Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.7K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 13 - Sang Kepala Sekolah

Cakra dan lima remaja lainnya kini duduk berhadap-hadapan di atas sofa ruang kantor kepala sekolah SMA Berbudi Pekerti. Ruangan itu tidak luas, mungkin hanya sekitar empat kali lima meter. Ukuran yang ironisnya sama persis dengan ruang penyimpanan pakaian di kamar megah Cakra. Di tempat sesempit ini, ego manusia biasanya akan saling berbenturan hingga pecah.

Cakra menarik sudut bibirnya, sebuah senyum geli yang tak tertahankan. Ia melihat Steven dan antek-anteknya duduk berdesakan di atas satu sofa yang sebenarnya hanya dirancang untuk empat orang dewasa. Mereka bersikukuh menempel satu sama lain, menciptakan pemandangan yang menyedihkan sekaligus konyol. Sementara itu, Cakra duduk di sofa seberang dengan ukuran yang sama, sendirian, lega, dan menguasai ruangannya sendiri.

Ia tak mengerti jalan pikiran mereka. Entah mengapa rasa gengsi yang rapuh dapat mengalahkan kenyamanan fisik yang mendasar. Padahal, saat mereka baru masuk tadi, Cakra sempat menawarkan dengan sopan agar sebagian dari mereka duduk di sisinya. Namun, tawaran itu dibalas dengan tatapan jijik. Victor bahkan sempat mengancamnya dengan kepalan tangan yang gemetar karena amarah.

Dalam hati, Cakra yang asli, yang sedang menyelam dalam ingatan ini, berusaha melawan alur adegan. Ia ingin sekali berteriak, bangkit, dan memeluk Victor. Di masa depannya, Victor adalah sahabat yang ikut hanyut bersamanya saat mereka menantang penguasa Pantai Selatan. Ia baru menyadari sekarang bahwa bibit kesetiaan Victor sudah ada sejak dulu, meski saat ini diarahkan pada orang yang salah. Ada dorongan kuat dalam kesadaran Cakra untuk membelokkan memori ini, untuk berpindah ke adegan saat ia dan Victor mulai akrab.

Namun, hukum ingatan tidak bisa dinegosiasikan. Usahanya sia-sia.

Cakra tetap terjebak dalam tubuh remajanya, duduk berhadapan dengan musuh-musuhnya dengan tatapan geli yang sama seperti yang ia lakukan bertahun-tahun lalu.

“Aneh... kenapa sering sekali CCTV mati ya? Apalagi di saat-saat krusial seperti ini!” gumam Andi, sang kepala sekolah. Suaranya kecil, sebuah keluhan retoris yang ditujukan pada layar monitor di mejanya, namun masih cukup tajam untuk tertangkap oleh telinga Cakra.

Steven tersenyum tipis. Sebuah senyuman kemenangan yang kotor. Cakra tahu betul apa yang ada di balik senyum itu. Steven sudah merencanakan pemadaman ini.

Andi beranjak dari meja kerjanya. Laporan dari ruang kontrol baru saja masuk. CCTV di area kantin sedang dalam perbaikan berkala. Pria itu tidak menaruh curiga. Mungkin ia terlalu lelah, atau mungkin ia sudah terbiasa dengan kebetulan-kebetulan aneh yang selalu melibatkan Steven. Baginya, teknologi pengamat itu hanyalah hiasan dinding yang mahal dan tidak bisa diandalkan.

“Jadi... apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Andi sambil menyandarkan tubuh tambunnya pada sebuah sofa kecil di tengah, menciptakan segitiga posisi di antara mereka. Jaraknya tak sampai lima puluh sentimeter dari lutut Steven dan Cakra.

Keheningan jatuh seberat timah begitu sang kepala sekolah mendarat di takhtanya. Andi menoleh ke arah kelompok Steven, lalu ke arah Cakra, mencari kebenaran dalam pupil mata mereka yang masih memancarkan adrenalin sisa perkelahian.

“Kamu anak baru, kan? Nak Cakra? Kenapa bisa ada kejadian memalukan seperti ini di hari-hari awalmu?” tanya Andi, matanya tertuju pada Cakra.

Cakra mengatur napasnya, suaranya keluar dengan ketenangan yang mengintimidasi.

“Dia tiba-tiba menjegal kaki saya, Pak, sampai saya jatuh dan makanan saya tumpah. Bukannya minta maaf, dia malah mengejek saya. Saat saya mau pergi, saya malah dipukuli. Ya saya melawan... Self-defense, Pak. Tindakan defensif tidak bisa dihukum, bahkan oleh pengadilan internasional sekalipun.” Cakra menunjuk Steven dengan jari telunjuknya yang stabil.

Tatapan mereka bertemu di udara.

Ada arus kebencian yang mendidih di mata Steven, sementara Cakra hanya membalasnya dengan kekosongan yang dingin. Baginya, Steven hanyalah variabel gangguan dalam sebuah persamaan fisika.

“Nggak, Pak! Saya nggak mungkin melakukan hal serendah itu! Andi tahu sendiri kan, selama ini saya tidak pernah punya catatan kekerasan!” bela Steven menggebu-gebu. Ia menggunakan seluruh modal reputasinya yang telah dibangun bertahun-tahun di sekolah itu. Ia yakin, seorang narapidana baru di matanya tidak akan bisa menumbangkan murid teladan dalam satu kali sidang.

Andi beralih ke kelompok Steven. “Kalian bagaimana? Apa yang kalian lihat?”

“Iya, Pak! Dia yang mulai duluan!” Victor menyahut cepat, suaranya serak.

“Steven tadi nggak sengaja menyenggol dia, dan Steven sudah minta maaf. Tapi dia nggak terima. Dia langsung memukuli Steven. Kami nggak terima teman kami dianiaya, jadi kami mencoba melerai. Eh, malah dia memukuli kami juga, Pak! Jadi ya kami balas memukul. Self-defense, Pak!” Victor menekankan kata self-defense dengan nada mengejek yang kental, diikuti cekikikan pelan dari Steven dan yang lainnya.

Cakra yang sedang menonton ingatan ini di masa depan tidak percaya betapa piciknya Victor dulu. Ia membandingkan Victor yang ini dengan Victor yang ia kenal sebagai sahabat. Victor yang objektif, yang berani menegur Cakra jika salah, yang tidak buta akan solidaritas. Cakra sadar, dulu ia sendiri yang membentuk karakter sahabat-sahabatnya agar tidak pernah membelanya atas dasar setia kawan jika ia berbuat salah.

Bagi Cakra, solidaritas bukan berarti mendukung kerabat yang sedang merugikan orang lain. Itu namanya pengecut. Solidaritas adalah mengulurkan tangan saat seseorang jatuh, mempercayai potensi seseorang saat dunia meragukannya, dan saling membangun menjadi manusia yang lebih baik. Apa yang dilakukan Victor di ruangan ini hanyalah pemutarbalikan fakta yang menjijikkan.

Tepat saat Cakra ingin membela diri, terdengar ketukan keras dari pintu. Andi mempersilakan masuk. Sesosok pria tua bertubuh gemuk, petugas sekolah yang melerai mereka, muncul di ambang pintu.

“Pak... tidak ada siswa yang berani bersaksi dengan jelas. Semuanya bilang kejadiannya sangat cepat. Dan CCTV... benar-benar tidak bisa diharapkan, Pak. Mati total di area itu,” lapor pria tersebut tanpa berani melangkah lebih dalam ke ruangan.

“Baik kalau begitu, terima kasih,” sahut Andi lemas.

Pintu tertutup kembali. Andi menatap mereka dengan wajah letih, mencoba menawarkan jalan tengah yang dianggapnya paling bijaksana.

“Gimana kalau kalian berdamai saja? Bapak tidak akan menjatuhkan sanksi jika kalian bersedia bersalaman dan saling memaafkan sekarang. Bukankah dunia lebih indah jika kita punya lebih banyak teman daripada musuh?”

Cakra sebenarnya ingin menyetujui saran itu, tentu dengan syarat Steven mengakui kesalahannya. Namun, asanya kandas oleh teriakan lantang.

“Enggak bisa, Pak!” Steven berdiri, wajahnya merah padam.

Cakra heran. Apa sebenarnya yang memicu kebencian Steven yang begitu mendarah daging? Mereka belum pernah bertukar sejarah, belum pernah berdebat ideologi. Mengapa kebencian ini terasa begitu personal? Cakra sudah mencoba mengulurkan tangan persahabatan di awal, namun Steven justru memilih jalur peperangan.

“Dia salah, Pak! Dia harus dikeluarkan! Dia sudah mengganggu ketertiban dan merusak citra sekolah!” lanjut Steven.

Cakra spontan tertawa.

Tawa yang meledak begitu saja karena ia tak lagi sanggup menahan kemunafikan yang disuguhkan Steven.

“Nak Cakra? Kenapa malah tertawa?” tanya Andi bingung. Ia mulai ragu dengan kesehatan mental Cakra. Takut kalau pukulan Steven tadi mengenai saraf tawanya.

“Nggak apa-apa, Pak! Silakan lanjutkan!” ejek Cakra sambil mengayunkan tangannya, memberikan panggung bagi Steven untuk terus menghancurkan dirinya sendiri dengan argumen yang konyol.

“Saya sudah telepon Papa saya, Pak! Kalau Pak Andi tidak mau mengeluarkan dia, biar Papa saya yang turun tangan langsung! Atau... sekalian saya minta Papa saya untuk memecat Pak Andi karena tidak becus mengurus murid pindahan?” ancam Steven.

Wajah Andi seketika getir. Cakra menarik napas panjang. Ia merasa iba pada Steven. Anak ini sepertinya benar-benar tidak tahu bahwa ayahnya, Handoko, hanyalah seorang pegawai yayasan, bukan pemiliknya. Atau lebih parah lagi, mungkin Handoko yang telah mencuci otak anaknya sendiri agar merasa seperti pangeran di sekolah ini.

“Kenapa setiap ada masalah kecil kamu selalu membawa-bawa Papamu, Steven?” ucap Andi pelan, suaranya bergetar antara cemas dan muak.

“Masalah kecil?! Lihat badan saya, Pak! Saya babak belur karena dia!” Steven menunjuk wajahnya yang mulai membengkak kebiruan. Teman-temannya ikut memamerkan memar di lengan dan wajah mereka.

Andi kini terpaksa menaruh perhatian penuh. Penampilan Steven memang berantakan. Wajahnya penuh lebam biru meski tidak berdarah. Noda makanan di seragamnya, hasil dari terjatuh di atas baki Cakra, membuatnya tampak seperti gelandangan yang baru saja berkelahi.

Sebaliknya, Cakra terlihat masih sangat utuh. Selain noda makanan di seragamnya, tidak ada satu pun memar di kulitnya. Tidak ada sel atau plasma darah yang merembes keluar dari organ perabanya. Perbedaan fisik ini membuat Cakra terlihat seperti penjahat ulung yang tidak tersentuh.

“Nak Cakra... sepertinya kamu memang sedikit kelewatan. Saya sarankan kamu minta maaf pada Steven sekarang. Karena dari apa yang Bapak lihat... bukti fisik lebih mendukung pernyataan Steven,” ucap Andi dengan nada menyesal.

Steven tersenyum puas. Bendera kemenangan imajiner tampak berkibar di atas kepalanya.

“Tapi Pak, kalau saya terbukti tidak bersalah, bagaimana?” tanya Cakra kalem.

“Ya kalau terbukti tidak bersalah, berarti apa yang dibilang Steven itu fitnah. Terserah kamu mau memaafkan atau membawa ini ke jalur hukum,” sahut Andi, sebenarnya ia lebih condong mendukung Cakra karena ia tahu reputasi busuk Steven. Hanya saja, ia tak punya bukti. Selama bertahun-tahun ia mencoba menyelamatkan korban-korban Steven, namun baru satu yang gagal ia selamatkan. Ialah siswa yang dijebak dengan rokok dan kondom tempo hari.

“Maksudnya apa, Pak?! Jelas-jelas dia yang salah!” seru Steven tak terima.

“Oke, Pak. Saya punya bukti... dan buktinya adalah...”

Kalimat Cakra terputus secara brutal. Pintu ruangan kepala sekolah terbuka paksa dengan bantingan keras. Semua mata tertuju pada sumber kegaduhan.

Seorang pria paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun masuk dengan langkah-langkah berat yang menggetarkan lantai. Tubuhnya besar dengan perut buncit yang menonjol di balik kemeja mahalnya. Rambutnya hitam dengan beberapa helai uban yang mencuat. Ia terpaku sesaat melihat kondisi Steven yang acak-acakan.

Itu Handoko.

Pandangan pria itu menyapu ruangan, penuh api, dan berhenti tepat di wajah Cakra. Tanpa peringatan, ia melangkah maju dengan amarah yang meledak.

“Pak... sabar Pak... ini hanya masalah remaja!” Andi mencoba menengahi, namun tenaganya kalah jauh.

PLAAKKKK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Cakra. Suara hantaman kulit itu menggema di ruangan sempit tersebut. Steven tersenyum puas, sebuah kepuasan dendam yang terbayar lunas lewat tangan ayahnya.

Cakra memalingkan wajahnya kembali ke arah Handoko. Tatapannya bukan lagi tatapan geli, melainkan tatapan benci yang murni dan tajam. Pipinya panas, namun hatinya lebih panas lagi. Andi segera meraih tubuh Handoko, memaksanya duduk untuk menenangkan diri.

Keadaan di ruangan itu mendidih. Cakra mengepalkan tangannya. Sabarnya telah habis. Ia tidak lagi peduli pada penyelaman ingatan.

Di detik ini, ia ingin menghancurkan segalanya.


Other Stories
Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Lam Biru

Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Rei Kazama

Sebuah helm retak. Sebuah arwah yang tak bisa pergi. Dan seorang gadis yang bisa mendengar ...

Queen, The Last Dance

Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

Download Titik & Koma