Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
14
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Enam - Membedah Cakra

Di dalam perut Distrik Nor, distrik teknologi pangan dan material bilogis Kerajaan Porkah. Tepatnya di jantung fasilitas pemantauan keamanan yang tersembunyi tujuh ribu meter di bawah permukaan laut, kedalaman di mana tekanan mampu meremukkan kapal manusia menjadi serpihan, dan cahaya matahari hanya tersisa sebagai konsep dalam arsip sejarah. Kebenaran sedang dibedah.

Bukan dengan pisau.

Bukan dengan darah.

Melainkan dengan cahaya dan pikiran. Sebuah proyeksi transparan melayang di udara tanpa penopang apa pun. Merupakan bagian dari Casvet. Tidak ada kabel, tidak ada sumber cahaya yang terlihat. Ia hanya ada, diam, stabil, patuh.

Bagi bangsa Porkah, Casvet bukan sekadar teknologi. Ia adalah ekstensi kesadaran kolektif mereka. Dunia virtual yang dapat dipanggil keluar untuk menindih realitas, menekan dunia nyata hingga batas antara yang terjadi dan yang diingat menjadi kabur, bahkan tak ada pembeda.

Casvet tidak memiliki satu rupa tetap. Ia muncul sesuai kebutuhan dan kehendak penggunanya. Kadang ia membentang sebagai layar cahaya tipis, tenang dan datar. Tempat data mengalir dalam barisan simbol yang bergerak seperti makhluk hidup, menyesuaikan diri dengan siapa pun yang memandangnya. Huruf dan angka tidak hanya ditampilkan, mereka beradaptasi, belajar bagaimana harus terlihat agar mudah dicerna oleh otak yang berbeda-beda.

Di waktu lain, Casvet mengembang menjadi hologram berlapis. Cahaya menebal, saling bertumpuk, membentuk bangunan, tubuh, bahkan lanskap utuh.

Dalam bentuk yang lebih terkonsentrasi, Casvet dapat dipadatkan menjadi bola pikiran seukuran semut. Berkilau lembut, nyaris tak terlihat. Bola itu mampu menembus tubuh seseorang tanpa melukai jaringan apa pun, lalu pecah di dalam kesadarannya. Saat itu terjadi, subjek tidak lagi mendengar cerita. Ia menjadi cerita itu sendiri. Merasakan emosi dan sensasi sensorik yang sama, melihat dari sudut pandang yang sama, terjebak dalam alur waktu yang identik dengan pemilik ingatan aslinya.

Namun bentuk paling ekstrem dan paling jarang digunakan, adalah ketika Casvet memproyeksikan simulasi tiga dimensi penuh. Cahaya mengeras menjadi daging semu. Permukaan dapat disentuh. Suhu dapat dirasakan. Hambatan fisik menjadi nyata.

Tetapi proyeksi itu tetap mati.

Ia tidak hidup.

Ia tidak memilih.

Ia hanya mengulang apa yang telah berlalu.

Casvet bukan pencipta. Ia adalah penjaga. Menjaga data dan kenangan yang dipaksa untuk terlihat.

Kini, Casvet menampilkan tubuh seorang anak manusia.

Cakra Abiyoga.

Sosoknya tergambar dalam layar berpendar, terkulai di atas meja interogasi batu, bagian dari sistem Alpam. Otot-ototnya masih menegang. Sengatan listrik terakhir dari Georu, si pria cantik, belum sepenuhnya pergi dari sistem sarafnya. Tubuhnya bereaksi bahkan saat ia diam. Jari-jari yang sesekali bergetar, rahang yang mengeras tanpa disadari. Wajahnya membeku di antara tiga emosi yang saling bertabrakan. Marah, bingung, dan takut.

Tidak satu pun menang sepenuhnya.

Di hadapan proyeksi Casvet, yang menampilkan sosok Cakra, berdiri seorang pria bertubuh besar. Bahunya lebar, dadanya tebal, seolah tubuhnya dibentuk bukan untuk duduk berjam-jam di ruang analisis, melainkan untuk bertarung. Wajahnya keras, nyaris sadis, dengan bekas luka lurus sepanjang lima sentimeter yang melintang di pipi kiri. Luka lama, sembuh rapi, sengaja dibiarkan sebagai pengingat.

Rambutnya tebal, hitam pekat, dan keriting, membingkai wajahnya yang nampak lebih cocok berada di ring tinju bawah tanah daripada di laboratorium analis. Tapi yang lebih janggal, pria itu tampak seperti masih sangat muda, mungkin tidak lebih tua dari pada Cakra.

Matanya menatap layar Casvet dengan intensitas seorang predator. Setiap mikrodetik pergerakan tubuh Cakra dianalisis. Setiap getaran pita suara dari makian yang meluncur keluar dibedah menjadi pola, frekuensi, dan ketidakteraturan emosional.

Ia bukan sekadar melihat.

Ia mendengarkan ketakutan.

Sebagai ahli perilaku, pria itu mulai sampai pada kesimpulan yang membuat tengkuknya merinding. Tidak ada pola kebohongan terencana. Tidak ada jeda sadar yang menandakan manipulasi. Respons Cakra terlalu mentah, terlalu kacau.

Anak itu tidak sedang berakting.

Ia benar-benar ketakutan.

Benar-benar bingung.

Dan yang paling mengganggu, ia benar-benar tidak tahu siapa dirinya.

Ruangan itu berbentuk segi enam sempurna dengan luas tujuh meter persegi. Pria sangar itu tidak sendirian, ada lima rekan kerja lainnya yang merupakan tim elit analis keamanan. Ruangan ini adalah sebuah keajaiban arsitektur. Gelap dan terang secara bersamaan. Cahayanya tidak berasal dari lampu, melainkan merupakan manifestasi dari keinginan penghuninya. Jika ingin sudutnya terang, otak akan memerintahkannya. Jika ingin kegelapan mutlak untuk fokus, cahaya akan menyingkir.

Masing-masing analis menghadap pada proyeksi gambar bergerak yang dihasilkan oleh cahaya casvet. Cahaya itu hidup. Ia mengikuti kemana pun arah pandang tuannya, seakan-akan seperti anak anjing yang setia dan haus perhatian. Ukuran layar cahaya itu beragam, menampilkan data yang akan membuat NASA terlihat seperti sekolah dasar. Di satu sudut, seorang analis sedang memperhatikan seekor binatang yang tak pernah dijumpai manusia manapun di atas Bumi. Seekor ikan dengan ekor buaya, yang berenang di sekitar perimeter distrik. Di sudut lain, proyeksi menampilkan bangunan futuristik yang mengambang tanpa permukaan, menyatu secara organik dengan tebing bebatuan bawah laut yang gelap.

Pemandangan tersebut bukan milik Bumi mana pun yang pernah tercatat dalam atlas manusia. Kini Casvet berubah bentuk menjadi tiga dimensi versi mini. Membentuk seperti anak rejama itu, membuat Cakra hadir bersama mereka. Ia bahkan memiliki resolusi yang melampaui penglihatan manusia, mampu memperlihatkan pori-pori kulit subjek atau serat mikroskopis dari pakaian mereka tanpa kehilangan ketajaman. Hebatnya lagi, adegan dalam setiap proyeksi berubah otomatis sesuai kehendak pikiran orang di hadapannya. Teknologi ini terhubung langsung dengan sinapsis saraf mereka.

Pria dengan tampilan fisik menyeramkan itu menggosok hidungnya yang besar, menggelengkan kepala seakan tidak percaya dengan simulasi data yang masuk ke otaknya. Ia memutar ulang momen interogasi Cakra berulang-ulang, memaju-mundurkannya seperti seorang editor film yang mencari cacat pada adegan.

Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk bahunya. Suaranya berat namun memiliki nada otoritas yang membuat tulang punggungnya tegak.

“Gimana? Sudah bisa kamu analisa?”

Sang pria sangat tersentak. Akibatnya, Casvet yang semula menampilkan Cakra dalam bentuk tiga dimensi nyata, seketika kembali menjadi layar tipis berpendar. Suara itu berasal dari seorang wanita yang, jika dilihat sekilas, tampak seperti seorang gadis remaja yang baru saja memulai masa perkuliahannya.

Wajahnya oval sempurna dengan dagu runcing yang memberikan kesan aristokrat. Kulitnya seputih mutiara, seolah tidak pernah tersentuh sinar matahari seumur hidupnya. Bibirnya tipis dan bergelombang, memberikan sisi sensual pada wajahnya yang polos dan dingin. Matanya bulat, dihiasi bulu mata yang sangat tebal dan lentik, menciptakan tatapan yang bisa menembus baja. Rambut peraknya yang tipis namun rimbun terurai seperti sutra yang ditenun dari cahaya bulan.

Ia mengenakan pakaian yang mirip dengan si pria sangar, balutan busana biru tua yang terbuat dari semacam polimer sintetis. Pakaian itu menempel sempurna pada lekuk tubuhnya, namun anehnya, pakaian itu tampak bernapas, memberikan sirkulasi pada kulit penggunanya. Tidak ada kancing atau resleting, pakaian itu adalah bagian dari sistem biometrik mereka yang bisa terpasang otomatis. Menyatu dengan kulit mereka.

Yang membedakan mereka hanyalah sebuah layar mengambang lima inci di depan diafragma mereka. Layar milik wanita itu bertuliskan: Mynhemeni - Komandan Divisi Analis Distrik Nor. Sedangkan milik pria besar itu hanya bertuliskan: Enuop - Analis Tingkat Tiga Divisi Analis Distrik Nor.

“Be-belum Komandan!” jawab pria bernama Enuop itu terbata-bata. “Maaf, saya terkejut. Saya akan megembalikannya pada bentuk tiga dimensi..."

Sang Komandan, yang dikenal dengan nama Mynhemeni, tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada proyeksi Cakra. “Tidak perlu!" sanggahnya sembari memajukan tubuhnya lebih dekat ke arah layar casvet.

“Aneh,” gumamnya. “Sejauh ini, apa pendapatmu?” Mynhemeni menyentuh cahaya di depannya.

Adegan berubah seketika.

Mula-mula menampilkan Cakra yang meronta dalam rantai, lalu bergeser ke momen di mana tubuh Cakra menghantam karang Parangtritis. Dalam resolusi tinggi, terlihat jelas bagaimana terumbu karang yang keras itu meledak dan larut menjadi debu saat bersentuhan dengan kulit Cakra. Detik berikutnya, adegan berganti menjadi proyeksi memori Cakra tentang sosok bertanduk rusa dan sabit panjang.

“Biasanya manusia melihat sesosok perempuan dengan pakaian berwarna hijau, kan?” tanya Mynhemeni memastikan.

Suaranya dingin, sehalus es yang retak.

“Bukan ini.” ia menoleh sekilas pada bawahannya.

“Betul, Komandan!” jawab Enuop cepat, merasa senang bisa menunjukkan pengetahuannya.

“Apa istilah mereka... saya lupa.”

“Ada yang menyebut mereka Kanjeng Ratu Kidul, ada juga yang bilang Nyi Roro Kidul. Bahkan ada yang memanggil kita dengan sebutan Nyai,” Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.

“Manusia yang hanyut dan berhasil kita selamatkan di wilayah lima belas derajat koma tiga puluh Nor Utara biasanya memproyeksikan memori wanita cantik berpakaian hijau. Kadang mereka bahkan berhalusinasi melihat kita menunggangi kereta kencana." Eunop menatap Mynhemeni lekat, bukan untuk memberitahu hal yang sangat diketahui oleh komandan cantik itu, tapi sebagai bentuk bahwa dirinya mengingat semua protokol.

"Itu mekanisme perlindungan psikologis mereka. Cara otak mereka menjelaskan sesuatu yang tak sanggup mereka pahami.”

Mynhemeni mengangguk kecil.

“Tapi anak ini tidak melakukan itu,” lanjut Enuop beralih menatap lapisan casvet. Suaranya merendah. “Dia melihat kita hampir apa adanya. Kapal selam kelas Manta. Bentuk patroli. Bahkan siluet asli kita.”

Matanya kembali pada Mynhemeni.

“Itulah alasan Letnan Rihum membawanya ke sini. Anak ini bukan manusia biasa.”

Hening.

Casvet berpendar lembut.

“Ada indikasi kuat,” lanjut Enuop, nyaris berbisik, “bahwa dia bukan berasal dari planet Bumi. Atau, setidaknya, dia bukan hasil evolusi alami Bumi.”



Other Stories
Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Balada Cinta Kamaliah

Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...

Download Titik & Koma