Satu - Hanyut
Mati itu ternyata tidak berisik.
Selama ini, Cakra Abiyoga mengira kematian akan datang dengan gemuruh hujan, raungan tangisan, atau setidaknya jeritan dramatis seperti di film-film horor yang sering ia tonton sambil memaki-maki pemerannya bodoh. Namun saat ini, di bawah langit Pantai Parangtritis yang sunyi dan penuh bintang, kematian hanya berupa suara glug yang samar dan tarikan dingin yang tak kenal ampun di pergelangan kakinya.
Secara teknis, ia tahu persis apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Sebagai jenius fisika, otaknya secara otomatis memproses data di tengah maut. Ini adalah rip current. Arus seret mematikan ini terbentuk karena massa air laut yang besar menumpuk di pesisir, lalu mencari jalan keluar melalui saluran sempit di dasar laut dengan kecepatan yang melampaui kemampuan renang atlet olimpiade sekalipun.
Namun, pengetahuan tidak menyelamatkannya dari hantaman gelombang backwash yang menghujam dadanya. Sakitnya seperti Mjölnir yang dilempar Thor dari langit. Berat, kejam, dan tak memberi ruang bagi paru-parunya untuk bernapas. Cakra, yang baru saja merayakan kelulusan SMA dengan keangkuhan seorang pangeran, kini merasa tidak lebih dari sebutir debu yang tersedot ke dalam ruang hampa.
"Tolong!" Sungguh kalimat itu tidak keluar dari mulutnya, sekadar terngiang di kepala. Malah upayanya membuka mulut hanya menghasilkan gelembung udara yang pecah sia-sia. Ditambah rasa asin menyerbu indra perasanya bersamaan dengan hantaman gelombang laut yang terasa sekeras beton.
Air garam yang dingin merangsek masuk ke saluran pernapasannya, menciptakan sensasi terbakar yang kontradiktif di dalam paru-paru. Di bawah permukaan, ia kehilangan orientasi. Atas dan bawah menjadi semu. Ia hanya tahu bahwa dirinya semakin menjauh dari daratan, ditarik oleh tangan-tangan tak kasat mata menuju kegelapan yang lebih pekat.
"Sial," pikirnya di sisa kesadaran.
"Ini benar-benar cara yang bodoh untuk mati!" Cakra mencoba menggerakkan otot-ototnya yang terlatih. Tubuhnya yang atletis, hasil dari latihan bela diri dan angkat beban bertahun-tahun, mencoba melakukan freestyle untuk melawan arus. Tetapi tekanan air di kedalaman ini mulai mengompresi tubuhnya.
Ia melihat ke atas.
Permukaan air tampak seperti langit perak yang retak, semakin lama semakin kecil hingga menjadi titik cahaya yang nyaris padam.
Kematian sudah pasti menghampiri dan ia takut. Otaknya tak memiliki data akan referensi kematian. Mengapa tidak pernah ada yang mengatakan bahwa proses kematian sangat menyiksa?
Tidak ada guru agama yang berkata bahwa kematian akan terasa seperti diseret perlahan ke dasar neraka, sambil tetap diberi waktu cukup untuk menyesal. Tidak ada buku yang menjelaskan bahwa rasa takut tidak datang setelah mati. Rasa itu datang sebelum itu, ketika kita masih sepenuhnya hidup dan sadar bahwa waktu segera usai.
Cakra takut.
Di sisa napasnya, penglihatan Cakra mulai mengabur. Oksigen yang menipis menciptakan halusinasi yang mengerikan. Di tengah kegelapan air yang pekat, sebuah bayangan hitam muncul.
"Gue belum siap," batinnya, saat sebuah ombak besar setinggi tiga meter menghantam kepalanya, memaksanya masuk ke dalam kegelapan yang lebih dalam.
"Gue belum siap mati sebagai remaja sombong di pantai selatan."
Sosok itu menjulang tinggi, bergerak dengan keanggunan yang mengerikan, seolah-olah densitas air tidak memiliki pengaruh padanya. Jubahnya yang gelap berkibar-kibar dalam arus, mengingatkan Cakra pada penggambaran Grim Reaper atau Malaikat Maut dalam buku-buku atau film-film fantasi koleksinya. Namun, ada keanehan yang mencolok. Di sekeliling siluet itu, air tampak berpendar. Bukan cahaya biasa, melainkan kilatan kemerahan seperti bara api yang masih menyala di bawah tekanan ribuan ton air.
Cakra pasrah. Ia yakin, sang penjemput telah datang. Di ambang maut itu, pikirannya mulai berputar ke belakang, menghadirkan fragmen-fragmen kehidupan yang ia jalani selama delapan belas tahun terakhir.
Cakra takut.
Bukan pada kematian itu sendiri, tapi pada apa yang menunggunya setelah napas terakhir. Seumur hidup, ia diajari bahwa setelah mati hanya ada dua pintu. Surga. Neraka. Hitam atau putih. Tidak ada abu-abu. Tidak ada pengadilan banding. Dan semakin oksigen meninggalkannya, semakin jelas pula jawabannya.
Neraka.
Bagaimana tidak? Ia adalah definisi dari kesempurnaan yang disalahgunakan. Terlahir sebagai putra tunggal dari keluarga terkaya di Indonesia, Cakra tidak pernah mengenal kata tidak. Ayahnya memiliki segalanya, termasuk sekolah elit tempat Cakra menghabiskan masa SMA-nya. Di sana, sekolah itu bukan lembaga pendidikan. Itu adalah taman bermain pribadinya. Semua orang, dari kepala sekolah hingga petugas kebersihan, harus menunduk di hadapannya.
Kini, ia memasuki tahap penerimaan. Dan sejujurnya, Cakra tahu persis kenapa ia merasa layak dikirim ke tempat paling bawah di kerak neraka. Seluruh kenakalan remajanya mendadak terputar kembali seperti film layar lebar di balik kelopak matanya yang mulai berat.
Ia menyesali semua tindakannya.
Ia menyesal telah menjadikan sekolah SMA Berbudi Pekerti milik ayahnya sebagai kerajaan pribadi tempat ia menjadi tiran kecil yang dipuja. Ia teringat Dito, Victor, Beni, Tomi, dan sederet nama lainnya yang ia labeli sebagai samsak.
"Berdiri Samsak! Coba lu terima pukulan gue!" Suara Cakra terdengar begitu dingin di telinganya sendiri saat memukul mereka bertubi-tubi.
"Ampun Cakra, Ampuuun...." seperti yang sudah-sudah, mereka semua berakhir babak belur.
Bukan itu saja, pernah ia memaksa Tomi untuk mengutil di warung kecil. "Cakra, please... gue takut digebukin warga!" sekali lagi, tidak ada ampun. Atau, ketika dirinya mengajak seluruh murid di sekolahnya untuk menyerang sekolah lain. Tawuran antar pelajar pun, menjadi berita panas. Bukan untuk menyoroti kronologinya, tapi mengulik lebih dalam sosok Cakra yang sempurna.
Adegan berganti, kini giliran Andi. Bapak guru matematika sekaligus kepala sekolah yang malang.
"Bukain pintunya! Jangan nakal kamu!" suara putus asa penuh amarah diiringi dentuman keras dari balik pintu toilet. Cakra sengaja mengunci pintu itu di saat Andi sedang buang hajat, lalu disambut dengan dentuman petasan yang menggelegar di balik pintu. Cakra tidak mengiba, justru tertawa puas.
Glug.
Air laut masuk ke hidungnya, memutus kilasan memori itu. Cakra tersedak hebat. Tangannya menggapai-gapai udara yang kosong. Bayangan itu semakin dekat, teror neraka kembali menyerang. Cakra mengerjapkan mata, berusaha mengusir halusinasi. Namun sosok itu semakin jelas.
Kepalanya dihiasi oleh tanduk rusa yang megah, tetapi bukan dari tulang. Tanduk itu bercahaya dengan warna merah jingga yang membara, memercikkan bunga api kecil yang jatuh ke air dan padam dengan bunyi desis yang aneh.
Makhluk itu memegang sabit panjang dengan gagang yang tampak seperti jalinan tulang manusia. Ia menjulurkan lidahnya yang panjang dan bercabang, lalu melambaikan tangan ke arah Cakra.
Gerakannya seolah mengejek. Sebuah undangan untuk menyerah.
"Jadi ini benar," batin Cakra dengan sisa kesadarannya.
"Surga dan Neraka bukan sekadar dongeng buat nakutin anak kecil. Dan gue... gue tahu persis ke mana gue bakalan diseret." Memori kenakalannya kembali memenuhi kepalanya yang berputar di bawah laut.
Ia teringat deretan nama para gadis. Michelle, Devi, Sveta, Alina, hingga Ningsih dan Wati. Nama-nama itu hanyalah koleksi piala. Ia mendekati mereka dengan pesona wajahnya. Cakra memiliki struktur golden ratio yang nyaris mustahil bagi manusia biasa. Rahang tegas, hidung lurus yang presisi, dan mata tajam yang mampu membuat lawan bicaranya gemetar.
Dengan tinggi 185 cm dan tubuh proporsional yang ramping namun berotot, ia tampak seperti supermodel internasional yang sedang menyamar sebagai siswa. Membuat para gadis yang mengenal Cakra jatuh cinta setengah mati. Terlalu mudah untuk mendapatkan mereka, lalu mencampakkan semua gadis belia tersebut begitu saja saat rasa bosannya muncul.
"Kamu tega! Padahal aku udah sayang banget sama kamu...." hiasan menor bercampur derasnya air mata tak menurunkan niat Cakra. Ia hanya tertawa getir, bagaimana bisa gadis itu begitu mencintainya? Padahal baru dua jam lalu mereka saling kenal dan menjalin kasih. Tanpa penjelasan, Cakra membuang mereka. Cakra bukan sekadar playboy. Cakra adalah kolektor hati yang ia patahkan untuk membuktikan bahwa ia bisa.
Sungguh, ia menyesal telah menjadi remaja sombong, angkuh, congkak karena memiliki segalanya. Selain kaya dan tampan, ia pun cerdas. Bukan, ia jenius. Ia selalu menjadi juara umum tanpa perlu membuka buku di rumah. Soal-soal fisika olimpiade baginya tak lebih dari sekadar coretan iseng. Bahkan medali emas olimpiade fisika internasional yang susah didapatkan oleh sebagian manusia lainnya, hanyalah ganjal meja di rumahnya.
Ia ingat saat umur sepuluh tahun ia pernah menciptakan prototipe kacamata dengan visi mata lalat, sebuah teknologi yang melampaui zaman modern, sebelum kecelakaan hebat merenggut sebagian dari memori teknisnya. Kejadian itu membuat dirinya tak lagi secerdas dulu, tapi ia tetap jenius. Buktinya, ia berhasil diterima dan menjadi mahasiswa di Massachusetts Institute of Technology, salah satu universitas terbaik di dunia, yang terletak di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.
Ia juga berbakat secara absurd. Ia adalah Virtuoso. Suaranya bisa menghipnotis satu aula, tangannya dapat memainkan berbagai instrumen musik dengan teknik sempurna. Dialah otak di balik Evil’s Smile, band sekolah yang selalu menyabet juara satu nasional. Produser rekaman rela antre setelah dirinya beraksi di atas panggung.
"Tanya mereka aja," katanya sambil menunjuk teman bandnya dengan angkuh. "Gue nggak tertarik."
"Mas Cakra, tolong sekali saja untuk tampil di acara kami," mohon produser tv acara musik ternama, ia bahkan sampai harus berlutut. Namun Cakra hanya meludah.
"Gue nggak mau!"
Brug.
Cakra merasakan tubuhnya hancur, setelah air laut menggulung dan menghempaskannya ke terumbu karang tajam. Otot tebal tak mampu menjadi perisai, justru koyak menumpahkan darah yang langsung bercampur dengan buih-buih putih. Seluruh tulangnya kini terasa seberat timah. Arus itu telah membawanya jauh melewati batas aman, jauh ke tengah di mana palung-palung laut menanti dengan mulut terbuka. Akan tetapi, seiring Cakra menjauh sosok itu setia mengikuti.
"Pintu neraka siap terbuka buat gue...," batin Cakra saat tubuhnya kembali terhantam karang, rasa sakitnya kini mulai hilang digantikan oleh rasa kebas yang mematikan.
Namun, saat ia sudah pasrah untuk terbakar selamanya, sosok itu seakan berganti. Menjadi sebuah cahaya putih yang menyilaukan. Cahaya itu bukan merah membara seperti api neraka yang ia bayangkan. Terangnya lima kali lipat dari lampu sorot panggung yang biasa ia hadapi.
Cahaya itu mendekat, dan bayangan hitam bertanduk yang menyerupai Malaikat Maut itu mulai berubah. Pendaran merah di sekelilingnya yang tadinya ia kira api neraka, ternyata adalah emisi energi dari teknologi yang tidak ia kenali. Jubah itu bergeser, memperlihatkan material komposit futuristik dengan garis-garis neon biru yang berdenyut selaras dengan detak jantung Cakra yang melemah.
Itu bukan kain, melainkan exoskeleton canggih. Helm yang menutup wajah sosok itu memancarkan cahaya terang, membedah kegelapan air. Sosok itu terlihat seperti prajurit dari masa depan, mengenakan pakaian sci-fi yang melampaui pemahaman teknologi abad ini. Sekilas, sosok itu seperti memiliki sayap putih terang layaknya malaikat penuh cinta.
"Tunggu... kalau itu pintu neraka, kenapa bercahaya putih, bukan merah api? Terus, sosok itu nggak kayak Malaikat Maut!" Secercah harapan muncul di benak Cakra yang hampir padam.
Di saat-saat terakhir kesadarannya, Cakra mencoba menghibur dirinya sendiri dengan pemikiran narsis terakhirnya. Mungkin semua kenakalan itu bukan jahat. Mungkin itu hanya caranya mencintai orang-orang di sekitarnya dengan cara yang keras. Mungkin ia adalah pusat semesta yang penuh cinta dan kasih. Dan mungkin, itu bukan pintu menuju neraka, melainkan surga.
"Gue nggak senakal itu, kan?"
Selama ini, Cakra Abiyoga mengira kematian akan datang dengan gemuruh hujan, raungan tangisan, atau setidaknya jeritan dramatis seperti di film-film horor yang sering ia tonton sambil memaki-maki pemerannya bodoh. Namun saat ini, di bawah langit Pantai Parangtritis yang sunyi dan penuh bintang, kematian hanya berupa suara glug yang samar dan tarikan dingin yang tak kenal ampun di pergelangan kakinya.
Secara teknis, ia tahu persis apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Sebagai jenius fisika, otaknya secara otomatis memproses data di tengah maut. Ini adalah rip current. Arus seret mematikan ini terbentuk karena massa air laut yang besar menumpuk di pesisir, lalu mencari jalan keluar melalui saluran sempit di dasar laut dengan kecepatan yang melampaui kemampuan renang atlet olimpiade sekalipun.
Namun, pengetahuan tidak menyelamatkannya dari hantaman gelombang backwash yang menghujam dadanya. Sakitnya seperti Mjölnir yang dilempar Thor dari langit. Berat, kejam, dan tak memberi ruang bagi paru-parunya untuk bernapas. Cakra, yang baru saja merayakan kelulusan SMA dengan keangkuhan seorang pangeran, kini merasa tidak lebih dari sebutir debu yang tersedot ke dalam ruang hampa.
"Tolong!" Sungguh kalimat itu tidak keluar dari mulutnya, sekadar terngiang di kepala. Malah upayanya membuka mulut hanya menghasilkan gelembung udara yang pecah sia-sia. Ditambah rasa asin menyerbu indra perasanya bersamaan dengan hantaman gelombang laut yang terasa sekeras beton.
Air garam yang dingin merangsek masuk ke saluran pernapasannya, menciptakan sensasi terbakar yang kontradiktif di dalam paru-paru. Di bawah permukaan, ia kehilangan orientasi. Atas dan bawah menjadi semu. Ia hanya tahu bahwa dirinya semakin menjauh dari daratan, ditarik oleh tangan-tangan tak kasat mata menuju kegelapan yang lebih pekat.
"Sial," pikirnya di sisa kesadaran.
"Ini benar-benar cara yang bodoh untuk mati!" Cakra mencoba menggerakkan otot-ototnya yang terlatih. Tubuhnya yang atletis, hasil dari latihan bela diri dan angkat beban bertahun-tahun, mencoba melakukan freestyle untuk melawan arus. Tetapi tekanan air di kedalaman ini mulai mengompresi tubuhnya.
Ia melihat ke atas.
Permukaan air tampak seperti langit perak yang retak, semakin lama semakin kecil hingga menjadi titik cahaya yang nyaris padam.
Kematian sudah pasti menghampiri dan ia takut. Otaknya tak memiliki data akan referensi kematian. Mengapa tidak pernah ada yang mengatakan bahwa proses kematian sangat menyiksa?
Tidak ada guru agama yang berkata bahwa kematian akan terasa seperti diseret perlahan ke dasar neraka, sambil tetap diberi waktu cukup untuk menyesal. Tidak ada buku yang menjelaskan bahwa rasa takut tidak datang setelah mati. Rasa itu datang sebelum itu, ketika kita masih sepenuhnya hidup dan sadar bahwa waktu segera usai.
Cakra takut.
Di sisa napasnya, penglihatan Cakra mulai mengabur. Oksigen yang menipis menciptakan halusinasi yang mengerikan. Di tengah kegelapan air yang pekat, sebuah bayangan hitam muncul.
"Gue belum siap," batinnya, saat sebuah ombak besar setinggi tiga meter menghantam kepalanya, memaksanya masuk ke dalam kegelapan yang lebih dalam.
"Gue belum siap mati sebagai remaja sombong di pantai selatan."
Sosok itu menjulang tinggi, bergerak dengan keanggunan yang mengerikan, seolah-olah densitas air tidak memiliki pengaruh padanya. Jubahnya yang gelap berkibar-kibar dalam arus, mengingatkan Cakra pada penggambaran Grim Reaper atau Malaikat Maut dalam buku-buku atau film-film fantasi koleksinya. Namun, ada keanehan yang mencolok. Di sekeliling siluet itu, air tampak berpendar. Bukan cahaya biasa, melainkan kilatan kemerahan seperti bara api yang masih menyala di bawah tekanan ribuan ton air.
Cakra pasrah. Ia yakin, sang penjemput telah datang. Di ambang maut itu, pikirannya mulai berputar ke belakang, menghadirkan fragmen-fragmen kehidupan yang ia jalani selama delapan belas tahun terakhir.
Cakra takut.
Bukan pada kematian itu sendiri, tapi pada apa yang menunggunya setelah napas terakhir. Seumur hidup, ia diajari bahwa setelah mati hanya ada dua pintu. Surga. Neraka. Hitam atau putih. Tidak ada abu-abu. Tidak ada pengadilan banding. Dan semakin oksigen meninggalkannya, semakin jelas pula jawabannya.
Neraka.
Bagaimana tidak? Ia adalah definisi dari kesempurnaan yang disalahgunakan. Terlahir sebagai putra tunggal dari keluarga terkaya di Indonesia, Cakra tidak pernah mengenal kata tidak. Ayahnya memiliki segalanya, termasuk sekolah elit tempat Cakra menghabiskan masa SMA-nya. Di sana, sekolah itu bukan lembaga pendidikan. Itu adalah taman bermain pribadinya. Semua orang, dari kepala sekolah hingga petugas kebersihan, harus menunduk di hadapannya.
Kini, ia memasuki tahap penerimaan. Dan sejujurnya, Cakra tahu persis kenapa ia merasa layak dikirim ke tempat paling bawah di kerak neraka. Seluruh kenakalan remajanya mendadak terputar kembali seperti film layar lebar di balik kelopak matanya yang mulai berat.
Ia menyesali semua tindakannya.
Ia menyesal telah menjadikan sekolah SMA Berbudi Pekerti milik ayahnya sebagai kerajaan pribadi tempat ia menjadi tiran kecil yang dipuja. Ia teringat Dito, Victor, Beni, Tomi, dan sederet nama lainnya yang ia labeli sebagai samsak.
"Berdiri Samsak! Coba lu terima pukulan gue!" Suara Cakra terdengar begitu dingin di telinganya sendiri saat memukul mereka bertubi-tubi.
"Ampun Cakra, Ampuuun...." seperti yang sudah-sudah, mereka semua berakhir babak belur.
Bukan itu saja, pernah ia memaksa Tomi untuk mengutil di warung kecil. "Cakra, please... gue takut digebukin warga!" sekali lagi, tidak ada ampun. Atau, ketika dirinya mengajak seluruh murid di sekolahnya untuk menyerang sekolah lain. Tawuran antar pelajar pun, menjadi berita panas. Bukan untuk menyoroti kronologinya, tapi mengulik lebih dalam sosok Cakra yang sempurna.
Adegan berganti, kini giliran Andi. Bapak guru matematika sekaligus kepala sekolah yang malang.
"Bukain pintunya! Jangan nakal kamu!" suara putus asa penuh amarah diiringi dentuman keras dari balik pintu toilet. Cakra sengaja mengunci pintu itu di saat Andi sedang buang hajat, lalu disambut dengan dentuman petasan yang menggelegar di balik pintu. Cakra tidak mengiba, justru tertawa puas.
Glug.
Air laut masuk ke hidungnya, memutus kilasan memori itu. Cakra tersedak hebat. Tangannya menggapai-gapai udara yang kosong. Bayangan itu semakin dekat, teror neraka kembali menyerang. Cakra mengerjapkan mata, berusaha mengusir halusinasi. Namun sosok itu semakin jelas.
Kepalanya dihiasi oleh tanduk rusa yang megah, tetapi bukan dari tulang. Tanduk itu bercahaya dengan warna merah jingga yang membara, memercikkan bunga api kecil yang jatuh ke air dan padam dengan bunyi desis yang aneh.
Makhluk itu memegang sabit panjang dengan gagang yang tampak seperti jalinan tulang manusia. Ia menjulurkan lidahnya yang panjang dan bercabang, lalu melambaikan tangan ke arah Cakra.
Gerakannya seolah mengejek. Sebuah undangan untuk menyerah.
"Jadi ini benar," batin Cakra dengan sisa kesadarannya.
"Surga dan Neraka bukan sekadar dongeng buat nakutin anak kecil. Dan gue... gue tahu persis ke mana gue bakalan diseret." Memori kenakalannya kembali memenuhi kepalanya yang berputar di bawah laut.
Ia teringat deretan nama para gadis. Michelle, Devi, Sveta, Alina, hingga Ningsih dan Wati. Nama-nama itu hanyalah koleksi piala. Ia mendekati mereka dengan pesona wajahnya. Cakra memiliki struktur golden ratio yang nyaris mustahil bagi manusia biasa. Rahang tegas, hidung lurus yang presisi, dan mata tajam yang mampu membuat lawan bicaranya gemetar.
Dengan tinggi 185 cm dan tubuh proporsional yang ramping namun berotot, ia tampak seperti supermodel internasional yang sedang menyamar sebagai siswa. Membuat para gadis yang mengenal Cakra jatuh cinta setengah mati. Terlalu mudah untuk mendapatkan mereka, lalu mencampakkan semua gadis belia tersebut begitu saja saat rasa bosannya muncul.
"Kamu tega! Padahal aku udah sayang banget sama kamu...." hiasan menor bercampur derasnya air mata tak menurunkan niat Cakra. Ia hanya tertawa getir, bagaimana bisa gadis itu begitu mencintainya? Padahal baru dua jam lalu mereka saling kenal dan menjalin kasih. Tanpa penjelasan, Cakra membuang mereka. Cakra bukan sekadar playboy. Cakra adalah kolektor hati yang ia patahkan untuk membuktikan bahwa ia bisa.
Sungguh, ia menyesal telah menjadi remaja sombong, angkuh, congkak karena memiliki segalanya. Selain kaya dan tampan, ia pun cerdas. Bukan, ia jenius. Ia selalu menjadi juara umum tanpa perlu membuka buku di rumah. Soal-soal fisika olimpiade baginya tak lebih dari sekadar coretan iseng. Bahkan medali emas olimpiade fisika internasional yang susah didapatkan oleh sebagian manusia lainnya, hanyalah ganjal meja di rumahnya.
Ia ingat saat umur sepuluh tahun ia pernah menciptakan prototipe kacamata dengan visi mata lalat, sebuah teknologi yang melampaui zaman modern, sebelum kecelakaan hebat merenggut sebagian dari memori teknisnya. Kejadian itu membuat dirinya tak lagi secerdas dulu, tapi ia tetap jenius. Buktinya, ia berhasil diterima dan menjadi mahasiswa di Massachusetts Institute of Technology, salah satu universitas terbaik di dunia, yang terletak di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.
Ia juga berbakat secara absurd. Ia adalah Virtuoso. Suaranya bisa menghipnotis satu aula, tangannya dapat memainkan berbagai instrumen musik dengan teknik sempurna. Dialah otak di balik Evil’s Smile, band sekolah yang selalu menyabet juara satu nasional. Produser rekaman rela antre setelah dirinya beraksi di atas panggung.
"Tanya mereka aja," katanya sambil menunjuk teman bandnya dengan angkuh. "Gue nggak tertarik."
"Mas Cakra, tolong sekali saja untuk tampil di acara kami," mohon produser tv acara musik ternama, ia bahkan sampai harus berlutut. Namun Cakra hanya meludah.
"Gue nggak mau!"
Brug.
Cakra merasakan tubuhnya hancur, setelah air laut menggulung dan menghempaskannya ke terumbu karang tajam. Otot tebal tak mampu menjadi perisai, justru koyak menumpahkan darah yang langsung bercampur dengan buih-buih putih. Seluruh tulangnya kini terasa seberat timah. Arus itu telah membawanya jauh melewati batas aman, jauh ke tengah di mana palung-palung laut menanti dengan mulut terbuka. Akan tetapi, seiring Cakra menjauh sosok itu setia mengikuti.
"Pintu neraka siap terbuka buat gue...," batin Cakra saat tubuhnya kembali terhantam karang, rasa sakitnya kini mulai hilang digantikan oleh rasa kebas yang mematikan.
Namun, saat ia sudah pasrah untuk terbakar selamanya, sosok itu seakan berganti. Menjadi sebuah cahaya putih yang menyilaukan. Cahaya itu bukan merah membara seperti api neraka yang ia bayangkan. Terangnya lima kali lipat dari lampu sorot panggung yang biasa ia hadapi.
Cahaya itu mendekat, dan bayangan hitam bertanduk yang menyerupai Malaikat Maut itu mulai berubah. Pendaran merah di sekelilingnya yang tadinya ia kira api neraka, ternyata adalah emisi energi dari teknologi yang tidak ia kenali. Jubah itu bergeser, memperlihatkan material komposit futuristik dengan garis-garis neon biru yang berdenyut selaras dengan detak jantung Cakra yang melemah.
Itu bukan kain, melainkan exoskeleton canggih. Helm yang menutup wajah sosok itu memancarkan cahaya terang, membedah kegelapan air. Sosok itu terlihat seperti prajurit dari masa depan, mengenakan pakaian sci-fi yang melampaui pemahaman teknologi abad ini. Sekilas, sosok itu seperti memiliki sayap putih terang layaknya malaikat penuh cinta.
"Tunggu... kalau itu pintu neraka, kenapa bercahaya putih, bukan merah api? Terus, sosok itu nggak kayak Malaikat Maut!" Secercah harapan muncul di benak Cakra yang hampir padam.
Di saat-saat terakhir kesadarannya, Cakra mencoba menghibur dirinya sendiri dengan pemikiran narsis terakhirnya. Mungkin semua kenakalan itu bukan jahat. Mungkin itu hanya caranya mencintai orang-orang di sekitarnya dengan cara yang keras. Mungkin ia adalah pusat semesta yang penuh cinta dan kasih. Dan mungkin, itu bukan pintu menuju neraka, melainkan surga.
"Gue nggak senakal itu, kan?"
Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...
Separuh Dzarrah
Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...