Permainan Mematikan: Narsistik

Reads
5
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
permainan mematikan: narsistik
Permainan Mematikan: Narsistik
Penulis Komandala Putra

Bab 5: Saya Bukan Narsistik

Citra melirik Rasmi—gadis itu menunduk, jari-jarinya saling mengunci.

Citra mengangkat tangan."Saya setuju.”

Beberapa detik kemudian, Setyo mengangguk.

Harto mengacungkan jempol.

Novan menebar pandangan ke arah mereka yang belum menjawab.

Sebuah tangan terangkat perlahan, ragu—Rasmi.

Novan tersenyum. "Baik,” ia menoleh ke arah Citra, “kita mulai dari Bu dokter.”

Citra memalingkan wajah ke arah Novan, mulutnya terbuka—

"Bu dokter terkenal di medsos,” potong Novan. Ia tersenyum, mengulurkan tangannya. “Silakan.”

"Gua duluan,” sela Aries. “Gua Bripka Aries. Yang jelas gua bukan narsistik. Yang nuduh gua narsistik, gua pecahin kepalanya."

Aries tersenyum manis pada Helen. Tatapannya menyapu wajah hingga leher wanita itu—lalu menggigit bibir.

Helen membalasnya dengan senyum genit, bahunya sedikit miring. “Makasih, Pak polisi”.

Rahang Harto mengeras. Lalu, ia menoleh ke arah Citra.

Citra yang menyadari tatapan itu ikut menoleh. Mata mereka bertemu—tak berkedip. Harto mengangguk kecil.

Citra melempar pandangan ke arah Rasmi yang sedang memperhatikan mereka berdua—Rasmi menunduk.

"Wajah gua udah nggak asing lagi di TV,” kata Helen.

Setyo mendengus. "Penyanyi. Suara seadanya—"

"Lu ganggu Helen, lu berurusan sama gua,” potong Aries.

Helen menoleh ke Aries, tersenyum lebar. Ia memainkan ujung rambut—lalu menoleh ke Setyo dengan tatapan mengejek.

Setyo membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Ia membersihkan tenggorokan. “Baik….” Nada suaranya berubah. Lebih lembut. Lebih tertata. “Nama saya Setyo Hadi. Publik biasa memanggil saya Mas Guru.”

Beberapa orang menoleh. Yang lain tetap diam.

Setyo merapatkan kedua telapak tangannya di dada, lalu mengangguk kecil. “Saya guru spiritual dengan ribuan murid.”

Rasmi menatap Setyo—tak berkedip.

Setyo menoleh ke sekeliling ruangan sebelum berhenti. “Saya juga penulis puluhan buku spiritual.” Ia menatap Helen, “Love and light.”

Setyo menoleh ke Rasmi, tersenyum. Tangannya terulur, mempersilakan.

Rasmi tak segera bicara—menunduk.

Novan menatap Rasmi, tersenyum. “Silakan… giliran kamu.”

Rasmi mengetuk-ngetukkan jempolnya ke jari telunjuk. "Saya Rasmi,” kata gadis berlesung pipi itu akhirnya. Ia menoleh cepat ke sekeliling, mulutnya terbuka, lalu tertutup kembali.

Novan mengangguk, tangannya mempersilakan.

"Saya cuma mahasiswi biasa,” lanjut Rasmi. Ia menoleh ke Setyo. "Saya... pernah baca buku Mas Guru... yang judulnya 'Kosong'.” Ia menunduk. Bahunya sedikit mengeras.

Setyo tersenyum tipis.

Darwin mengangkat kacamatanya. "Bukunya? Itu katalog antara fakta, delusi, dan narsisme spiritual.”

Rasmi merapatkan lutut—tatapannya ke Setyo meredup.

“Campur kepalsuan dengan kebenaran, lalu jual sebagai kebenaran absolut,” lanjut Darwin.

Setyo menarik napas dalam-dalam—lalu mengendurkan bahunya.

Novan buru-buru mempersilakan Harto dengan tangannya.

"Harto. Investor. Pebisnis. Workout-addict." Harto mengangkat telapak tangan kanannya setinggi dada—diam—lalu menjatuhkannya kembali ke paha.

Novan merapikan pakaiannya. "Giliran saya. Saya—"

"Koruptor,” potong Darwin.

Novan tersenyum— sudut bibirnya terangkat, tapi matanya tetap datar. "Saya Novan Permadi, arsitek dan insinyur sipil.”

Sudut bibir Darwin terangkat—bukan senyum.

Novan melirik tulisan “Siapa yang paling penting” sekilas. “Saat ini, saya mengemban amanah sebagai anggota Komisi V DPR.”

Novan mempersilakan Darwin dengan tangannya.

Darwin menatap ke tengah ruangan. "Saya Profesor Darwin Setiadi, Ph.D..” Lalu, ia berbicara singkat dalam bahasa Rusia—cepat, fasih.

“Waw,” bisik Rasmi, nyaris tak terdengar.

Darwin tersenyum tipis, lalu kembali ke bahasa Indonesia. "Bahasa Rusia, Ibrani, dan delapan bahasa asing lain saya kuasai.”

Rasmi menelan ludah, lalu menunduk lebih dalam.

Darwin melipat kedua tangannya di dada. “Dan kepura-puraan adalah bahasa yang paling saya benci.” Ia menoleh ke Novan, menatapnya—tajam.

Novan menatap balik, sorot matanya meredup sejenak.

Darwin mendongak.

Novan mengalihkan pandangan dari Darwin.
Ia tersenyum, menoleh ke Citra, mempersilakannya dengan tangan.

Citra mengangguk. Matanya sempat menyentuh tulisan hitam di dinding—sekilas, lalu terlepas.
"Saya Citra Rosadi. Dokter umum. Kadang jadi relawan medis." Ia tersenyum. "Itu saja. Cukup.”

Novan menyebar pandangan ke sekeliling. "Sekarang kita—"

Darwin memotong—bicara ke kamera dengan nada sinis, "Saya bukan narsistik. Saya hanya minoritas di tengah kedunguan kolektif.”

Aries menoleh. "Gua narsistik, bodoh, maksud lu?!“

Setyo menegakkan punggung. “Saya sudah terbebas sepenuhnya dari jebakan ego—“

Yang lain ikut bicara. Suara saling menabrak. Terlalu banyak—tak ada celah. Jari menunjuk. Kaki menghentak. Meludah. Tertawa—tinggi, kering.

Citra merentangkan kedua tangan. “Stop—”

Suara-suara itu naik—menusuk, memantul, berlapis.

Citra merasakan tekanan di telinga. Tak ada satu suara pun yang bisa diikuti.

Rasmi menutup telinga rapat-rapat—bahunya bergetar kecil.

Kebisingan memuncak. Aries berlari ke tengah ruangan.

Harto terhempas ke belakang—mengerang kesakitan.

Suara mesin menderu—keras.

Rasmi menurunkan tangan dari telinga—mulutnya menganga.

Semua lampu berkedap-kedip—merah. Timer: 01:27... 01:26....

Citra melirik kamera CCTV, lalu menatap tajam ke arah Rasmi. "Rasmi, kamu duluan!"

Citra melangkah mundur.

Rasmi, gemetar, melangkah maju. Ia melirik kamera CCTV sekilas, lalu menunduk dan terus berjalan.

"Helen, maju!" teriak Novan sambil melangkah mundur.

Helen melangkah maju.

Darwin mundur ke arah dinding sambil melirik Novan.

Setyo melihat itu—segera menuju meja.

Aries menyambar palu, mengayunkannya.

Kraaang!

Kaca pecah—serpihannya berhamburan. Aries meraih kunci.

Timer terus berjalan.

Citra tersentak melihat Darwin meninju kepala Novan dan mendorongnya hingga jatuh.

Suara kaca pecah lagi. Citra menoleh—terlambat melihat siapa.

Harto mengangkat kakinya, menurunkan tumit tepat ke tengah kotak kaca. Krak. Kaca runtuh.

Aries menyerahkan palu.

Helen menerimanya dengan tangan kanan.

Alarm menjerit—nyaring. Timer: 01:00.

Aries membuka gembok Helen.

Helen mengembalikan palu itu dengan tangan kiri.

Suara benturan lain—lebih berat. Setyo menendang kotak kacanya. Pecah.

Darwin mengangkat kotak kacanya—gagal.

Alarm memekik. Timer: 00:45.

Darwin memukulnya. Sekali. Suara mesin menelan bunyi retakan. Ia memukulnya lagi. Kaca pecah.

Tatapan Citra terpaku pada Rasmi—tidak ke mana-mana.

Gadis itu berlutut, menangis. Kuncinya bergulir di lantai. Tangannya berdarah.

Citra ikut berlutut. "Rasmi. Fokus. Ambil kuncinya."

Rasmi meraih kunci itu lagi. Tangannya gemetar.

Citra sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, satu telapak tangannya terangkat. "Pegang gemboknya pakai tangan kiri. Masukin pelan-pelan."

Rasmi mencoba lagi. Ujung kunci itu bergetar, meleset, membentur logam dingin

Citra melirik ke arah timer sekilas.

Klik. Gembok terbuka. Rasmi melepas karet.

Citra berdiri, menoleh ke arah Novan.

Satu tangan Novan menekan lantai—tangan lainnya memegangi kepala.

Citra bergerak ke arah Novan. Derap langkahnya tertelan raungan mesin.

Ia melihat Novan mengulurkan tangan.

Alarm kembali berbunyi.

Citra berhenti melangkah, menoleh ke arah timer: 00:29... 00:28....

Ia menoleh ke arah Novan, timer, lalu Novan lagi—napasnya tertahan—satu pilihan.

Ia melihat tangan Novan masih menggantung di udara. Detik terasa memanjang.

"Maaf,” bisik Citra, pelan.

Citra berlari ke meja—meninju kaca. Pecah.
Kunci. Gembok. Tangannya gemetar.

Alarm meraung-raung—lebih nyaring dari sebelumnya.

Citra masih berjuang membuka gembok—

Suara mesin makin keras. Lampu merah makin berkedap-kedip.

Novan, tertatih, berjalan ke arah meja.

Klik! Gembok Citra terbuka.

Bunyi bip-bip-bip terdengar dari bawah lantai.

Citra melepas karet—melemparkannya.

Kotak kaca Novan. Satu pukulan. Pecah. Kunci di tangan. Citra berlari ke arah Novan—

Timer: 00:00. Merah.

"Pak Novan!" teriak Citra, tangannya terjulur ke depan.

Lantai di belakang Novan terbelah. Ia terhempas ke belakang. Tangannya meraih udara kosong. Tubuhnya masuk lubang. Lantai tertutup.

Mata Citra tak berkedip. Napasnya tercekat.

Terdengar suara tubuh hancur—daging, tulang, logam berputar.

Tangan Citra menggantung di udara. Dadanya terasa hampa.

Bunyi mesin berhenti. Lampu kembali normal. Lampu indikator CCTV tetap berkedip merah.

Tak ada yang bersuara.

Citra menarik napas dalam—sekali, panjang. Terlalu teratur untuk situasi barusan.
Detak jantungnya masih cepat, tapi tubuhnya sudah kembali patuh.

Urutan langkah itu lengkap sekarang. Tidak ada lagi yang terlewat.

Citra menoleh ke arah Rasmi.

Gadis itu berdiri tak bergerak. Wajahnya pucat, tapi napasnya sudah kembali teratur. Ia menatap lantai—lama—lalu perlahan menoleh ke arah Citra.


Other Stories
Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Kelabu

Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...

Download Titik & Koma