Tujuh - Mynhemeni
“Jadi, tak ada satupun kalimat jujur yang keluar dari mulut anak itu tentang asalnya?” tanya Mynhemeni, matanya menyipit mencari anomali di layar casvet.
“Tidak ada, Komandan! Dia bersikeras bahwa dia manusia. Tapi coba perhatikan ini!” Enuop mengambil alih kontrol layar casvet lewat pikirannya. Ia memperbesar gambar lengan Cakra yang koyak terkena karang. “Terumbu karangnya pecah, itu satu hal. Tapi lihat ini... dia bernapas di dalam air. Paru-parunya tidak terisi cairan. Dan yang paling gila adalah ini!”
Ia mempercepat rekaman. Luka robek di sekujur tubuh Cakra, yang seharusnya membutuhkan puluhan jahitan dan waktu pemulihan berminggu-minggu, menutup di depan mata mereka. Sel-sel kulitnya beregenerasi dengan kecepatan yang menentang biologi. Dalam hitungan detik, kulitnya kembali mulus tanpa bekas luka sedikit pun.
“Dia bisa menyembuhkan diri sendiri dalam waktu yang sangat singkat tanpa bantuan medis apa pun!” serunya takjub. “Teknologi medis kita saja tidak secepat itu. Saya yakin dia adalah senjata biologis atau entitas dari luar, Komandan! Bagaimana... Bagaimana kalau dia....”
Mynhemeni terdiam. Pikirannya berputar seperti pusaran air. “Iya, saya paham itu.”
“Kalau begitu, kenapa kita tidak mengambil sampelnya saja, Komandan?” Enuop mendesak, suaranya melingking, nyaris menantang. “Salnost bisa menyelesaikan teka-teki ini dalam satu siklus.”
Maynhemeni tidak segera menjawab. Ia tahu apa yang dimaksud Enuop. Salnost bukan sekadar alat analisis. Itu adalah alat teknologi yang membaca hakikat biologis sebuah keberadaan. Saat diaktifkan, Salnost tidak menanyakan nama, rupa, atau identitas sosial. Tidak memberi jawaban apda siapa seseorang, atau apa mahluk tersebut. Ia menelusuri asal mula. Hukum alam yang melahirkan sebuah makhluk, serta batas-batas yang akan ia langgar jika dibiarkan hidup bebas.
Dengan kata lain, Salnost adalah proyeksi DNA yang dirancang untuk mengungkap dari mana sebuah mahluk berasal… dan seberapa besar risiko keberadaannya bagi dunia. Selama ini, Salnost hanya digunakan untuk keperluan pangan Distrik Nor, menjaga keseimbangan gizi bangsa Porkah, atau sesekali mengurai struktur biologis hewan dan tumbuhan daratan. Terhadap manusia darat, teknologi itu hanya pernah dipakai sekali. Peristiwa itu terjadi ribuan tahun lalu, dan tidak pernah diulang.
Wajah Mynhemeni mengeras. “Kamu lupa instruksi saya? Ketua Distrik melarang keras penggunaan Salnost pada subjek ini. Kita tidak tahu makhluk apa dia sebenarnya. Jika dia adalah senjata dari galaksi, atau bahkan dimensi lain, tubuhnya mungkin membawa detektor pelacak yang akan mengirimkan sinyal ke tempat asalnya! Satu-satunya yang bisa kita lakukan saat ini adalah memantau dan menginterogasinya secara psikologis.”
“Tapi, bagaimana kalau dia terus menutup mulut, apa langkah kita berikutnya?”
Mynhemeni menghembuskan napas, sebuah gerakan yang sangat langka bagi seorang komandan. “Untuk saat ini, belum ada jawaban. Ketua Distrik masih menimbang dampak diplomatik dan risikonya bagi keamanan." Ia menatap Enuop tajam. “Untuk saat ini, tugasmu jelas! Terus gali ingatannya. Temukan titik pecahnya.”
“Sudah saya coba, Komandan,” Enuop menyela, suaranya menegang. Terdengar frustrasi. Bibir tebalnya sampai harus terlipat. “Tapi ada sesuatu yang menahan kita. Seperti dinding api di dalam kepalanya.” Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan. “Saat Alpam mencoba menembus lebih jauh...”
Alpam, bukan teknologi sembarangan. Sistem itu dirancang untuk membaca ingatan makhluk biologis, versi lebih sederhana dari Salnost, dan tersebar di ruang pengadilan, kantor keamanan, hingga pusat pemerintahan Kerajaan Porkah. Sepanjang keberadaan mereka di Bumi, Alpam hampir tak pernah digunakan. Tak lebih dari sepuluh kali dalam tuju puluh ribu tahun.
“Menekan lebih ke dalam ingatannya,” lanjut Enuop, “dia, secara sadar atau tidak, menghalangi akses Alpam. Seolah ada sistem pertahanan saraf yang aktif saat dia terpojok.” Enuop mengangkat pandangannya. “Itu bukti tambahan, Komandan. Dia bukan manusia Bumi.”
“Jangan sampai kita lengah,” suara Mynhemeni tiba-tiba meninggi, bukan kepada pria sangar itu, melainkan lebih kepada dirinya sendiri. “Jangan sampai rasa penasaran kita membuat planet ini hancur seperti tempat asal kita puluhan ribu tahun yang lalu.” Kalimat itu menggantung berat di molekul lautan. Tragedi masa lalu bangsa Porkah adalah luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Mynhemeni berbalik, langkah kakinya tidak bersuara di atas lantai futuristik itu. Pikirannya melayang pada kehebohan yang terjadi di kantor Keamanan Manusia Darat saat Letnan Rihum membawa Cakra masuk. Seorang remaja yang masih bernyawa setelah dihantam arus Parangtritis yang mematikan adalah keajaiban, seorang remaja yang menghancurkan karang dengan tubuhnya adalah ancaman.
Ketua Distrik Nor, pemimpin tertinggi sekaligus kepala pemerintahan, segera mengambil alih kasus ini. Ia memerintahkan agar Cakra dibawa ke Gedung Pusat Pemerintahan dan ditempatkan di penjara bawah tanah paling rahasia, tentu dengan teknologi Alpam di dalamnya. Tak ada tempat yang lebih aman di bawah samudera ini selain tempat di mana Sang Ketua berada.
Kabar tentang Cakra dikunci rapat-rapat. Kantor Keamanan Manusia Darat, yang biasanya menangani evakuasi warga permukaan, diperintahkan untuk tutup mulut di bawah ancaman hukuman pelepasan jiwa. Saat ini, hanya segelintir orang yang tahu mengenai Cakra, Letnan Rihum dan tim kecilnya, serta tim analis pimpinan Mynhemeni.
Sejatinya, bangsa Porkah adalah bangsa yang sangat dermawan. Mereka kerap muncul entah dari mana untuk menyelamatkan manusia darat yang terseret ombak, membawa mereka kembali ke permukaan dengan hati-hati. Jika manusia itu masih hidup, mereka disembuhkan dan dikembalikan ke daratan seolah tak ada yang terjadi, agar tak ada seorang pun yang curiga. Jika nyawa itu telah pergi, jasadnya tetap dikembalikan. Namun, jika tubuh itu hancur atau terpecah-pecah, tangan-tangan terampil Porkah akan menyusunnya kembali, potongan demi potongan, hingga cukup utuh untuk ditemukan oleh tim SAR manusia.
Tentu saja, tidak semua orang yang hanyut bisa mereka selamatkan. Selama korban belum terlihat oleh manusia darat lainnya, maka mereka merasa itulah tanggung jawab mereka. Tetapi semuanya hanya terjadi jika seorang anggota patroli kebetulan menyaksikan kejadian itu. Porkah tidak memasang detektor atau alat pengintai. Mereka tidak mencari bahaya, mereka menunggu untuk menemukannya sendiri.
Bisa dikatakan, distrik-distrik Porkah yang tersebar di seluruh lautan Bumi bertindak sebagai penjaga tak terlihat bagi mereka yang tinggal di permukaan. Persis seperti yang mereka lakukan untuk teman-teman Cakra. Berkat bantuan senyap dari patroli Porkah, Victor dan Dito kini berada di tangan tim medis manusia di permukaan, aman tanpa menyadari siapa yang telah membantu mereka.
Namun Cakra adalah pengecualian, sebuah bahaya yang tak bisa mereka lepaskan. Di Porkah, setiap kehidupan tercatat dengan presisi yang menakutkan. Kelahiran, pertumbuhan, bahkan detail sekecil setiap sel atau DNA dipantau oleh sistem yang mampu melacak keberadaan siapa pun, dari bayi yang baru menangis pertama hingga warga tertua sekalipun. Tidak ada satu pun yang luput dari radar, setiap langkah, setiap detil biologis terekam dan terprediksi.
Cakra Abiyoga berbeda. Nama, umur, jenis kelamin, bahkan DNA-nya tidak muncul di arsip mereka. Tidak ada jejak, tidak ada catatan. Sudah pasti, ia bukan bagian dari Porkah, dan jelas ia bukan manusia darat. Kehadirannya adalah anomali, sebuah ketidakpastian yang menantang setiap aturan dan teknologi yang selama ini mereka percayai. Untuk pertama kali, sebuah kehidupan muncul yang tidak bisa dilepas begitu saja. Melepaskannya bukanlah pilihan. Bahaya yang ia bawa lebih mengerikan daripada gelombang laut yang mematikan.
Mynhemeni berjalan menyusuri ruangan megah itu, dindingnya terbuat dari kristal cair yang menampilkan arus laut secara real-time, bergerak dan berkilau seperti kehidupan itu sendiri. Di balik kecanggihan itu, ia merasa geram pada dirinya sendiri. Sebagai analis terbaik, ia seharusnya menguasai setiap data, menembus setiap rahasia, tapi di hadapan ingatan seorang remaja laki-laki, ia merasa tidak berdaya.
"Kenapa kita tidak bekerja sama dengan Distrik Anap, Komandan?" suara Enuop memecah hening, lembut tapi penuh keyakinan. "Bukankah sebagai Distrik Hubungan Antar Spesies, mereka lebih berhak dalam menganalisis manusia darat?"
Mynhemeni menahan napas, menundukkan kepala sejenak. "Tidak mungkin. Ada spesies lain yang hidup di permukaan selama belasan tahun tanpa kita sadari. Jika Distrik lain mengetahuinya, kita tak tahu hukuman apa yang menanti. Pengasingan? Atau…," bibirnya terhenti, tak mau mengucapkan ancaman terburuk yang belum pernah terjadi. Ia menatap Enuop dengan serius. "Intinya, kita harus mengungkap identitas anak itu sendiri. Jika ia benar-benar anomali evolusi manusia darat, dan bukan ancaman bagi Bumi, kita selamat… dan dia bisa dikembalikan. Teliti dengan seksama. Perlahan, tapi pasti."
Enuop mengangguk, wajahnya menegang. "Nihil, Komandan. Data yang kami peroleh hanya dua tiga tahun lalu. Menurut Alpam, ingatannya tidak memberi kecurigaan sama sekali. Teknologi kita belum mampu menembus lebih jauh. Satu-satunya cara, seperti yang sudah saya katakan… Salnost harus kita jalankan padanya."
Mynhemeni berhenti, langkahnya membeku. Beban terasa berat di pundaknya. Ketua Distrik tidak menuntut hasil instan, tapi waktu tidak berpihak pada mereka. Jika Cakra benar-benar ancaman yang tertidur, setiap detik yang terbuang berarti risiko bagi seluruh Distrik Nor. Tidak. Seluruh bangsa Porkah.
Enuop menatapnya dengan lembut di balik wajah yang masih keras. "Komandan, Salnost adalah satu-satunya cara," desaknya. Mynhemeni membiarkan kata-kata itu bergema, kemudian menoleh, menatap mata bawahannya tanpa ekspresi. Tekadnya membeku. Tidak ada keraguan. Hanya tujuan yang jelas.
Dengan napas panjang dan langkah mantap, Mynhemeni melangkah menuju Sang Ketua, siap mempertaruhkan jabatan dan segalanya demi mengungkap identitas Cakra Abiyoga.
“Tidak ada, Komandan! Dia bersikeras bahwa dia manusia. Tapi coba perhatikan ini!” Enuop mengambil alih kontrol layar casvet lewat pikirannya. Ia memperbesar gambar lengan Cakra yang koyak terkena karang. “Terumbu karangnya pecah, itu satu hal. Tapi lihat ini... dia bernapas di dalam air. Paru-parunya tidak terisi cairan. Dan yang paling gila adalah ini!”
Ia mempercepat rekaman. Luka robek di sekujur tubuh Cakra, yang seharusnya membutuhkan puluhan jahitan dan waktu pemulihan berminggu-minggu, menutup di depan mata mereka. Sel-sel kulitnya beregenerasi dengan kecepatan yang menentang biologi. Dalam hitungan detik, kulitnya kembali mulus tanpa bekas luka sedikit pun.
“Dia bisa menyembuhkan diri sendiri dalam waktu yang sangat singkat tanpa bantuan medis apa pun!” serunya takjub. “Teknologi medis kita saja tidak secepat itu. Saya yakin dia adalah senjata biologis atau entitas dari luar, Komandan! Bagaimana... Bagaimana kalau dia....”
Mynhemeni terdiam. Pikirannya berputar seperti pusaran air. “Iya, saya paham itu.”
“Kalau begitu, kenapa kita tidak mengambil sampelnya saja, Komandan?” Enuop mendesak, suaranya melingking, nyaris menantang. “Salnost bisa menyelesaikan teka-teki ini dalam satu siklus.”
Maynhemeni tidak segera menjawab. Ia tahu apa yang dimaksud Enuop. Salnost bukan sekadar alat analisis. Itu adalah alat teknologi yang membaca hakikat biologis sebuah keberadaan. Saat diaktifkan, Salnost tidak menanyakan nama, rupa, atau identitas sosial. Tidak memberi jawaban apda siapa seseorang, atau apa mahluk tersebut. Ia menelusuri asal mula. Hukum alam yang melahirkan sebuah makhluk, serta batas-batas yang akan ia langgar jika dibiarkan hidup bebas.
Dengan kata lain, Salnost adalah proyeksi DNA yang dirancang untuk mengungkap dari mana sebuah mahluk berasal… dan seberapa besar risiko keberadaannya bagi dunia. Selama ini, Salnost hanya digunakan untuk keperluan pangan Distrik Nor, menjaga keseimbangan gizi bangsa Porkah, atau sesekali mengurai struktur biologis hewan dan tumbuhan daratan. Terhadap manusia darat, teknologi itu hanya pernah dipakai sekali. Peristiwa itu terjadi ribuan tahun lalu, dan tidak pernah diulang.
Wajah Mynhemeni mengeras. “Kamu lupa instruksi saya? Ketua Distrik melarang keras penggunaan Salnost pada subjek ini. Kita tidak tahu makhluk apa dia sebenarnya. Jika dia adalah senjata dari galaksi, atau bahkan dimensi lain, tubuhnya mungkin membawa detektor pelacak yang akan mengirimkan sinyal ke tempat asalnya! Satu-satunya yang bisa kita lakukan saat ini adalah memantau dan menginterogasinya secara psikologis.”
“Tapi, bagaimana kalau dia terus menutup mulut, apa langkah kita berikutnya?”
Mynhemeni menghembuskan napas, sebuah gerakan yang sangat langka bagi seorang komandan. “Untuk saat ini, belum ada jawaban. Ketua Distrik masih menimbang dampak diplomatik dan risikonya bagi keamanan." Ia menatap Enuop tajam. “Untuk saat ini, tugasmu jelas! Terus gali ingatannya. Temukan titik pecahnya.”
“Sudah saya coba, Komandan,” Enuop menyela, suaranya menegang. Terdengar frustrasi. Bibir tebalnya sampai harus terlipat. “Tapi ada sesuatu yang menahan kita. Seperti dinding api di dalam kepalanya.” Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan. “Saat Alpam mencoba menembus lebih jauh...”
Alpam, bukan teknologi sembarangan. Sistem itu dirancang untuk membaca ingatan makhluk biologis, versi lebih sederhana dari Salnost, dan tersebar di ruang pengadilan, kantor keamanan, hingga pusat pemerintahan Kerajaan Porkah. Sepanjang keberadaan mereka di Bumi, Alpam hampir tak pernah digunakan. Tak lebih dari sepuluh kali dalam tuju puluh ribu tahun.
“Menekan lebih ke dalam ingatannya,” lanjut Enuop, “dia, secara sadar atau tidak, menghalangi akses Alpam. Seolah ada sistem pertahanan saraf yang aktif saat dia terpojok.” Enuop mengangkat pandangannya. “Itu bukti tambahan, Komandan. Dia bukan manusia Bumi.”
“Jangan sampai kita lengah,” suara Mynhemeni tiba-tiba meninggi, bukan kepada pria sangar itu, melainkan lebih kepada dirinya sendiri. “Jangan sampai rasa penasaran kita membuat planet ini hancur seperti tempat asal kita puluhan ribu tahun yang lalu.” Kalimat itu menggantung berat di molekul lautan. Tragedi masa lalu bangsa Porkah adalah luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Mynhemeni berbalik, langkah kakinya tidak bersuara di atas lantai futuristik itu. Pikirannya melayang pada kehebohan yang terjadi di kantor Keamanan Manusia Darat saat Letnan Rihum membawa Cakra masuk. Seorang remaja yang masih bernyawa setelah dihantam arus Parangtritis yang mematikan adalah keajaiban, seorang remaja yang menghancurkan karang dengan tubuhnya adalah ancaman.
Ketua Distrik Nor, pemimpin tertinggi sekaligus kepala pemerintahan, segera mengambil alih kasus ini. Ia memerintahkan agar Cakra dibawa ke Gedung Pusat Pemerintahan dan ditempatkan di penjara bawah tanah paling rahasia, tentu dengan teknologi Alpam di dalamnya. Tak ada tempat yang lebih aman di bawah samudera ini selain tempat di mana Sang Ketua berada.
Kabar tentang Cakra dikunci rapat-rapat. Kantor Keamanan Manusia Darat, yang biasanya menangani evakuasi warga permukaan, diperintahkan untuk tutup mulut di bawah ancaman hukuman pelepasan jiwa. Saat ini, hanya segelintir orang yang tahu mengenai Cakra, Letnan Rihum dan tim kecilnya, serta tim analis pimpinan Mynhemeni.
Sejatinya, bangsa Porkah adalah bangsa yang sangat dermawan. Mereka kerap muncul entah dari mana untuk menyelamatkan manusia darat yang terseret ombak, membawa mereka kembali ke permukaan dengan hati-hati. Jika manusia itu masih hidup, mereka disembuhkan dan dikembalikan ke daratan seolah tak ada yang terjadi, agar tak ada seorang pun yang curiga. Jika nyawa itu telah pergi, jasadnya tetap dikembalikan. Namun, jika tubuh itu hancur atau terpecah-pecah, tangan-tangan terampil Porkah akan menyusunnya kembali, potongan demi potongan, hingga cukup utuh untuk ditemukan oleh tim SAR manusia.
Tentu saja, tidak semua orang yang hanyut bisa mereka selamatkan. Selama korban belum terlihat oleh manusia darat lainnya, maka mereka merasa itulah tanggung jawab mereka. Tetapi semuanya hanya terjadi jika seorang anggota patroli kebetulan menyaksikan kejadian itu. Porkah tidak memasang detektor atau alat pengintai. Mereka tidak mencari bahaya, mereka menunggu untuk menemukannya sendiri.
Bisa dikatakan, distrik-distrik Porkah yang tersebar di seluruh lautan Bumi bertindak sebagai penjaga tak terlihat bagi mereka yang tinggal di permukaan. Persis seperti yang mereka lakukan untuk teman-teman Cakra. Berkat bantuan senyap dari patroli Porkah, Victor dan Dito kini berada di tangan tim medis manusia di permukaan, aman tanpa menyadari siapa yang telah membantu mereka.
Namun Cakra adalah pengecualian, sebuah bahaya yang tak bisa mereka lepaskan. Di Porkah, setiap kehidupan tercatat dengan presisi yang menakutkan. Kelahiran, pertumbuhan, bahkan detail sekecil setiap sel atau DNA dipantau oleh sistem yang mampu melacak keberadaan siapa pun, dari bayi yang baru menangis pertama hingga warga tertua sekalipun. Tidak ada satu pun yang luput dari radar, setiap langkah, setiap detil biologis terekam dan terprediksi.
Cakra Abiyoga berbeda. Nama, umur, jenis kelamin, bahkan DNA-nya tidak muncul di arsip mereka. Tidak ada jejak, tidak ada catatan. Sudah pasti, ia bukan bagian dari Porkah, dan jelas ia bukan manusia darat. Kehadirannya adalah anomali, sebuah ketidakpastian yang menantang setiap aturan dan teknologi yang selama ini mereka percayai. Untuk pertama kali, sebuah kehidupan muncul yang tidak bisa dilepas begitu saja. Melepaskannya bukanlah pilihan. Bahaya yang ia bawa lebih mengerikan daripada gelombang laut yang mematikan.
Mynhemeni berjalan menyusuri ruangan megah itu, dindingnya terbuat dari kristal cair yang menampilkan arus laut secara real-time, bergerak dan berkilau seperti kehidupan itu sendiri. Di balik kecanggihan itu, ia merasa geram pada dirinya sendiri. Sebagai analis terbaik, ia seharusnya menguasai setiap data, menembus setiap rahasia, tapi di hadapan ingatan seorang remaja laki-laki, ia merasa tidak berdaya.
"Kenapa kita tidak bekerja sama dengan Distrik Anap, Komandan?" suara Enuop memecah hening, lembut tapi penuh keyakinan. "Bukankah sebagai Distrik Hubungan Antar Spesies, mereka lebih berhak dalam menganalisis manusia darat?"
Mynhemeni menahan napas, menundukkan kepala sejenak. "Tidak mungkin. Ada spesies lain yang hidup di permukaan selama belasan tahun tanpa kita sadari. Jika Distrik lain mengetahuinya, kita tak tahu hukuman apa yang menanti. Pengasingan? Atau…," bibirnya terhenti, tak mau mengucapkan ancaman terburuk yang belum pernah terjadi. Ia menatap Enuop dengan serius. "Intinya, kita harus mengungkap identitas anak itu sendiri. Jika ia benar-benar anomali evolusi manusia darat, dan bukan ancaman bagi Bumi, kita selamat… dan dia bisa dikembalikan. Teliti dengan seksama. Perlahan, tapi pasti."
Enuop mengangguk, wajahnya menegang. "Nihil, Komandan. Data yang kami peroleh hanya dua tiga tahun lalu. Menurut Alpam, ingatannya tidak memberi kecurigaan sama sekali. Teknologi kita belum mampu menembus lebih jauh. Satu-satunya cara, seperti yang sudah saya katakan… Salnost harus kita jalankan padanya."
Mynhemeni berhenti, langkahnya membeku. Beban terasa berat di pundaknya. Ketua Distrik tidak menuntut hasil instan, tapi waktu tidak berpihak pada mereka. Jika Cakra benar-benar ancaman yang tertidur, setiap detik yang terbuang berarti risiko bagi seluruh Distrik Nor. Tidak. Seluruh bangsa Porkah.
Enuop menatapnya dengan lembut di balik wajah yang masih keras. "Komandan, Salnost adalah satu-satunya cara," desaknya. Mynhemeni membiarkan kata-kata itu bergema, kemudian menoleh, menatap mata bawahannya tanpa ekspresi. Tekadnya membeku. Tidak ada keraguan. Hanya tujuan yang jelas.
Dengan napas panjang dan langkah mantap, Mynhemeni melangkah menuju Sang Ketua, siap mempertaruhkan jabatan dan segalanya demi mengungkap identitas Cakra Abiyoga.
Other Stories
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...