Ngidam

Reads
5
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
Penulis Adrian Corvus

Bab 5 – Jembatan Nafsu

Mas Santo bangkit dan berjalan mendekat.

Tubuh Arjuna yang tadi sudah di ambang ledakan kini menjadi kaku. Matanya membelalak menatap Mas Santo yang menjulang di dekat kami.

Aku masih berlutut, dengan mulut yang basah dan sedikit terbuka, merasakan sisa hangat batang Arjuna yang baru saja kulepaskan.

“Ke kasur,” tangan Mas Santo menunjuk sandaran kasur, “kamu nyandar, Jun.” Suaranya rendah dan mutlak. Tidak menyisakan ruang untuk bertanya.

Arjuna bergerak cepat—kakinya sedikit tersandung karpet saat bangkit.

Di atas ranjang, dia memosisikan dirinya duduk bersandar pada headboard. Tubuhnya tegang, otot-otot perutnya berkontraksi membentuk kotak-kotak keras.

Namun, gairah di selangkangannya—tonggak yang merah, basah, dan berkedut itu—masih berdiri angkuh, menolak untuk tunduk pada rasa takutnya.

Gililanku.

Aku bangkit perlahan dari posisi berlutut. Lututku terasa sedikit kebas. Tanganku yang gemetar meraih simpul tali kimono sutraku.

Srrrt!

Ikatan itu lepas. Kain putih yang licin itu melorot jatuh dari bahuku, melewati punggung, pinggang, lalu menumpuk di sekitar kakiku seperti awan.

Udara dingin AC langsung menyergap kulit telanjangku, membuat bulu kudukku meremang.

Putingku—yang membesar, memberat, dan areolanya melebar gelap karena kehamilan—langsung menegang terkena udara dingin.

Belum selesai.

Jemariku mengait karet celana dalamku yang sudah basah oleh cairan gairahku sendiri. Aku menariknya turun perlahan, melewati pinggulku yang melebar, paha, hingga jatuh ke pergelangan kaki.

Aku melangkah keluar dari kain terakhir yang melindungiku.

Kini, aku berdiri telanjang bulat di tengah kamar. Dan aku bisa merasakan tatapan Mas Santo dan Arjuna menyapu tubuh hamilku, panas dan intens.

Tanpa menunggu perintah lagi, aku segera naik ke kasur. Pantatku yang polos bergoyang pelan saat aku bergerak.

Lutut dan sikuku menekan seprai yang dingin, memosisikan diri merangkak di antara kedua kaki Arjuna yang terbuka lebar. Lalu, aku menunduk, memasukkan penisnya ke dalam mulutku.

Lidahku bergerak pelan, mengenali kembali tekstur kepala yang kenyal di langit-langit mulut, sementara tanganku mencengkeram pangkalnya yang berambut lebat.

“Ahhh…” Arjuna menggertakkan gigi. Lehernya menegang, otot-ototnya membentuk garis keras. Tubuhnya melengkung kaku, menahan.

Di belakangku, kasur melesak.

Untuk sepersekian detik, aku sadar Mas Santo tidak lagi mengawasi dari jauh—kehadirannya kini terasa nyata di belakangku, menggantikan jarak yang tadi hanya diisi tatapannya.

Kedua tangannya mencengkeram bongkahan pantatku. Satu geraman pendek terdengar. Kemudian, jari-jarinya menyentuh bibir vaginaku, menelusuri lipatan yang sudah basah, memainkan klitorisku.

Sentuhan itu merusak ritmeku. Isapanku menguat tanpa sadar.

Arjuna menggertakkan gigi. Tangannya mencengkeram seprai di samping pahaku—menahan diri agar tidak menyentak tanpa izin.

Kemudian, sesuatu yang basah dan hangat menyentuh vaginaku—lidah.

Mas Santo menjilati vaginaku dengan rakus. Menjelajahi setiap lipatan, menemukan klitorisku dan mengisapnya dengan lembut.

Tangannya kembali meremas pantatku, kadang jari-jarinya menyentuh lubang anusku, membuat tubuhku bergetar.

Aku kehilangan fokus. Antara mengisap penis Arjuna dan merasakan jilatan Mas Santo, tubuhku tidak tahu harus merespons yang mana. Keduanya terasa begitu nikmat.

Tiba-tiba, jilatan Mas Santo berhenti. Pinggulku bergeser sedikit, napasku tertahan, tubuhku menyesuaikan diri.

Lalu, aku merasakan ujung penisnya—hangat dan tumpul—menerobos liang senggamaku dari belakang.

“Mmmpphh!”

Mas Santo menghujamkan senjatanya sedalam yang dia mampu. Memompaku perlahan. Dengan rtime yang konstan.

Aku terhimpit. Tubuhku terisi penuh di kedua sisi. Setiap kali Mas Santo menusukku, mulutku menelan penis Arjuna lebih dalam hingga tenggorokan.

Slep. Gluk. Slep. Gluk.

Ritme itu terbentuk tanpa sengaja. Aku menjadi jembatan bagi nafsu kedua pria ini.

Wajah Arjuna merah padam. Tangannya mencengkeram seprai semakin erat hingga buku-bukunya memutih.

Dia menahan napas, menahan pinggulnya agar tidak bergerak liar. Suara geram yang tertahan lolos dari tenggorokannya. Tubuhnya gemetar hebat.

“Mau di mulut?” tanya Mas Santo sambil menepuk pantatku pelan.

Aku mengangguk.

“Di mulut, Jun,” nadanya tegas. Dingin.

Arjuna menatapku, menunggu restu.

Aku mengedipkan mataku dua kali—mengizinkannya.

Pinggul Arjuna menyentak dua kali. Keras. Cairan hangat dan kental menyembur deras ke dalam rongga mulutku. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Denyutan batang di dalam mulutku terasa begitu kuat.

Dan aku menelannya. Refleks. Glek.

Ada rasa hangat yang meluncur turun ke lambungku. Asing. Amis. Tapi aku menelannya lagi.

Selama satu detik, ada kesadaran baru yang lewat: tubuhku bereaksi sebagai diriku sendiri. Bukan sebagai istri siapa pun.

Lalu, detik itu lenyap.

Di belakangku, napas Mas Santo berubah. Berat. Aku merasakannya bahkan sebelum tangannya menarik pinggulku ke belakang dengan kasar.

Penis Arjuna keluar dari mulutku. Sisa-sisa cairan kental merembes dari bibirku.

“Ahh!”

Mas Santo memacuku dengan kasar. Cepat. Tidak beraturan. Seperti binatang buas yang baru lepas dari kandang. Tidak lembut seperti biasanya.

Plok. Plok. Plok. Plok. Plok. Plok. Plok.

Dia menghantamku dengan keras. Aku terombang-ambing. Sensasi penuh di perut bawahku beradu dengan sisa rasa Arjuna di lidahku.

Mataku menatap Arjuna yang masih terengah-engah bersandar di depanku, penisnya yang mulai layu berkilat basah oleh air liurku.

Mas Santo menyetubuhi semakin liar. Erangannya rendah, berat.

Plak! Plak! Plak!

Mas Santo menampar pantatku. Lalu menggenjotku lebih cepat, lebih brutal. Tangannya mencengkeram pinggangku dengan keras—pasti akan meninggalkan bekas.

Lalu, dengan desahan panjang, Mas Santo menyemburkan cairan kentalnya di dalam. Cepat. Lebih cepat dari biasanya.

Kemudian, Mas Santo menarik dirinya keluar, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Sementara aku masih dalam posisi merangkak.

“Mas udah nafsu banget dari tadi,” gumamnya parau.

Hening sesaat. Hanya terdengar suara napas kami bertiga.

Tubuhku masih bergetar. Rahimku masih berdenyut-denyut, menuntut, mencari pelepasan yang tadi hampir kugapai namun terputus.

Arjuna masih bersandar di headboard, napasnya mulai teratur, wajahnya masih merah.

Aku menggigit bibir, menahan desakan di selangkanganku yang basah dan lapar.

Mas Santo menoleh. Dia menatap mataku. Mataku yang mungkin terlihat kabur dan haus.

Tangan Mas Santo terulur, menyentuh pipiku. “Sayang…” bisiknya serak. “Selesain yang udah adek mulai. Mas mau adek juga puas.”

Aku refleks melirik Arjuna.

Mas Santo mengangguk kecil. “Iya.”

“Tapi tadi—“ suaraku tercekat.

“Mas izinin”, Mas Santo menyentuhkan jari telunjuknya di bibirku.

Aku tersenyum lebar tanpa sadar.

Aku menarik napas pendek, lalu bangkit perlahan. Kakiku gemetar saat menapak karpet, lalu berjalan menuju meja di depan sofa.

Arjuna mengangkat wajahnya, matanya mengikuti setiap gerakanku. Mas Santo juga, pandangannya berat, mengawasi.

Aku mengambil tisu. Membersihkan area di antara pahaku. Membersihkan sisa Mas Santo yang meleleh keluar, tapi membiarkan kebasahan alaminya tetap di sana.

Aku membuang tisu itu dan berbalik.

Mata Arjuna menggelap. Dan kejantanannya kembali bangun.

Mas Santo melihatnya juga. Rahangnya mengeras. Lalu, Mas Santo bangkit dan menyusul ke arah sofa, duduk dengan gerak tenang, mengambil jarak.

Arjuna menegakkan punggungnya di sandaran kasur. Napasnya yang baru saja tenang kembali memburu. Matanya tidak lepas dari tubuhku.

Aku naik ke kasur, merangkak mendekati Arjuna.

Tanpa kata, aku menunduk, memberikan oral singkat. Hanya sebentar, cukup untuk membuat miliknya kembali tegak sempurna. Rasa asin sisa tadi masih tertinggal samar.

Aku melepaskannya.

“Bisa main sambil berdiri?” tanyaku lirih.

Arjuna menelan ludah. “Bisa, Bu.”

Aku memosisikan diriku tidur terlentang di tepian kasur. Pantatku berada tepat di ujung, kedua kakiku terjuntai ke lantai, terbuka lebar.

Arjuna turun dari kasur, lalu berdiri di sela kakiku. Tubuhnya menjulang tinggi.

Dia memegang pinggulku, lalu mengarahkan rudalnya ke pintu masukku. Kepala penisnya yang besar dan licin itu menyibak bibir-bibir dagingku. Masuk senti demi senti.

Rasanya asing—bukan hanya masuk, tapi terasa penuh, mendesak dari dalam. Sarafku bergetar, tubuhku merespons sebelum pikiranku sempat menimbang.

“Ahh…” desahku panjang.

Di sofa, aku melihat Mas Santo duduk. Matanya tak lepas dari kami.

Begitu penis Arjuna masuk sebagian, dia mulai memompaku perlahan. Maju. Mundur. Maju. Mundur. Gesekannya terasa begitu nikmat, menggilas dinding-dinding sensitifku.

“Saya masukin semua ya, Bu,” kata Arjuna.

Aku menggigit bibir bawahku, mengangguk, berharap dia segara memompaku lebih cepat.

Lalu, setelah penisnya tertanam sempurna, dia menggoyang pinggulnya—mengulek-ulek vaginaku.

‘Aaah ... Jun ... mmmph ....”

“Saya mulai ya, Bu.”

Aku mengangguk-angguk cepat, masih menggigit bibir bawahku.

Arjuna mulai memaju-mundurkan pinggulnya. Perlahan.

“Aaaah ... aaahhh ... lagi ...” pintaku, tanpa sadar.

Bunyi pertemuan tubuh kami mengisi kamar, berbaur dengan napas yang kian berat.

Semakin lama, gempuran Arjuna semakin cepat. Membuat tubuhku menggelijang. Membuat desahanku keluar tanpa bisa kukendalikan.

“Aaahhh ... aahhhh ... aahhhh ....”

Mas Santo berjalan ke arah kami hingga kini berdiri di samping Arjuna. Matanya mengamati penis Arjuna menerobos kemaluanku. Keluar. Masuk. Keluar. Masuk.

Aku melihat kilauan gairah yang pekat di mata suamiku itu. Namun aku terlalu bernafsu untuk menebak-nebak apa yang sedang Mas Santo pikirkan. Terlalu bergairah dalam sentakan Arjuna yang semakin memabukkan.

Sensasi di bawah sana menumpuk dengan cepat. Gelombang panas bergulung tak tertahankan. Aku berada di ambang puncak.

“Arjuna… terus…” desahku tanpa sadar.

Wajah Mas Santo berubah tegang saat mendengar suaraku.

Pinggul Arjuna bergerak semakin cepat, semakin dalam.

Yes ... iya kayak gitu ... terus ... lagi ... ahhh ...” desahku.

Arjuna terus menyetubuhiku dengan gerakan yang makin yakin, makin mantap.

Dan aku merasakan kenikmatan yang semakin tak tertahankan.

Aku membuka kedua tanganku, ingin memeluknya. Lalu dia pun mengubah posisinya hingga kini sikunya bertumpu pada kasur di kiri-kananku. Dan aku memeluk Arjuna sambil ia terus memompaku.

Hembusan napasnya terasa di leherku. Lalu, entah apa yang merasukiku, aku pun mencium bibir Arjuna. Liar. Buas. Ingin melumat bibirnya.

Kulihat matanya melirik sekilas ke arah suamiku sebelum membalas permainan lidahku.

“Aaaahhh,” desahku di sela-sela ciuman panas itu.

Arjuna terus menggenjotku, temponya semakin cepat.

“Aaaah, aku mau keluar, Jun!”

“Saya juga, Bu!”

“Di dalam aja.”

Arjuna menekan pinggulnya kuat-kuat ke pangkal pahaku, membenamkan miliknya sedalam mungkin. Dan meledak di dalam.

Bersamaan dengan itu, tubuhku mengejang. Dinding rahimku berkontraksi hebat, menjepit miliknya.

“AAAAHHH!”

Aku berteriak. Panjang. Lepas.

Klimaks itu menghantamku, menyeret kesadaranku.

***

Detik-detik berlalu.

Napasku mulai kembali meski masih tersengal berat. Arjuna ambruk di sampingku, napasnya memburu.

Sunyi. Hanya suara napas kami bertiga.

Di dalam kepalaku, masih ada sisa getaran yang belum turun sepenuhnya—aku tahu apa pun yang diucapkan setelah ini tidak akan bisa ditarik kembali.

Mas Santo bangun pelan. Duduk tegak. Menatapku dengan ketenangan yang membuat bulu kudukku berdiri. “Lusa,” katanya datar, “Mas dinas ke Manado. Dua malam.”


Other Stories
Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Don't Touch Me

Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...

Download Titik & Koma