Pengakuan Di Jam Dua Pagi
Pertanyaan Rendra masih menggantung di udara, menciptakan keheningan yang begitu pekat hingga Laras bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ia bergeser di balik selimut sutra, mencoba menangkap ekspresi suaminya. Di bawah temaram cahaya bulan yang menerobos celah gorden, wajah Rendra tampak separuh bayangan gelap dan asing.
\"Apa maksudmu, Rendra? Orang lain?\" suara Laras nyaris berupa bisikan. \"Kau sedang membicarakan perselingkuhan?\"
Rendra menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat dengan beban yang telah dipikul bertahun-tahun. Ia berbalik posisi, kini menghadap Laras sepenuhnya. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter, namun Laras merasa suaminya sedang berdiri di tepi tebing yang sangat jauh.
\"Bukan perselingkuhan, Laras. Bukan pengkhianatan,\" Rendra meraih tangan Laras, menggenggamnya dengan jemari yang sedikit gemetar. \"Aku bicara tentang kejujuran yang paling telanjang. Aku bicara tentang melihatmu... benar-benar melihatmu, dalam cara yang tidak bisa aku lakukan sendirian.\"
Laras mengernyit, kebingungan menyelimuti benaknya. \"Aku tidak mengerti.\"
Rendra terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian. Suaranya berubah menjadi lebih rendah, lebih dalam, dan ada nada obsesif yang belum pernah Laras dengar sebelumnya. \"Tujuh tahun ini, aku selalu mencoba menjadi suami yang sempurna. Aku menjagamu, melindungimu, memperlakukanmu seperti porselen mahal. Tapi di dalam kepalaku, ada api yang tidak pernah padam. Aku memiliki fantasi, Laras... fantasi melihat istrinya yang cantik, yang hanya menjadi milikku, berada di bawah kendali pria lain.\"
Laras tersentak, mencoba menarik tangannya, namun Rendra menahannya dengan lembut.
\"Dengarkan aku dulu,\" pinta Rendra dengan nada memohon. \"Aku ingin melihat pria lain menyentuhmu, menciummu, mengagumi tubuhmu seolah kau adalah dewi yang turun ke bumi. Dan aku ada di sana, menyaksikan setiap detiknya. Aku ingin melihat reaksimu saat pria asing memberikan sensasi yang mungkin sudah lama tidak kau rasakan dariku. Bagiku, itu adalah puncak kepercayaan. Bahwa setelah semua itu, kau tetap kembali ke pelukanku.\"
Ruang kamar itu mendadak terasa sesak. Laras merasa seolah oksigen di sekitarnya tersedot habis. \"Kau ingin aku... bersetubuh dengan pria lain? Di depan matamu?\"
\"Bukan sekadar bersetubuh,\" sela Rendra dengan mata yang kini berkilat aneh. \"Ini tentang berbagi gairah. Sebuah skenario yang kita kendalikan sepenuhnya. Kita yang memilih siapa dia, di mana, dan kapan. Aku akan menjagamu di sana, Laras. Aku tidak akan membiarkanmu terluka. Aku hanya ingin kita melepaskan semua kepura-puraan ini dan merasakan sesuatu yang... benar-benar liar.\"
Pikiran Laras kacau. Separuh dirinya merasa terhina—apakah ia tidak lagi cukup bagi Rendra? Namun, separuh lainnya, yang terkubur jauh di bawah rutinitas hambar sebagai istri teladan, merasakan getaran panas yang terlarang. Ada sesuatu yang sangat sensual sekaligus mengerikan dalam bayangan menjadi pusat perhatian dua pria sekaligus.
\"Kau gila, Rendra,\" bisik Laras, meski ia tidak berpaling.
\"Mungkin,\" Rendra mendekat, bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Laras. \"Tapi bayangkan, Laras... bayangkan tangan asing yang menyentuh kulitmu, sementara aku berbisik di telingamu betapa cantiknya kau saat kau menyerah pada gairah itu. Tidakkah kau merasakannya? Ketegangan ini? Ini adalah hal paling hidup yang kita rasakan dalam bertahun-tahun.\"
Malam itu, jam dinding terus berdetak menuju pukul dua pagi. Laras tidak bisa memejamkan mata. Di sampingnya, Rendra akhirnya tertidur dengan raut wajah yang lebih tenang, sementara Laras terjaga dengan imajinasi yang mulai liar. Sebuah pintu gelap telah terbuka, dan ia tidak yakin apakah ia ingin menutupnya kembali atau justru melangkah masuk ke dalamnyaOther Stories
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...