Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 24 - Rencana Cemerlang

“Sekarang minta wanita itu untuk menghubungi atasannya, agar kalian dapat keluar dari tempat ini." Suara itu kembali bergema di kepala Cakra, tepat ketika dinding ruangan menutup rapat di hadapan mereka.

“Hubungi atasanmu! Bawa saya keluar dari tempat ini,” perintah Cakra, suaranya masih tegang meski napasnya mulai teratur.

Mynhemeni berkedip dua kali.

Butiran casvet kembali keluar dari matanya, membentuk proyeksi hologram Thungsiruv yang berpendar di udara.

“Bagaimana? Sudah dapat kabar mengenai asal-usul anak itu?”

Thungsiruv bertanya tanpa curiga sedikit pun. Suaranya terdengar datar dan profesional. Sama sekali tidak menyadari bahwa komandan kepercayaannya kini berada dalam posisi yang sangat berbeda dari laporan resmi mana pun. Proyeksi hologram itu hanya menampilkan punggung tubuhnya, siluet tegap yang menghadap ke arah lain. Ia tak melihat Mynhemeni yang kini terkunci dalam cengkeraman orang yang sedang ia bicarakan.

Cakra mengamati hologram itu dengan napas tertahan. Tangan kirinya mencengkeram pergelangan Mynhemeni, memastikan gadis itu tak bergerak bebas. Tangan kanannya tetap melingkar di leher Mynhemeni, tombak bercahaya menempel tipis di kulitnya. Cukup dekat untuk mengancam, cukup hati-hati agar tak melukainya. Mynhemeni berdiri kaku, rahangnya mengeras, menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan.

Sebenarnya, Thungsiruv tak perlu menunggu laporan langsung dari Mynhemeni. Ia bisa menarik data dari seluruh analis dan pasukan di bawah komando wanita itu. Namun ia tak tahu satu hal penting, satu langkah kecil telah mengubah segalanya. Tepat setelah pintu gudang tertutup rapat, Mynhemeni telah mengaktifkan mode penyamaran penuh. Sistem itu memutus seluruh jejak, mematikan pelacakan dan membutakan seluruh sistem pengawasan, sensor, sinyal, dan pemantauan internal. Bahkan Eunop dan tim analis terbaik pun kini buta terhadap keberadaan mereka.

“Apa pun yang terjadi, jangan ikut campur. Itu semua rencanaku.” Itulah perintah terakhirnya. Mynhemeni mengemukakan mandat tersebut tepat setelah memerintahkan seluruh pasukan keamanan untuk bertemunya di ruang latihan terdekat dari Alpam khusus, tempat Cakra ditahan.

“Percayalah,” lanjut Mynhemeni kala itu, “jawaban tentang anak itu akan kita dapatkan lewat cara ini.”

Perintah itu bekerja dengan sangat sempurna. Karena itulah Thungsiruv selama ini hanya bisa menunggu, bertanya, dan bersabar.

“Ketua! Saya disandera olehnya!”

Seruan itu memecah keheningan ruang kerja Thungsiruv seperti kaca yang dihantam peluru. Sang Ketua Distrik berhenti di tengah langkah, telapak tangannya terangkat setengah jalan, seolah refleks tubuhnya lebih dulu menyadari bahaya sebelum pikirannya sempat menyusul. Ia berbalik perlahan, terlalu perlahan bakan. Dan untuk satu detik penuh, ia hanya menatap tanpa berkedip.

Kilatan cahaya menyerupai petir melingkari leher Mynhemeni. Energi itu berdenyut, hidup, menjalar seperti urat-urat cahaya yang saling mengunci. Bukan sekadar ancaman visual. Bahkan dari jarak itu, Thungsiruv bisa merasakan tekanannya. Dingin, tajam, dan siap merenggut nyawa bila si pemiliknya menghendaki. Mynhemeni berdiri kaku, rahangnya mengeras, tubuhnya tegang namun tidak roboh. Energi itu jelas bukan untuk menyiksa. Hanya menahan. Mengingatkan.

“Apa yang sebenarnya terjadi?!”

Suara Thungsiruv terdengar keras, nyaris memantul di dinding ruangannya sendiri. Namun bagi Cakra, dunia tetap sunyi. Tak satu pun kata itu mencapai telinganya.

Sebaliknya, suara itu bergema langsung di dalam benak Mynhemeni. Jernih, dingin, dan penuh kendali.

Svalin aktif.

Komunikasi sunyi itu mengalir tanpa getaran, tanpa cahaya, tanpa tanda apa pun yang bisa ditangkap indera biasa. Cepat. Diam. Mematikan. Dan di tengah senyap itu, kekhawatiran Thungsiruv terasa jauh lebih nyaring daripada teriakannya barusan.

Mynhemeni menelan ludah. Lehernya nyaris tak bisa bergerak, setiap denyut nadi berirama dengan kilatan energi di sekelilingnya. Tanpa menggerakkan bibir, tanpa perubahan raut yang kentara, ia menjawab.

"Anak ini sungguh kuat, Ketua." balas Mynhemeni melalui Svalin, tanpa gerakan bibir, tanpa suara.

"Tapi, dia bukan pencari masalah."

Di belakangnya, Cakra berdiri mantap. Napasnya teratur, bahunya tak menegang berlebihan. Tombak di tangannya tidak bergetar. Genggamannya tegas, terukur. Tidak ada amarah liar di sana. Yang ada hanyalah kewaspadaan dingin, seperti seseorang yang tahu betul bahwa satu kesalahan kecil bisa berarti akhir.

"Dia hanya melindungi diri," ungkap Mynhemeni kemudian. "Dia bisa saja membunuh pasukan kita dengan mudah."

Ada jeda singkat dalam aliran Svalin. Sepersekian detik yang terasa terlalu panjang.

"Tapi dia memilih tidak melakukannya." Mynhemeni menuntaskan laporannya. Sunyi kembali melanda.

Kesunyian itu menghantam Thungsiruv lebih keras daripada teriakan mana pun. Dalam benaknya, potongan-potongan peristiwa menyatu menjadi satu gambaran yang mengerikan. Seorang remaja yang mereka kurung lolos tanpa hambatan, melumpuhkan puluhan pasukan terlatih, dan kini menyandera seorang komandan senior seolah itu hal sepele.

Thungsiruv menelan ludah.

Pikirannya berputar, memutar segala skema, segala kemungkinan laporan, segala bentuk hukuman. Dan di balik semua itu, satu bayangan jauh lebih menyesakkan muncul perlahan. Apa yang akan terjadi jika Paduka Raja mengetahui semua ini?

"Lalu, semua pasukan keamanan tumbang di tangan anak itu?" Akhirnya, ketakutan yang membungkusnya berhasil ia lontarkan. Nada suaranya pecah di tengah kalimat. Campuran antara cemas yang ditahan dan ketakutan yang terlalu lama dipendam.

"Tidak, Ketua." Jawaban Mynhemeni mengalir cepat melalui Svalin.

"Dia memerintahkan saya mengurung sisa pasukan di ruang penyimpanan peradaban manusia darat. Setelah itu, dia meminta mereka mengaktifkan mode lelap."

Ada jeda singkat, seolah Mynhemeni memastikan setiap detailnya tepat.

"Jumlah mereka tak lebih dari dua puluh orang."

Thungsiruv mengatupkan rahangnya.“Apakah ada yang menyaksikan saat dia menyanderamu?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan, nyaris berharap jawabannya tidak perlu ia dengar.

"Tidak ada, Ketua," balas Mynhemeni mantap. "Saya langsung mengaktifkan mode penyamaran."

Di luar lingkaran komunikasi sunyi itu, Cakra hanya bisa mengernyit. Di hadapannya, dua manusia tampak melakukan panggilan video-call tanpa suara. Tak ada gerak bibir, tak ada desahan napas yang berubah. Sunyi yang ganjil. Sunyi yang membuat tengkuknya merinding. Ia tak tahu bahwa Svalin mampu terhubung langsung ke Sanvar para petinggi Distrik, tanpa jeda, tanpa izin, tanpa bekas.

Thungsiruv menarik napas panjang. Terlalu panjang untuk sekadar menenangkan diri. Dadanya naik turun sekali, lalu naik turun sekali lagi.

“Kalau begitu…” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah, lebih berhati-hati.

“Sekarang, apa yang harus kita lakukan?”

“Dia meminta saya mengeluarkannya dari gedung pusat pemerintahan ini, Ketua. Tanpa diketahui siapa pun.” Pesan Mynhemeni meluncur cepat melalui Svalin, dingin namun sarat tekanan.

Thungsiruv tak langsung menjawab. Ia menimbang, menakar risiko yang tak terlihat.

“Baik,” katanya akhirnya. “Turuti dulu permintaannya. Kami akan bertindak begitu kalian berada di dalam jet.”

Ada jeda singkat, lalu suaranya kembali masuk dengan nada tegas. “Pastikan kamu tetap bisa dihubungi kapan pun.”

Di saat bersamaan, suara perempuan itu kembali menggema di kepala Cakra. Lebih tajam dari sebelumnya.

“Suruh wanita itu meminta kendaraan anti sadap.” Nada suaranya tak memberi ruang bantahan.

“Dan minta mereka berbicara dengan suara. Nonaktifkan seluruh pelacak di tubuh kalian. Jangan biarkan satu pun jejak tertinggal.”

“Apa maksudnya?” Cakra berbisik dalam kepalanya, tertahan. keningnya berkerut. Ia merasa satu langkah tertinggal dalam permainan ini.

“Orang di hadapanmu sedang berkomunikasi diam-diam,” jawab suara itu cepat.

“Mereka ingin menjebakmu. Paksa mereka bicara dengan suara, agar kamu bisa mendengar semuanya." Cakra mencondongkan tubuh sedikit ke depan, tombaknya menekan lebih dekat ke leher Mynhemeni.

“Apa yang orang itu lakukan?” tanyanya datar, tapi ancamannya jelas. Getaran kecil merambat di udara. Thungsiruv, di sisi lain proyeksi casvet, merasakan dingin menjalar di tengkuknya.

“Tidak ada,” jawab Mynhemeni singkat. Terlalu singkat. Bohong.

Cakra mendengus pelan. “Tidak mungkin.”

Ia mengangkat suara, menatap lurus ke arah proyeksi lelaki yang tampak seusia ayahnya, empat puluh dua tahun.

“Hey, Bapak Tua,” katanya, nada sopan tapi berbahaya.

“Seperti yang Anda lihat, senjata Anda sedang berada di leher wanita ini.”

Kilatan cahaya di leher Mynhemeni berdenyut, semakin terang.

“Kalau Anda ingin dia selamat,” lanjut Cakra, “keluarkan saya dari sini. Berikan kendaraan. Saya ingin pergi dengan aman.”

Thungsiruv mengangkat kedua tangannya perlahan, telapak terbuka.

“Baiklah…” katanya hati-hati.

“Minta wanita yang kamu sekap, menunjukkan kendaraannya. Kamu boleh mengambilnya.” Ia menarik napas.

“Lalu silakan pergi. Tapi lepaskan dia sebelum kamu meninggalkan area.”

“Jangan,” suara perempuan itu memotong di kepala Cakra.

“Kendaraan wanita itu mudah dilacak. Minta kendaraan anti sadap. Dan jangan pernah pergi tanpa membawanya.” Cakra mengangguk tipis, lalu berbicara lantang.

“Kendaraan milik wanita ini pasti mudah ditemukan,” katanya tegas.

“Saya minta kendaraan anti sadap.” Ia menekan tombaknya sedikit lebih dekat.

“Saya tidak ingin keberadaan saya diketahui. Dan wanita ini akan ikut saya sebagai jaminan.”

Matanya menyipit. “Satu lagi. Nonaktifkan semua pelacak. Di tubuh saya dan di tubuhnya.”

“Lancang sekali kamu—” suara Thungsiruv meninggi, emosi akhirnya bocor.

Namun kalimat itu terhenti. Kilatan energi di sekeliling leher Mynhemeni bertambah banyak, saling bertaut seperti ular cahaya yang siap menyambar.

Thungsiruv terdiam. Ia tahu, satu kata lagi yang salah, dan semua akan terlambat.

“Baiklah…” Thungsiruv akhirnya mengalah. Keraguan masih menggantung di nadanya, namun keputusan itu tetap ia ambil.

“Seluruh pelacak di tubuhmu dan ditubuhnya sudah dinonaktifkan,” lanjutnya cepat, seolah takut terlambat satu detik saja.

“Kendaraan yang kamu minta akan segera saya kirimkan.”

Cakra tak langsung menurunkan tombaknya. Kilatan cahaya di leher Mynhemeni justru berdenyut lebih kuat, memantul di matanya yang dingin.

“Jangan coba-coba membohongi saya,” katanya pelan, namun penuh tekanan. “Satu kesalahan saja.... Wanita ini mati.”

Ancaman itu bukan gertakan. Thungsiruv bisa merasakannya.

“Bagaimana saya bisa mempercayai Anda?” lanjut Cakra. Tatapannya tajam, tak berkedip sedikit pun.

Thungsiruv menelan ludah.

“Kamu bisa meminta dia mengeceknya,” ujarnya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

“Kendaraan itu akan datang sebentar lagi.” Namun wajahnya tak bisa berbohong. Kecemasan itu terpampang jelas. Bukan soal reputasi. Bukan soal pusat. Bukan soal Paduka Raja.

Melainkan satu hal, keselamatan Mynhemeni, putrinya.

"Hemy…" Suara Thungsiruv bergema lembut di dalam pikiran Mynhemeni, retak oleh rasa takut yang ia pendam rapat.

"Kamu baik-baik saja, Nak?"

Mynhemeni menarik napas pelan. Meski lehernya tercekik cahaya, suaranya di Svalin tetap tenang.

"Hemy baik-baik saja, Ayah," jawabnya lembut. "Tolong ikuti kemauannya. Hemy bisa jaga diri."

Kata Ayah itu menghantam Thungsiruv lebih keras daripada ancaman apa pun.

Di saat yang sama, suara perempuan itu kembali menyela di kepala Cakra.

“Minta kendaraan dikirim ke area parkir lima. Di sana sepi. Minim lalu-lalang.”

“Kirimkan kendaraan ke tempat yang sepi,” kata Cakra lantang, tanpa basa-basi.

Mynhemeni mengangguk kecil, lalu berbicara. Kali ini dengan suara, sengaja sedikit bergetar.

“Ketua… kirim kendaraan anti sadap ke area parkir lima.” Ia menelan ludah.

“Tolong… cepat.”

Keheningan singkat menyelimuti mereka.

“Baik,” jawab Thungsiruv akhirnya. Nada pasrahnya kini tak tersisa.

“Kalau itu yang kamu inginkan, kendaraan akan saya kirimkan sekarang.” Sesaat kemudian, proyeksi itu memudar, kemudian lenyap begitu saja.

Menyisakan Cakra, Mynhemeni, dan ketegangan yang belum sedikit pun mereda.


Other Stories
Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Cerita Pendekku

Firman salah satu tipe orang yang belum berani mengunkapkan perasaan yang dimiliki kepada ...

Reuni Mantan

Arif datang ke vila terpencil bersama para mantan Sarah lainnya. Ketika seorang pembunuh m ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Download Titik & Koma