Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
14
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Empat - Ruang Hampa

Cakra Abiyoga terbangun, dan hal pertama yang ia sadari adalah bahwa rasa sakit ternyata memiliki tekstur.

Pergelangan kaki dan tangannya berdenyut dengan irama yang sinkron. Sebuah simfoni penderitaan yang berasal dari belenggu rantai logam dingin, yang mengikatnya di atas permukaan keras. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, namun ia mendapati dirinya terbaring di atas tanah berbatu halus yang terasa asing, terlalu rata untuk disebut alami, terlalu halus untuk disebut buatan pabrik manusia.

Sensasi yang merayap di kulitnya sangatlah aneh, sebuah paradoks sensorik yang akan membuat ilmuwan saraf manapun gila. Di satu sisi, Cakra merasa seolah ia sedang berendam di dalam bak mandi yang penuh, namun ia tidak merasa basah.

Tidak ada air yang menempel di pori-porinya, namun ada tekanan konstan yang memeluk tubuhnya, sebuah berat yang hanya bisa dihasilkan oleh kolom cairan yang masif. Ia tidak merasa kedinginan, namun di waktu yang bersamaan, tulang-tulangnya terasa seperti ditusuk oleh seribu jarum kecil.

"Sakit." Pikiran itu menggema di kepalanya yang terasa seperti baru saja disengat ribuan lebah.

"Mungkin inilah rasa sakit kematian," pikirnya dengan getir. Tak ada yang lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri, bukan karena ketiadaannya, melainkan karena proses transisinya yang terasa seperti sedang dikuliti hidup-hidup oleh takdir.

Cakra mencoba menggerakkan tubuhnya. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga dari otot-ototnya yang biasanya ia banggakan di gym sekolah. Ia menarik tangan dan kakinya, berharap dapat meloloskan diri dari lubang rantai yang melingkar begitu ketat hingga menghentikan aliran darahnya. Namun, setiap inci tarikan itu hanya mengundang siksaan baru. Seribu jarum kecil tadi mendadak berubah menjadi paku-paku panas yang menghujam penopang badannya. Tak ada yang terlewati. Sendi, tendon, hingga tengkoraknya ikut berdenyut nyeri.

Ia tidak bisa menahannya lagi. Cakra berteriak.

Suaranya terdengar teredam, seolah-olah gelombang suaranya harus berjuang menembus medium yang lebih kental dari udara. Ia mengangkat badannya, mencoba duduk setegak mungkin, namun belenggu itu hanya mengizinkannya mengangkat kepala dan sedikit bagian dada. Membentuk sudut kurang dari tiga puluh derajat. Posisi yang sangat tidak berdaya bagi seseorang yang biasanya memandang dunia dari ketinggian 185 sentimeter.

Cakra berkedip berkali-kali. Kelopak matanya terasa berat. Ia mengharapkan ada setitik cahaya yang membantunya melihat, namun kegelapan di sekelilingnya begitu pekat, begitu absolut. Ia mulai meragukan, apakah ia buta karena kerusakan saraf saat hanyut tadi, ataukah kematian memang merupakan sebuah ruang tanpa warna?

Namun, satu menit kemudian, asanya tercapai. Perlahan, tirai hitam di depan matanya mulai tersingkap. Bukan dengan cara yang normal, bukan seperti saat mata manusia menyesuaikan diri dengan kegelapan. Entah bagaimana caranya, ia mulai bisa melihat, meskipun pandangannya masih kabur dan bergoyang.

Ia menyadari sesuatu yang mustahil. Ia bisa melihat dalam gelap. Bukan karena ada cahaya, melainkan karena ia seolah bisa memproses "ketiadaan cahaya" menjadi sebuah citra. Secara teori ilmu fisika, bidang yang ia kuasai hingga tingkat olimpiade, hal ini seharusnya tidak terjadi. Manusia hanya bisa melihat berkat adanya rambatan radiasi elektromagnetik yang kasat mata. Tanpa foton, tidak ada penglihatan. Namun, apa yang dialami Cakra saat ini menyalahi hukum fisika yang selama ini ia pelajari dengan tekun di sekolah ayahnya.

Ia memutar lehernya ke kanan dan ke kiri dengan kaku, berharap menemukan petunjuk. Pandangan gelap itu mulai memberikan sketsa kasar. Cakra menebak ia berada di ruangan kecil, berdinding tanah dengan tekstur kasar layaknya goa penghuni manusia purba yang pernah ia lihat dalam film dokumenter sejarah. Namun, ada yang salah. Goa ini terpahat terlalu rapi, terlalu simetris. Sudut-sudutnya membentuk kurva yang aerodinamis, seolah ruangan ini diciptakan, bukan terbentuk oleh erosi alamiah selama jutaan tahun.

Lalu ia menengok ke bawah, ke sisi sebelah kiri dan kanannya. Jantungnya nyaris berhenti. Ia tidak sedang berada di atas lantai yang luas. Ia sedang telentang di atas sebidang tanah atau meja kecil yang ukurannya pas dengan tubuhnya, dan di sekeliling meja itu terdapat jurang hitam yang tak berujung.

Sontak, sisi pengecut dalam diri Cakra meledak. Ia menjerit ketakutan. Ia memanggil segala macam nama Tuhan yang pernah ia dengar dalam pelajaran agama, mulai dari yang agung hingga yang samar. Ia berharap salah satu dari nama itu akan menjulurkan tangan dan menariknya dari kegilaan ini.

"Apakah ini Tempat persinggahan sebelum masuk neraka? Atau ruang penjara istana Nyi Roro Kidul?" pikirnya panik. Tapi keadaan di sini tidak terasa seperti api neraka yang membara, namun jelas jauh dari deskripsi surga yang penuh susu dan madu.

Usahanya sia-sia. Tak ada malaikat yang datang membawakan sayap. Atau menariknya untuk keluar dari penyiksaan itu. Setelah kelelahan berteriak, ia memutuskan untuk kembali menyenderkan kepala. Namun, belum sempat tulang parietalnya menyentuh permukaan meja tempat ia telentang, keajaiban aneh kembali terjadi. Matanya mulai bisa melihat secara sempurna, seolah-olah resolusi penglihatannya ditingkatkan dari analog menjadi 8K dalam hitungan detik.

Seketika Cakra merasa kalut. Ia bingung, aneh, dan merasa mual secara eksistensial.

Ruangan itu... ia bisa melihatnya dengan jelas, namun ia juga tahu dengan pasti bahwa ruangan itu sama sekali tidak disinari cahaya. Tidak ada lampu, tidak ada pendaran fosfor, tidak ada apa-apa. Ia hanya melihat dinding besi hitam pekat terletak tiga meter di depannya. Dinding itu polos, tanpa ornamen, tampak seperti gerbang menuju brankas bank paling aman di dunia. Jurang yang tadi ia takuti ternyata hanyalah ubin besi hitam yang sangat reflektif, dan meja tempatnya terbaring bukanlah tanah purba, melainkan meja batu yang dikerjakan dengan presisi teknologi tinggi. Mirip meja zaman Megalitikum tapi dengan sentuhan futuristik yang aneh.

Lalu, kecurigaannya yang paling gila terbukti.

Ia berada di dalam ruangan yang penuh dengan air. Ia bisa melihat partikel mikroskopis yang melayang-layang dengan gerakan fluida. Namun, ia bisa bernapas dengan mudah. Paru-parunya mengembang dan mengempis seolah ia sedang berada di taman sekolah. Air itu tidak membasahinya, tidak meresap ke helai rambutnya, bahkan saat ia menjerit tadi, tidak ada setetes pun air yang masuk ke tenggorokannya. Ia seperti berada di dalam gelembung tak kasat mata yang terintegrasi dengan molekul air itu sendiri.

Baru saja ia ingin menjerit kembali untuk memprotes hukum gravitasi, dinding besi di depannya berderit. Bunyinya tajam, gesekan logam dengan logam yang memekakkan telinga. Dinding besi itu meleleh dan bergerak ke atas, meluncur masuk ke dalam langit-langit dengan mulus. Sedetik kemudian, dinding itu berlubang. Membentuk lingkaran sempurna. Lebih mirip pintu yang terbuka. Akan tetapi lubang pintu itu tidak menampilkan pancaran apa pun dari luar sana. Justru, hanya menyiratkan gelombang aneh. Tapi yang pasti, ruangan itu jelas sudah terbuka, seolah mempersilakan Cakra untuk keluar, melarikan diri.

Cakra menyipitkan mata, memusatkan seluruh perhatiannya. Pikirannya yang terbiasa menonton film thriller langsung menyusun skenario terburuk. Ini persis seperti adegan di mana seorang penculik sengaja membuka pintu sel hanya untuk memberi harapan palsu pada korbannya, membiarkan sang korban lari, lalu menembaknya dari belakang untuk kesenangan sadis. Cakra tidak ingin menjadi korban klise seperti itu. Lagipula, belenggu rantai ini memastikan ia tetap menjadi penonton yang pasif.

Tak lama, terdengar suara langkah kaki.

Tap. Tap. Tap.

Langkahnya pelan, namun setiap entakan kaki itu terdengar tegas dan berwibawa. Bunyi itu berirama dengan detak jantung Cakra yang memburu. Saatnya penghakiman, batinnya. Cakra memutuskan untuk memejamkan mata, pura-pura tidur lelap. Ia mencoba mengatur napasnya agar terlihat tenang, berharap bahwa berpura-pura mati akan membuatnya luput dari kesengsaraan yang lebih besar.

Alunan langkah itu semakin dekat. Bulu kuduk di tengkuk Cakra berdiri tegak. Rasa takut ini berbeda. Ia pernah diciduk polisi karena tawuran, ia pernah melakukan olahraga ekstrem yang mempertaruhkan nyawa, tapi ini adalah jenis ketakutan yang murni. Ketakutan akan hal yang tidak diketahui (fear of the unknown). Tak ada risiko yang bisa ia kalkulasikan. Tak ada variabel yang bisa ia masukkan ke dalam rumus fisika untuk memprediksi hasilnya. Hanya ada dua pilihan. Kematian yang lega, atau kengerian yang tak tergambarkan.

"Bangun!"


Other Stories
Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Mewarnai Bawah Laut

ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Breast Beneath The Spotlight

Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...

Luka

LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...

Download Titik & Koma