren Lupakan Masa Lalu

Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...

Tes

tes ...

Download Titik & Koma