Lima - Si Pria Cantik
Divisi Analis Distrik Nor mendadak berubah menjadi sarang kekacauan terkontrol, jika kepanikan masih bisa disebut terkontrol. Cahaya holografik di ruang pemantauan bergetar halus, hologram panel-panel data berpendar tak stabil, seolah ikut merasakan perubahan gelombang dari tubuh Cakra. Anak remaja itu tiba-tiba tersadar, tepat di tengah proses pembongkaran asal-usulnya.
“Sanvar tahanan menunjukkan lonjakan kesadaran!” seru salah satu analis.
“Aktifkan Maroz pada Sanvar tahanannya!” perintah sebuah suara perempuan. Nadanya tinggi, tajam, memerintah tanpa memberi ruang bantahan, suara seseorang yang terbiasa menentukan hidup dan mati lewat satu kalimat.
“Perintah diterima,” jawab suara laki-laki. Otaknya langsung mengaktifkan Maroz, alat pembeku lawan yang langsung menyerang titik saraf. Tidak dapat membuat lawan bergerak, lima detik kemudian kesadaran hilang. Akan tetapi, alat itu tidak bekerja pada Cakra.
Sejenak hening lalu napas tertahan terdengar jelas.
“Maaf, Komandan,” lanjutnya, kali ini suaranya pecah. “Maroz tidak bekerja padanya!”
Hologram di tengah ruangan berdenyut lebih terang. Siluet Cakra bergerak.
“Apa?” suara perempuan itu menajam. “Tingkat berapa?”
“Tingkat satu,” jawab sang analis cepat. Ia menelan ludah. “Memohon izin naik ke tingkat dua.”
Ruangan seolah menyempit. Bahkan arus air di luar dinding transparan tampak melambat, menekan seperti dada yang ditahan napas.
“Laksanakan.”
Satu kata. Pendek. Berat. Kembali sunyi.
“Maaf, Komandan… tingkat dua masih belum mampu membekukannya!” suara laki-laki itu terdengar nyaris pecah, jemarinya gemetar di atas cahaya hologram, lepas kendali. “Apakah kami harus lanjutkan ke tingkat tiga?”
“Jangan bodoh!” potong Komandan tajam. Nada suaranya menghantam ruangan seperti gelombang pasang. “Tingkat tiga bisa menghancurkan tubuhnya!”
Ia melangkah maju setengah langkah, rahangnya mengeras. “Seharusnya tingkat satu sudah cukup membuatnya tak sadarkan diri. Tingkat dua bisa meremukkan tulang. Tapi anak itu...,” ia menarik napas pendek, menahan keterkejutan yang tak ingin ia perlihatkan, “anak itu terlalu kuat.”
Ruangan kembali sunyi.
Komandan memejamkan mata sejenak, pikirannya bergerak cepat, menyusun kemungkinan demi kemungkinan. Lalu ia mengedip. Dari pupil matanya, sebuah bola sekecil kutu kucing muncul. Halus, bercahaya, seolah lahir dari cahaya itu sendiri. Bola itu melayang ke udara, bergetar pelan, lalu mengembang. Dalam sekejap, ia memecah diri menjadi hologram dua dimensi, memproyeksikan sosok lain dengan detail tajam.
“Georu,” ucap Komandan, suaranya kini lebih dingin, terkontrol. “Anak itu tidak mempan terhadap Maroz. Alpam juga belum mendapatkan jawaban apa pun darinya.”
Ia berhenti sejenak, menatap hologram itu lurus.
“Kamu yang ambil alih. Interogasi dia. Jika dia melawan, lumpuhkan dengan Voltrik.” Perintahnya menggunakan alat kejut listrik. Nada suaranya merendah, namun justru terdengar lebih berbahaya.
“Ingat, jangan sampai anak itu terluka. Apalagi mati.” Hologram berpendar singkat, garis-garis cahayanya bergetar halus seperti makhluk hidup yang mengiyakan. Tanpa kata tambahan, proyeksi itu memudar.
Georu langsung bergerak.
Tubuhnya melesat menembus koridor menuju ruang penahanan Cakra Abiyoga. Langkahnya senyap, nyaris tanpa suara, seolah laut sendiri memberi jalan. Dan disaat Cakra sudah sadar sepenuhnya, sebuah suara menembus pendengarannya. Dalam, menggema, terasa terlalu dekat, seperti bisikan tepat di balik tengkoraknya.
“Bangun.”
Suara itu memecah sandiwara Cakra.
Suara seorang pria!
Tenor, sedikit cempreng, dan mengandung nada otoritas yang tak terbantahkan. Cakra tetap bergeming. Ia masih berharap pria itu akan percaya pada aktingnya.
"Kamu mau bangun sendiri, atau saya bangunkan paksa!?" ancam suara itu lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi, tersirat rasa jengkel yang jelas.
Cakra tetap terkujur kaku. Ia bahkan menahan otot perutnya agar tidak bergerak saat bernapas. Ia berusaha mengontrol detak jantungnya. Sebuah teknik meditasi yang pernah ia pelajari. Namun ia gagal total. Dan kegagalannya berbuah pahit.
Tiba-tiba, rasa geli yang aneh menjalar dari tangannya, merambat ke seluruh saraf di bawah kulitnya. Dalam sepersekian detik, rasa geli itu berubah menjadi kejutan listrik yang maha dahsyat. Nyeri, kebas, dan panas menghantam otaknya secara bersamaan.
Cakra memekik. "BANGSAAAAT!!"
Tubuhnya mengejang. Aliran listrik itu terasa seperti ribuan semut api yang menggigit sinapsis sarafnya. Ia tersentak, matanya terbuka lebar dan langsung menoleh ke arah sang pelaku.
Di depannya berdiri seorang pria yang tampak seperti berasal dari mimpi buruk atau film fantasi paling megah. Pria itu memiliki ras Kaukasoid dengan wajah lancip yang elegan, kulitnya putih pucat hampir transparan. Ia mengenakan pakaian serba hitam yang sangat ketat. Seperti baju kurung futuristik yang menutupi seluruh tubuhnya hingga ke leher, menyisakan kepala yang dirimbuni rambut panjang lurus berwarna perak pucat yang menjuntai hingga sepinggang.
Matanya menatap Cakra dengan tajam. Bibirnya tipis berwarna pink cerah, kontras dengan kulitnya yang pucat. Pria ini sangat cantik sekaligus sangat maskulin di saat yang bersamaan. Cakra sempat ragu apakah dia pria atau wanita, namun otot-otot yang tercetak di balik pakaian ketat itu serta postur tubuhnya yang tegap membuktikan bahwa dia adalah seorang prajurit pria.
Pria itu memegang sebuah tombak sepanjang tongkat baseball, namun bentuknya lebih ramping, menyerupai tongkat penyangga bagi mereka yang memiliki keterbatasan berjalan. Namun, fungsinya jelas bukan untuk berjalan. Di ujung tongkat itu, Cakra melihat percikan listrik berwarna putih kebiruan yang mendesis lapar.
"JANGAN COBA BERGERAK!" ancam pria itu, menodongkan ujung tongkat listrik tepat di depan hidung Cakra.
Cakra berusaha mengatur napasnya yang tersengal. Rasa perih masih membekas di kulitnya. "Siapa kamu?" tanya pria itu dengan nada dingin.
"ANJING! HARUSNYA ELU TAU SIAPA GUE! LU KAN YANG BAWA GUE KE SINI!" Cakra berteriak, rasa takutnya kini berubah menjadi agresi. Mekanisme pertahanan diri yang biasanya ia gunakan saat terpojok. "INI DI MANA? NERAKA? TEMPAT PERSINGGAHAN SEBELUM KE NERAKA? HAA??"
Jawaban Cakra disambut dengan hadiah aliran listrik kedua. Kali ini kekuatannya dua kali lipat. Cakra menjerit, tubuhnya bergetar hebat di atas meja batu.
"Sekali lagi saya tanya, kamu siapa!!"
"BANGSAAAT!!" Cakra masih mencoba melawan melalui kata-kata, meski tubuhnya sudah tidak berdaya.
Sengatan ketiga datang. Lebih kuat. Lebih lama. Cakra merasa otaknya seperti sedang digoreng.
"Aaaargh!! Berhenti! Saya Cakra Abiyoga!" teriaknya memelas, menyerah pada rasa sakit yang tidak manusiawi itu. "Anak Pak Adipramana dan Ibu Diajeng Pramudhita Rahayu! Lu mau uang? Gue kasih berapa pun!"
Namun, pria pucat itu tidak bergeming. Ia tidak peduli dengan nama besar Adipramana. Sekali lagi, Cakra merasakan listrik mencapai pangkal otaknya.
"BANGSAT!!! MAU LU APA ANJIIING!!!" Cakra menangis karena marah dan sakit.
"Katakan kamu ini siapa? Jangan bermain-main!"
"GUE UDAH BILANG ANJING! GUE CAKRA, CUMA ANAK MANUSIA BIASA YANG BARU LULUS SMA! LU MAU APA!! BUKANNYA HARUSNYA LU YANG LEBIH TAU GUE SIAPA!!!"
Cakra merasa dunia ini sudah gila. Ia merasa tak adil karena ia terbelenggu sementara pria cantik itu bebas menyiksanya dengan tongkat mainannya.
Pria pucat itu menyipitkan mata, tatapannya penuh keraguan yang mendalam. "Kamu bukan manusia," katanya pelan, namun setiap katanya terasa berat. "Manusia tidak akan mampu bertahan hidup dengan hantaman ombak sekencang itu. Kami melihatnya. Kamu terhantam terumbu karang berulang kali, namun justru karang itu yang hancur saat bersentuhan dengan tubuhmu. Jadi sekali lagi, jawab yang jujur, siapa kamu? Dari mana asalmu?"
Cakra tertegun. Pikirannya mencoba memproses kalimat itu.
"Karang hancur? Gue...?"
"Gue... gue cuma anak biasa," Cakra berkata dengan suara bergetar, mencoba terdengar meyakinkan. "Saya minta maaf kalau semasa hidup saya banyak berbuat salah. Saya tahu saya sombong, saya jahat sama orang. Tapi tolong... jangan buat saya bingung! Kalau mau masukin saya ke Neraka, langsung saja! Kenapa harus pakai interogasi segala?"
Pria itu menghela napas panjang, sebuah ekspresi yang sangat manusiawi untuk makhluk yang tampak begitu asing. "Kamu tadi tidak mendengarkan ucapan saya? Manusia tidak mungkin selamat dari hantaman sekencang itu. Tubuhmu seharusnya sudah hancur menjadi bubur organik. Kecuali kamu memang bukan manusia darat." Sang Pria Cantik memerhatikan Cakra dengan tatapan takjub sekaligus ngeri.
Si Pria Cantik menghembuskan napas, kemudian melanjutkan. "Kamu terjebak di palung, sementara dua orang lainnya berhasil kami selamatkan lebih mudah."
Dunia Cakra seolah berhenti berputar. "Apa maksudnya? Dua orang siapa?"
Pria yang nampak seperti Legolas tanpa telinga lancip itu menurunkan sedikit tongkatnya. "Dua orang yang ikut terseret ombak sepertimu. Mereka tidak terjebak di palung, jadi evakuasi mereka jauh lebih sederhana. Terakhir kali saya dapat laporan, mereka sudah dibawa oleh manusia darat ke fasilitas medis mereka."
Cakra merasakan beban besar terangkat dari dadanya. Victor dan Dito. Mereka selamat. Mereka tidak mati karena kebodohannya.
"Jadi maksudmu... teman-temanku selamat?" Pria itu mengangguk singkat.
"Terus... saya masih hidup? Ini bukan Neraka?" Sekali lagi, anggukan.
"Kalau begitu kenapa saya ada di sini? Kenapa saya dibawa ke sini? Kenapa tidak mengembalikan saya ke daratan seperti teman-teman saya?"
"Itu yang dari tadi kami ingin tahu jawabannya darimu! Katakan siapa kamu? Karena kalau kamu manusia darat biasa, kami tidak akan membawa kamu ke sini. Kalau kamu manusia darat biasa, tentu kami akan menyelematkanmu dan mengembalikanmu ke daratan. Seperti dua manusia daratan lainnya."
"Sudah saya bilang, saya manusia biasa!" Cakra meyakinkannya dengan nada hampir menangis.
Pria itu tidak menerima jawaban Cakra yang tak meyakinkan. Baginya, bukti fisik lebih kuat daripada kata-kata. Ia kembali menyodokkan tongkat itu ke rusuk Cakra. Remaja itu kembali teriak pasrah.
"Elu maunya apa sih?"
"Kamu siapa? Dari mana kamu berasal? Apa maksud dan tujuan kamu berada di Bumi?" Pertanyaan itu terdengar seperti protokol standar untuk menghadapi invasi alien. Cakra mencoba mengatur napasnya yang berat. Ia menatap langit-langit goa yang terpahat rapi. Pikirannya yang cerdas mulai mencoba merangkai fakta-fakta gila ini. Pria ini bicara seolah-olah dia sendiri bukan bagian dari penghuni Bumi yang Cakra kenal.
"Ini... di Bumi? Gue belum mati?" tanya Cakra, suaranya kini hanya berupa bisikan.
"Jangan harap kamu bisa mati sebelum menjawab pertanyaan saya," gertak pria itu, matanya tetap siaga menatap setiap gerakan kecil Cakra.
"Nggak mungkin ini di Bumi! Lu pasti bohong! Mana ada tempat kayak gini di Bumi," sergah Cakra.
"Saya justru curiga kamu yang berbohong," balas pria itu dingin.
"Kalau ini di Bumi, terus ini di mana? Kenapa semuanya terasa asing? Kenapa gue bisa napas di dalam air?"
Pria itu terdiam sejenak, seolah sedang menimbang apakah Cakra pantas mendapatkan informasi ini. "Kamu sedang berada di Distrik Nor. Tujuh ribu meter di bawah permukaan laut. Jauh dari tempatmu tersangkut di Parangtritis."
Cakra ternganga. Tujuh ribu meter? Di bawah laut? Tekanan di kedalaman itu seharusnya sudah menghancurkan tulang manusia menjadi debu dalam sekejap.
"Kami terpaksa membawamu ke sini karena kamu menunjukkan anomali yang berbahaya," lanjut pria itu, suaranya kini terdengar lebih getir. "Kamu bisa hidup di bawah laut tanpa alat, tubuhmu lebih keras dari karang, tapi kamu jelas bukan makhluk seperti kami. Kami merasa kamu adalah ancaman. Ketua tim kami bersikeras untuk tidak menganalisa DNA sembarangan, karena kami takut itu adalah perangkap biologis. Kami tidak ingin Bumi yang menampung kami hancur seperti tempat asal kami puluhan ribu tahun yang lalu."
"Tempat asal kami?" Otak Cakra berdenyut. "Mereka... alien? Atau peradaban yang hilang, kayak Atlantis?"
"Jadi sekarang katakan," pria itu mendekatkan wajahnya, "siapa diri kamu sebenarnya?"
Cakra kehilangan kata-kata. Ucapan pria di hadapannya ini terdengar seperti naskah film fiksi ilmiah kelas B, namun rasa sakit di sekujur tubuhnya dan tekanan air di sekelilingnya membuktikan bahwa ini nyata. Ia mencoba mengingat kejadian di pantai Parangtritis. Ia ingat terumbu karang yang merobek lengan kanan atasnya. Darah yang tumpah ke air. Ia ingat rasa perih yang luar biasa.
Sontak Cakra menoleh ke lengan kanannya. Matanya membelalak. Kulitnya di sana mulus. Tidak ada bekas luka. Tidak ada keropeng. Bahkan bekas luka kecil dari latihan bela diri tahun lalu pun hilang. Lengannya tampak seperti baru saja diregenerasi oleh teknologi medis paling mutakhir di alam semesta.
"Lukaku? Lukaku hilang!" Lirih Cakra panik. Pria pucat itu menarik sudut bibirnya, sebuah senyum kemenangan yang dingin. "Bahkan kamu sendiri tidak menyadari siapa dirimu sebenarnya, bukan?"
Cakra ingin membantah. Ia ingin mengatakan bahwa dia hanyalah remaja biasa. Namun, saat ia mendongak untuk bicara, pria itu sudah mengangkat tongkatnya kembali.
"Mungkin tegangan yang lebih tinggi akan membantumu mengingat masa lalumu di luar planet ini."
"Tunggu...!"
Terlambat. Tongkat itu mendarat di dada Cakra. Kali ini, kekuatannya berkali-kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya. Cakra tidak sempat berteriak. Cahaya putih meledak di dalam kepalanya, sistem sarafnya mengalami shutdown total. Tubuhnya yang kuat terkulai lemah di atas meja batu, dan kegelapan kembali menelannya.
“Sanvar tahanan menunjukkan lonjakan kesadaran!” seru salah satu analis.
“Aktifkan Maroz pada Sanvar tahanannya!” perintah sebuah suara perempuan. Nadanya tinggi, tajam, memerintah tanpa memberi ruang bantahan, suara seseorang yang terbiasa menentukan hidup dan mati lewat satu kalimat.
“Perintah diterima,” jawab suara laki-laki. Otaknya langsung mengaktifkan Maroz, alat pembeku lawan yang langsung menyerang titik saraf. Tidak dapat membuat lawan bergerak, lima detik kemudian kesadaran hilang. Akan tetapi, alat itu tidak bekerja pada Cakra.
Sejenak hening lalu napas tertahan terdengar jelas.
“Maaf, Komandan,” lanjutnya, kali ini suaranya pecah. “Maroz tidak bekerja padanya!”
Hologram di tengah ruangan berdenyut lebih terang. Siluet Cakra bergerak.
“Apa?” suara perempuan itu menajam. “Tingkat berapa?”
“Tingkat satu,” jawab sang analis cepat. Ia menelan ludah. “Memohon izin naik ke tingkat dua.”
Ruangan seolah menyempit. Bahkan arus air di luar dinding transparan tampak melambat, menekan seperti dada yang ditahan napas.
“Laksanakan.”
Satu kata. Pendek. Berat. Kembali sunyi.
“Maaf, Komandan… tingkat dua masih belum mampu membekukannya!” suara laki-laki itu terdengar nyaris pecah, jemarinya gemetar di atas cahaya hologram, lepas kendali. “Apakah kami harus lanjutkan ke tingkat tiga?”
“Jangan bodoh!” potong Komandan tajam. Nada suaranya menghantam ruangan seperti gelombang pasang. “Tingkat tiga bisa menghancurkan tubuhnya!”
Ia melangkah maju setengah langkah, rahangnya mengeras. “Seharusnya tingkat satu sudah cukup membuatnya tak sadarkan diri. Tingkat dua bisa meremukkan tulang. Tapi anak itu...,” ia menarik napas pendek, menahan keterkejutan yang tak ingin ia perlihatkan, “anak itu terlalu kuat.”
Ruangan kembali sunyi.
Komandan memejamkan mata sejenak, pikirannya bergerak cepat, menyusun kemungkinan demi kemungkinan. Lalu ia mengedip. Dari pupil matanya, sebuah bola sekecil kutu kucing muncul. Halus, bercahaya, seolah lahir dari cahaya itu sendiri. Bola itu melayang ke udara, bergetar pelan, lalu mengembang. Dalam sekejap, ia memecah diri menjadi hologram dua dimensi, memproyeksikan sosok lain dengan detail tajam.
“Georu,” ucap Komandan, suaranya kini lebih dingin, terkontrol. “Anak itu tidak mempan terhadap Maroz. Alpam juga belum mendapatkan jawaban apa pun darinya.”
Ia berhenti sejenak, menatap hologram itu lurus.
“Kamu yang ambil alih. Interogasi dia. Jika dia melawan, lumpuhkan dengan Voltrik.” Perintahnya menggunakan alat kejut listrik. Nada suaranya merendah, namun justru terdengar lebih berbahaya.
“Ingat, jangan sampai anak itu terluka. Apalagi mati.” Hologram berpendar singkat, garis-garis cahayanya bergetar halus seperti makhluk hidup yang mengiyakan. Tanpa kata tambahan, proyeksi itu memudar.
Georu langsung bergerak.
Tubuhnya melesat menembus koridor menuju ruang penahanan Cakra Abiyoga. Langkahnya senyap, nyaris tanpa suara, seolah laut sendiri memberi jalan. Dan disaat Cakra sudah sadar sepenuhnya, sebuah suara menembus pendengarannya. Dalam, menggema, terasa terlalu dekat, seperti bisikan tepat di balik tengkoraknya.
“Bangun.”
Suara itu memecah sandiwara Cakra.
Suara seorang pria!
Tenor, sedikit cempreng, dan mengandung nada otoritas yang tak terbantahkan. Cakra tetap bergeming. Ia masih berharap pria itu akan percaya pada aktingnya.
"Kamu mau bangun sendiri, atau saya bangunkan paksa!?" ancam suara itu lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi, tersirat rasa jengkel yang jelas.
Cakra tetap terkujur kaku. Ia bahkan menahan otot perutnya agar tidak bergerak saat bernapas. Ia berusaha mengontrol detak jantungnya. Sebuah teknik meditasi yang pernah ia pelajari. Namun ia gagal total. Dan kegagalannya berbuah pahit.
Tiba-tiba, rasa geli yang aneh menjalar dari tangannya, merambat ke seluruh saraf di bawah kulitnya. Dalam sepersekian detik, rasa geli itu berubah menjadi kejutan listrik yang maha dahsyat. Nyeri, kebas, dan panas menghantam otaknya secara bersamaan.
Cakra memekik. "BANGSAAAAT!!"
Tubuhnya mengejang. Aliran listrik itu terasa seperti ribuan semut api yang menggigit sinapsis sarafnya. Ia tersentak, matanya terbuka lebar dan langsung menoleh ke arah sang pelaku.
Di depannya berdiri seorang pria yang tampak seperti berasal dari mimpi buruk atau film fantasi paling megah. Pria itu memiliki ras Kaukasoid dengan wajah lancip yang elegan, kulitnya putih pucat hampir transparan. Ia mengenakan pakaian serba hitam yang sangat ketat. Seperti baju kurung futuristik yang menutupi seluruh tubuhnya hingga ke leher, menyisakan kepala yang dirimbuni rambut panjang lurus berwarna perak pucat yang menjuntai hingga sepinggang.
Matanya menatap Cakra dengan tajam. Bibirnya tipis berwarna pink cerah, kontras dengan kulitnya yang pucat. Pria ini sangat cantik sekaligus sangat maskulin di saat yang bersamaan. Cakra sempat ragu apakah dia pria atau wanita, namun otot-otot yang tercetak di balik pakaian ketat itu serta postur tubuhnya yang tegap membuktikan bahwa dia adalah seorang prajurit pria.
Pria itu memegang sebuah tombak sepanjang tongkat baseball, namun bentuknya lebih ramping, menyerupai tongkat penyangga bagi mereka yang memiliki keterbatasan berjalan. Namun, fungsinya jelas bukan untuk berjalan. Di ujung tongkat itu, Cakra melihat percikan listrik berwarna putih kebiruan yang mendesis lapar.
"JANGAN COBA BERGERAK!" ancam pria itu, menodongkan ujung tongkat listrik tepat di depan hidung Cakra.
Cakra berusaha mengatur napasnya yang tersengal. Rasa perih masih membekas di kulitnya. "Siapa kamu?" tanya pria itu dengan nada dingin.
"ANJING! HARUSNYA ELU TAU SIAPA GUE! LU KAN YANG BAWA GUE KE SINI!" Cakra berteriak, rasa takutnya kini berubah menjadi agresi. Mekanisme pertahanan diri yang biasanya ia gunakan saat terpojok. "INI DI MANA? NERAKA? TEMPAT PERSINGGAHAN SEBELUM KE NERAKA? HAA??"
Jawaban Cakra disambut dengan hadiah aliran listrik kedua. Kali ini kekuatannya dua kali lipat. Cakra menjerit, tubuhnya bergetar hebat di atas meja batu.
"Sekali lagi saya tanya, kamu siapa!!"
"BANGSAAAT!!" Cakra masih mencoba melawan melalui kata-kata, meski tubuhnya sudah tidak berdaya.
Sengatan ketiga datang. Lebih kuat. Lebih lama. Cakra merasa otaknya seperti sedang digoreng.
"Aaaargh!! Berhenti! Saya Cakra Abiyoga!" teriaknya memelas, menyerah pada rasa sakit yang tidak manusiawi itu. "Anak Pak Adipramana dan Ibu Diajeng Pramudhita Rahayu! Lu mau uang? Gue kasih berapa pun!"
Namun, pria pucat itu tidak bergeming. Ia tidak peduli dengan nama besar Adipramana. Sekali lagi, Cakra merasakan listrik mencapai pangkal otaknya.
"BANGSAT!!! MAU LU APA ANJIIING!!!" Cakra menangis karena marah dan sakit.
"Katakan kamu ini siapa? Jangan bermain-main!"
"GUE UDAH BILANG ANJING! GUE CAKRA, CUMA ANAK MANUSIA BIASA YANG BARU LULUS SMA! LU MAU APA!! BUKANNYA HARUSNYA LU YANG LEBIH TAU GUE SIAPA!!!"
Cakra merasa dunia ini sudah gila. Ia merasa tak adil karena ia terbelenggu sementara pria cantik itu bebas menyiksanya dengan tongkat mainannya.
Pria pucat itu menyipitkan mata, tatapannya penuh keraguan yang mendalam. "Kamu bukan manusia," katanya pelan, namun setiap katanya terasa berat. "Manusia tidak akan mampu bertahan hidup dengan hantaman ombak sekencang itu. Kami melihatnya. Kamu terhantam terumbu karang berulang kali, namun justru karang itu yang hancur saat bersentuhan dengan tubuhmu. Jadi sekali lagi, jawab yang jujur, siapa kamu? Dari mana asalmu?"
Cakra tertegun. Pikirannya mencoba memproses kalimat itu.
"Karang hancur? Gue...?"
"Gue... gue cuma anak biasa," Cakra berkata dengan suara bergetar, mencoba terdengar meyakinkan. "Saya minta maaf kalau semasa hidup saya banyak berbuat salah. Saya tahu saya sombong, saya jahat sama orang. Tapi tolong... jangan buat saya bingung! Kalau mau masukin saya ke Neraka, langsung saja! Kenapa harus pakai interogasi segala?"
Pria itu menghela napas panjang, sebuah ekspresi yang sangat manusiawi untuk makhluk yang tampak begitu asing. "Kamu tadi tidak mendengarkan ucapan saya? Manusia tidak mungkin selamat dari hantaman sekencang itu. Tubuhmu seharusnya sudah hancur menjadi bubur organik. Kecuali kamu memang bukan manusia darat." Sang Pria Cantik memerhatikan Cakra dengan tatapan takjub sekaligus ngeri.
Si Pria Cantik menghembuskan napas, kemudian melanjutkan. "Kamu terjebak di palung, sementara dua orang lainnya berhasil kami selamatkan lebih mudah."
Dunia Cakra seolah berhenti berputar. "Apa maksudnya? Dua orang siapa?"
Pria yang nampak seperti Legolas tanpa telinga lancip itu menurunkan sedikit tongkatnya. "Dua orang yang ikut terseret ombak sepertimu. Mereka tidak terjebak di palung, jadi evakuasi mereka jauh lebih sederhana. Terakhir kali saya dapat laporan, mereka sudah dibawa oleh manusia darat ke fasilitas medis mereka."
Cakra merasakan beban besar terangkat dari dadanya. Victor dan Dito. Mereka selamat. Mereka tidak mati karena kebodohannya.
"Jadi maksudmu... teman-temanku selamat?" Pria itu mengangguk singkat.
"Terus... saya masih hidup? Ini bukan Neraka?" Sekali lagi, anggukan.
"Kalau begitu kenapa saya ada di sini? Kenapa saya dibawa ke sini? Kenapa tidak mengembalikan saya ke daratan seperti teman-teman saya?"
"Itu yang dari tadi kami ingin tahu jawabannya darimu! Katakan siapa kamu? Karena kalau kamu manusia darat biasa, kami tidak akan membawa kamu ke sini. Kalau kamu manusia darat biasa, tentu kami akan menyelematkanmu dan mengembalikanmu ke daratan. Seperti dua manusia daratan lainnya."
"Sudah saya bilang, saya manusia biasa!" Cakra meyakinkannya dengan nada hampir menangis.
Pria itu tidak menerima jawaban Cakra yang tak meyakinkan. Baginya, bukti fisik lebih kuat daripada kata-kata. Ia kembali menyodokkan tongkat itu ke rusuk Cakra. Remaja itu kembali teriak pasrah.
"Elu maunya apa sih?"
"Kamu siapa? Dari mana kamu berasal? Apa maksud dan tujuan kamu berada di Bumi?" Pertanyaan itu terdengar seperti protokol standar untuk menghadapi invasi alien. Cakra mencoba mengatur napasnya yang berat. Ia menatap langit-langit goa yang terpahat rapi. Pikirannya yang cerdas mulai mencoba merangkai fakta-fakta gila ini. Pria ini bicara seolah-olah dia sendiri bukan bagian dari penghuni Bumi yang Cakra kenal.
"Ini... di Bumi? Gue belum mati?" tanya Cakra, suaranya kini hanya berupa bisikan.
"Jangan harap kamu bisa mati sebelum menjawab pertanyaan saya," gertak pria itu, matanya tetap siaga menatap setiap gerakan kecil Cakra.
"Nggak mungkin ini di Bumi! Lu pasti bohong! Mana ada tempat kayak gini di Bumi," sergah Cakra.
"Saya justru curiga kamu yang berbohong," balas pria itu dingin.
"Kalau ini di Bumi, terus ini di mana? Kenapa semuanya terasa asing? Kenapa gue bisa napas di dalam air?"
Pria itu terdiam sejenak, seolah sedang menimbang apakah Cakra pantas mendapatkan informasi ini. "Kamu sedang berada di Distrik Nor. Tujuh ribu meter di bawah permukaan laut. Jauh dari tempatmu tersangkut di Parangtritis."
Cakra ternganga. Tujuh ribu meter? Di bawah laut? Tekanan di kedalaman itu seharusnya sudah menghancurkan tulang manusia menjadi debu dalam sekejap.
"Kami terpaksa membawamu ke sini karena kamu menunjukkan anomali yang berbahaya," lanjut pria itu, suaranya kini terdengar lebih getir. "Kamu bisa hidup di bawah laut tanpa alat, tubuhmu lebih keras dari karang, tapi kamu jelas bukan makhluk seperti kami. Kami merasa kamu adalah ancaman. Ketua tim kami bersikeras untuk tidak menganalisa DNA sembarangan, karena kami takut itu adalah perangkap biologis. Kami tidak ingin Bumi yang menampung kami hancur seperti tempat asal kami puluhan ribu tahun yang lalu."
"Tempat asal kami?" Otak Cakra berdenyut. "Mereka... alien? Atau peradaban yang hilang, kayak Atlantis?"
"Jadi sekarang katakan," pria itu mendekatkan wajahnya, "siapa diri kamu sebenarnya?"
Cakra kehilangan kata-kata. Ucapan pria di hadapannya ini terdengar seperti naskah film fiksi ilmiah kelas B, namun rasa sakit di sekujur tubuhnya dan tekanan air di sekelilingnya membuktikan bahwa ini nyata. Ia mencoba mengingat kejadian di pantai Parangtritis. Ia ingat terumbu karang yang merobek lengan kanan atasnya. Darah yang tumpah ke air. Ia ingat rasa perih yang luar biasa.
Sontak Cakra menoleh ke lengan kanannya. Matanya membelalak. Kulitnya di sana mulus. Tidak ada bekas luka. Tidak ada keropeng. Bahkan bekas luka kecil dari latihan bela diri tahun lalu pun hilang. Lengannya tampak seperti baru saja diregenerasi oleh teknologi medis paling mutakhir di alam semesta.
"Lukaku? Lukaku hilang!" Lirih Cakra panik. Pria pucat itu menarik sudut bibirnya, sebuah senyum kemenangan yang dingin. "Bahkan kamu sendiri tidak menyadari siapa dirimu sebenarnya, bukan?"
Cakra ingin membantah. Ia ingin mengatakan bahwa dia hanyalah remaja biasa. Namun, saat ia mendongak untuk bicara, pria itu sudah mengangkat tongkatnya kembali.
"Mungkin tegangan yang lebih tinggi akan membantumu mengingat masa lalumu di luar planet ini."
"Tunggu...!"
Terlambat. Tongkat itu mendarat di dada Cakra. Kali ini, kekuatannya berkali-kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya. Cakra tidak sempat berteriak. Cahaya putih meledak di dalam kepalanya, sistem sarafnya mengalami shutdown total. Tubuhnya yang kuat terkulai lemah di atas meja batu, dan kegelapan kembali menelannya.
Other Stories
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...