Bab 34 - Syarat Untuk Pulang
“Maaf,” ucap Mynhemeni akhirnya.
Ia bangkit dari sofa dan melangkah mendekat, berhenti beberapa langkah dari Cakra. Suaranya tetap tenang, nyaris lembut, terlalu lembut untuk situasi setegang ini. Kontras dengan tubuh Cakra yang masih bergetar di tempatnya berdiri.
“Saya harus bertindak sejauh ini.”
Tatapannya mengunci Cakra. Bukan tatapan permusuhan, melainkan pandangan seseorang yang sedang menimbang sesuatu yang langka dan berbahaya dalam waktu bersamaan. Lebih menyerupai peneliti yang menemukan sesuatu di luar perhitungan, sesuatu yang membuat rasa ingin tahunya terusik.
“Selama kita berbincang, aku menganalisis kekuatanmu. Semua yang sudah kamu keluarkan sejauh ini.” Cakra ingin membalas. Ingin berteriak bahwa ia bukan objek percobaan. Namun lidahnya masih terasa berat, seperti baru saja diseret arus laut yang dingin dan tak memberi ruang untuk melawan. Masih mencengkeram saraf-sarafnya.
“Seperti yang sudah aku jelaskan, baju yang kami sematkan memang diperuntukkan bagi tahanan. Aku hanya meningkatkan responsnya agar dapat melumpuhkanmu. Tanpa harus menyentuhmu.”
Ia berhenti sejenak, memastikan Cakra masih mendengar.
“Kami menyebutnya Maroz. Alat pembeku lawan. Saat kamu tersadar di ruangan tahananmu, Maroz tingkat satu sudah kami aktifkan. Biasanya, bangsa kami akan pingsan tidak kurang dari sepuluh detik.”
Mynhemeni menghela napas pendek.
“Bagi manusia darat, seharusnya efeknya lebih cepat.” Ia menggeleng pelan, seperti masih sulit menerima hasil yang ada di hadapannya.
“Tapi tubuhmu tidak merespons.” Nada suaranya tetap tenang, namun sorot matanya mulai berubah. Ada keheranan yang tak bisa ia sembunyikan. Jari-jarinya bergerak ringan, seolah menyusun ulang data tak kasatmata di udara.
“Kami meningkatkannya ke Maroz tingkat dua. Secara teori, tulangmu seharusnya sudah hancur. Tapi tubuhmu tetap bertahan.” Mynhemeni melangkah sedikit lebih dekat. Tatapannya kini mengeras, bukan karena marah, melainkan heran.
“Setelah menganalisis lebih jauh, aku menyimpulkan bahwa hanya Maroz tingkat akhir yang mungkin dapat bekerja padamu.”
Ia menatap Cakra lurus-lurus.
“Dan itu terbukti. Kamu berhasil aku bekukan.” Udara di sekitar mereka terasa menekan, meski berada di dalam laut yang tenang.
“Mungkin,” lanjutnya pelan, “tingkat akhir Maroz yang dapat menghancurkan tubuh juga dapat aktif padamu.” Mynhemeni kini memperhatikan Cakra tanpa menyembunyikan apa pun.
“Dan berdasarkan seluruh analisis yang saya kumpulkan,” katanya lirih, “tubuhmu tidak akan mampu menahan serangan Maroz tingkat akhir ini.”
Ia menurunkan suaranya.
“Jadi bekerja samalah. Jika kamu tidak ingin tubuhmu benar-benar hancur.” Tatapan Mynhemeni tertuju lurus pada Cakra. Tidak ada ancaman di sana, justru sesuatu yang menyerupai permohonan, seolah ia benar-benar berharap kata-katanya didengar. Namun bagi Cakra, ekspresi itu tak berarti apa-apa.
Ia mengabaikannya.
Cakra tetap mengerahkan seluruh sisa kekuatan yang masih bisa ia kumpulkan. Ia memaksa tubuhnya bergerak, melawan kekakuan yang menahan sendi dan ototnya. Getaran yang sebelumnya mengurungnya perlahan melemah, surut sedikit demi sedikit, seperti arus laut yang akhirnya kehilangan daya dorong.
Usahanya tidak mengkhianatinya.
Otot-ototnya mulai kembali patuh, meski setiap gerakan terasa kasar dan menyakitkan. Nyeri masih tertinggal, menjalar seperti sisa sengatan listrik yang membekas di dalam tulang, menolak benar-benar pergi. Napasnya berat, dadanya naik turun, namun ia masih berdiri. Dan di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang jauh lebih kuat. Amarah di dadanya justru semakin mengendap. Bukan meledak, melainkan menumpuk, padat dan panas, seperti tekanan di kedalaman laut yang siap menghancurkan apa pun yang lengah di hadapannya.
Mynhemeni tiba-tiba terdiam. Seluruh perhatiannya mengerucut saat ia menangkap pergerakan kecil dari tubuh Cakra, nyaris tak kasatmata, namun cukup untuk membuatnya siaga. Ruangan itu mendadak terasa menyempit, seolah tekanan laut di luar dinding ikut merayap masuk.
Cakra menggertakkan giginya. Ia memaksa tubuhnya bergerak, berusaha melepaskan diri dari sesuatu yang menahan sendi-sendinya. Aliran listrik masih menjalar, menusuk hingga ke tulang, membuat pandangannya bergetar. Tapi ia tidak berhenti. Setiap tarikan napas terasa berat, seperti menghirup udara dingin di dasar laut, namun ia terus melawan.
Lalu, tiba-tiba, sensasi itu menghilang.
Tak ada lagi rasa sakit. Tak ada getaran. Tak ada apa pun.
Keheningan yang menyusul justru membuat Mynhemeni panik. Wajahnya menegang, napasnya sedikit tersendat. Dalam hitungan detik, berbagai kemungkinan berputar di kepalanya. Ia harus melumpuhkan Cakra sekarang juga, dengan cara apa pun. Bahkan jika itu berarti mengakhiri hidup anak itu.
Pikirannya bergerak cepat, dingin, dan terlatih. Situasi ini sebenarnya menguntungkannya. Ayahnya, ketua pemerintah distrik Nor, telah mengetahui bahwa dirinya diculik oleh Cakra. Jika keadaan berbalik dan Cakra mencoba melawannya, Mynhemeni memiliki alasan yang sempurna. Ia hanya perlu berkata bahwa semua yang ia lakukan adalah demi menyelamatkan nyawanya sendiri.
Kepanikan Mynhemeni meledak dalam satu tarikan napas. Hampir refleks, ia mengaktifkan seluruh persenjataan yang melekat di tubuh dan sekitarnya. Dalam sekejap, ruang di sekitar Cakra berubah menjadi lingkaran ancaman. Berbagai alat perang bangsa Porkah melayang mengelilinginya, bergerak pelan namun siap menerkam.
Tombak listrik berpendar dengan dengung halus, ujungnya berkilat seperti sedang menunggu perintah. Pisau-pisau dengan ukuran berbeda berputar perlahan, tajam dan dingin. Sebilah pedang melayang paling dekat, diselimuti kilatan petir ungu yang memercik lembut, namun cukup terang untuk membuat bulu kuduk meremang. Ada pula tabung-tabung panjang menyerupai cacing laut, memancarkan cahaya warna-warni yang berganti ritme, fungsinya sama sekali tak bisa ditebak.
Sekilas, Cakra melihat sesuatu yang mirip roket, namun ia tidak yakin apakah itu benar-benar senjata atau alat lain yang lebih mengerikan. Di sekelilingnya, bola-bola kecil bercahaya putih kembali mengitari tubuhnya. Bukan dua bola kali ini. Enam.
Ia mengalihkan pandangannya kembali pada Mynhemeni.
Gadis itu berdiri kaku, bahunya tegang, matanya waspada. Seluruh sikapnya defensif, seolah Cakra adalah ancaman yang tak bisa ditoleransi, sesuatu yang terlalu berbahaya untuk dibiarkan bergerak bebas. Saat itu juga, sebuah kesadaran menghantam Cakra dengan keras.
Jika ia terus memaksa, ia tidak akan keluar dari tempat ini dengan utuh.
Jika ia ingin tetap hidup, tetap waras, dan tidak hancur di dunia asing ini, ia harus melakukan satu hal yang paling tidak ia sukai saat ini. Berkompromi. Membuat Mynhemeni percaya padanya, meski kepercayaan itu terasa rapuh seperti kaca murah di pasar loak.
Cakra mengangkat kedua tangannya perlahan, menunjukkan ia tidak berniat menyerang.
“Baiklah,” katanya, suaranya dibuat serendah dan setenang mungkin. “Aku akan menuruti keinginanmu.”
Ia berhenti sejenak, memastikan tatapan Mynhemeni masih tertuju padanya.
“Tapi dengan satu syarat.”
Mynhemeni tidak menurunkan satu pun senjatanya. Matanya menyipit, tubuhnya tetap siaga.
“Syarat apa?” tanyanya, singkat, dingin, dan penuh kewaspadaan.
“Kamu akan mengantarkan aku pulang begitu kamu mendapatkan semua jawaban yang kamu inginkan,” kata Cakra, tegas. Suaranya masih serak oleh sisa rasa nyeri, namun tekad di matanya tak goyah sedikit pun.
Mynhemeni menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Senjata-senjata di udara masih berpendar pelan, seperti makhluk laut yang menunggu arus berikutnya. Lalu ia mengangguk kecil.
“Setuju,” ucapnya cepat, terlalu cepat.
Satu per satu, senjata itu meredup, namun tidak sepenuhnya menghilang. Seolah hanya mundur selangkah, bukan menyerah. Cakra tidak menyadari hal itu. Ia terlalu sibuk menahan napas lega yang akhirnya lolos dari dadanya, seakan beban besar di dadanya sedikit terangkat.
Namun di balik wajah Mynhemeni yang tampak tenang, pikirannya bergerak jauh lebih liar.
Kesepakatan itu memiliki syarat lain. Variabel yang tidak ia ucapkan.
Ia tidak akan mengantarkan Cakra pulang jika hasil analisisnya menunjukkan satu hal yang tak bisa ditoleransi. Jika Cakra terbukti menjadi ancaman bagi Bumi. Atau lebih buruk lagi, jika darah dan kekuatan di tubuh manusia itu berkaitan dengan bangsa asing yang ratusan ribu tahun lalu menghancurkan planet Porkah hingga nyaris lenyap dari sejarah.
Jika itu yang terjadi, Mynhemeni sudah tahu apa yang harus ia lakukan.
Ia akan melaporkan semuanya kepada Thungsiruv, ayahnya, sekaligus ketua pemerintahan distrik Nor. Dan untuk pertama kalinya setelah berabad-abad, mereka akan membangun penjara khusus. Bukan untuk monster. Bukan untuk dewa. Melainkan untuk satu manusia yang terlalu berbahaya untuk dikembalikan ke dunia asalnya.
Mynhemeni kembali menatap Cakra. Senyum tipis terlukis di wajahnya, nyaris meyakinkan, seolah barusan tidak ada ancaman kematian di antara mereka.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita menuju tempatku.”
Satu per satu alat pertahanan bangsa Porkah yang mengelilingi Cakra mulai bergerak. Tombak listrik melipat diri seperti makhluk hidup, bilah-bilah pisau menyusut dan melebur, pedang berkilat ungu meredup sebelum menyatu kembali ke seragam Mynhemeni. Cahaya warna-warni dari tabung-tabung panjang berdenyut sesaat, lalu lenyap, seakan ditelan arus tak kasatmata. Meski telah menyaksikannya beberapa kali, Cakra tetap tak mampu menahan rasa kagum. Semua itu tampak mustahil, seperti hukum fisika yang dipelintir sesuka hati.
Namun ia memaksa dirinya tetap fokus.
Ia sedang menunggu.
Otot-otot Cakra menegang, napasnya tertahan. Begitu alat terakhir menghilang, begitu Mynhemeni benar-benar tak bersenjata, ia akan bergerak. Mendekap. Menekan. Jika perlu, mengancam. Ia tak peduli pada rasa bersalah. Di kepalanya, ini bukan penyerangan. Ini bertahan hidup. Ia diculik, dikurung, dijadikan objek analisis. Apa pun yang ia lakukan setelah ini, baginya sah.
Mynhemeni terlihat semakin santai. Ketegangan di bahunya mengendur, langkahnya mundur perlahan menuju sofa. Gerakannya tenang, percaya diri, seolah bahaya telah berlalu sepenuhnya. Saat alat terakhir menyatu sempurna dengan Sanvarnya, ia menjatuhkan diri ke dudukan empuk itu.
Saat itulah Cakra bergerak.
Tubuhnya melesat cepat, memotong jarak dalam satu dorongan penuh tenaga. Lantai terasa seperti daratan kering di bawah telapak kakinya, meski di luar dinding transparan laut beriak pelan. Mynhemeni bahkan tak sempat berteriak. Tubrukan itu membuatnya terjatuh keras ke atas sofa, material lembut menahan punggungnya dengan bunyi teredam.
Dalam sekejap, dunia Mynhemeni dipenuhi wajah Cakra.
Jari-jari Cakra melingkar di leher Mynhemeni, menekan perlahan namun pasti. Tidak brutal, justru terukur. Cukup untuk memutus aliran napasnya sejenak, cukup untuk membuat dunia di sekelilingnya terasa menyempit. Dada Mynhemeni terangkat tajam, lalu tertahan, seolah udara di ruangan itu tiba-tiba menolak masuk ke paru-parunya.
Ia mencoba memerintah Sanvarnya. Nalurinya menjerit, memberi perintah yang biasanya langsung dipatuhi. Lepaskan. Lumpuhkan. Balikkan keadaan. Namun tak ada respons. Sistem itu diam, beku, seperti benda mati yang melekat di tubuhnya. Kesadaran itu menghantamnya lebih keras daripada cekikan di lehernya. Untuk pertama kalinya, Mynhemeni benar-benar kehilangan kendali.
Matanya membesar, kilatan cerdas yang biasanya tenang kini dipenuhi keterkejutan dan rasa takut yang tak sempat disaring logika. Pandangannya bertemu dengan mata Cakra yang gelap dan dekat, terlalu dekat. Ia dapat merasakan panas tubuh manusia itu, kontras dengan dinginnya logam dan teknologi yang selama ini ia percaya sebagai pelindung.
Tangannya bergerak refleks. Jari-jarinya mencengkeram pergelangan Cakra, berusaha menciptakan celah sekecil apa pun. Kukunya menekan kulit, namun tak cukup dalam. Kekuatan di tubuhnya belum sepenuhnya kembali. Setiap tarikan napas terasa seperti berjuang melawan arus laut yang kuat, padahal lantai di bawah mereka diam dan kokoh seperti daratan.
Cakra menunduk lebih dekat. Napasnya panas, tak teratur. Amarah dan kepanikan berkelindan di wajahnya.
Di detik itu, peran mereka terbalik sepenuhnya.
Bukan lagi Cakra yang menjadi tahanan.
Melainkan Mynhemeni, terbaring kaku di bawah tubuh manusia yang baru saja ia anggap bisa dikendalikan.
Sedetik kemudian, kilatan cahaya menyambar di sekitar leher gadis itu. Bukan satu, melainkan berlapis, seperti petir yang terperangkap di ruang sempit. Cakra bergerak cepat, tanpa ragu. Tangan kirinya menyambar pergelangan tangan kanan Mynhemeni yang masih berusaha melawan. Memutarnya, lalu menyilangkannya ke tangan kiri gadis itu sendiri. Gerakannya kasar, namun presisi, seolah tubuhnya sudah hafal cara menundukkan lawan. Tubuh Cakra menekan penuh, berat dan panas, membuat sofa empuk di bawah mereka mengempis tanpa sisa. Kaki kanannya ikut mengunci, menekan tangan Mynhemeni agar tak bisa bergerak.
Mynhemeni mengerang tertahan. Napasnya tersendat. Cekikan di lehernya bukan sekadar tekanan, melainkan hantaran energi yang menyengat. Kilatan listrik menjalar, merambat dari tangan Cakra ke seluruh tubuh mereka berdua. Udara di dalam kabin terasa bergetar, seperti daratan yang dilanda badai, padahal di luar sana laut bergulung tenang, seolah tak peduli pada kekacauan kecil di dalamnya.
“Berhenti,” desis Mynhemeni nyaris tak terdengar. Tangannya berusaha bergerak, namun terkunci. Matanya berkedip cepat, bukan hanya karena sakit, tetapi karena terkejut. Ini di luar perhitungannya.
Cakra menunduk lebih dekat. Wajahnya hanya berjarak napas. Matanya gelap, fokus, dan dingin, seolah seluruh emosi telah mengendap menjadi satu keputusan sederhana. Tangannya sedikit menguatkan tekanan, cukup untuk membuat Mynhemeni sadar bahwa ini bukan gertakan.
“Antarkan aku pulang,” ucapnya lirih. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang ditahan.
“Atau kamu mati di sini.”
Sorot matanya tak goyah. Tak ada ragu. Tak ada tawar-menawar. Di detik itu, Mynhemeni tahu satu hal yang luput dari seluruh analisisnya. Makhluk paling berbahaya di ruangan ini bukanlah teknologi Porkah. Melainkan manusia yang sedang menindihnya. Manusia yang tak sedang mencari kekuasaan atau kemenangan. Ia hanya ingin satu hal yang sederhana dan mustahil untuk dinegosiasikan.
Pulang.
Kembali ke permukaan dunia. Menemui keluarganya. Memastikan teman-temannya masih ada. Menggenggam kehidupan yang hampir direnggut darinya.
Ia bangkit dari sofa dan melangkah mendekat, berhenti beberapa langkah dari Cakra. Suaranya tetap tenang, nyaris lembut, terlalu lembut untuk situasi setegang ini. Kontras dengan tubuh Cakra yang masih bergetar di tempatnya berdiri.
“Saya harus bertindak sejauh ini.”
Tatapannya mengunci Cakra. Bukan tatapan permusuhan, melainkan pandangan seseorang yang sedang menimbang sesuatu yang langka dan berbahaya dalam waktu bersamaan. Lebih menyerupai peneliti yang menemukan sesuatu di luar perhitungan, sesuatu yang membuat rasa ingin tahunya terusik.
“Selama kita berbincang, aku menganalisis kekuatanmu. Semua yang sudah kamu keluarkan sejauh ini.” Cakra ingin membalas. Ingin berteriak bahwa ia bukan objek percobaan. Namun lidahnya masih terasa berat, seperti baru saja diseret arus laut yang dingin dan tak memberi ruang untuk melawan. Masih mencengkeram saraf-sarafnya.
“Seperti yang sudah aku jelaskan, baju yang kami sematkan memang diperuntukkan bagi tahanan. Aku hanya meningkatkan responsnya agar dapat melumpuhkanmu. Tanpa harus menyentuhmu.”
Ia berhenti sejenak, memastikan Cakra masih mendengar.
“Kami menyebutnya Maroz. Alat pembeku lawan. Saat kamu tersadar di ruangan tahananmu, Maroz tingkat satu sudah kami aktifkan. Biasanya, bangsa kami akan pingsan tidak kurang dari sepuluh detik.”
Mynhemeni menghela napas pendek.
“Bagi manusia darat, seharusnya efeknya lebih cepat.” Ia menggeleng pelan, seperti masih sulit menerima hasil yang ada di hadapannya.
“Tapi tubuhmu tidak merespons.” Nada suaranya tetap tenang, namun sorot matanya mulai berubah. Ada keheranan yang tak bisa ia sembunyikan. Jari-jarinya bergerak ringan, seolah menyusun ulang data tak kasatmata di udara.
“Kami meningkatkannya ke Maroz tingkat dua. Secara teori, tulangmu seharusnya sudah hancur. Tapi tubuhmu tetap bertahan.” Mynhemeni melangkah sedikit lebih dekat. Tatapannya kini mengeras, bukan karena marah, melainkan heran.
“Setelah menganalisis lebih jauh, aku menyimpulkan bahwa hanya Maroz tingkat akhir yang mungkin dapat bekerja padamu.”
Ia menatap Cakra lurus-lurus.
“Dan itu terbukti. Kamu berhasil aku bekukan.” Udara di sekitar mereka terasa menekan, meski berada di dalam laut yang tenang.
“Mungkin,” lanjutnya pelan, “tingkat akhir Maroz yang dapat menghancurkan tubuh juga dapat aktif padamu.” Mynhemeni kini memperhatikan Cakra tanpa menyembunyikan apa pun.
“Dan berdasarkan seluruh analisis yang saya kumpulkan,” katanya lirih, “tubuhmu tidak akan mampu menahan serangan Maroz tingkat akhir ini.”
Ia menurunkan suaranya.
“Jadi bekerja samalah. Jika kamu tidak ingin tubuhmu benar-benar hancur.” Tatapan Mynhemeni tertuju lurus pada Cakra. Tidak ada ancaman di sana, justru sesuatu yang menyerupai permohonan, seolah ia benar-benar berharap kata-katanya didengar. Namun bagi Cakra, ekspresi itu tak berarti apa-apa.
Ia mengabaikannya.
Cakra tetap mengerahkan seluruh sisa kekuatan yang masih bisa ia kumpulkan. Ia memaksa tubuhnya bergerak, melawan kekakuan yang menahan sendi dan ototnya. Getaran yang sebelumnya mengurungnya perlahan melemah, surut sedikit demi sedikit, seperti arus laut yang akhirnya kehilangan daya dorong.
Usahanya tidak mengkhianatinya.
Otot-ototnya mulai kembali patuh, meski setiap gerakan terasa kasar dan menyakitkan. Nyeri masih tertinggal, menjalar seperti sisa sengatan listrik yang membekas di dalam tulang, menolak benar-benar pergi. Napasnya berat, dadanya naik turun, namun ia masih berdiri. Dan di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang jauh lebih kuat. Amarah di dadanya justru semakin mengendap. Bukan meledak, melainkan menumpuk, padat dan panas, seperti tekanan di kedalaman laut yang siap menghancurkan apa pun yang lengah di hadapannya.
Mynhemeni tiba-tiba terdiam. Seluruh perhatiannya mengerucut saat ia menangkap pergerakan kecil dari tubuh Cakra, nyaris tak kasatmata, namun cukup untuk membuatnya siaga. Ruangan itu mendadak terasa menyempit, seolah tekanan laut di luar dinding ikut merayap masuk.
Cakra menggertakkan giginya. Ia memaksa tubuhnya bergerak, berusaha melepaskan diri dari sesuatu yang menahan sendi-sendinya. Aliran listrik masih menjalar, menusuk hingga ke tulang, membuat pandangannya bergetar. Tapi ia tidak berhenti. Setiap tarikan napas terasa berat, seperti menghirup udara dingin di dasar laut, namun ia terus melawan.
Lalu, tiba-tiba, sensasi itu menghilang.
Tak ada lagi rasa sakit. Tak ada getaran. Tak ada apa pun.
Keheningan yang menyusul justru membuat Mynhemeni panik. Wajahnya menegang, napasnya sedikit tersendat. Dalam hitungan detik, berbagai kemungkinan berputar di kepalanya. Ia harus melumpuhkan Cakra sekarang juga, dengan cara apa pun. Bahkan jika itu berarti mengakhiri hidup anak itu.
Pikirannya bergerak cepat, dingin, dan terlatih. Situasi ini sebenarnya menguntungkannya. Ayahnya, ketua pemerintah distrik Nor, telah mengetahui bahwa dirinya diculik oleh Cakra. Jika keadaan berbalik dan Cakra mencoba melawannya, Mynhemeni memiliki alasan yang sempurna. Ia hanya perlu berkata bahwa semua yang ia lakukan adalah demi menyelamatkan nyawanya sendiri.
Kepanikan Mynhemeni meledak dalam satu tarikan napas. Hampir refleks, ia mengaktifkan seluruh persenjataan yang melekat di tubuh dan sekitarnya. Dalam sekejap, ruang di sekitar Cakra berubah menjadi lingkaran ancaman. Berbagai alat perang bangsa Porkah melayang mengelilinginya, bergerak pelan namun siap menerkam.
Tombak listrik berpendar dengan dengung halus, ujungnya berkilat seperti sedang menunggu perintah. Pisau-pisau dengan ukuran berbeda berputar perlahan, tajam dan dingin. Sebilah pedang melayang paling dekat, diselimuti kilatan petir ungu yang memercik lembut, namun cukup terang untuk membuat bulu kuduk meremang. Ada pula tabung-tabung panjang menyerupai cacing laut, memancarkan cahaya warna-warni yang berganti ritme, fungsinya sama sekali tak bisa ditebak.
Sekilas, Cakra melihat sesuatu yang mirip roket, namun ia tidak yakin apakah itu benar-benar senjata atau alat lain yang lebih mengerikan. Di sekelilingnya, bola-bola kecil bercahaya putih kembali mengitari tubuhnya. Bukan dua bola kali ini. Enam.
Ia mengalihkan pandangannya kembali pada Mynhemeni.
Gadis itu berdiri kaku, bahunya tegang, matanya waspada. Seluruh sikapnya defensif, seolah Cakra adalah ancaman yang tak bisa ditoleransi, sesuatu yang terlalu berbahaya untuk dibiarkan bergerak bebas. Saat itu juga, sebuah kesadaran menghantam Cakra dengan keras.
Jika ia terus memaksa, ia tidak akan keluar dari tempat ini dengan utuh.
Jika ia ingin tetap hidup, tetap waras, dan tidak hancur di dunia asing ini, ia harus melakukan satu hal yang paling tidak ia sukai saat ini. Berkompromi. Membuat Mynhemeni percaya padanya, meski kepercayaan itu terasa rapuh seperti kaca murah di pasar loak.
Cakra mengangkat kedua tangannya perlahan, menunjukkan ia tidak berniat menyerang.
“Baiklah,” katanya, suaranya dibuat serendah dan setenang mungkin. “Aku akan menuruti keinginanmu.”
Ia berhenti sejenak, memastikan tatapan Mynhemeni masih tertuju padanya.
“Tapi dengan satu syarat.”
Mynhemeni tidak menurunkan satu pun senjatanya. Matanya menyipit, tubuhnya tetap siaga.
“Syarat apa?” tanyanya, singkat, dingin, dan penuh kewaspadaan.
“Kamu akan mengantarkan aku pulang begitu kamu mendapatkan semua jawaban yang kamu inginkan,” kata Cakra, tegas. Suaranya masih serak oleh sisa rasa nyeri, namun tekad di matanya tak goyah sedikit pun.
Mynhemeni menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Senjata-senjata di udara masih berpendar pelan, seperti makhluk laut yang menunggu arus berikutnya. Lalu ia mengangguk kecil.
“Setuju,” ucapnya cepat, terlalu cepat.
Satu per satu, senjata itu meredup, namun tidak sepenuhnya menghilang. Seolah hanya mundur selangkah, bukan menyerah. Cakra tidak menyadari hal itu. Ia terlalu sibuk menahan napas lega yang akhirnya lolos dari dadanya, seakan beban besar di dadanya sedikit terangkat.
Namun di balik wajah Mynhemeni yang tampak tenang, pikirannya bergerak jauh lebih liar.
Kesepakatan itu memiliki syarat lain. Variabel yang tidak ia ucapkan.
Ia tidak akan mengantarkan Cakra pulang jika hasil analisisnya menunjukkan satu hal yang tak bisa ditoleransi. Jika Cakra terbukti menjadi ancaman bagi Bumi. Atau lebih buruk lagi, jika darah dan kekuatan di tubuh manusia itu berkaitan dengan bangsa asing yang ratusan ribu tahun lalu menghancurkan planet Porkah hingga nyaris lenyap dari sejarah.
Jika itu yang terjadi, Mynhemeni sudah tahu apa yang harus ia lakukan.
Ia akan melaporkan semuanya kepada Thungsiruv, ayahnya, sekaligus ketua pemerintahan distrik Nor. Dan untuk pertama kalinya setelah berabad-abad, mereka akan membangun penjara khusus. Bukan untuk monster. Bukan untuk dewa. Melainkan untuk satu manusia yang terlalu berbahaya untuk dikembalikan ke dunia asalnya.
Mynhemeni kembali menatap Cakra. Senyum tipis terlukis di wajahnya, nyaris meyakinkan, seolah barusan tidak ada ancaman kematian di antara mereka.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita menuju tempatku.”
Satu per satu alat pertahanan bangsa Porkah yang mengelilingi Cakra mulai bergerak. Tombak listrik melipat diri seperti makhluk hidup, bilah-bilah pisau menyusut dan melebur, pedang berkilat ungu meredup sebelum menyatu kembali ke seragam Mynhemeni. Cahaya warna-warni dari tabung-tabung panjang berdenyut sesaat, lalu lenyap, seakan ditelan arus tak kasatmata. Meski telah menyaksikannya beberapa kali, Cakra tetap tak mampu menahan rasa kagum. Semua itu tampak mustahil, seperti hukum fisika yang dipelintir sesuka hati.
Namun ia memaksa dirinya tetap fokus.
Ia sedang menunggu.
Otot-otot Cakra menegang, napasnya tertahan. Begitu alat terakhir menghilang, begitu Mynhemeni benar-benar tak bersenjata, ia akan bergerak. Mendekap. Menekan. Jika perlu, mengancam. Ia tak peduli pada rasa bersalah. Di kepalanya, ini bukan penyerangan. Ini bertahan hidup. Ia diculik, dikurung, dijadikan objek analisis. Apa pun yang ia lakukan setelah ini, baginya sah.
Mynhemeni terlihat semakin santai. Ketegangan di bahunya mengendur, langkahnya mundur perlahan menuju sofa. Gerakannya tenang, percaya diri, seolah bahaya telah berlalu sepenuhnya. Saat alat terakhir menyatu sempurna dengan Sanvarnya, ia menjatuhkan diri ke dudukan empuk itu.
Saat itulah Cakra bergerak.
Tubuhnya melesat cepat, memotong jarak dalam satu dorongan penuh tenaga. Lantai terasa seperti daratan kering di bawah telapak kakinya, meski di luar dinding transparan laut beriak pelan. Mynhemeni bahkan tak sempat berteriak. Tubrukan itu membuatnya terjatuh keras ke atas sofa, material lembut menahan punggungnya dengan bunyi teredam.
Dalam sekejap, dunia Mynhemeni dipenuhi wajah Cakra.
Jari-jari Cakra melingkar di leher Mynhemeni, menekan perlahan namun pasti. Tidak brutal, justru terukur. Cukup untuk memutus aliran napasnya sejenak, cukup untuk membuat dunia di sekelilingnya terasa menyempit. Dada Mynhemeni terangkat tajam, lalu tertahan, seolah udara di ruangan itu tiba-tiba menolak masuk ke paru-parunya.
Ia mencoba memerintah Sanvarnya. Nalurinya menjerit, memberi perintah yang biasanya langsung dipatuhi. Lepaskan. Lumpuhkan. Balikkan keadaan. Namun tak ada respons. Sistem itu diam, beku, seperti benda mati yang melekat di tubuhnya. Kesadaran itu menghantamnya lebih keras daripada cekikan di lehernya. Untuk pertama kalinya, Mynhemeni benar-benar kehilangan kendali.
Matanya membesar, kilatan cerdas yang biasanya tenang kini dipenuhi keterkejutan dan rasa takut yang tak sempat disaring logika. Pandangannya bertemu dengan mata Cakra yang gelap dan dekat, terlalu dekat. Ia dapat merasakan panas tubuh manusia itu, kontras dengan dinginnya logam dan teknologi yang selama ini ia percaya sebagai pelindung.
Tangannya bergerak refleks. Jari-jarinya mencengkeram pergelangan Cakra, berusaha menciptakan celah sekecil apa pun. Kukunya menekan kulit, namun tak cukup dalam. Kekuatan di tubuhnya belum sepenuhnya kembali. Setiap tarikan napas terasa seperti berjuang melawan arus laut yang kuat, padahal lantai di bawah mereka diam dan kokoh seperti daratan.
Cakra menunduk lebih dekat. Napasnya panas, tak teratur. Amarah dan kepanikan berkelindan di wajahnya.
Di detik itu, peran mereka terbalik sepenuhnya.
Bukan lagi Cakra yang menjadi tahanan.
Melainkan Mynhemeni, terbaring kaku di bawah tubuh manusia yang baru saja ia anggap bisa dikendalikan.
Sedetik kemudian, kilatan cahaya menyambar di sekitar leher gadis itu. Bukan satu, melainkan berlapis, seperti petir yang terperangkap di ruang sempit. Cakra bergerak cepat, tanpa ragu. Tangan kirinya menyambar pergelangan tangan kanan Mynhemeni yang masih berusaha melawan. Memutarnya, lalu menyilangkannya ke tangan kiri gadis itu sendiri. Gerakannya kasar, namun presisi, seolah tubuhnya sudah hafal cara menundukkan lawan. Tubuh Cakra menekan penuh, berat dan panas, membuat sofa empuk di bawah mereka mengempis tanpa sisa. Kaki kanannya ikut mengunci, menekan tangan Mynhemeni agar tak bisa bergerak.
Mynhemeni mengerang tertahan. Napasnya tersendat. Cekikan di lehernya bukan sekadar tekanan, melainkan hantaran energi yang menyengat. Kilatan listrik menjalar, merambat dari tangan Cakra ke seluruh tubuh mereka berdua. Udara di dalam kabin terasa bergetar, seperti daratan yang dilanda badai, padahal di luar sana laut bergulung tenang, seolah tak peduli pada kekacauan kecil di dalamnya.
“Berhenti,” desis Mynhemeni nyaris tak terdengar. Tangannya berusaha bergerak, namun terkunci. Matanya berkedip cepat, bukan hanya karena sakit, tetapi karena terkejut. Ini di luar perhitungannya.
Cakra menunduk lebih dekat. Wajahnya hanya berjarak napas. Matanya gelap, fokus, dan dingin, seolah seluruh emosi telah mengendap menjadi satu keputusan sederhana. Tangannya sedikit menguatkan tekanan, cukup untuk membuat Mynhemeni sadar bahwa ini bukan gertakan.
“Antarkan aku pulang,” ucapnya lirih. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang ditahan.
“Atau kamu mati di sini.”
Sorot matanya tak goyah. Tak ada ragu. Tak ada tawar-menawar. Di detik itu, Mynhemeni tahu satu hal yang luput dari seluruh analisisnya. Makhluk paling berbahaya di ruangan ini bukanlah teknologi Porkah. Melainkan manusia yang sedang menindihnya. Manusia yang tak sedang mencari kekuasaan atau kemenangan. Ia hanya ingin satu hal yang sederhana dan mustahil untuk dinegosiasikan.
Pulang.
Kembali ke permukaan dunia. Menemui keluarganya. Memastikan teman-temannya masih ada. Menggenggam kehidupan yang hampir direnggut darinya.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai
Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...