Bab 6: Pemimpin Baru
Citra melihat Aries menyeringai—bahunya mengendur, napasnya stabil, pandangannya menyapu ruangan.
Helen menatap Citra dan Rasmi sekilas. Alisnya mengerut sepersekian detik, lalu ia menoleh ke Aries dan ikut menyeringai.
Aries merangkul Helen, menarik wanita berhidung mancung dan berkulit putih itu ke sisi tubuhnya. “Selamat datang di dunia nyata, Babe,” bisiknya.
Helen tersenyum kecil. Tangannya sempat ragu di udara, lalu menempel di dada Aries. Tatapannya melintas cepat ke sekeliling ruangan, lalu kembali turun, menghindari mata siapa pun.
“Tapi lu tenang aja. Gua bakal selalu jagain lu. Kita keluar dari sini bareng-bareng,” lanjut Aries.
Helen menyandarkan kepalanya ke dada Aries. Tubuhnya terlihat rileks, seolah kata-kata itu cukup untuk membuat ruangan penuh rantai dan baru saja menelan seseorang ini terasa aman.
Citra melangkah mendekati Darwin. “Anda tadi .…” Ia berhenti. Kata-kata yang ingin ia susun terasa berantakan, “… saya tidak menduga.”
Darwin menoleh, matanya menyipit tipis. “Dia variabel bebas dalam eksperimen ini.” Nada suaranya datar, seperti menyebutkan fakta laboratorium. “Saya tidak heran kalau Anda tidak mampu menyadari itu.”
Citra menahan diri untuk tidak bereaksi.
Darwin melanjutkan tanpa menunggu. “Seragamnya berbeda. Dia juga terlalu tenang dan bersikap layaknya moderator. Bukan respons alami dalam situasi seperti ini.”
“Bajunya sama seperti kita,” sela Setyo.
Darwin mengangkat dagunya sedikit. “Mata saya terlatih mengobservasi detail-detail kecil yang terlewatkan oleh awam.” Ia mendongak, bicara ke udara. “Apalagi yang delusional.”
Setyo tidak menjawab. Ia berbalik dan menjauh, langkahnya pelan tapi tegas.
Darwin melirik ke arah Setyo. Tatapannya turun sepersekian detik lalu naik kembali, sudut bibirnya terangkat sedikit.
Darwin kembali menatap Citra dan Harto. “Kalian dengar tadi?” katanya. “Katanya ini tempat belajar. Tapi saya tidak bisa dibodohi.”
Darwin menarik napas singkat. “Dalam eksperimen ini, individu yang rusak harus dieliminasi demi kebaikan sistem. Demi kebaikan kolektif. Semacam apoptosis.”
Harto menggeleng. “Saya memang tidak percaya Novan dan semua politisi. Tapi saya tidak mungkin membunuh orang yang belum terbukti bersalah.”
Darwin tersenyum tipis. “Saya baru saja menyelamatkan kita semua.” Setelah jeda sesaat, “You are welcome.”
Citra tidak langsung menanggapi. Matanya bergerak cepat, menimbang ruangan—jarak antartubuh, palu di tangan Aries, dan seringai tipis di wajah Helen.
Citra menatap mata Darwin. “Beliau orang pertama yang mengusulkan kerja sama."
“That’s the point!” kata Darwin sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Citra.
Citra terdiam. Kata-kata Darwin terasa rapi, terlalu rapi. Seolah setiap kalimat sudah punya tempatnya sendiri—tidak menyisakan ruang bagi keraguan.
Darwin berbalik, berjalan menuju dinding. Bahunya tegak. Wajahnya menyimpan sesuatu yang tampak seperti kemenangan.
Sudut bibir Darwin terangkat tipis. Ia berbalik, berjalan menuju dinding. Bahunya tegak. Langkahnya mantap.
“Kalau Pak Novan yang mengatur semua ini,” kata Citra, suaranya lebih pelan, “apa tujuannya? Apa manfaatnya buat beliau?”
Langkah Darwin terhenti. Selama beberapa saat, ia hanya diam sebelum akhirnya menoleh kembali. “Saya terangkan sekali lagi,” katanya, “kali ini, lebih sederhana.”
Ia menghembuskan napas berat. “Novan merasa dirinya bukan narsistik. Merasa dirinya bermoral, lalu mendakwa orang lain dan menempatkan mereka dalam eksperimen.”
Nada suaranya menjadi dingin. “Diagnosis yang keliru, fatal.” Darwin berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “Ya, tentang adanya yang narsistik di sini, itu tepat.”
Darwin melirik ke arah Setyo yang berdiri menjauh. “Narsistik memang tidak sadar dirinya narsistik. Ironisnya, itu yang membuat mereka begitu yakin.”
Darwin kembali berjalan ke arah dinding, separuh tubuhnya tertutup bayangan.
Citra menatap punggung Darwin selama beberapa saat.
Kemudian, ia berjalan perlahan menuju posisi terakhir Novan—ke lantai yang tadi terbuka dan kini hanya menyisakan garis sambungan yang nyaris tak terlihat.
Rasmi melangkah perlahan mendekati Citra, ragu-ragu.
Citra teringat ucapan Novan tadi. “Tidak, tidak. Justru saya mau menekankan, jangan sampai kita diadu domba. “Hanya satu yang bukan narsistik’ itu jelas provokasi, pemecah-belah.”
Aries melirik sekilas ke arah lantai tempat Citra berdiri. “Udah mampus dia.”
Harto menoleh ke arah kamera CCTV. “What’s next?”
Citra dan yang lain menoleh langit-langit dan dinding. Tidak ada jawaban. Tidak ada yang terjadi.
Citra menyadari tulisan di lantai: huruf H. Lalu, ia berjalan mengelilingi ruangan, memperhatikan sudut-sudut yang luput.
Rasmi mengikutinya, ragu-ragu, lalu memberanikan diri memegang tangan Citra. “Tadi aku takut banget,” bisik Rasmi. “Untung ada dokter Citra.”
Citra melirik kamera CCTV sekilas, lalu menunduk menatap Rasmi. “Panggil ‘Kak’ aja.”
“Makasih banyak ya, Kak,” kata Rasmi cepat, seolah takut kehilangan kesempatan. “Udah baik banget sama aku. Udah ngalah sama aku. Udah ngeyakinin aku pas aku sendiri nggak yakin sama diri aku sendiri.”
“Sama-sama, Dek,” jawab Citra sambil tersenyum.
Rasmi memeluknya. Citra membalas, merasakan tubuh Rasmi bergetar pelan sebelum akhirnya lebih tenang.
Di dekat tembok, Harto dan Setyo berdiri bersebelahan.
“Anda lihat siapa yang sok berkuasa sekarang?” tanya Harto.
Setyo menarik napas dalam. “Kekuasaan dan pencerahan … sering kali salah diartikan.”
Citra melepaskan pelukan.
Rasmi menatapnya dengan mata yang masih basah. “Aku suka banget nonton video Kak Citra bagi-bagi sembako sama ngadain pengobatan gratis. Apalagi pas bencana Sumatera kemarin.”
Citra tersenyum, merasakan sesuatu mengembang di dadanya—hangat, singkat.
Darwin berdiri—jauh dari yang lain. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding. Dahinya berkerut. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dinding. Pandangannya menyapu ruangan.
Dari tempat Citra berdiri, ia melihat kelompok-kelompok kecil terbentuk: Aries dan Helen, Harto dan Setyo, dirinya dan Rasmi—Darwin sendiri.
Citra merasakan sesuatu yang mengganjal dari kelompok yang terpecah-belah ini. Seolah-olah ruangan ini tidak hanya menguji mereka sebagai individu, tapi mendorong mereka memilih posisi—berdiri di sisi siapa, dan menjauh dari siapa.
Citra kembali melempar pandangannya ke tulisan “H” yang ada di lantai, keningnya berkerut.
Rasmi memegang lengan Citra.
Lampu berkedip. Terdengar bunyi mekanis.
Dinding bergeser. Pintu terbuka.
Terdengar bunyi palu menghantam dinding.
Citra dan yang lain menoleh.
Aries berdiri tegak, dagunya sedikit terangkat. “Mulai sekarang, gua yang mimpin!”
Citra menangkap kilap singkat di gagang palu sebelum cahaya merata kembali.
Harto dan Setyo saling pandang, singkat.
Palu di tangan Aries masih terangkat. Helen tetap di sisinya—tersenyum ke Aries.
Setyo menurunkan pandangannya.
Rasmi merapat setengah langkah ke arah Citra.
Darwin menggeleng pelan.
Aries memukul dinding sekali lagi. “Semuanya, masuk!”
Tidak ada yang langsung bergerak.
Aries melangkah menuju pintu sambil merangkul Helen.
Sedetik kemudian, Darwin berjalan menyusul, tanpa menoleh ke siapa pun.
Harto bergerak setelahnya—tidak cepat, tidak lambat.
Setyo menyusul beberapa langkah di belakang.
Citra mengangguk ke Rasmi, lalu mereka berjalan berdampingan—Rasmi memegang lengan Citra.
Beberapa langkah sebelum akhirnya melewati pintu, pandangan keduanya sempat tertahan pada huruf H di dinding.
Other Stories
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...