Perang Batin
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah gorden terasa menyilaukan, namun tidak sebanding dengan rasa panas yang membakar pikiran Laras. Ia terbangun dengan perasaan seolah seluruh dunianya telah bergeser beberapa derajat. Rendra sudah tidak ada di sampingnya; aroma kopi dan suara samar berita pagi dari televisi di lantai bawah menandakan kehidupan berjalan seperti biasa. Namun, tidak ada yang biasa lagi.
Sepanjang hari, Laras bergerak seperti robot. Saat ia mencuci piring, ia membayangkan tangan pria lain bukan tangan Rendra yang halus—menggenggam pergelangan tangannya. Saat ia berbelanja, matanya tanpa sadar memindai pria-pria di sekitarnya dengan cara yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia merasa seperti pengkhianat, sekaligus merasa seolah ia baru saja diberikan izin untuk melepaskan topengnya.
Sore harinya, Rendra pulang membawa sebuah kotak kecil berisi kalung berlian. Ia memberikannya tanpa alasan, tapi Laras tahu ini adalah semacam \"pemanis\" untuk percakapan mereka semalam.
\"Aku memikirkan kata-katamu,\" ujar Laras saat mereka duduk di balkon, memandangi lampu-lampu kota yang mulai menyala. \"Mengapa harus pria lain? Kenapa kau tidak bisa saja... menjadi lebih liar bersamaku?\"
Rendra meletakkan gelas anggurnya. Ia bangkit dan berdiri di belakang kursi Laras, memijat bahu istrinya dengan tekanan yang pas. \"Karena ada sesuatu tentang \'tatapan orang lain\' yang mengubah segalanya, Laras. Saat aku melihat pria lain menginginkanmu, itu mengingatkanku betapa beruntungnya aku memilikimu. Dan melihatmu menyerah pada sensasi itu... itu adalah kepuasan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.\"
Rendra kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia membuka sebuah situs web terenkripsi yang tampak elegan, jauh dari kesan murah atau kotor. Di sana, terdapat profil-profil pria dengan deskripsi yang sangat mendetail: tinggi badan, hobi, hingga batas-batas yang mereka setujui.
\"Aku sudah melakukan riset kecil,\" bisik Rendra, menggeser layar ponsel ke arah Laras. \"Pria-pria ini profesional. Mereka bukan orang asing sembarangan di jalan. Mereka mengerti tentang konsensus, privasi, dan... estetika.\"
Laras menatap layar itu dengan jantung yang berdegup kencang di kerongkongan. Ia melihat foto-foto pria yang tampak atletis, misterius, dan menggairahkan. Tangannya gemetar saat ia menyentuh layar itu, memperbesar foto seorang pria dengan rahang tegas dan mata yang tampak seolah bisa menelanjangi siapa pun yang menatapnya.
\"Gila,\" gumam Laras, namun ia tidak mematikan ponsel itu. \"Kita benar-benar akan melakukan ini?\"
Rendra memutar kursi Laras sehingga mereka saling berhadapan. Ia berlutut di depan istrinya, menatapnya dengan intensitas yang hampir religius. \"Hanya jika kau siap. Hanya jika kau menginginkannya sebesar aku menginginkannya. Aku ingin kita mengeksplorasi batas terdalam gairah kita, Laras. Tanpa rahasia. Tanpa rasa malu.\"
Laras menatap suaminya, lalu kembali menatap layar ponsel yang masih menyala. Rasa jijik yang awalnya ia rasakan mulai terkikis, digantikan oleh rasa penasaran yang gelap dan mendesak. Sesuatu yang sensual dan liar mulai merayap di bawah kulitnya. Ia menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar istri teladan yang hambar, ia adalah seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa ia memiliki kunci menuju penjara gairahnya sendiri.
\"Pilih satu,\" bisik Laras, suaranya hampir tidak terdengar. \"Pilih satu yang menurutmu akan membuatku... lupa bagaimana caranya bernapas.\"
Rendra tersenyum miring, sebuah senyum kemenangan yang sangat seksi sekaligus menakutkan. Perang batin itu belum selesai, tapi pemenangnya sudah mulai terlihat.
Other Stories
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...