Seragam Dan Rahasia
Kancing kerah kemeja Melati tertutup rapat, tepat satu inci di bawah jakunnya. Rok span berwarna abu-abu gelap yang ia kenakan jatuh tepat di bawah lutut—potongan yang sangat konservatif untuk standar asisten pribadi di gedung pencakar langit Jakarta. Namun, di balik kacamata bingkai hitamnya, mata Melati sedang menelusuri layar tabletnya dengan napas yang tertahan.
Ia tidak sedang memeriksa jadwal rapat. Ia sedang mengetik paragraf terakhir dari bab terbaru novel dewasanya di sebuah platform anonim.
“Tangannya yang kasar merobek batasan itu, memaksaku menghadapi kegelapan yang selama ini kupendam. Di bawah cahaya lampu yang redup, aku bukan lagi asisten yang patuh. Aku adalah miliknya, sepenuhnya hancur dan utuh di saat yang sama...”
"Melati."
Suara bariton itu memutus aliran adrenalin di nadinya. Melati hampir menjatuhkan tabletnya ke atas lantai marmer. Ia segera mematikan layar, menetralkan ekspresi wajahnya menjadi sedingin es, dan berdiri tegak.
Arjuna berdiri di ambang pintu kantor barunya. Pria itu tidak memakai jas, hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, memamerkan urat-urat menonjol di lengan bawahnya yang kecokelatan. Bau parfumnya—campuran sandalwood dan maskulinitas yang tajam—langsung menjajah ruang privasi Melati.
"Ya, Pak Arjuna?" suara Melati datar, nyaris mekanis.
Arjuna melangkah mendekat. Ia tidak berhenti di jarak profesional. Ia terus maju hingga ujung sepatunya yang mengkilap bersentuhan dengan ujung sepatu Melati. Ia sedikit merunduk, membiarkan napas hangatnya menyapu kening Melati.
"Jadwal sore ini?" tanya Arjuna, suaranya rendah, seolah ia sedang membisikkan sesuatu yang terlarang.
"Anda ada pertemuan dengan dewan direksi pukul tiga, lalu makan malam dengan investor dari Singapura," jawab Melati tanpa berkedip, meski jantungnya berdentum keras di balik bra renda merah yang ia sembunyikan di balik kemeja kaku itu—satu-satunya "pemberontakan" kecil yang ia pakai setiap hari.
Arjuna terdiam, matanya tidak menatap jadwal di tangan Melati, melainkan menatap leher Melati yang sedikit berkeringat. "Kau terlalu tegang, Melati. Apa yang kau sembunyikan di balik seragam membosankan ini?"
"Hanya profesionalitas, Pak."
Arjuna tersenyum miring—sebuah senyum predator yang tahu mangsanya sedang berpura-pura mati. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang hampir menyentuh kerah kemeja Melati, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Kita lihat saja nanti. Aku punya insting bahwa di bawah melati yang santun ini, ada duri yang sangat ingin menusukku.
Other Stories
Di Luar Rencana
Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Ijr
hrj ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...