Ngidam

Reads
5
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
Penulis Adrian Corvus

Bab 2 – Panggilan Yang Tidak Seharusnya

“Hah, sekarang juga?” tanyaku kaget, mataku membesar.

“Iya. Kenapa ditunda? Adek kan lagi ngidam,” jawab Mas Santo dengan nada yang terlampau tenang, kontras dengan kilatan aneh di matanya.

Aku tak mampu menjawab. Tenggorokanku mengering, seolah seluruh air liurku menguap seketika. Tubuhku membeku di tempat, terjepit di antara rasa malu dan keinginan gila yang tak berani kuakui.

Rasanya seperti berdiri di tepi jurang; aku tahu aku seharusnya mundur, tapi ada gravitasi tak kasat mata yang menarikku untuk melompat.

“Mas telepon sekarang ya, Sayang?” tanya Mas Santo lagi. Tangannya membelai rambutku, lalu turun ke tengkuk, memberikan pijatan kecil yang membuat bulu kudukku meremang.

Napasnya terdengar lebih memburu dari sebelumnya, naik-turun dengan ritme yang berat, namun ia coba menyembunyikannya di balik senyum kebapakan yang biasa ia tunjukkan.

Setelah diam sejenak, aku pun mengangguk pelan—sebuah anggukan yang menyegel nasibku malam ini.

Mas Santo tidak membuang waktu. Ia segera mengeluarkan iPhone dari saku celana bahannya, membuka kunci layar dengan gerakan ibu jari yang cepat, dan mencari kontak di daftar panggilan.

Aku menahan napas saat ia menekan tombol panggil. Suara nada sambung tuuut ... tuuut ... terdengar samar dari speaker ponsel yang belum di-loudspeaker.

Setiap detik dering itu terasa seperti palu godam yang menghantam dadaku.

Angkat, jangan. Angkat, jangan. Bagian waras dari otakku berharap Arjuna tidak mengangkatnya. Berharap dia sedang sibuk, sedang di jalan, atau ponselnya mati.

Namun, takdir berkata lain.

\"Halo, Pak Santo?\" suara Arjuna terdengar jernih dari speaker yang kini diaktifkan Mas Santo. Suara bariton muda yang sopan dan bertenaga.

Jantungku melompat. Mendengar suaranya saja sudah membuat perutku bergejolak aneh.

\"Jun, kamu lagi sibuk nggak?\" tanya Mas Santo. Nadanya datar, profesional, seolah hendak membicarakan proyek tender, bukan memintanya untuk melakukan hal yang tabu.

\"Nggak, Pak. Saya baru sampai kost. Ada apa, Pak?\"

\"Ke rumah saya sekarang. Ada hal penting.\"

Ada jeda sebentar di ujung sana.

Aku bisa membayangkan Arjuna yang mungkin sedang melepas sepatu atau baru mau merebahkan diri, tiba-tiba harus bersiaga kembali.

\"Oh, baik, Pak. Penting sekali ya? Perlu saya bawa laptop atau berkas proyek?\"

Mas Santo melirikku sekilas, lalu menyeringai tipis. \"Nggak usah bawa apa-apa. Bawa badan aja.”

\"Siap, Pak. Dua puluh menit lagi sampai.\"

\"Oke. Saya tunggu. Hati-hati di jalan.\"

“Siap, Pal.”

Klik. Sambungan terputus.

Mas Santo meletakkan ponselnya di meja kaca, lalu menatapku. Tatapan itu ... tatapan yang membuatku deg-degan bukan karena takut, tapi karena antisipasi yang kelam.

Mas Santo menatapku bukan hanya sebagai suami, tapi sebagai sutradara yang baru saja menyiapkan panggung.

Aku terduduk membeku di sofa. Otakku berusaha memproses semua ini, tapi gagal. Ini terjadi terlalu cepat!

“Kalau adek mau mandi dulu … nggak apa-apa, mandi dulu aja. Biar segar,” kata Mas Santo akhirnya, suaranya serak.

Aku hanya mengangguk pelan, lalu bangkit berdiri menuju kamar mandi utama dengan kaki gemetar.

***

Pintu kamar mandi tertutup di belakangku.

Aku menyalakan keran shower. Air hangat mengalir deras, uapnya mulai memenuhi ruangan berlapis marmer itu, mengaburkan cermin wastafel.

Aku melepas pakaianku satu per satu. Daster rumahan jatuh ke lantai keranjang. Bra menyusul. Celana dalam terakhir.

Aku berdiri telanjang di depan cermin besar yang mulai berembun. Tanganku mengusap permukaan kaca, menampilkan pantulan tubuhku.

Perutku masih rata, namun pinggangku mulai sedikit melebar. Payudaraku ... terlihat lebih penuh, lebih berat, dengan urat-urat biru halus yang tampak di bawah kulit putihku. Putingnya menggelap dan membesar karena hormon kehamilan.

Aku melangkah masuk ke bawah guyuran shower. Air hangat membasahi rambut dan kulitku, menyamarkan air mata kecemasan yang sempat menetes.

Tanganku bergerak otomatis—menggosok sabun beraroma mawar ke seluruh tubuh dengan teliti. Lebih teliti dari biasanya.

Aku menggosok leher, tempat di mana nadi berdenyut kencang. Ke payudara yang sensitif, yang terasa nyeri sekaligus nikmat saat disentuh.

Ke perut yang menyimpan benih suamiku. Ke paha bagian dalam. Hingga ke area paling intim yang kini terasa hangat dan berdenyut.

Mengapa aku mempersiapkan diri seolah ini adalah acara spesial? Mengapa aku ingin terlihat sempurna di depan bawahan suamiku?

Karena memang spesial, bisik suara kecil di kepalaku.

Aku mematikan keran. Keheningan kembali menyergap, hanya diselingi suara tetesan air. Napasku terdengar berat di ruang sempit ini.

Selesai mandi, aku mengeringkan tubuh dan rambut dengan handuk tebal yang lembut. Kulitku terasa segar, pori-poriku terbuka, siap menerima sentuhan.

Aku berjalan ke walk-in closet, membuka lemari pakaian. Jari-jariku menelusuri deretan baju. Daster batik? Terlalu ibu-ibu. Kaos oblong? Terlalu santai.

Pilihanku jatuh pada sehelai kimono sutra putih polos.

Bahannya jatuh licin di kulit, potongannya elegan, cukup sopan karena panjangnya selutut dan berlengan panjang.

Namun, aku tahu persis kelemahannya—atau kelebihannya: kimono ini hanya diikat seutas tali di pinggang. Sangat mudah disingkap. Sangat mudah dibuka.

Aku mengenakannya. Sensasi kain sutra dingin yang menyentuh kulit telanjangku—karena aku memutuskan tidak memakai bra—membuat putingku menegang seketika.

Aku kembali menatap pantulanku di cermin rias.

Clara Salsabila. Dua puluh lima tahun. Tinggi 164 cm. Wanita biasa yang dijodohkan dengan duda kaya yang baik hati. Ibu dari janin delapan minggu. Dan sebentar lagi—aku tidak tahu harus menyebut diriku apa.

Dengan ragu-ragu, aku memoles sedikit makeup. Bedak tipis untuk menyamarkan pucat di wajah. Lipstik warna nude agar bibirku terlihat basah dan segar tanpa terkesan menor. Sedikit blush on di pipi.

Terakhir, aku menyemprotkan parfum favoritku—aroma vanilla dan jasmine—di leher, di belakang telinga, dan setitik di pergelangan tangan.

Wangi ini ... wangi untuk menggoda.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang seperti genderang perang, lalu melangkah keluar kamar.

Mas Santo masih duduk di sofa ruang keluarga, di tempat yang sama saat aku meninggalkannya tadi. Namun posisinya berubah.

Kakinya kini terbuka lebar, tangannya bertumpu di lutut, meremas-remas kain celananya sendiri dengan gelisah. Wajahnya tampak tegang, namun matanya menyala.

Saat mendengar langkah kakiku, Mas Santo menoleh. Matanya menyapu penampilanku dari atas ke bawah—lambat, menilai, lapar.

Tatapannya berbicara seolah aku adalah hidangan lezat—namun bukan untuk Mas Santo makan sendirian.

Ada jeda beberapa detik di mana hanya suara AC yang terdengar.

\"Cantik,\" katanya parau, suaranya seperti orang yang kehabisan napas. \"Istri Mas cantik banget.\"

Pujian itu terasa berbeda. Biasanya, pujian Mas Santo terasa hangat dan melindungi. Kali ini, rasanya panas dan liar.

Setelah berdiri mematung sekian detik di ambang pintu, aku memberanikan diri berjalan mendekat dan duduk di samping Mas Santo.

\"Mas ... serius ini boleh?” tanyaku sambil meremas-remas ujung kimono. “Mas yakin nggak bakal nyesel?\"

Mas Santo menoleh, menatapku lekat-lekat. \"Boleh. Mau megang aja, kan?\"

“I-iya. Megang aja,” jawabku cepat. Tidak mungkin aku melangkah terlalu jauh, apalagi di depan suamiku sendiri.

“Yakin?” tanya Mas Santo sambil menjilat bibir sekilas—ekspresi yang sulit kutafsirkan. Ada keraguan, tapi tertimbun oleh rasa penasaran yang lebih besar.

“K-kenapa nanya gitu, Mas?” tanyaku heran sekaligus deg-degan.

Mas Santo menggeser duduknya, menghadapku sepenuhnya. Tangannya meraih tanganku yang dingin, membawanya ke bibirnya, lalu mengecupnya pelan sambil matanya tetap terkunci di mataku.

“Kalau Mas izinin, emang Adek maunya gimana?” tanyanya pelan, menguji batasanku.

Wajahku memerah padam. Pertanyaan itu memancing imajinasiku liar. \"Adek ... adek cuma penasaran rasanya, Mas. Di mimpi itu... rasanya nyata banget.\"

Aku menyandarkan kepalaku di tubuh Mas Santo. “Mas nggak cemburu?” tanyaku, mencoba mengalihkan rasa malu.

Mas Santo tertawa kecil, tawa yang kering. “Cemburu sih ... bohong kalau Mas bilang nggak cemburu. Darah Mas mendidih bayangin laki-laki lain nyentuh adek. Tapi ....”

Mas Santo berhenti sejenak, napasnya memberat. Tangannya meremas tanganku lebih kuat. “Tapi Mas juga nafsu. Nafsu bayangin istri Mas yang cantik ini bikin cowok lain ngaceng. Bayangin adek pegang punya laki-laki lain di depan mata Mas.”

Aku ternganga. Pengakuan itu begitu vulgar, begitu jujur, meruntuhkan citra Mas Santo yang selama ini sopan dan berwibawa.

“Tapi ingat aturannya,” suara Mas Santo tiba-tiba berubah tegas, kembali menjadi sosok suami yang dominan. Ia menatapku tajam. “Jangan sampai ngentot ya. Itu Mas nggak rela. Mas belum siap kalau sampai situ.”

Jantungku mencelos mendengar kata vulgar itu keluar dari mulut suamiku.

\"Ih, kok vulgar banget sih, Mas, ngomongnya?!” tanyaku kaget, jantungku serasa mau copot. Wajahku terasa panas sampai ke telinga.

\"Mas lagi horny soalnya,\" jawab Mas Santo jujur, sambil mengelus tanganku yang dingin, lalu tangannya naik mengusap pipiku yang merona. “Jujur, sebenarnya ini fantasi Mas sejak lama!”

Aku menatap suamiku dengan tatapan tak percaya. Pria yang kunikahi setahun lalu ini ternyata menyimpan sisi gelap yang baru terungkap sekarang. Dan anehnya ... sisi gelap itu memantik gairah di tubuhku juga.

Di matanya, aku melihat sesuatu—gairah yang belum pernah kulihat sebelumnya, campuran antara rasa memiliki dan keinginan untuk berbagi wanita miliknya.

Suasana di antara kami menebal. Uap gairah bercampur kecemasan memenuhi ruang keluarga yang luas itu.

Ketika aku baru saja membuka mulut, hendak bertanya apa yang harus kulakukan nanti, bel rumah berbunyi.

Duniaku berhenti berputar. Arjuna sudah sampai.


Other Stories
Coincidence Twist

Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Permainan Mematikan: Narsistik

Delapan orang asing diculik dan dipaksa mengikuti serangkaian permainan mematikan. Tujuh d ...

Aku Versi Nanti

Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Download Titik & Koma