Bab 3 – Izin
Tubuhku membeku. Napasku tertahan.
“Tunggu di kamar. Nanti kalau udah deal, baru Mas ajak masuk”, kata Mas Santo.
Aku pun hanya bisa mengangguk kaku, lalu melihat Mas Santo berjalan ke pintu depan. Kemudian, aku mendengar suara pintu terbuka. Suara salam. Suara langkah kaki masuk.
“Silakan duduk, Jun,” suara Mas Santo terdengar dari ruang tamu.
“Terima kasih, Pak,” jawab Arjuna.
Beberapa detik kemudian ....
“Maaf sebelumnya, Pak. Kalau boleh tahu ... ada hal penting apa, ya, Pak? Tumben Bapak manggil saya mendadak begini.”
“Santai aja. Ini bukan soal kerjaan, kok.”
“Oh ... begitu ... lalu, ada apa ya, Pak?”
Kemudian, aku masuk kamar dan tidak bisa lagi mendengar percakapan mereka.
Tapi ... aku bisa membayangkan—Mas Santo menjelaskan semuanya pada Arjuna. Menjelaskan tentang ngidamku yang aneh. Menjelaskan apa yang akan terjadi sebentar lagi.
Bagaimana reaksi Arjuna ya? Apa dia kaget? Bingung? Tertarik? Atau ... menolak?
Kalau dia tidak mau, bagaimana?
***
Lima menit berlalu seperti lima jam.
Aku duduk di tepi tempat tidur dengan tangan yang tidak berhenti gemetar. Televisi di kamar menyala tapi mataku tidak fokus pada apa yang ditayangkan.
Lalu, pintu kamar terbuka dan TV aku matikan.
Mas Santo masuk, membawa hawa hangat dari ruang tamu.
Dari jarak beberapa meter itu, aku bisa merasakan ketegangan di diri Mas Santo. Bahunya. Napasnya. Dan cara matanya menatapku seperti sedang memastikan aku benar-benar siap.
Lalu, Arjuna menyusul, langkahnya pelan dan tidak stabil.
Ketika matanya tak sengaja bertemu dengan mataku, ada gugup yang tercetak jelas. Dan di balik gugup itu, ada denyut gairah yang tidak ia sembunyikan dengan cukup baik.
Tanpa membuang waktu, Mas Santo berjalan ke arahku yang sedang meremas sprei dengan tangan berkeringat.
Kemudian, tangannya menyentuh punggungku, memberi tekanan halus seolah memastikan aku baik-baik saja—atau memastikan dirinya sendiri tetap stabil.
“Sayang,” ucapnya rendah, nyaris bergetar. “Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman, kasih tahu Mas.”
Aku mengangguk pelan. Napasku tercekat.
“Jun,” kata Mas Santo sambil menoleh Arjuna. Suaranya masih bergetar namun berwibawa.
Arjuna mengangkatnya kepalanya sedikit.
“Jangan kelewat batas,” pesan Mas Santo tegas. “Selain itu… turuti saja.\" Tatapannya singkat, namun tajam.
Arjuna menelan ludah, namun tidak terbata-bata, “Baik, Pak.”
Sejenak, tidak ada yang bergerak. Bukan canggung—tapi seakan-akan ... semua orang menahan napas pada saat yang sama.
Kemudian, Mas Santo kembali memegang bahuku, ibu jarinya mengusap tulang selangkaku dengan gerakan pendek, hampir tak sadar. “Kamu siap, Sayang?” bisiknya.
Aku mengangguk. Lebih lambat dari yang seharusnya.
Kemudian, Mas Santo menghembuskan napas tajam—entah karena lega atau karena semakin sulit menahan diri—lalu memberi isyarat kecil pada Arjuna dengan dagunya.
“Lepas kaosnya dulu,” perintah Mas Santo. Nadanya jelas dan mantap, tidak memberi ruang untuk ragu.
Arjuna membalasnya dengan anggukan kaku. Lalu mulai melepas kaos hitamnya, memperlihatkan dada bidang dan perut six-pack yang terbentuk sempurna. Berbeda jauh dari tubuh Mas Santo yang mulai melar.
Kemudian, Mas Santo menatapku, berkata setengah berbisik, “Kalau mau berhenti ....”
Aku menggenggam ujung kimono, gemetar—bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang jauh lebih rumit. “Jangan berhenti,” jawabku lirih.
Mas Santo mengatupkan rahangnya, seakan pernyataanku itu menyentuh urat paling sensitif dalam dirinya.
“Lanjut,” perintah Mas Santo pada Arjuna.
Srrrt ... suara gerigi ritsleting yang ditarik turun terdengar nyaring di keheningan kamar, disusul bunyi bruk pelan saat kain denim itu menyentuh lantai.
Celana dalam putih boxer brief masih menutupi area yang paling ingin kulihat. Tonjolan di baliknya sudah terlihat menyembul meski belum tegang.
Aku menarik napas pendek. Jantungku berpacu gila-gilaan.
“Lepas… celana dalamnya,” perintah Mas Santo. Ada rasa cemas sekaligus excited pada nada suaranya.
Arjuna terdiam sebentar, seolah mengumpulkan keberanian atau mengusir rasa malunya—aku tak tahu—lalu mengangguk.
Kemudian, tangannya bergerak ke pinggang, mengait karet celana dalam putih itu, lalu menurunkannya perlahan sampai ke lantai.
Dan aku melihatnya.
Milik Arjuna.
Masih dalam keadaan setengah lemas, tapi ukurannya ... panjang. Lebih panjang dan tebal dari punya Mas Santo.
Melihat pemandangan itu, aku refleks meraih ikat rambut yang tadi sudah kusiapkan.
Lalu, dengan gerakan lambat yang sengaja kubuat, aku mengangkat kedua tanganku, mengumpulkan rambut panjangku yang tergerai, dan mengikatnya menjadi cepol tinggi yang rapi.
Gerakan itu membuat kimono sutraku tersingkap di bagian dada, dan aku bisa mendengar napas Mas Santo dan Arjuna tercekat.
Dengan rambut yang sudah terikat, leher dan wajahku kini terekspos sepenuhnya—siap untuk apa pun yang akan terjadi.
“Maju,” perintah Mas Santo. Suaranya rendah namun terdengar tertekan—seperti keluar dari tenggorokan yang mulai mengering.
Bahunya naik-turun lebih cepat, dan garis tipis keringat muncul di pelipisnya, mengilap di bawah lampu kamar.
Arjuna menurut. Ia melangkahkan kakinya yang jenjang dan berotot itu mendekatiku. Dan ketika jaraknya benar-benar dekat ... blesss ... hawa hangat tubuhnya langsung menerpa wajahku.
Aroma maskulin yang tajam dan musky—campuran sisa sabun mandi dan keringat jantan yang baru merembes akibat gugup—langsung menyergap indra penciumanku. Baunya begitu liar, begitu asing, memabukkan kepalaku yang sedang dipenuhi hormon.
Di hadapanku, kini terpampang sebuah pemandangan yang membuat napasku tercekat di tenggorokan.
Penis Arjuna.
Benda itu menggantung berat di sela pahanya yang berbulu lebat. Meskipun belum tegang sempurna, ukurannya sudah luar biasa. Batangnya kokoh, berbobot, dan berwarna kecokelatan gelap yang eksotis.
Aku menelan ludah yang terasa kesat.
Mataku terpaku pada urat-urat biru yang melilit di sepanjang batang itu—menonjol besar dan berdenyut-denyut seirama dengan detak jantung pemiliknya. Seolah ada aliran lahar panas yang sedang dipompa paksa ke sana, menuntut untuk diledakkan.
Mas Santo melepaskan tangannya dari punggungku, lalu mundur beberapa langkah. Mataku dan Arjuna mengikuti ke mana Mas Santo melangkah hingga akhirnya Mas Santo duduk di sofa kamar.
Lalu, dengan anggukan kepala, Mas Santo mengisyaratkan kami untuk melanjutkan.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kuat-kuat.
Ini dia, batinku.
Lalu, tanganku terangkat perlahan—gemetar. Jari-jariku terulur, menyentuh kulit halusnya.
Sesss ....
Hangat!
Other Stories
Just, Open Your Heart
Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...
Seoul Harem
Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...