Bab 15 - Adipramana
Tiga puluh menit berlalu. Waktu yang cukup bagi Cakra untuk menenangkan sisa-sisa kemarahan yang berdenyut di pelipisnya. Ia duduk sendirian di sofa kantor kepala sekolah, jemarinya menari malas di atas layar ponsel. Di luar, suara hiruk-pikuk sekolah mulai mereda, namun atmosfer di dalam ruangan ini terasa seperti udara sesaat sebelum badai besar melanda.
Tiba-tiba, pintu terbuka tanpa drama. Adipramana melangkah masuk, disusul oleh Andi yang mengekor di belakangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Campuran antara bingung, kagum, dan rasa kecil yang amat sangat. Cakra mendongak, matanya bertemu dengan mata ayahnya, dan sebuah senyuman kemenangan yang tipis namun tajam merekah di wajahnya.
“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?” Tanya Adipramana tenang. Ia menghampiri Cakra, menepuk bahu putranya sejenak, lalu duduk di sebelahnya. Kehadiran pria itu seketika membuat sofa yang tadinya terasa sempit bagi Steven kini terlihat seperti singgasana bagi Adipramana.
“Nggak apa-apa, Yah,” jawab Cakra, masih menyeringai.
Andi mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya. Kursi yang selama ini ia anggap sebagai takhta kekuasaannya, namun kini terasa seperti bangku plastik di depan pria di hadapannya. Ia berdeham, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawanya.
“Maaf... dengan Bapak siapa, kalau saya boleh tahu?” tanya Andi ragu.
“Adipramana,” jawab ayah Cakra singkat. Ia merentangkan tangannya, menawarkan jabat tangan yang mantap dan hangat ke arah Andi.
Andi menyambut tangan itu dengan telapak yang sedikit lembap karena keringat dingin. Entah mengapa, ia merasa jiwanya mendadak mengerdil. Beberapa menit lalu, saat ia keluar dari UKS, ia melihat sebuah mobil mewah meluncur masuk ke area sekolah. Jenis mobil yang hanya muncul di film-film atau halaman depan majalah ekonomi dunia. Mobil itu adalah potongan teknologi otomotif yang terlalu indah untuk jalanan Jakarta.
Awalnya, Pak Andi mengira orang di dalam mobil itu salah alamat atau mungkin sedang mencari petunjuk arah. Namun, keterkejutannya mencapai puncaknya saat pintu mobil terbuka. Ia mengharapkan sesosok pria dengan setelan jas seharga ribuan dolar, rambut klimis, dan sepatu yang bisa memantulkan cahaya bulan. Namun, yang keluar adalah seorang pria yang tampak sangat biasa.
Adipramana mengenakan sweater rajutan sederhana dengan kancing tarik pendek di bawah leher, celana kain yang jatuh tepat di atas lutut, dan hanya beralaskan sandal. Penampilannya adalah definisi dari quiet luxury. Kekayaan yang begitu besar sehingga pemiliknya tidak merasa perlu membuktikannya kepada siapa pun. Di usia empat puluh lima tahun, aura Adipramana tidak datang dari pakaiannya, melainkan dari cara dia bernapas, cara dia berdiri, dan tatapan matanya yang seolah-olah sudah melihat seluruh isi dunia.
“Oh iya, saya Andi. Kepala sekolah Cakra,” ucap Andi dengan suara yang sedikit bergetar. Ia lupa memperkenalkan diri saking terpesonanya.
“Begini, Pak Adipramana... Pak Handoko, ketua yayasan kami, meminta Bapak datang. Tapi beliau sedang mengantar putranya ke klinik. Khawatir akan ada cedera internal, katanya. Tadi saya sudah kabarkan kedatangan Bapak, dan beliau sudah dalam perjalanan kembali. Ternyata tidak ada luka serius pada anaknya.”
Adipramana mendengarkan dengan saksama, meski ekspresinya tetap datar.
“Kalau boleh tahu, anaknya Pak Handoko kenapa ya, Pak?” tanya Adipramana, suaranya mengandung nada ingin tahu yang sopan, meski ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
Cakra hanya tersenyum lebar saat ayahnya menoleh padanya.
“Kamu nggak keterlaluan kan, Dek?” tanya Adipramana dengan nada cemas yang dibungkus sedikit rasa bangga yang tersembunyi.
“Ya enggaklah, Yah... kan Pak Andi sudah bilang tadi kalau anaknya nggak kenapa-napa,” ucap Cakra enteng. Ia kembali menunduk ke ponselnya, menonton dokumenter tentang robotika molekuler. Baginya, melihat bagaimana partikel nano bekerja lebih menarik daripada mendengarkan dramatisasi Steven.
“Jadi Pak Adipramana sudah tahu kejadiannya?” tanya Andi.
“Belum sepenuhnya, Pak. Tapi saya tahu anak saya ini bisa menjadi sangat ekspresif jika dia diganggu atau diperlakukan semena-mena. Bisa Bapak jelaskan urutan peristiwanya?” Adipramana mengusap kepala Cakra dengan penuh kasih sayang, sebelum kemudian memberinya tepukan keras yang membuat Cakra cemberut.
Andi menarik napas dalam. Ia berusaha berbicara se-objektif mungkin. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa bahwa pria di depannya ini memiliki aura bos mafia yang sedang menyamar.
“Menurut versi Cakra, Steven, putra Pak Handoko, dengan sengaja membuat Cakra terjatuh. Setelah itu, bukannya meminta maaf, Steven justru menyerang Cakra secara fisik. Cakra membela diri... self-defense.” Andi menjeda kalimatnya, menatap Adipramana yang hanya mengangguk pelan.
“Sedangkan dari pihak Steven,” lanjut Andi.
"Dia mengaku tidak sengaja menyenggol Cakra. Katanya, dia sudah berniat meminta maaf, tapi Cakra langsung memukulinya secara membabi buta. Begitu laporannya, Pak.”
“Hmm. Menarik,” gumam Adipramana. Ia menatap Cakra, namun pertanyaannya diarahkan ke udara.
“Lalu bagaimana dengan CCTV-nya, Pak? Bukankah teknologi diciptakan untuk mengakhiri perdebatan seperti ini?” Pertanyaan itu terasa seperti jebakan.
Adipramana tahu Cakra telah memasang sistem pengintai pribadinya semalam. CCTV berteknologi tinggi dengan lensa resolusi super yang bisa menembus bayangan. Benda yang bahkan tidak akan disadari keberadaannya oleh teknisi tercanggih sekalipun.
Andi menghela napas panjang, bahunya merosot. “Itulah masalahnya, Pak Adipramana. Saya harus meminta maaf secara pribadi karena kelalaian ini. Sistem CCTV sekolah kami... entah bagaimana, sedang mengalami malfungsi tepat saat kejadian berlangsung. Kami tidak memiliki rekaman apa pun.”
Andi menunduk, merasa sangat bersalah. Ia yakin Cakra adalah pihak yang jujur, namun tanpa bukti rekaman, arogansi Handoko akan memenangkan argumen ini. Ia takut Cakra akan dikeluarkan, sama seperti murid berprestasi yang dijebak Steven bulan lalu.
“Oh... begitu ya? Ya sudah, tidak apa-apa, Pak Andi. Kita tunggu saja Pak Handoko. Dia sudah dihubungi, kan?” jawab Adipramana dengan ketenangan yang hampir tidak manusiawi.
Andi tertegun. Ia mengharapkan ledakan amarah atau ancaman somasi, namun pria di depannya ini justru terlihat seolah-olah sedang menunggu pesanan kopi.
BRAKK!
Pintu kantor terbuka paksa. Handoko masuk dengan langkah yang menggetarkan perabotan kayu di ruangan itu. Wajahnya penuh arogansi, dadanya membusung seolah ia sedang menginspeksi pasukan militer. Di belakangnya, Steven mengekor dengan gaya pincang yang didramatisir, matanya menatap Cakra dengan seringai puas yang memuakkan.
Andi segera berdiri untuk memperkenalkan Adipramana, namun Handoko mengabaikannya. Ia bahkan mendorong bahu Andi agar menyingkir dari jalannya, lalu menyerobot sofa kepala sekolah untuk mendaratkan tubuh tambunnya.
Adipramana melihat kejadian itu dengan mata yang menyipit. Rasa hormatnya pada pria tua itu menguap di detik itu juga.
Handoko kemudian menoleh ke arah Adipramana dengan tatapan tajam yang diniatkan untuk mengintimidasi. Ia sudah menyiapkan pidato tentang disiplin dan bagaimana mendidik anak agar tidak menjadi preman jalanan.
Namun, saat matanya bertemu dengan wajah Adipramana secara fokus, kata-katanya mendadak tersangkut di tenggorokan.
Wajah Handoko memucat. Ia mengeluarkan suara kecil yang mirip dengan bunyi ban kempis. Matanya membelalak, otot-otot wajahnya berkedut. Steven dan Andi membeku dalam kebingungan melihat reaksi tersebut.
“Pa-paak... Pak Adipramana?” suara Handoko pecah, berubah menjadi nada yang sangat tinggi. Ia segera beranjak dari sofa seolah-olah permukaannya baru saja berubah menjadi lava pijar. Tubuhnya yang besar itu membungkuk dalam-dalam dengan gerakan yang hampir membuat perutnya tertekuk sakit.
“Kok... kok bisa ada di sini, Pak?”
Cakra menutup ponselnya, menahan tawa yang meledak di dalam dadanya.
“Saya di sini karena disuruh oleh anak saya,” jawab Adipramana dingin. Ia tidak beranjak dari duduknya.
“Apa kabar, Pak Handoko? Sepertinya sudah terlalu lama kita tidak mengadakan pertemuan direksi.”
Steven terpaku di tempat. Seluruh dunianya serasa berputar terbalik. Ia menatap ayahnya yang kini terlihat seperti pelayan yang baru saja tertangkap mencuri perak tuannya.
“Nggak usah membungkuk begitu, Pak Handoko. Silakan duduk kembali,” ucap Adipramana, meski nadanya sama sekali tidak mempersilakan.
Handoko justru semakin panik. Ia bergeser ke samping, menunjuk sofanya.
“Nggak, Pak! Silakan Bapak yang duduk di sini! Saya... saya lebih nyaman berdiri.”
Andi kini menyadari segalanya. Ia merasakan gelombang realitas menghantamnya. Adipramana bukan sekadar orang kaya. Pria bersandalkan jepit ini adalah matahari di pusat tata surya perusahaan yang menaungi sekolah mereka. Andi menatap Cakra, yang kini menatapnya kembali dengan kedipan mata nakal.
“Jadi... Pak Adipramana adalah ayah dari...” Kalimat Handoko menggantung. Ia baru sadar ia bahkan belum tahu nama anak yang ia tampar tadi.
“Ayah dari Cakra,” Andi membisikkan nama itu dengan suara gemetar ke telinga Handoko.
“Ayah dari Cakra...” ulang Handoko pelan, suaranya mengandung nada ngeri.
“Iya,” sahut Adipramana.
“Saya sudah mendengar versi Cakra dan versi Steven. Steven baik-baik saja, kan? Saya minta maaf kalau putra saya sedikit... berlebihan. Jika Cakra terbukti bersalah, tolong jangan sungkan untuk menghukumnya. Keluarkan saja dia dari sekolah ini.”
Handoko menelan ludah dengan susah payah.
“Maaf, Pak Adipramana... saya... saya tadi panik. Begitu Steven menelepon sambil menangis, saya langsung datang dan tersulut emosi. Saya benar-benar minta maaf, tadi saya tanpa sadar sempat menampar Cakra sebelum mendengarkan akar permasalahannya.”
Atmosfer di ruangan itu seketika mendingin hingga ke titik beku. Adipramana, yang tadinya bersikap sportif, tiba-tiba berubah. Auranya berubah dari pria santai menjadi pemangsa puncak.
“Kamu menampar anak saya?” tanya Adipramana pelan. Sangat pelan, namun setiap katanya terasa seperti belati yang ditekan ke leher Handoko.
“Atas dasar apa kamu menampar anak saya?”
Andi merinding. Ia merasa sedang menyaksikan adegan dari film bos mafia yang sedang murka. Steven, yang sejak tadi mencoba bersikap tegar, kini mulai gemetar hebat. Nyalinya menciut hingga seukuran atom.
“Maafkan saya, Pak! Saya akui saya salah! Mohon ampuni saya kali ini saja!” Handoko merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, menggoyang-goyangkannya dengan gestur memohon yang sangat menyedihkan bagi pria seusianya.
“Kita bicarakan soal tamparan itu nanti,” ucap Adipramana dengan nada yang menjanjikan bencana.
“Sekarang yang terpenting adalah kebenaran. Steven, coba jelaskan kejadian di kantin tadi.” Adipramana menoleh pada Steven. Matanya hangat, bukan tatapan intimidatif.
Steven tersentak saat namanya dipanggil. Ia menatap ayahnya, mencari perlindungan, namun ia hanya menemukan wajah yang penuh ketakutan.
“Saya... saya...”
“Steven, ayo ceritakan! Jangan diam saja!” desak Handoko, suaranya serak karena panik.
Steven tetap membisu. Lidahnya terasa kelu. Andi akhirnya mengambil alih situasi agar pembicaraan tetap bergerak.
“Begini, Pak Handoko. Secara objektif, Cakra bilang Steven menyandungnya dengan sengaja. Sedangkan Steven bersikeras bahwa itu adalah ketidaksengajaan dan dia sudah minta maaf namun Cakra langsung menyerangnya. Begitulah inti permasalahannya,” jelas Andi.
“Apa betul begitu, Steven?” tanya Handoko dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya.
“Iya, Pah... dia yang mulai duluan!” Steven menjawab pelan. Ia memilih untuk tetap berbohong, sebuah langkah pengecut terakhir untuk menyelamatkan sisa-sisa egonya yang hancur. Ia tahu ayahnya sudah tunduk, namun ia berharap setidaknya kebohongannya bisa menjadi tameng terakhir.
“Pak Adipramana, Bapak dengar sendiri kan? Anak saya tidak mungkin memulai perkelahian,” ucap Handoko, mencoba mencari celah untuk membela diri.
Adipramana bergumam kecil. Ia menatap Steven dengan tatapan yang seolah bisa menembus tengkorak remaja itu.
“Kalau memang kamu benar, kenapa kamu menunduk, Nak?”
Steven terperanjat, matanya langsung mendongak menatap Adipramana.
“Saya... saya hanya kaget Bapak ternyata kenal Papa saya.”
“Jadi kejadiannya benar seperti itu?” tanya Adipramana lagi.
“Benar, Pak!”
“Ada buktinya?”
“Tanyakan saja pada teman-teman saya!” Steven menjawab dengan nada yang mulai naik, mencoba menutupi kegugupannya dengan agresi.
“Kenapa saya harus tanya teman-teman kamu? Bukankah seharusnya kamu menyuruh kami mengecek CCTV?” tanya Adipramana dengan senyum tipis yang mematikan.
Steven terdiam. Ia merasa terperangkap dalam labirin yang ia buat sendiri.
“Maaf Pak Adipramana,” Andi menyela, “seperti yang saya katakan tadi, CCTV sedang tidak berfungsi.”
“Oh, iya. Saya lupa soal itu,” ucap Adipramana. Ia menoleh ke arah Cakra.
“Kamu jadi pasang CCTV pribadimu, Dek?”
Cakra mengangguk mantap. “Jadi dooong...”
“Kejadian tadi terekam?”
“Terekam jelas, banget! 4K frame rate 60fps,” jawab Cakra dengan nada pamer yang sangat memuaskan.
“Bisa kamu tunjukkan ke kita semua?”
Cakra bangkit dari sofanya dengan gerakan yang tenang dan anggun. Ia melangkah menuju meja kerja Andi. Tanpa menunggu lama, Andi segera menggeser kursinya, memberikan akses penuh pada komputernya. Jarinya menari di atas papan ketik, memasukkan alamat IP rahasia dan kode enkripsi.
Sesaat kemudian, layar monitor besar itu menyala. Cakra memutar layar itu ke arah Steven dan Handoko.
Di sana, di layar itu, tersuguh rekaman yang sangat jernih. Terlihat Steven berdiri dengan wajah angkuh, kakinya sengaja melintang saat Cakra lewat. Terlihat baki makanan yang terbang, kuah yang tumpah, dan tawa provokatif Steven. Tidak ada ruang untuk interpretasi. Tidak ada ruang untuk dusta.
Steven hanya bisa terpaku, mulutnya sedikit menganga. Seluruh rangkaian kebohongannya runtuh dalam sekali putar video. Di ruangan itu, kesunyian mendadak menjadi sangat mematikan.
Tiba-tiba, pintu terbuka tanpa drama. Adipramana melangkah masuk, disusul oleh Andi yang mengekor di belakangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Campuran antara bingung, kagum, dan rasa kecil yang amat sangat. Cakra mendongak, matanya bertemu dengan mata ayahnya, dan sebuah senyuman kemenangan yang tipis namun tajam merekah di wajahnya.
“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?” Tanya Adipramana tenang. Ia menghampiri Cakra, menepuk bahu putranya sejenak, lalu duduk di sebelahnya. Kehadiran pria itu seketika membuat sofa yang tadinya terasa sempit bagi Steven kini terlihat seperti singgasana bagi Adipramana.
“Nggak apa-apa, Yah,” jawab Cakra, masih menyeringai.
Andi mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya. Kursi yang selama ini ia anggap sebagai takhta kekuasaannya, namun kini terasa seperti bangku plastik di depan pria di hadapannya. Ia berdeham, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawanya.
“Maaf... dengan Bapak siapa, kalau saya boleh tahu?” tanya Andi ragu.
“Adipramana,” jawab ayah Cakra singkat. Ia merentangkan tangannya, menawarkan jabat tangan yang mantap dan hangat ke arah Andi.
Andi menyambut tangan itu dengan telapak yang sedikit lembap karena keringat dingin. Entah mengapa, ia merasa jiwanya mendadak mengerdil. Beberapa menit lalu, saat ia keluar dari UKS, ia melihat sebuah mobil mewah meluncur masuk ke area sekolah. Jenis mobil yang hanya muncul di film-film atau halaman depan majalah ekonomi dunia. Mobil itu adalah potongan teknologi otomotif yang terlalu indah untuk jalanan Jakarta.
Awalnya, Pak Andi mengira orang di dalam mobil itu salah alamat atau mungkin sedang mencari petunjuk arah. Namun, keterkejutannya mencapai puncaknya saat pintu mobil terbuka. Ia mengharapkan sesosok pria dengan setelan jas seharga ribuan dolar, rambut klimis, dan sepatu yang bisa memantulkan cahaya bulan. Namun, yang keluar adalah seorang pria yang tampak sangat biasa.
Adipramana mengenakan sweater rajutan sederhana dengan kancing tarik pendek di bawah leher, celana kain yang jatuh tepat di atas lutut, dan hanya beralaskan sandal. Penampilannya adalah definisi dari quiet luxury. Kekayaan yang begitu besar sehingga pemiliknya tidak merasa perlu membuktikannya kepada siapa pun. Di usia empat puluh lima tahun, aura Adipramana tidak datang dari pakaiannya, melainkan dari cara dia bernapas, cara dia berdiri, dan tatapan matanya yang seolah-olah sudah melihat seluruh isi dunia.
“Oh iya, saya Andi. Kepala sekolah Cakra,” ucap Andi dengan suara yang sedikit bergetar. Ia lupa memperkenalkan diri saking terpesonanya.
“Begini, Pak Adipramana... Pak Handoko, ketua yayasan kami, meminta Bapak datang. Tapi beliau sedang mengantar putranya ke klinik. Khawatir akan ada cedera internal, katanya. Tadi saya sudah kabarkan kedatangan Bapak, dan beliau sudah dalam perjalanan kembali. Ternyata tidak ada luka serius pada anaknya.”
Adipramana mendengarkan dengan saksama, meski ekspresinya tetap datar.
“Kalau boleh tahu, anaknya Pak Handoko kenapa ya, Pak?” tanya Adipramana, suaranya mengandung nada ingin tahu yang sopan, meski ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
Cakra hanya tersenyum lebar saat ayahnya menoleh padanya.
“Kamu nggak keterlaluan kan, Dek?” tanya Adipramana dengan nada cemas yang dibungkus sedikit rasa bangga yang tersembunyi.
“Ya enggaklah, Yah... kan Pak Andi sudah bilang tadi kalau anaknya nggak kenapa-napa,” ucap Cakra enteng. Ia kembali menunduk ke ponselnya, menonton dokumenter tentang robotika molekuler. Baginya, melihat bagaimana partikel nano bekerja lebih menarik daripada mendengarkan dramatisasi Steven.
“Jadi Pak Adipramana sudah tahu kejadiannya?” tanya Andi.
“Belum sepenuhnya, Pak. Tapi saya tahu anak saya ini bisa menjadi sangat ekspresif jika dia diganggu atau diperlakukan semena-mena. Bisa Bapak jelaskan urutan peristiwanya?” Adipramana mengusap kepala Cakra dengan penuh kasih sayang, sebelum kemudian memberinya tepukan keras yang membuat Cakra cemberut.
Andi menarik napas dalam. Ia berusaha berbicara se-objektif mungkin. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa bahwa pria di depannya ini memiliki aura bos mafia yang sedang menyamar.
“Menurut versi Cakra, Steven, putra Pak Handoko, dengan sengaja membuat Cakra terjatuh. Setelah itu, bukannya meminta maaf, Steven justru menyerang Cakra secara fisik. Cakra membela diri... self-defense.” Andi menjeda kalimatnya, menatap Adipramana yang hanya mengangguk pelan.
“Sedangkan dari pihak Steven,” lanjut Andi.
"Dia mengaku tidak sengaja menyenggol Cakra. Katanya, dia sudah berniat meminta maaf, tapi Cakra langsung memukulinya secara membabi buta. Begitu laporannya, Pak.”
“Hmm. Menarik,” gumam Adipramana. Ia menatap Cakra, namun pertanyaannya diarahkan ke udara.
“Lalu bagaimana dengan CCTV-nya, Pak? Bukankah teknologi diciptakan untuk mengakhiri perdebatan seperti ini?” Pertanyaan itu terasa seperti jebakan.
Adipramana tahu Cakra telah memasang sistem pengintai pribadinya semalam. CCTV berteknologi tinggi dengan lensa resolusi super yang bisa menembus bayangan. Benda yang bahkan tidak akan disadari keberadaannya oleh teknisi tercanggih sekalipun.
Andi menghela napas panjang, bahunya merosot. “Itulah masalahnya, Pak Adipramana. Saya harus meminta maaf secara pribadi karena kelalaian ini. Sistem CCTV sekolah kami... entah bagaimana, sedang mengalami malfungsi tepat saat kejadian berlangsung. Kami tidak memiliki rekaman apa pun.”
Andi menunduk, merasa sangat bersalah. Ia yakin Cakra adalah pihak yang jujur, namun tanpa bukti rekaman, arogansi Handoko akan memenangkan argumen ini. Ia takut Cakra akan dikeluarkan, sama seperti murid berprestasi yang dijebak Steven bulan lalu.
“Oh... begitu ya? Ya sudah, tidak apa-apa, Pak Andi. Kita tunggu saja Pak Handoko. Dia sudah dihubungi, kan?” jawab Adipramana dengan ketenangan yang hampir tidak manusiawi.
Andi tertegun. Ia mengharapkan ledakan amarah atau ancaman somasi, namun pria di depannya ini justru terlihat seolah-olah sedang menunggu pesanan kopi.
BRAKK!
Pintu kantor terbuka paksa. Handoko masuk dengan langkah yang menggetarkan perabotan kayu di ruangan itu. Wajahnya penuh arogansi, dadanya membusung seolah ia sedang menginspeksi pasukan militer. Di belakangnya, Steven mengekor dengan gaya pincang yang didramatisir, matanya menatap Cakra dengan seringai puas yang memuakkan.
Andi segera berdiri untuk memperkenalkan Adipramana, namun Handoko mengabaikannya. Ia bahkan mendorong bahu Andi agar menyingkir dari jalannya, lalu menyerobot sofa kepala sekolah untuk mendaratkan tubuh tambunnya.
Adipramana melihat kejadian itu dengan mata yang menyipit. Rasa hormatnya pada pria tua itu menguap di detik itu juga.
Handoko kemudian menoleh ke arah Adipramana dengan tatapan tajam yang diniatkan untuk mengintimidasi. Ia sudah menyiapkan pidato tentang disiplin dan bagaimana mendidik anak agar tidak menjadi preman jalanan.
Namun, saat matanya bertemu dengan wajah Adipramana secara fokus, kata-katanya mendadak tersangkut di tenggorokan.
Wajah Handoko memucat. Ia mengeluarkan suara kecil yang mirip dengan bunyi ban kempis. Matanya membelalak, otot-otot wajahnya berkedut. Steven dan Andi membeku dalam kebingungan melihat reaksi tersebut.
“Pa-paak... Pak Adipramana?” suara Handoko pecah, berubah menjadi nada yang sangat tinggi. Ia segera beranjak dari sofa seolah-olah permukaannya baru saja berubah menjadi lava pijar. Tubuhnya yang besar itu membungkuk dalam-dalam dengan gerakan yang hampir membuat perutnya tertekuk sakit.
“Kok... kok bisa ada di sini, Pak?”
Cakra menutup ponselnya, menahan tawa yang meledak di dalam dadanya.
“Saya di sini karena disuruh oleh anak saya,” jawab Adipramana dingin. Ia tidak beranjak dari duduknya.
“Apa kabar, Pak Handoko? Sepertinya sudah terlalu lama kita tidak mengadakan pertemuan direksi.”
Steven terpaku di tempat. Seluruh dunianya serasa berputar terbalik. Ia menatap ayahnya yang kini terlihat seperti pelayan yang baru saja tertangkap mencuri perak tuannya.
“Nggak usah membungkuk begitu, Pak Handoko. Silakan duduk kembali,” ucap Adipramana, meski nadanya sama sekali tidak mempersilakan.
Handoko justru semakin panik. Ia bergeser ke samping, menunjuk sofanya.
“Nggak, Pak! Silakan Bapak yang duduk di sini! Saya... saya lebih nyaman berdiri.”
Andi kini menyadari segalanya. Ia merasakan gelombang realitas menghantamnya. Adipramana bukan sekadar orang kaya. Pria bersandalkan jepit ini adalah matahari di pusat tata surya perusahaan yang menaungi sekolah mereka. Andi menatap Cakra, yang kini menatapnya kembali dengan kedipan mata nakal.
“Jadi... Pak Adipramana adalah ayah dari...” Kalimat Handoko menggantung. Ia baru sadar ia bahkan belum tahu nama anak yang ia tampar tadi.
“Ayah dari Cakra,” Andi membisikkan nama itu dengan suara gemetar ke telinga Handoko.
“Ayah dari Cakra...” ulang Handoko pelan, suaranya mengandung nada ngeri.
“Iya,” sahut Adipramana.
“Saya sudah mendengar versi Cakra dan versi Steven. Steven baik-baik saja, kan? Saya minta maaf kalau putra saya sedikit... berlebihan. Jika Cakra terbukti bersalah, tolong jangan sungkan untuk menghukumnya. Keluarkan saja dia dari sekolah ini.”
Handoko menelan ludah dengan susah payah.
“Maaf, Pak Adipramana... saya... saya tadi panik. Begitu Steven menelepon sambil menangis, saya langsung datang dan tersulut emosi. Saya benar-benar minta maaf, tadi saya tanpa sadar sempat menampar Cakra sebelum mendengarkan akar permasalahannya.”
Atmosfer di ruangan itu seketika mendingin hingga ke titik beku. Adipramana, yang tadinya bersikap sportif, tiba-tiba berubah. Auranya berubah dari pria santai menjadi pemangsa puncak.
“Kamu menampar anak saya?” tanya Adipramana pelan. Sangat pelan, namun setiap katanya terasa seperti belati yang ditekan ke leher Handoko.
“Atas dasar apa kamu menampar anak saya?”
Andi merinding. Ia merasa sedang menyaksikan adegan dari film bos mafia yang sedang murka. Steven, yang sejak tadi mencoba bersikap tegar, kini mulai gemetar hebat. Nyalinya menciut hingga seukuran atom.
“Maafkan saya, Pak! Saya akui saya salah! Mohon ampuni saya kali ini saja!” Handoko merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, menggoyang-goyangkannya dengan gestur memohon yang sangat menyedihkan bagi pria seusianya.
“Kita bicarakan soal tamparan itu nanti,” ucap Adipramana dengan nada yang menjanjikan bencana.
“Sekarang yang terpenting adalah kebenaran. Steven, coba jelaskan kejadian di kantin tadi.” Adipramana menoleh pada Steven. Matanya hangat, bukan tatapan intimidatif.
Steven tersentak saat namanya dipanggil. Ia menatap ayahnya, mencari perlindungan, namun ia hanya menemukan wajah yang penuh ketakutan.
“Saya... saya...”
“Steven, ayo ceritakan! Jangan diam saja!” desak Handoko, suaranya serak karena panik.
Steven tetap membisu. Lidahnya terasa kelu. Andi akhirnya mengambil alih situasi agar pembicaraan tetap bergerak.
“Begini, Pak Handoko. Secara objektif, Cakra bilang Steven menyandungnya dengan sengaja. Sedangkan Steven bersikeras bahwa itu adalah ketidaksengajaan dan dia sudah minta maaf namun Cakra langsung menyerangnya. Begitulah inti permasalahannya,” jelas Andi.
“Apa betul begitu, Steven?” tanya Handoko dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya.
“Iya, Pah... dia yang mulai duluan!” Steven menjawab pelan. Ia memilih untuk tetap berbohong, sebuah langkah pengecut terakhir untuk menyelamatkan sisa-sisa egonya yang hancur. Ia tahu ayahnya sudah tunduk, namun ia berharap setidaknya kebohongannya bisa menjadi tameng terakhir.
“Pak Adipramana, Bapak dengar sendiri kan? Anak saya tidak mungkin memulai perkelahian,” ucap Handoko, mencoba mencari celah untuk membela diri.
Adipramana bergumam kecil. Ia menatap Steven dengan tatapan yang seolah bisa menembus tengkorak remaja itu.
“Kalau memang kamu benar, kenapa kamu menunduk, Nak?”
Steven terperanjat, matanya langsung mendongak menatap Adipramana.
“Saya... saya hanya kaget Bapak ternyata kenal Papa saya.”
“Jadi kejadiannya benar seperti itu?” tanya Adipramana lagi.
“Benar, Pak!”
“Ada buktinya?”
“Tanyakan saja pada teman-teman saya!” Steven menjawab dengan nada yang mulai naik, mencoba menutupi kegugupannya dengan agresi.
“Kenapa saya harus tanya teman-teman kamu? Bukankah seharusnya kamu menyuruh kami mengecek CCTV?” tanya Adipramana dengan senyum tipis yang mematikan.
Steven terdiam. Ia merasa terperangkap dalam labirin yang ia buat sendiri.
“Maaf Pak Adipramana,” Andi menyela, “seperti yang saya katakan tadi, CCTV sedang tidak berfungsi.”
“Oh, iya. Saya lupa soal itu,” ucap Adipramana. Ia menoleh ke arah Cakra.
“Kamu jadi pasang CCTV pribadimu, Dek?”
Cakra mengangguk mantap. “Jadi dooong...”
“Kejadian tadi terekam?”
“Terekam jelas, banget! 4K frame rate 60fps,” jawab Cakra dengan nada pamer yang sangat memuaskan.
“Bisa kamu tunjukkan ke kita semua?”
Cakra bangkit dari sofanya dengan gerakan yang tenang dan anggun. Ia melangkah menuju meja kerja Andi. Tanpa menunggu lama, Andi segera menggeser kursinya, memberikan akses penuh pada komputernya. Jarinya menari di atas papan ketik, memasukkan alamat IP rahasia dan kode enkripsi.
Sesaat kemudian, layar monitor besar itu menyala. Cakra memutar layar itu ke arah Steven dan Handoko.
Di sana, di layar itu, tersuguh rekaman yang sangat jernih. Terlihat Steven berdiri dengan wajah angkuh, kakinya sengaja melintang saat Cakra lewat. Terlihat baki makanan yang terbang, kuah yang tumpah, dan tawa provokatif Steven. Tidak ada ruang untuk interpretasi. Tidak ada ruang untuk dusta.
Steven hanya bisa terpaku, mulutnya sedikit menganga. Seluruh rangkaian kebohongannya runtuh dalam sekali putar video. Di ruangan itu, kesunyian mendadak menjadi sangat mematikan.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...