Hikayat Cinta

Reads
164
Votes
1
Parts
6
Vote
Report
Penulis An Setyawan

BABAK IV KEHILANGAN TANPA PERPISAHAN

Ketika Tidak Dicintai Lebih Jujur daripada Dicintai Setengah

Irna tidak pernah mengucapkan perpisahan kepada siapa pun. Ia hanya berhenti. Berhenti menjelaskan. Berhenti menunggu. Berhenti berharap bahwa seseorang akan datang membawa kepastian yang selama ini ia tanggung sendirian. Keputusan itu tidak lahir dari ledakan emosi, tidak pula dari trauma yang dramatis. Ia lahir dari kelelahan—kelelahan yang terlalu lama ditahan hingga akhirnya menjadi kesadaran.

Untuk pertama kalinya, Irna memilih diam yang tidak menunggu jawaban.

Ia tidak menghapus kontak siapa pun. Tidak pula memutus jembatan. Ia hanya berhenti berdiri di tengah jembatan itu, menunggu orang lain datang dari seberang. Dan anehnya, justru di situ ia merasa kehilangan paling besar.

Tidak ada yang benar-benar pergi dari hidup Irna. Dunia berjalan seperti biasa. Orang-orang tetap datang ke perpustakaan. Pasangan-pasangan tetap duduk berdampingan. Teman-temannya tetap membicarakan rencana masa depan dengan nada yang sama: pernikahan, rumah, stabilitas. Semua tampak utuh. Semua tampak bergerak maju.

Hanya Irna yang merasa tertinggal—tanpa tahu dari mana ia tertinggal.

Ia mulai merasakan kehilangan yang tidak memiliki nama. Kehilangan yang tidak bisa ditunjuk dengan jari, tidak bisa diratapi secara sah. Tidak ada mantan yang harus dilupakan, tidak ada kenangan yang perlu dibakar. Namun ada kekosongan yang menganga, seolah sesuatu telah tercabut dari dirinya tanpa izin.

Ia kehilangan dirinya—tetapi baru menyadarinya sekarang.

Kesepian yang ia alami kini berbeda dari sebelumnya. Bukan kesepian karena sendirian, melainkan kesepian karena tidak tahu siapa yang sedang sendirian itu. Ia merasa asing di dalam tubuh dan pikirannya sendiri. Selama bertahun-tahun, ia mendefinisikan dirinya sebagai “pasangan seseorang”, “yang menunggu”, “yang mengerti”. Ketika semua peran itu ia lepaskan, tidak ada identitas pengganti yang siap menyambutnya.

Eksistensinya terasa absurd.

Ia bangun pagi, bekerja, makan, tidur—semua dilakukan dengan kesadaran yang hampa. Bukan karena hidup kehilangan makna, tetapi karena makna yang lama telah runtuh, sementara yang baru belum terbentuk. Ia berada di jeda yang sunyi, tempat manusia sering merasa paling telanjang.

Di kamar tidurnya, buku Sejati kini jarang dibuka. Buku itu tidak lagi dibutuhkan sebagai bacaan. Kalimat-kalimatnya telah menetap di kepalanya, mengendap seperti gema yang tak pernah sepenuhnya reda. Irna tidak lagi mencari halaman tertentu. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul sendiri, di waktu-waktu yang tak terduga.

Jika kau tidak dicintai oleh siapa pun, apakah kau masih ada?

Pertanyaan itu menghantuinya, bukan karena ia takut jawabannya, melainkan karena ia tidak tahu bagaimana cara menjawabnya. Selama ini, eksistensinya terasa nyata ketika ia dicintai. Ketika tidak ada cinta yang mengikatnya, ia merasa seperti bayangan yang tidak memiliki sumber cahaya.

Ia mulai memahami absurditas kondisi manusia: bahwa pada akhirnya, setiap orang sendirian, bahkan ketika bersama. Bahwa tidak ada satu pun relasi yang bisa sepenuhnya menghapus kesendirian eksistensial. Bahwa cinta, sejauh apa pun, tidak pernah benar-benar menyelamatkan seseorang dari fakta bahwa ia harus hidup dengan dirinya sendiri.

Kesadaran itu tidak membuat Irna putus asa. Ia justru membuatnya lelah dengan cara yang jujur.

Ada hari-hari ketika Irna ingin kembali pada relasi apa pun—bukan karena cinta, tetapi karena rindu pada struktur. Rindu pada peran yang jelas. Rindu pada identitas yang diberikan dari luar. Namun setiap kali dorongan itu muncul, ia mengingat rasa sesak yang dulu selalu menyertainya. Rasa menjadi setengah dicintai, setengah dilihat.

Ia mulai bertanya dalam diam: Lebih menyakitkan mana—tidak dicintai sama sekali, atau dicintai tanpa keutuhan?

Jawabannya perlahan mengkristal: tidak dicintai memang sunyi, tetapi setidaknya jujur.

Irna menghabiskan lebih banyak waktu sendirian, bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai eksperimen. Ia mencoba mendengarkan dirinya tanpa gangguan relasi. Ia mencoba duduk dengan pikirannya sendiri, meski sering kali yang muncul hanyalah kebingungan. Ia menyadari betapa asingnya ia terhadap dirinya sendiri—seperti bertemu orang yang selama ini hanya ia dengar namanya.

Di perpustakaan, ia tidak lagi terlalu memperhatikan pasangan-pasangan. Pandangannya lebih sering tertuju pada individu yang datang sendirian: seseorang yang membaca tanpa terburu-buru, seseorang yang menulis catatan kecil, seseorang yang tampak nyaman dalam kesendirian. Irna tidak tahu apakah mereka benar-benar utuh, tetapi ia iri pada ketenangan yang mereka pancarkan.

Ia mulai memahami bahwa cinta sejati mungkin tidak selalu hadir sebagai kehadiran orang lain. Mungkin ia hadir sebagai kemampuan untuk tidak melarikan diri dari kesendirian. Sebagai keberanian untuk tetap tinggal, meski tidak ada yang menunggu.
Namun pemahaman itu tidak datang tanpa duka.

Pada satu malam, Irna menangis tanpa sebab yang jelas. Tangis itu bukan karena seseorang, melainkan karena dirinya sendiri. Karena ia menyadari betapa lama ia meninggalkan dirinya demi menjadi tempat pulang bagi orang lain. Betapa sering ia menunda kebutuhannya, mengabaikan suaranya, mengorbankan batas-batasnya—semua atas nama cinta.

Tangis itu bukan penyesalan, melainkan pengakuan.

Twist paling menyakitkan dalam babak ini bukanlah kesadaran bahwa cinta-cinta masa lalu tidak utuh. Melainkan kesadaran bahwa selama bertahun-tahun, Irna hidup tanpa benar-benar hadir bagi dirinya sendiri. Ia kehilangan dirinya bukan karena orang lain mengambilnya, tetapi karena ia memberikannya tanpa syarat.

Kini, di tengah kesepian yang absurd ini, Irna berdiri tanpa pegangan. Tidak ada relasi untuk disalahkan. Tidak ada orang untuk ditunggu. Yang ada hanya dirinya—retak, asing, tetapi nyata.

Dan untuk pertama kalinya, meski kesendirian itu menakutkan, Irna tidak mencoba melarikan diri darinya. Ia mulai memahami bahwa mungkin inilah titik awal paling jujur dari segala pencarian: ketika tidak ada yang bisa diandalkan selain keberanian untuk tinggal bersama diri sendiri.

Babak ini bukan tentang kesembuhan.

Bukan pula tentang jawaban. Ia adalah ruang hampa yang harus dilalui, bukan diisi. Sebab hanya dengan mengakui kehilangan dirinya sendiri, Irna mulai memiliki kemungkinan untuk menemukannya kembali.

Other Stories
Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

Melodi Nada

Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...

Titik Nol

Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...

Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Download Titik & Koma