Prolog
Namaku Firman, aku masih ingat kali pertama jatuh cinta kepada seorang wanita. Waktu itu, masih jenjang Sekolah Dasar (SD). Aku jatuh cinta kepada teman masa kecil ku yang kebetulan satu sekolah. Dia cantik, manis, lebih pendek dari aku, rambutnya terurai panjang dengan warna agak pirang di beberapa helainya. Aku sangat sering berjumpa dengannya. Karena rumah dia lumayan dekat dengan ku.
Pada saat jatuh cinta, terdapat dua tipe orang dalam merespon perasaan tersebut. Ada yang mengungkapkan perasaan tersebut kepada orang yang dicintai dan adapula yang memilih untuk memendam perasaannya.
Pada saat itu, aku memilih untuk tidak mengungkapkan perasaanku kepadanya. Karena merasa insecure pada diri sendiri. Hal ini disebabkan oleh kondisi fisik yang kumiliki, seperti tubuh yang berisi alias gendut, kulit sawo mateng yang lebih condong ke hitam, dan muka jelek. Miriplah seperti karakter anak kecil di film kartun Up. Namun, aku jelek dengan kulit sawo mateng yang kematengan dengan rambut model dora yang sering di olok-olok oleh teman sekolahku. Katanya model rambut seperti itu kayak cewek. Akibat rambut model dora tersebut, ayahku cerita, katanya aku pernah nangis setelah diolok olok tentang model rambut kumiliki. Sehingga ayahku berusaha dengan seganap jiwa dan raga mengubah model rambutku agar bisa disisir ke samping gitu. Saat itu ayahku menggunakan kapur yang telah dihaluskan lalu mengoleskannya ke rambutku. Ternyata berhasil walaupun akibatnya, rambutku jadi rusak lama kelamaan. Akibat kondisi tersebut, aku merasa insecure untuk mengungkap perasaanku kepadanya. Merasa tidak pantas serta didukung dengan rasa takut untuk mengungkapkan perasaanku padanya.
Setelah beberapa tahun berlalu
Sampai pada suatu masa, setelah mengalami beberapa kali jatuh cinta. Saat masa-masa kuliah, aku jatuh cinta kepada temen masa SMA. Perempuan tersebut habis putus sama pacarnya. Kebetulan pacarnya adalah temen deketku. Saat mereka pacaran aku sangat mendukung mereka. Namun, dalam angan-angan ku waktu itu, aku bicara dalam hati "wanita seperti ini adalah kriteria ku". Namanya Lala, dia cantik, agak sedikit lebih tinggi dari aku, matanya agak sipit, kulitnya putih dan kepribadiannya sangat baik dan ramah. Dia kuliah di jurusan pendidikan dan beda universitas denganku. Aku kuliah di Surabaya sedangkan dia di Madura.
Saat mendengar kabar dia putus dengan temenku. Aku masih tidak berpikir untuk mendekatinya. Sampai pada suatu waktu. Aku membuat story WhatsApp dengan caption "kalau emang numpang jangan rame-rame lah kocak, udh numpang parkir lagi". Waktu itu tetangga ku lagi ada nikahan. Aku tidak ada masalah dengan hal tersebut. Masalahnya tamu undangan mereka, memarkirkan kendaraannya di halaman rumahku. Andai kata mereka memarkirkan dengan baik dan tidak rame-rame dengan menggeber motornya tersebut. Kemungkinan besar akan baik-baik saja dan akupun tak akan marah.
Namun dari insiden tersebut, ternyata memberikan berkah bagiku. Dia me-reply strory WhatsApp ku beberapa menit kemudian. Saat dia me-reply muncullah pertanyaan "tumben nih anak ngechat aku". Waktu itu aku merasa"kayaknya tepat nih buat deketin lala". Aku membalas lah chat dia.
"Parah tuh orang" kata lala
" Iya nihh udah mah numpang geber-geber pulak". Kataku
"Marahin aja marahin kan lu ikut silat tuh" katanya
"Rombongan cuy, ntar malah aku digebukin gak lucu dong" kataku.
Obrolan terus berlanjut sampai beralih ke voice note. Kita berbagi cerita dari seluk beluk hidup yang kita alami selama perkuliahan. Aku dengan lala semakin intens dalam berkomunikasi, meskipun hanya lewat wa.
Sudah 4 bulan berlalu, semenjak peristiwa yang membawa berkah sebelumnya. Pada waktu itu bulan Agustus. Setiap daerah pastinya mengadakan acara Agustusan, termasuk di daerahku. Pada tanggal 23 Agustus, di daerahku akan mengadakan karnaval yang diikuti oleh setiap warga. Aku berencana untuk mengajak Lala nonton bareng. Sebelum itu, rumah lala denganku beda kecamatan. Namun, masih sangat mungkin untuk Lala pergi ke desaku. Karena jaraknya tidak terlalu jauh. Sekitar kurang lebih 15 menitan. Aku menghubungi lala via wa.
"Mau nonton bareng gak?"
"Nonton apa nih"
"Nonton karnaval di desaku"
"Ohh iya tuhh, aku denger kabarnya juga. Aku rencananya mau nonton sama ibuku. Karena adek ku juga ikut karnavalnya."
"Ohh kamu nontonnya ntar dimana?"
"Kayaknya di kecamatan ntar sihh"
Karnaval ini juga diikuti oleh setiap sekolah yang ada di kecamatan tersebut. Dari jenjang TK sampai ke SMA. Adik Lala kebetulan sekolah di kecamatan yang masuk daerahku. Karena sebenarnya daerah ku berbatasan dengan daerah lala.
Setelah mendengar kabar dari lala mengenai dia ingin nonton karnaval tersebut dengan ibunya. Saya merasa agak deg deg ser. Waktu itu, kakak aku sebenarnya mau nonton karnaval juga. Dia ingin mengajakku nonton bareng gitu. Namun, aku memilih untuk menonton sendirian karena mau ketemu lala juga. Sebelum itu, saya ceritakan tentang kakakku dulu biar lebih kenal. Sebenarnya aku mempunyai tiga kakak, dua cewek dan satu cowok. Kakak paling tua aku adalah cewek dan dia sudah menikah serta tinggal dengan suaminya. Kakak kedua ku juga cewek yang telah menikah dan tinggal dengan suaminya juga. Untuk yang ketiga ini cowok, dia sudah menikah, akan tetapi istrinya diajak untuk tinggal dirumah. Nah kakak yang ngajak nonton karnaval ini adalah kakakku yang ketiga. Dia ngajak nonton karnaval tapi bareng istrinya. Aku pikir bakalan gangu dong pastinya ntar aku. Lagi pula nanti malah saya kesulitan untuk ketemu lala. Saat saya masih tiduran dikamar kakakku tanya.
"Kamu gak mau nonton karnaval?"
"Mau sih" kataku
"Yaudahh nonton bareng kalau gitu bareng istriku sekalian" kata kakakku
"Nggak deh aku mau nonton bareng temen aja ntar, kamu duluan aja" kataku
"Yaudah kalo gitu, duluan ya" ucak kakakku
Setelah itu saya langsung mandi serta siap-siap untuk nonton dan ketemu lala niatnya. Saya mempersiapkan baju paling bagus dan menata rambut dengan style yang rapi serta makek parfum bekas orang tua hehe. Jujur waktu itu, parfum yang biasanya aku pakek ketinggalan dikosan. Jauh dong buat ngambil lagi. Jadi yaa makek seadanya yang penting harum. Sambil siap-siap mulai tuh aku memikirkan skenario sendiri di otak tuhh. Perasaan campur aduk, bingung, dan insecure jadi satu.
Isi pikiran ku saat itu:
"nanti kalo ketemu ibunya Lala harus gimana ya?'
"Apakah aku nanti coba basa-basi aja kayak bahas perkuliahan, atau gimana ya bingung juga"
"Saya harus bersikap gimana ya?, takutnya ntar akward tuhh"
"Apakah aku nyatain aja perasaanku ke lala di depan ibunya ntar, tapi pasti rame kan ntar. Ntar dia malu lagi sama aku."
Skenario tersebut lebih ke perasaan bingung sih kayaknya. Meskipun sebenarnya saya pernah ketemu langsung dengan ibunya lala sebelumnya. Waktu itu kayaknya sekitar tiga kali ketemu ibunya Lala. Saya ketemu langsung dengan ibunya Lala dirumahnya. Saat itu, saya nemenin teman dekatku ini ngapel dengan Lala dirumahnya. Setelah dipikir-pikir kok mau ya saat itu aku nemenin. Cuman jadi obat nyamuk doang cuy, lucu sih kalau diingat-ingat. Dari berbagai pertemuan tersebut, rasa khawatir tetap muncul. Karena niatnya udah beda nih. Sekarang saya yang mau deketin Lala karena udah putus tuh sama temen deketku.
Pada saat jatuh cinta, terdapat dua tipe orang dalam merespon perasaan tersebut. Ada yang mengungkapkan perasaan tersebut kepada orang yang dicintai dan adapula yang memilih untuk memendam perasaannya.
Pada saat itu, aku memilih untuk tidak mengungkapkan perasaanku kepadanya. Karena merasa insecure pada diri sendiri. Hal ini disebabkan oleh kondisi fisik yang kumiliki, seperti tubuh yang berisi alias gendut, kulit sawo mateng yang lebih condong ke hitam, dan muka jelek. Miriplah seperti karakter anak kecil di film kartun Up. Namun, aku jelek dengan kulit sawo mateng yang kematengan dengan rambut model dora yang sering di olok-olok oleh teman sekolahku. Katanya model rambut seperti itu kayak cewek. Akibat rambut model dora tersebut, ayahku cerita, katanya aku pernah nangis setelah diolok olok tentang model rambut kumiliki. Sehingga ayahku berusaha dengan seganap jiwa dan raga mengubah model rambutku agar bisa disisir ke samping gitu. Saat itu ayahku menggunakan kapur yang telah dihaluskan lalu mengoleskannya ke rambutku. Ternyata berhasil walaupun akibatnya, rambutku jadi rusak lama kelamaan. Akibat kondisi tersebut, aku merasa insecure untuk mengungkap perasaanku kepadanya. Merasa tidak pantas serta didukung dengan rasa takut untuk mengungkapkan perasaanku padanya.
Setelah beberapa tahun berlalu
Sampai pada suatu masa, setelah mengalami beberapa kali jatuh cinta. Saat masa-masa kuliah, aku jatuh cinta kepada temen masa SMA. Perempuan tersebut habis putus sama pacarnya. Kebetulan pacarnya adalah temen deketku. Saat mereka pacaran aku sangat mendukung mereka. Namun, dalam angan-angan ku waktu itu, aku bicara dalam hati "wanita seperti ini adalah kriteria ku". Namanya Lala, dia cantik, agak sedikit lebih tinggi dari aku, matanya agak sipit, kulitnya putih dan kepribadiannya sangat baik dan ramah. Dia kuliah di jurusan pendidikan dan beda universitas denganku. Aku kuliah di Surabaya sedangkan dia di Madura.
Saat mendengar kabar dia putus dengan temenku. Aku masih tidak berpikir untuk mendekatinya. Sampai pada suatu waktu. Aku membuat story WhatsApp dengan caption "kalau emang numpang jangan rame-rame lah kocak, udh numpang parkir lagi". Waktu itu tetangga ku lagi ada nikahan. Aku tidak ada masalah dengan hal tersebut. Masalahnya tamu undangan mereka, memarkirkan kendaraannya di halaman rumahku. Andai kata mereka memarkirkan dengan baik dan tidak rame-rame dengan menggeber motornya tersebut. Kemungkinan besar akan baik-baik saja dan akupun tak akan marah.
Namun dari insiden tersebut, ternyata memberikan berkah bagiku. Dia me-reply strory WhatsApp ku beberapa menit kemudian. Saat dia me-reply muncullah pertanyaan "tumben nih anak ngechat aku". Waktu itu aku merasa"kayaknya tepat nih buat deketin lala". Aku membalas lah chat dia.
"Parah tuh orang" kata lala
" Iya nihh udah mah numpang geber-geber pulak". Kataku
"Marahin aja marahin kan lu ikut silat tuh" katanya
"Rombongan cuy, ntar malah aku digebukin gak lucu dong" kataku.
Obrolan terus berlanjut sampai beralih ke voice note. Kita berbagi cerita dari seluk beluk hidup yang kita alami selama perkuliahan. Aku dengan lala semakin intens dalam berkomunikasi, meskipun hanya lewat wa.
Sudah 4 bulan berlalu, semenjak peristiwa yang membawa berkah sebelumnya. Pada waktu itu bulan Agustus. Setiap daerah pastinya mengadakan acara Agustusan, termasuk di daerahku. Pada tanggal 23 Agustus, di daerahku akan mengadakan karnaval yang diikuti oleh setiap warga. Aku berencana untuk mengajak Lala nonton bareng. Sebelum itu, rumah lala denganku beda kecamatan. Namun, masih sangat mungkin untuk Lala pergi ke desaku. Karena jaraknya tidak terlalu jauh. Sekitar kurang lebih 15 menitan. Aku menghubungi lala via wa.
"Mau nonton bareng gak?"
"Nonton apa nih"
"Nonton karnaval di desaku"
"Ohh iya tuhh, aku denger kabarnya juga. Aku rencananya mau nonton sama ibuku. Karena adek ku juga ikut karnavalnya."
"Ohh kamu nontonnya ntar dimana?"
"Kayaknya di kecamatan ntar sihh"
Karnaval ini juga diikuti oleh setiap sekolah yang ada di kecamatan tersebut. Dari jenjang TK sampai ke SMA. Adik Lala kebetulan sekolah di kecamatan yang masuk daerahku. Karena sebenarnya daerah ku berbatasan dengan daerah lala.
Setelah mendengar kabar dari lala mengenai dia ingin nonton karnaval tersebut dengan ibunya. Saya merasa agak deg deg ser. Waktu itu, kakak aku sebenarnya mau nonton karnaval juga. Dia ingin mengajakku nonton bareng gitu. Namun, aku memilih untuk menonton sendirian karena mau ketemu lala juga. Sebelum itu, saya ceritakan tentang kakakku dulu biar lebih kenal. Sebenarnya aku mempunyai tiga kakak, dua cewek dan satu cowok. Kakak paling tua aku adalah cewek dan dia sudah menikah serta tinggal dengan suaminya. Kakak kedua ku juga cewek yang telah menikah dan tinggal dengan suaminya juga. Untuk yang ketiga ini cowok, dia sudah menikah, akan tetapi istrinya diajak untuk tinggal dirumah. Nah kakak yang ngajak nonton karnaval ini adalah kakakku yang ketiga. Dia ngajak nonton karnaval tapi bareng istrinya. Aku pikir bakalan gangu dong pastinya ntar aku. Lagi pula nanti malah saya kesulitan untuk ketemu lala. Saat saya masih tiduran dikamar kakakku tanya.
"Kamu gak mau nonton karnaval?"
"Mau sih" kataku
"Yaudahh nonton bareng kalau gitu bareng istriku sekalian" kata kakakku
"Nggak deh aku mau nonton bareng temen aja ntar, kamu duluan aja" kataku
"Yaudah kalo gitu, duluan ya" ucak kakakku
Setelah itu saya langsung mandi serta siap-siap untuk nonton dan ketemu lala niatnya. Saya mempersiapkan baju paling bagus dan menata rambut dengan style yang rapi serta makek parfum bekas orang tua hehe. Jujur waktu itu, parfum yang biasanya aku pakek ketinggalan dikosan. Jauh dong buat ngambil lagi. Jadi yaa makek seadanya yang penting harum. Sambil siap-siap mulai tuh aku memikirkan skenario sendiri di otak tuhh. Perasaan campur aduk, bingung, dan insecure jadi satu.
Isi pikiran ku saat itu:
"nanti kalo ketemu ibunya Lala harus gimana ya?'
"Apakah aku nanti coba basa-basi aja kayak bahas perkuliahan, atau gimana ya bingung juga"
"Saya harus bersikap gimana ya?, takutnya ntar akward tuhh"
"Apakah aku nyatain aja perasaanku ke lala di depan ibunya ntar, tapi pasti rame kan ntar. Ntar dia malu lagi sama aku."
Skenario tersebut lebih ke perasaan bingung sih kayaknya. Meskipun sebenarnya saya pernah ketemu langsung dengan ibunya lala sebelumnya. Waktu itu kayaknya sekitar tiga kali ketemu ibunya Lala. Saya ketemu langsung dengan ibunya Lala dirumahnya. Saat itu, saya nemenin teman dekatku ini ngapel dengan Lala dirumahnya. Setelah dipikir-pikir kok mau ya saat itu aku nemenin. Cuman jadi obat nyamuk doang cuy, lucu sih kalau diingat-ingat. Dari berbagai pertemuan tersebut, rasa khawatir tetap muncul. Karena niatnya udah beda nih. Sekarang saya yang mau deketin Lala karena udah putus tuh sama temen deketku.
Other Stories
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Testing
testing ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...