Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
13
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Sembilan - Sang Ketua

Sang Ketua Distrik Nor bertanya ke inti, suaranya tajam, seolah tak ada ruang bagi basa-basi di antara mereka. Ia mengisyaratkan agar Mynhemeni duduk di sofa panjang yang membentang di sisi meja kerja. Namun gadis itu memilih tetap berdiri di hadapan Sang Ketua Distrik Nor, yang sudah berada di depan sofa.

Begitu Thungsiruv menyentuh tempat duduknya, sofa itu bergerak menyambut. Permukaannya naik sedikit dari lantai, melengkung halus, seolah sepasang tangan tak terlihat menarik tubuh Sang Ketua agar duduk tanpa perlu usaha. Bentuknya menyesuaikan postur Thungsiruv dengan presisi tenang. Sebagaimana semua bangku, kursi, dan sofa di seluruh Kerajaan Porkah selalu melakukan hal yang sama bagi siapa pun yang hendak duduk. Kenyamanan itu adalah standar, bukan kemewahan. Sebuah janji diam-diam bahwa tubuh tak perlu berjuang hanya untuk beristirahat.

Namun, kenyamanan itu gagal menenangkan kegelisahan yang tetap terpahat jelas di wajah Thungsiruv.

Garis-garis tegang di sekitar matanya tak memudar. Tatapannya tetap waspada, seperti seseorang yang menunggu kabar buruk meski sudah tahu kabar itu akan datang. Pada titik tertentu, ia memilih menelan ketegangan itu dengan obat penenang.

Thungsiruv memiringkan kepalanya. Dari lipatan jas merah gelap berbentuk jubah, sebuah butiran kecil terlepas dan melesat masuk ke hidungnya. Dalam sekejap, ketenangan singkat merayapi pikirannya. Cukup untuk menahan dunia agar tak runtuh lebih cepat.

“Negatif, Ketua!” jawab Mynhemeni kaku.

Nada suaranya terkontrol. Terlalu terkontrol. Ia berdiri tegak meski telah dipersilakan duduk, punggungnya lurus, bahunya kokoh seperti dinding benteng. Namun ketegangan tetap menyelinap di sela-sela kata-katanya, tipis, hampir tak terdengar, tetapi cukup bagi Thungsiruv untuk menangkapnya.

“Dia tetap mengaku bahwa dia hanyalah remaja biasa, Ketua,” ujar Mynhemeni. Rahangnya mengeras sesaat sebelum ia melanjutkan. “Kami tidak dapat menelusuri ingatannya lebih jauh. Setiap upaya lanjutan selalu ditolak, seolah ada batas yang sengaja ditanam di sana.”

Ia menarik napas singkat.

“Kami hanya mampu mengorek memori saat ia terombang-ambing ombak dan menghantam karang. Selebihnya…” Pandangannya bertemu mata Thungsiruv. “…nihil. Seakan otaknya memiliki sistem pertahanan yang sadar sedang disusupi.”

Thungsiruv memicingkan mata.

Bibirnya terkatup rapat.

Gerakan kecil yang selalu muncul ketika tekanan mulai bekerja di dalam dirinya. Mynhemeni mengenal ekspresi itu. Ia telah melihatnya muncul saat Kirgals, istri Thungsiruv wafat, saat pusat melakukan inspeksi dadakan, saat teknologi pangan mengalami stagnansi, dan di saat misteri kehancuran Planet Porkah ratusan ribu tahun lalu belum juga diketahui hingga kini.

Namun kali ini, ekspresi itu terasa lebih berat. Lebih menekan. Tampak jelas, ancaman terhadap Bumi seakan segera terjadi lewat Cakra Abiyoga, remaja yang mereka tahan.

“Apa yang sebenarnya kamu lihat dari fragmen ingatan yang berhasil didapat lewat Alpam?” Suaranya akhirnya keluar, setelah lama menimbang. Walau bibirnya mengarah pada Mynhemeni, sorot matanya tampak kosong, seolah pikirannya telah lebih dulu berkelana ke tempat lain.

“Anak itu melihat Letnan yang sedang bertugas, Ketua!”

“Maksudnya?”

Thungsiruv menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke sofa. Furnitur itu kembali menyesuaikan diri, menopang punggungnya, menahan berat tubuhnya dengan lembut, nyaris meninabobokan. Namun matanya tak pernah lepas dari Mynhemeni. Menusuk. Menguliti.

Walau begitu, pikirannya justru sibuk merangkai berbagai skenario masa depan. Semua itu berpusat pada satu nama. Cakra Abiyoga. Seorang anak remaja manusia daratan yang kini terperangkap dalam jaring Alpam.

“Seperti yang Ketua tahu,” lanjut Mynhemeni, “selama ini kita selalu menyelamatkan manusia darat yang hanyut.” Ia melirik sekilas ke dinding bening samudera, seolah mengingat ribuan kasus serupa.

“Teknologi kita biasanya memicu otak mereka untuk melihat wujud yang mereka yakini sebagai mitos. Sosok yang terasa familiar bagi mereka.” Ia kembali menatap Thungsiruv. Pria itu hanya menatapnya, menunggu kelanjutan. “Di wilayah tempat anak itu hanyut, seharusnya dia melihat sosok wanita berpakaian hijau. Mereka memanggilnya Nyai Roro Kidul.”

Sebuah jeda tipis menyelinap. Ia ingin memastikan setiap kata jatuh dengan bobotnya masing-masing.

“Namun pada anak ini, proyeksi itu gagal total. Dia melihat kita dengan wujud asli, lengkap dengan peralatan kita.”

Hening merambat di ruangan.

“Coba Ketua perhatikan ini.”

Mynhemeni mengedipkan mata dua kali.

Gerakan kecil, nyaris tak kasatmata. Dari kornea matanya, dua titik cahaya putih melesat keluar, bergerak cepat di udara, bertabrakan di tengah ruangan, lalu meledak menjadi proyeksi hologram tiga dimensi. Proyeksi casvet melambung berbentuk bola pikiran seukuran semut kecil.

Seketika, ruang kerja Thungsiruv dipenuhi kilasan citra.

Ombak hitam menghantam karang. Langit kelabu terbelah petir. Tubuh seorang remaja terombang-ambing, terhempas, terlempar tanpa kendali. Suara air, gema benturan, dan detak panik bercampur menjadi satu kesan yang hampir terasa nyata.

“Lihat ini, Ketua.” Mynhemeni menunjuk ke arah siluet Letnan Rihum yang muncul dalam proyeksi, mengenakan helm patroli dan memegang tongkat senjata. “Dan saat anak itu menghantam karang... perhatikan!”

Adegan itu berulang, diperlambat.

Tubuh Cakra menghantam karang.

Dan karang itu, yang sekeras baja, yang dirancang alam untuk bertahan dari ribuan tahun tekanan samudera, hancur berkeping-keping.

Bukan retak.

Bukan runtuh perlahan.

Hancur.

Seolah tubuh remaja itu bukan daging dan tulang, melainkan proyektil hidup.

Thungsiruv terkesiap kecil.

Napasnya tersangkut di tenggorokan. Tangannya mencengkeram sofa, pada satu bagian yang muncul begitu saja. Furnitur itu tahu kapan tuannya membutuhkan sesuatu untuk digenggam. Jemarinya memucat.

Selama puluhan tahun hidupnya, ia tak pernah berhadapan dengan anomali. Yang ini bukan sekadar penyimpangan. Anak itu berada di luar statistik, di luar logika bangsa Porkah. Kecuali jika Cakra adalah bagian dari Raja Terdahulu.

Pikiran itu segera ia patahkan. Mustahil.

Jika benar demikian, sistem kependudukan bangsa pasti telah menangkap keberadaannya sejak tangisan pertamanya menggema di Bumi.

“Sepertinya kita tidak punya pilihan lain, Ketua,” bujuk Mynhemeni, suaranya sedikit mendesak. Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan itu, nada militernya retak. “Anak itu keras kepala. Kita harus mengambil sampel biologisnya untuk memastikan siapa dia sebenarnya. Kita harus menggunakan Salnost!”

“Tidak!”

Suara Thungsiruv menggelegar.

Getarannya memantul di dinding, merambat ke langit-langit, lalu jatuh kembali ke lantai seperti palu tak terlihat. Bahkan proyeksi hologram casvet langsung menyusut seketika, kembali menjadi bola pikiran Mynhemeni dan melesat cepat ke dalam kepalanya, seolah sistem ruangan itu sendiri ikut merasakan ancaman yang baru saja dilepaskan.

“Terlalu berisiko,” kata Thungsiruv, menurunkan suaranya hingga nyaris berbisik. Ia bangkit berdiri, dan tanpa sadar Mynhemeni mundur beberapa langkah. “Kita tak tahu anomali apa yang akan muncul saat materi genetiknya bersentuhan dengan teknologi proyektor DNA kita.”

Ia berjalan cepat, langkahnya memotong ruang, memunggungi Mynhemeni.

“Jika kecurigaan kita benar bahwa dia berasal dari planet lain…”

Langkahnya terhenti.

“Atau lebih buruk lagi...”

Ia berbalik tajam.

“Jika dia berasal dari entitas tak terdeteksi yang dulu menghancurkan dunia asal kita…”

Suaranya mengeras.

“Maka bisa dipastikan, Bumi hanya akan menjadi serpihan debu yang mengapung di antariksa.”

“Tapi Ketua, itu satu-satunya jalan!”

“Tidak ada tapi-tapian!”

Thungsiruv membuang muka, emosinya akhirnya menembus lapisan kendali yang selama ini ia rawat dengan susah payah. Tangannya terkepal di belakang punggung saat ia mulai berjalan memutari meja kerja, langkahnya cepat, nyaris liar.

“Kita tidak tahu detektor macam apa yang tertanam di sel-selnya. Jika pengambilan sampel itu memicu sinyal bahaya bagi koloninya, maka tamatlah riwayat Bumi! Tidak akan ada yang selamat!”

Ia berhenti. Menatap samudera di luar jendela bening itu.

Makhluk-makhluk laut melintas perlahan di kejauhan, tak menyadari betapa dekatnya dunia mereka dengan kemungkinan kehancuran. Cahaya kota bawah laut berpendar tenang, kontras dengan badai yang mengamuk di pikiran Thungsiruv.

“Selama ini,” ucapnya lebih pelan, “kita sudah cukup berisiko membiarkan makhluk dengan potensi seperti itu berada di daratan Bumi yang menjadi wilayah distrik kita.”

Ia menelan ludah.

“Jika Baginda Raja di Pusat mengetahui ada entitas asing yang tidak terdeteksi di wilayah kita, kita semua akan dihukum mati.”

Ia menggeleng pelan.

“Tidak! Hukuman mati terlalu ringan,” bisiknya. Suaranya merendah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan. “Baginda Raja pasti akan memvonis kita dengan hukuman pelepasan jiwa.”

Ia berpaling, menatap Mynhemeni.

Tatapan itu bukan lagi tatapan seorang atasan kepada bawahannya, melainkan seseorang yang berdiri di tepi jurang, memohon agar dunia tidak runtuh hari ini.

“Jadi, jangan gegabah,” lanjutnya. “Lakukan apa pun untuk mendapatkan jawaban darinya. Kita harus tahu dari mana dia berasal dan apa tujuannya menginjakkan kaki di planet ini.”

Nada suaranya mengeras kembali. “Jangan sampai tragedi puluhan ribu tahun lalu terulang kembali di sini!”

Matanya menyipit keras, nada suaranya mulai melunak. “Sekarang kembali ke posisimu."

Mynhemeni menegakkan tubuhnya.

"Lakukan apa pun untuk membuatnya bicara, kita harus menemukan jawaban pasti dari anak itu!" lanjutnya, walau melunak, otoritasnya tetap tegas.

"Tapi pastikan dia tetap hidup, dan tetap terkunci." Ia berhenti sejenak, seolah menimbang setiap kata berikutnya.

“Jangan biarkan satu pun divisi lain mencium keberadaannya. Terutama Pusat.”

Tatapannya mengeras.

“Dan satu hal lagi,” katanya pelan. “Jangan sentuh genetikanya.”

Ia mencondongkan badan sedikit ke depan.

“Tidak ada uji DNA.” Nada suaranya lirih, dan justru karena itu, mengintimidasi.

“Tidak ada Salnost.” Matanya menusuk tatapan Mynhemeni, kekuasaan mutlak tidak boleh ditolak.

Mynhemeni hanya berdiri terpaku. Kemudian ia menundukkan kepala dengan hormat. Gerakan yang bukan sekadar formalitas, melainkan sumpah diam-diam. Ia tahu apa arti perintah itu. Ia tahu harga kegagalan.

Tanpa menoleh lagi, ia berjalan menuju dinding kuning tempat ia masuk tadi.

Dinding itu bereaksi, membuka diri, memperlihatkan gelombang putih kebiruan yang berpendar lembut.

Ketika Mynhemeni melangkah.

BEEP! BEEP! BEEP!

Suara peringatan melengking tinggi, menusuk ruangan.

Langkah Mynhemeni terhenti di tengah gelombang.

“Apa itu?!” Thungsiruv tersentak.

Mynhemeni mengerjapkan mata cepat, mengaktifkan saluran komunikasi darurat, memunculkan Casvet. Di hadapan mereka, proyeksi casvet menghadirkan Enuop lewat hologram tiga dimensi. Analis bertubuh besar itu tampak kacau. Rambut hitam keritingnya menutupi hampir seluruh wajah. Napasnya tersengal, bahunya naik turun tak beraturan. Mata yang biasanya fokus kini membelalak ketakutan.

“Apa yang terjadi?!” teriak Mynhemeni.

“Maaf, Ketua... Maaf, Komandan...” suara Enuop bergetar. “Manusia darat yang kita kurung di Alpam... dia... dia tiba-tiba kabur!”

Ruangan itu membeku.

Tak ada yang bergerak.

Tak ada yang berbicara.

Cakra Abiyoga, makhluk yang berpotensi menghancurkan peradaban di Bumi. Kini lepas di dalam labirin Distrik Nor.

Other Stories
November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Percobaan

percobaan ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Download Titik & Koma