Bunga Untuk Istriku (21+)

Reads
165
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
bunga untuk istriku (21+)
Bunga Untuk Istriku (21+)
Penulis Idha Febriana

Pertemuan Di Kamar 808

Suasana di bar The Obsidian mendadak terasa terlalu sempit bagi mereka bertiga. Ketegangan yang tercipta dari sentuhan singkat Adrian di telapak tangan Laras tadi telah merambat ke seluruh ruangan, menciptakan medan magnet yang menyesakkan. Rendra, yang biasanya sangat tenang, kini terlihat gelisah dengan cara yang sangat maskulin; ia terus memperhatikan setiap gerakan Adrian yang menatap istrinya.

\"Kurasa kita tidak perlu membuang waktu lebih lama dengan basa-basi,\" ujar Rendra, suaranya terdengar lebih parau dari biasanya. Ia meletakkan sejumlah uang di atas meja dan berdiri, tangannya dengan protektif merangkul pinggang Laras.

Mereka menuju lift hotel yang akan membawa mereka ke lantai delapan. Di dalam ruang lift yang sempit dan berdinding cermin, Laras terjepit di antara dua pria bertubuh tinggi. Di satu sisi, aroma cendana dan kemapanan dari suaminya, di sisi lain, aroma tembakau, kulit, dan aura berbahaya dari Adrian. Laras bisa melihat bayangannya sendiri di cermin, wanita dalam gaun merah yang tampak begitu rapuh namun sekaligus bercahaya karena adrenalin.

Begitu pintu Kamar 808 tertutup dan terkunci, keheningan menyergap. Ruangan itu luas, dengan ranjang king-size yang tertutup sprei satin berwarna arang.

Adrian tidak menunggu instruksi. Ia melangkah mendekati Laras, sementara Rendra berdiri beberapa langkah di belakang, bersandar pada pilar ruangan dengan tangan terlipat, matanya tidak berkedip.

\"Boleh aku membantumu melepaskan ini, Laras?\" bisik Adrian, jari-jarinya yang kasar menyentuh resleting di punggung gaun merah Laras.

Laras menoleh ke arah Rendra, mencari persetujuan terakhir. Rendra hanya mengangguk pelan, rahangnya mengeras karena gairah yang memuncak. \"Lakukan, Adrian. Tunjukkan padanya apa yang telah dia lewatkan.\"

Bunyi resleting yang turun terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu. Gaun merah itu merosot jatuh ke lantai, menyisakan Laras dalam balutan lingerie sutra hitam yang transparan. Adrian menghembuskan napas panjang, matanya menjelajahi setiap lekuk tubuh Laras dengan kekaguman yang jujur. Ia mulai menciumi bahu Laras, tangannya yang kuat merambat turun, membelai paha batin Laras dengan intensitas yang membuat kaki Laras lemas.

Rendra mulai mendekat, napasnya memburu di telinga kiri Laras sementara Adrian sibuk di sisi kanannya. \"Lihat dirimu, Sayang,\" bisik Rendra. \"Kau begitu diinginkan. Kau milikku, tapi malam ini... kau adalah api bagi kami berdua.\"

Skenario itu pecah menjadi keintiman yang liar. Adrian menarik Laras ke tempat tidur, gerakannya efisien dan penuh kuasa. Ia mencium Laras dengan lapar, sebuah ciuman yang sangat berbeda dari ciuman sopan Rendra selama ini. Di saat yang sama, Rendra gabung sisi ranjang, Ia belai rambut Laras, dan membisikan bisik: \"Bagus, Sayang... biarkan dia rasakan.\" Tangan Rendra mengelus vagina Laras yang sudah basah, lalu Adrian turun, membuka lebar paha Laras, lidah panjangnya men jilat bibir vagina laras,. Laras menggeliat liar, \"Oh Tuhan... jangan berhenti..., sentuh aku!\"

Laras merasa dirinya kehilangan kendali sepenuhnya. Ia berada di antara dua pria yang memberikan sensasi yang luar biasa, kekasaran yang menggairahkan dari Adrian dan pemujaan yang dalam dari Rendra., Laras mengeluarkan rintihan yang selama tujuh tahun ini ia pendam.

Lalu Adrian beranjak membuka celananya dan terbuka lah penis Adrian yang berukuran 22 cm dan tebal, lalu ia mengesekan ke vagina laras, sementara laras sudah menggerang”aah..aaah…ah’, Rendra kembali membisikan istrinya “ mau dimasukin sayang?”

Laras menjawab lirih” terserah kamu aja sayang” dan adrian melihat kode dari rendra untuk melakukan penetrasi, tak perlu waktu lama Adrian membenamkan penis nya ke vagina laras dan menggoyang nya , laras terlihat menggelinjang, antara sakit dan nikmat ia rasakan, vagina yang biasanya hanya di masukan penis rendra yang hanya berukuran 15 cm sekarang di penetrasi dengan penis besar dan tebal,

Laras menikmati goyangan Adrian sambil mengulum penis rendra, lirih ia berkata “ duh enak banget ini sayang”

Di bawah remang lampu kamar hotel, mereka bertiga larut dalam tarian tubuh yang sangat sensual. Rendra menyaksikan setiap inci tubuh istrinya bereaksi terhadap sentuhan pria lain, dan bukannya merasa cemburu, ia justru merasa lebih terhubung dengan Laras daripada sebelumnya. Malam itu bukan lagi tentang pengkhianatan, melainkan tentang eksplorasi batas terdalam dari hasrat manusia yang paling gelap dan paling jujur.


Other Stories
Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

Download Titik & Koma