Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
14
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Sepuluh - Menyelam Dalam Ingatan

“Sayang... bangun yuk!”

Sebuah gelombang sinyal getar merambat melalui udara, mendobrak paksa benteng pertahanan organ dengar Cakra. Saraf-saraf halus yang tertanam di dalam telinganya seketika menangkap stimulus frekuensi tersebut, mengalirkan data suara langsung ke pusat kesadaran otaknya. Dalam hitungan milidetik, sinapsisnya menarik kesimpulan. Itu adalah suara wanita dengan tingkat ambitus rendah pada nada F. Suara yang begitu akrab, begitu hangat, dan begitu dirindukan. Suara Bunda.

Kelopak mata Cakra bekerja layaknya pintu otomatis yang mengalami malfungsi, silih berganti membuka dan menutup dalam jeda waktu sepersekian detik. Pandangannya buram, seolah lensa matanya tertutup kabut tipis. Samar, ia menangkap siluet kontur tubuh bundanya yang berdiri di tengah pendaran cahaya yang tak pasti. Ia berupaya keras, memaksakan setiap jengkal kesadarannya untuk bangkit dari kegelapan yang tadinya memeluknya erat.

Garis kerutan pada kelopak dan pucuk matanya muncul dan menghilang, sebuah perjuangan fisik untuk menolak rasa lelah yang masih ingin menyeretnya kembali ke alam bawah sadar. Usahanya membuahkan hasil. Seiring dengan terbukanya kelopak mata secara penuh, seberkas cahaya menyilaukan menyerang penglihatannya, menciptakan hambatan sensorik baru yang perih. Cakra mengangkat tangan kirinya dengan gerakan kaku, mengucek-ucek matanya secara bergantian, sementara tangan kanannya bertumpu pada permukaan lembut di bawahnya, berusaha mendorong tubuhnya untuk bangkit.

Ia tahu rutinitas ini. Semua orang melakukannya untuk menajamkan fokus lensa mata agar dapat bekerja maksimal. Toh, Cakra tidak punya riwayat penyakit mata. Ia selalu bangga dengan penglihatan tajamnya yang sering ia gunakan untuk membedah rumus fisika di papan tulis. Kini, setelah kabut itu sirna, ia dapat melihat dengan jelas. Di depannya terpampang wajah bundanya dalam ukuran close-up.

Wanita itu telah memasuki usia kepala empat, namun gurat kecantikannya masih bertahan dengan anggun. Wajah ovalnya, dengan pipi yang sedikit mengembang, tampak semakin berseri saat melihat Cakra mulai terjaga. Bibirnya yang tebal menggariskan senyuman tulus. Sebuah ekspresi kasih sayang yang begitu jujur hingga membuat dada Cakra terasa sesak. Dari hidung kecilnya yang lancip, terdengar desahan lembut syukur seiring udara yang keluar dari nasal vestibule-nya.

Bunda duduk di celah kecil pada pinggiran ranjang. Pinggulnya mencoba mengambil ruang lebih agar dapat menopang tubuhnya tanpa membuat ranjang itu bergoyang terlalu hebat. Ia sesekali membetulkan posisinya yang kurang nyaman, namun matanya tetap fokus pada satu misi suci pagi itu. Membangunkan sang putra mahkota.

Cakra bergerak menaikkan badannya, meski tangan kanannya terasa sedikit kaku, seolah-olah ia baru saja terbangun dari tidur yang berlangsung selama berabad-abad. Ia menggeser posisinya agar Bunda bisa duduk lebih nyaman di sisi ranjangnya yang empuk.

“Yuk, nanti kamu terlambat!” suara Bunda kembali terdengar, kali ini lebih nyaring dan bersemangat. Ia kemudian beranjak, melangkah pergi meninggalkan Cakra yang masih mematung dalam keheranan yang luar biasa.

“Ini di mana, Bun? Nanti terlambat untuk apa?” tanya Cakra. Suaranya terdengar asing bagi telinganya sendiri. Lebih muda, lebih ringan, tanpa beban kegelapan yang baru saja ia alami.

Pandangannya mengikuti gerakan Bunda yang melangkah menuju lorong di sebelah kiri, sekitar tiga meter dari ranjangnya. Lorong itu berukuran cukup lebar, mungkin empat meter, cukup untuk dua orang berjalan bersisian. Lorong itu membentang sejauh tujuh meter, berakhir pada dua daun pintu besar layaknya pintu utama sebuah penthouse. Di sisi kanan dan kiri lorong, terdapat kusen tanpa pintu. Cakra tahu betul peta ruangan ini. Di balik kusen kanan adalah kamar mandi mewah tempat ia membersihkan diri, dan di balik kusen kiri adalah ruang walk-in closet tempat segala perlengkapan sekolahnya tersimpan rapi.

Cakra belum sepenuhnya menyadari keanehan ini. Awalnya, ia merasa asing dengan panorama mewah di sekelilingnya. Namun, saat neuron di otaknya mulai memindai objek-objek tersebut, memori lama mulai berdatangan seperti air bah.

Ia melihat jam besar berdiameter lima meter yang tertempel di dinding lorong. Jam itu adalah karya seni kustom. Angka-angkanya digantikan oleh ukiran tokoh Marvel favoritnya, dengan jarum jam berbentuk pedang dan anak panah. Jam itu berdiri di antara dua lemari kaca setinggi tiga meter yang menyentuh langit-langit kamar. Lemari pertama di pojok penuh dengan deretan action figure anime Jepang yang ia koleksi dengan susah payah. Lemari kedua, di dekat lorong, berisi jajaran pahlawan super Hollywood.

Ia menoleh ke kiri. Di sana tergantung tumpukan foto masa kecilnya hingga remaja. Di bawahnya, sebuah meja belajar besar berdiri megah dengan dua rak melayang tanpa tiang berisi buku-buku pelajaran. Di hadapannya, menggantikan dinding kamar, terdapat set lemari buku raksasa dengan televisi layar datar di tengahnya. Buku-buku itu tersusun begitu padat hingga seekor cicak pun harus berjuang keras untuk menyelinap masuk.

Di sisi kanan, sofa-sofa berwarna gading redup tertata rapi. Di belakangnya, dinding kaca yang tertutup tirai tipis menyuguhkan pemandangan taman hijau dan kolam renang pribadi berukuran lima kali dua belas meter yang airnya memantulkan cahaya biru langit.

Cakra terpaku. Rasanya mustahil. Sedetik lalu, ingatannya masih merekam rasa dingin rantai besi yang membelenggu kaki dan tangannya di sebuah penjara bawah air yang futuristik. Dan sekarang? Ia terbangun di kamar megahnya, di masa lalu yang seharusnya sudah lewat. Bibirnya bergerak tanpa sadar, membentuk senyuman tipis di wajah tampannya. Apakah semua kengerian di Distrik Nor itu hanyalah mimpi buruk yang sangat panjang?

“Lho, kok kamu masih di atas kasur? Mandi sana!”

Suara Bunda kembali memecah lamunannya. Wanita itu kini berdiri di ujung lorong, membawa seragam dan perlengkapan sekolah yang baru saja diambilnya dari ruang penyimpanan. Ia tampak sedikit kerepotan membawa beban itu sambil melangkah menghampiri Cakra.

“Kok Cakra di sini, Bun?” tanya Cakra, masih terpaku, enggan beranjak seolah takut jika ia bergerak, dunia ini akan hancur seperti gelembung sabun.

“Kamu lupa kita sudah tiga hari di Jakarta? Hari ini hari pertama kamu sekolah, lho... Makanya buruan mandi terus siap-siap,” ujar Bunda sambil meletakkan seragam itu di atas ranjang.

Cakra melirik seragam putih-abu yang bersih dan kaku itu. “Cakra kan sudah lulus sekolah, Bun... Masa Bunda lupa!”

Bunda tertawa kecil, suara yang paling merdu yang pernah Cakra dengar. “Kamu lulus pertengahan tahun lalu, sayang... dan itu lulus SMP. Sekarang kamu sudah kelas satu SMA. Ingat kan, kita pindah setelah kamu selesai ujian semester satu SMA di luar negeri? Terus semester dua ini kamu harus mulai sekolah di Jakarta. Kamu masih jetlag ya? Padahal kita sudah tiga hari di sini. Kamu nggak apa-apa kan?”

Bunda menempelkan punggung tangannya ke dahi Cakra dengan raut khawatir. Cakra mengernyitkan dahi. Ia mencoba memutar memorinya. Ia yakin masa SMA-nya sudah berlalu. Ia ingat momen kelulusannya beberapa minggu lalu. Tapi saat ia mencoba memprotes, sebuah sensasi aneh menghantamnya.

Tiba-tiba, Cakra merasakan tubuhnya seperti ditarik oleh arus ombak raksasa yang sama dengan yang menyeretnya di pantai selatan. Ruang dan waktu di sekelilingnya terpelintir. Kamar megahnya mencair, warna-warna dinding gadingnya memudar menjadi pusaran cahaya yang pusing. Sedetik kemudian, ia tidak lagi berada di ranjang.

Ia berdiri tegak di hadapan dua belas pasang mata yang memandangnya dengan berbagai ekspresi. Penasaran, sinis, dan acuh tak acuh.

Cakra tersentak. Ia mengenali perasaan ini. Perasaan cemas bercampur gairah yang ia rasakan dua setengah tahun lalu saat ayahnya memindahkan mereka dari Zagreb, Kroasia, ke Jakarta. Ini adalah hari pertamanya sebagai murid pindahan di SMA Berbudi Pekerti.

Cakra berdiri membeku di depan kelas. Gurunya menatapnya dengan sabar namun mulai tampak cemas, mungkin mengira murid baru dari luar negeri ini bisu atau tidak bisa berbahasa Indonesia. Cakra ingin berteriak, “Ada apa sebenarnya ini? Apa yang terjadi dengan Distrik Nor?” namun yang keluar dari mulutnya justru kalimat otomatis yang tersimpan di memorinya.

“Selamat pagi, nama saya Cakra Abiyoga. Semoga kita bisa menjadi teman baik.”

Saat itulah, sebuah kesadaran dingin merayap di punggungnya. Ia tidak sedang kembali ke masa lalu. Ia sedang menyelam dalam ingatannya sendiri. Ini bukan perjalanan waktu. Ini adalah kilas balik yang dipaksakan. Mungkin inilah yang terjadi saat seseorang mati atau berada di ambang kematian. Otak memaksanya melihat kembali film sejarah hidupnya sebagai bentuk penghakiman atau refleksi terakhir.

Cakra memutuskan untuk berhenti melawan. Jika ini memang akhir, tidak ada salahnya menikmati kembali kenangan indah di sekolah ini. Tempat di mana ia menemukan sahabat sejati dan merasakan getaran cinta pertama yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Ia berjalan menuju tempat duduknya yang telah ditentukan. Meja kedua di barisan tengah. Kelas itu sangat eksklusif. Hanya ada tiga baris bangku dengan empat meja di setiap barisnya. Setiap murid memiliki meja sendiri yang ukurannya pas dengan tubuh, lengkap dengan celah di bawahnya untuk menyimpan tas. Bangkunya terasa empuk dengan alas busa tipis dan sandaran yang melengkung mengikuti tulang belakang. Sebuah kemewahan yang memastikan tidak akan ada siswa yang mengeluh sakit punggung saat mendengarkan pelajaran sejarah yang membosankan.

Cakra mendaratkan tubuhnya di bangku itu. Ia menoleh ke sebelah kiri. Di sana, seorang remaja perempuan sedang menunduk, menatap ujung sepatunya dengan tekun, seolah-olah ada jawaban ujian di sana.

“Hai, gue Cakra... Semoga kita bisa jadi teman!” ucap Cakra dengan nada ramah yang sedikit dipaksakan.

Responnya? Hening. Gadis cantik itu tetap membisu, tidak memberikan reaksi apa pun selain terus menatap kakinya yang jenjang dalam balutan kaos kaki putih. Cakra mengingat momen ini dengan sangat detail. Hatinya tersenyum getir. Inilah detik pertama ia jatuh cinta pada gadis itu. Detik di mana kebisuan sang gadis justru menjadi tantangan bagi egonya yang setinggi langit.

Cakra baru saja akan mengulangi sapaannya dengan suara yang lebih keras saat sebuah bisikan halus datang dari arah kanannya.

“Jangan ajak dia bicara, kalau nggak kamu bisa dibully sama Steven and the gang! Cewek itu pacarnya Steven.”

Cakra menoleh. Di sampingnya duduk seorang remaja laki-laki dengan ciri khas yang takkan pernah ia lupakan. Hidung yang sedikit besar dengan butiran bubuk putih. Mngkin bedak atau bekas obat luka, di ujungnya yang tampak membengkak. Remaja itu bicara dengan nada lirih, penuh kehati-hatian.

“Cuma Steven saja sih yang menganggap dia pacarnya, tapi tetap saja nggak ada yang berani ganggu dia, apalagi ganggu Steven!” lanjut anak itu dengan gaya sedikit mengejek, sebelum tiba-tiba terdiam ketakutan seolah baru saja menyadari bahwa kalimatnya bisa mendatangkan petaka.

“Steven siapa?” tanya Cakra, mengikuti naskah ingatannya.

Tapi di dalam batinnya, Cakra menjerit. Ia ingin sekali meraih kerah baju remaja laki-laki itu. "Dito... ini beneran kamu kan, To?" Melihat Dito yang masih hidup dan sehat di hadapannya, membuat Cakra ingin menangis. Ia ingin memeluk sahabatnya itu erat-erat dan berkata, “Dito, maafkan gue! Gara-gara kesombongan gue, lo jadi hanyut! Gue nggak tahu apa yang terjadi sekarang... apakah gue sedang dihukum di neraka atau ini adalah kesempatan kedua... tapi tolong, maafkan gue!”

Namun, Cakra tidak bisa mengubah alur ingatannya. Ia hanyalah penonton sekaligus aktor yang terjebak dalam skenario masa lalunya sendiri. Ia harus terus memainkan perannya sebagai Cakra yang sombong dan baru pindah ke sekolah Berbudi Pekerti, sementara di luar sana, di kedalaman tujuh ribu meter, tubuh aslinya mungkin sedang menjadi subjek pengejaran paling berbahaya di Distrik Nor.

Cakra menghela napas panjang dalam dunia memorinya. Ia tak sabar menunggu momen pertemuannya dengan Steven, bukan karena ia rindu bertengkar, tapi karena ia tahu, rentetan kejadian setelah ini adalah alasan mengapa ia belajar menghargai arti sebuah persahabatan.

Hal yang kini ia pertaruhkan di dunia nyata.

Other Stories
Melepasmu Dalam Senja

Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...

Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Cinta Harus Bahagia

Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...

Cinta Di Ujung Asa

Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...

Download Titik & Koma