Pasrah
Hujan badai yang menghantam kaca jendela lantai 50 itu terdengar seperti ribuan peluru yang mencoba menembus pertahanan Melati. Di luar, Jakarta tenggelam dalam abu-abu dan kilat yang sesekali membelah langit. Di dalam, suasana jauh lebih berbahaya. Listrik sempat berkedip, membuat lampu-lampu kantor yang elegan padam sesaat sebelum sistem cadangan menyala, menyisakan pencahayaan kuning yang redup dan intim.
Melati berdiri di depan meja jati besar Arjuna, memegang map dokumen dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia mencoba fokus pada paragraf kontrak di depannya, namun aroma maskulin Arjuna perpaduan antara tembakau mahal dan cologne kayu—telah mengacaukan sistem sarafnya.
"Ini dokumen yang Anda minta, Pak. Semuanya sudah sesuai dengan revisi terakhir," suara Melati parau, hampir hilang ditelan deru angin di luar.
Arjuna tidak segera mengambil dokumen itu. Ia berdiri dari kursi kebesarannya, bergerak lambat seperti predator yang sudah memojokkan mangsanya. Ia tidak memakai jasnya lagi. Kemeja hitamnya terbuka di dua kancing teratas, memperlihatkan pangkal dadanya yang kokoh.
"Kau tahu, Melati..." Arjuna berjalan memutar, mendekati Melati hingga gadis itu bisa merasakan radiasi panas dari tubuh pria itu. "Dokumen ini bisa menunggu. Tapi rasa hausku melihat apa yang ada di balik fasad kaku ini... tidak bisa."
Tanpa peringatan, Arjuna merebut map itu dan melemparnya ke lantai. Kertas-kertas berhamburan, namun tak ada yang peduli. Ia mencengkeram pinggang Melati, mengangkat tubuh mungil itu dan mendudukkannya di atas meja kerja yang luas.
"Arjuna! Seseorang bisa masuk..." Melati terkesiap, tangannya secara insting bertumpu pada bahu lebar Arjuna.
"Pintu itu terkunci secara elektronik dari sini, sayang. Dan ruang ini kedap suara. Kau bisa berteriak sesukamu, dan satu-satunya yang akan mendengarmu adalah aku," bisik Arjuna tepat di depan bibir Melati.
Jari-jari Arjuna yang kasar mulai bekerja pada kancing kemeja Melati. Satu per satu, kancing itu terlepas, memamerkan kulit putih pucat Melati yang bergidik karena kontras antara udara dingin kantor dan panas dari napas Arjuna. Saat kemeja itu terbuka sepenuhnya, Arjuna terdiam sejenak.
Di balik seragam abu-abunya yang membosankan, Melati mengenakan korset renda berwarna merah menyala yang sangat provokatif—sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat.
"Sudah kuduga," geram Arjuna, suaranya serak karena gairah yang tertahan. "Ada api yang membara di balik salju ini."
Arjuna mencondongkan tubuh, membenamkan wajahnya di ceruk leher Melati, menghisap aroma melati alami dari kulit gadis itu yang bercampur dengan keringat dingin. Lidahnya menelusuri tanda merah yang ia buat di rapat tadi pagi, membuat Melati melenguh dan menyandarkan kepalanya ke belakang, membiarkan rambut hitamnya tergerai berantakan di atas meja.
"Kau sangat cantik saat kau hancur seperti ini, Melati," bisik Arjuna. Tangannya merayap ke paha Melati, menyibak rok span-nya hingga ke pinggang. Sentuhan telapak tangan Arjuna yang panas pada kulit pahanya membuat Melati merasa seolah-olah seluruh tubuhnya sedang dicairkan.
Melati tidak bisa lagi berpura-pura. Ia menarik kerah kemeja Arjuna, membawa pria itu masuk ke dalam ciuman yang haus dan menuntut. Ini bukan lagi tentang atasan dan bawahan; ini adalah dua jiwa yang selama ini terkekang oleh aturan, kini saling melepaskan dahaga dalam kegelapan yang elegan.
Tangan Arjuna bergerak dengan presisi yang menyiksa, menjelajahi setiap inci tubuh Melati, mencari titik-titik yang membuat gadis itu memohon. Setiap sentuhan Arjuna terasa seperti petir yang menyambar di luar—mengejutkan, kuat, dan meninggalkan bekas yang membara.
"Katakan," perintah Arjuna di tengah ciuman mereka yang dalam. "Katakan kau menginginkanku lebih dari kau menginginkan tulisan-tulisanmu itu."
"Aku... aku menginginkanmu, Arjuna," rintih Melati, jemarinya meremas rambut Arjuna. "Hancurkan aku. Jangan biarkan ada bagian dari diriku yang tersisa untuk hari esok."
Di atas meja yang biasanya menjadi tempat lahirnya keputusan-keputusan bisnis jutaan dolar, sebuah perjanjian yang jauh lebih mahal baru saja ditandatangani dengan keringat dan rintihan. Melati menyerahkan kontrolnya sepenuhnya, membiarkan Arjuna menjadi tinta yang menuliskan bab paling erotis dalam hidupnya langsung di atas kulitnya sendiri.
Malam itu, hujan tidak hanya membasahi bumi Jakarta, tapi juga membasuh habis rasa malu dan ketakutan Melati, menyisakan hanya gairah murni yang membakar di tengah dinginnya ruangan kedap suara itu.
Other Stories
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...