Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 30 - Sanvar

“Aku nggak percaya… jangan-jangan ini semua cuma mimpi,” gumam Cakra, suaranya pecah di tengah kebingungan.

Mynhemeni menangkap sinyal penolakan itu dengan jelas. Ia tidak menyela, tidak pula menghakimi. Nalurinya berkata, reaksi itu wajar. Jika posisi mereka tertukar, mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Mencari celah paling logis untuk menyangkal kenyataan yang terlalu mustahil.

Namun akal sehatnya tetap berjaga. Terlalu berjaga, bahkan. Kepolosan Cakra bisa saja nyata, bisa pula kamuflase yang sempurna. Mynhemeni tak akan melepaskannya sebelum satu hal dipastikan: bahwa anak ini benar-benar tidak berbahaya bagi Bumi. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Cakra akan ia pulangkan, tapi hanya setelah dinyatakan aman. Dan setelah itu, ingatannya tentang Porkah harus dihapus.

Pikiran itu membuat dadanya terasa sedikit berat. Sayang, tapi perlu. Manusia darat tidak boleh mengetahui eksistensi mereka.

“Waktu pisauku membelah lenganmu tadi,” ujar Mynhemeni akhirnya, suaranya lembut tapi tegas, “kamu merasa sakit, kan?”

“Tentu saja—” Cakra terdiam sejenak, lalu menelan ludah.

“Oh… jadi ini bukan mimpi?” Mynhemeni hanya mengangguk.

Cakra mengacak rambutnya frustasi.

“Kalau ini di laut, kenapa terang? Apa sudah pagi? Terus… kita ini di laut bagian mana?” Pertanyaan itu keluar bertubi-tubi, seperti jangkar yang ia lemparkan ke kenyataan. Berharap ada satu saja yang mau mengait pada logika.

“Sebenarnya, posisi kita sekarang sekitar seribu dua ratus kilometer dari tempatmu hanyut,” ujar Mynhemeni tenang.

“Di kedalaman tujuh ribu meter.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Menurut satuan jarak bangsamu.”

“Tujuh ribu meter… di dalam laut?” suara Cakra nyaris tercekat. Angka itu menghantam kepalanya lebih keras daripada ombak mana pun. Ia menatap sekeliling lagi. Ruangan nyaman, cahaya lembut, tidak ada tekanan yang menghimpit dada. Semuanya terasa salah.

Mynhemeni hanya mengangguk, senyum tipisnya tetap terjaga, seolah jarak dan kedalaman hanyalah angka di layar.

“Di kondisi alami,” lanjutnya, “tempat ini seharusnya gelap total. Cahaya matahari tak pernah mencapai kedalaman ini. Gelombangnya sudah habis terkikis oleh molekul air laut Bumi yang sangat padat.” Ia menggerakkan tangannya pelan, seakan menggambarkan cahaya yang mati sebelum sempat lahir.

“Kalau begitu…” Cakra mengernyit.

“Kenapa aku bisa melihatmu? Kenapa di sini terang?” Mynhemeni menoleh, matanya berkilau samar. Bukan karena pantulan lampu, melainkan sesuatu dari dalam dirinya.

“Karena tubuh kami...”

“Tubuh kalian?”

“Tubuh kami mampu mengatur penyerapan cahaya,” jelasnya.

“Kami menentukan sendiri seberapa banyak cahaya yang ingin kami tangkap. Malam dan pagi bukan soal waktu bagi kami, itu soal pilihan.” Ucapannya mengalir rapi, terlalu rapi, hingga membuat kepala Cakra terasa penuh sesak.

Penjelasan itu membuat kepala Cakra terasa penuh, seperti dipaksa menampung laut dalam satu gelas. Ia terdiam, menyadari satu hal yang makin sulit disangkal: ini bukan mimpi. Dan dunia yang sedang ia pijak, atau mengambang di dalamnya, memiliki aturan yang sama sekali baru.

Namun di balik ketenangan wajahnya, Mynhemeni tahu ia tak sepenuhnya jujur. Bukan tubuh mereka semata yang melakukan semua itu melainkan Sanvar. Peranti tingkat tinggi yang tertanam dan menyatu dengan sel-sel bangsa Porkah. Sanvarlah sumber segalanya. Sanvar yang memungkinkan mereka bernapas di dalam laut, membengkokkan cahaya, dan hidup di dasar palung seolah masih berpijak di daratan.

Cakra melangkah mendekat, begitu dekat hingga ia bisa menghitung serat cahaya di iris perak mata Mynhemeni. Matanya jernih, dingin, dan nyaris tak menunjukkan keanehan apa pun. Tak melebar, tak menyempit. Tidak seperti yang ia bayangkan. Ia sempat mengira mata gadis itu akan berdenyut seperti mata kucing, bereaksi liar terhadap cahaya yang berubah-ubah.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Mynhemeni. Ia menyandarkan tubuh lebih dalam ke sofa, otot-ototnya menegang halus. Nalurinya sudah bersiap, satu langkah lagi dan mode pertahanan bisa aktif.

“Iris matamu nggak berubah,” jawab Cakra sambil mundur.

“Kupikir bakal melebar atau menyempit gitu.” Ia kembali menjatuhkan diri ke sofa. Benda itu seakan langsung menyesuaikan lengkung tubuhnya, memeluk punggung dan bahunya dengan kenyamanan yang nyaris berlebihan.

“Karena memang tak ada cahaya yang cukup terang,” jelas Mynhemeni datar.

“Tak ada rangsangan bagi otakku untuk mengatur penyerapan cahaya di iris mataku. Kenyataannya, tempat ini tetap gelap.”

Cakra mengernyit.

“Tapi aku bisa lihat semuanya jelas. Rasanya kayak siang bolong.” Ia menoleh ke dinding transparan.

Di luar sana, seorang bocah perempuan, mungkin belum genap tiga tahun, sedang menaburkan makanan dari jendela kamar kecilnya. Seekor makhluk mendekat: tubuhnya menyerupai burung, namun berkulit reptil seperti buaya, dengan sayap lebar menyerupai sirip ikan. Sayap itu membentang megah, seperti elang raksasa yang berenang di udara. Pemandangan itu terasa hangat. Terlalu hidup untuk disebut kegelapan.

Mynhemeni mengikuti arah pandangnya, lalu kembali menatap Cakra dengan sorot mata berbeda. Lebih tajam. Lebih berhitung.

“Kesimpulan sementara kami,” katanya pelan, “tubuhmu bekerja seperti tubuh kami. Tubuhmu beradaptasi dengan laut.”

Gadis itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

“Sekarang,” lanjutnya, “coba kamu bayangkan keadaan malam.”

Nada suaranya berubah. Bukan sekadar ajakan, melainkan uji coba.

Mynhemeni sempat merasa lega melihat betapa mudahnya Cakra diajak bekerja sama. Penguasaan diri anak itu. Tenang, tertata, nyaris terlalu rapi, membuatnya terpesona sekaligus waspada. Ia sulit percaya seseorang yang baru saja diculik, dibawa ke dasar laut, lalu disayat lengannya, bisa menahan emosi sebaik itu. Naluri profesionalnya segera bangkit. Mungkin ini sandiwara. Mungkin ketenangan itu topeng.

Ia tetap harus terjaga. Mengikuti alur Cakra, tanpa memancing kecurigaan.

Tanpa membuatnya merasa terancam.

Mynhemeni harus memastikan satu hal, anak ini bukan utusan bangsa asing. Bukan sisa peradaban dari dunia tak diketahui yang dulu menghancurkan planet mereka. Kemungkinan lain berputar di kepalanya. Mutasi genetik. Anomali biologis. Paparan radiasi. Teori-teori yang sering ia lihat dalam film manusia darat. Film yang justru sering ia jadikan bahan analisis. Bagaimanapun, mempelajari manusia adalah bagian dari tugasnya. Ia bahkan pernah berjalan di kota-kota besar di permukaan, menyamar, mengamati, menghafal kebiasaan mereka.

“Waaaah….” Seruan Cakra memotong alur pikirannya. Ia melihat anak itu melompat keheranan.

Dalam pandangan Cakra, cahaya di dalam jet meredup total. Gelap menyelimuti kabin, dan juga dunia di luar. Seolah malam ditarik paksa ke dasar laut. Namun tepat saat pesawat mereka melaju mendekati cahaya di cakrawala Distrik Nor, warna-warna mulai bermunculan. Berlapis dan hidup. Seperti fajar yang pecah di dalam air. Ubur-ubur di langit-langit ruangan memendarkan cahaya lebih terang, menari perlahan, membuat kegelapan terasa indah.

Mynhemeni melirik Cakra.

Reaksi spontan itu… terlalu jujur untuk sekadar akting.

Cakra merapatkan tubuhnya ke dinding transparan, telapak tangannya menempel seolah ingin memastikan permukaan itu benar-benar nyata. Ia mendongak, menembus langit-langit ruangan yang sama beningnya, dan napasnya tercekat. Pemandangan di atas berbeda dari sisi mana pun yang tadi ia lihat. Bukan laut, bukan pula langit. Melainkan hamparan gelap bertabur cahaya, seperti ruang angkasa yang sering muncul di dokumenter favoritnya. Galaksi-galaksi itu tersusun rapi, berputar perlahan, seolah laut sedang bermimpi menjadi semesta.

“Kamu bisa lihat galaksi-galaksi itu…,” ucap Cakra, suaranya bergetar oleh antusiasme. Ia menunjuk ke atas, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru menemukan dunia baru, lalu menoleh pada Mynhemeni, berharap yang dilihatnya bukan khayalan semata.

Mynhemeni menahan senyum, nyaris tertawa melihat perubahan ekspresi Cakra yang silih berganti antara kagum dan bingung.

“Apa yang kamu lihat dan yang aku lihat berbeda,” katanya tenang.

“Itu hanya rangsangan otak yang menciptakan ilusi. Saat ini, yang kulihat masih terang... Karena otakku menginginkannya begitu.”

Cakra terdiam, kembali menatap ke atas. Jika ini hanya ilusi, pikirnya, maka laut ini punya cara yang sangat meyakinkan untuk membuat siapa pun lupa bahwa mereka berada jauh di bawah permukaan Bumi.

“Oh iya… kenapa kamu bisa berkomunikasi denganku?” Cakra akhirnya bertanya setelah puas memainkan langit versinya sendiri, yang barusan berubah dari gugusan cahaya menjadi hamparan gurun sunyi di dasar laut. Ia melirik Mynhemeni, setengah ragu, setengah penasaran.

“Apa kamu memang bisa bahasa Indonesia?”

Mynhemeni menggeleng pelan. Gerakannya tenang, nyaris anggun, seolah gravitasi tak benar-benar memengaruhinya.

“Aku tidak berbicara dengan bahasamu,” katanya.

“Bangsa Porkah sudah lama meninggalkan bahasa lisan.” Ia mendekat sedikit, cukup agar Cakra bisa menangkap keseriusan di matanya.

“Kami berkomunikasi lewat gelombang. Bukan kata, tapi maksud. Pikiran mengirimkan niat, tujuan, emosi, semuanya sekaligus. Alat dengar lawan bicara menerjemahkannya tanpa celah salah paham.”

Cakra mengernyit.

“Terus… mulutmu?”

“Sekadar pemicu visual,” jawab Mynhemeni, nyaris tersenyum.

Ia membuka dan menutup mulutnya perlahan, seolah sedang memperagakan sesuatu yang sederhana.

“Aku membuka dan menutup bibir agar otakmu punya pegangan. Otakmu lalu memproyeksikan gerakan itu menjadi bahasa yang kamu pahami. Jadi yang kamu dengar bukan bahasaku, itu bahasamu sendiri.”

Tatapannya jatuh padanya. Lalu menepuk ringan busana yang membungkus tubuhnya. Permukaannya berkilau samar, seperti kain basah yang hidup.

“Semua itu dimungkinkan oleh Sanvar.” Nama itu diucapkannya dengan hormat, hampir seperti menyebut makhluk hidup yang suci.

“Busana ini bukan sekadar pelindung raga. Ia adalah wadah kesadaran dan tubuh. Sistem yang ditanamkan sejak kami masih janin. Sanvar menjaga fungsi vital, menstabilkan pikiran, dan memastikan tubuh tetap utuh. Apa pun yang terjadi.” Ia berhenti sejenak.

“Kesadarannya tumbuh bersama kami. Busana ini mengenal emosi pemiliknya, melindungi, bahkan membantah bila keputusan kami membahayakan diri sendiri. Sanvar tidak pernah berniat menggantikan kami.” Mynhemeni menatap lurus ke depan.

“Ia dilahirkan untuk menjaga, bukan memerintah.”

Penjelasan itu bukan kiasan.

Sejatinya, Sanvar adalah inti kehidupan bangsa Porkah. Busana yang tampak hanyalah lapisan luarnya, di baliknya berdenyut sistem biologis-teknologis yang tumbuh bersama tubuh pemiliknya. Kesadarannya, AI Sanvar, lahir sebagai pendamping, bukan alat. Ia menjaga regenerasi, kestabilan mental, dan fungsi vital tanpa pernah meminta perhatian.

Dalam keadaan tertentu, Sanvar membuka akses ke teknologi Porkah. Mulai dari pertahanan, medis, hingga perpindahan ruang. Namun kecanggihannya bukan hal yang paling menentukan. Yang membedakannya adalah kesetiaan. Sanvar bersifat protektif. Ia mampu menentang keputusan pemilik bila langkah itu mengarah pada kehancuran diri. Sanvar tidak bisa dipindahkan, tidak bisa dikosongkan, dan tidak pernah benar-benar dimatikan.

Itulah sebabnya bangsa Porkah jarang bertindak ceroboh. Mereka tidak pernah benar-benar sendirian di dalam kepala mereka.

Meski begitu, Sanvar masih bisa dibungkam. Bisa dipaksa diam, namun tidak pernah berhenti berjaga.

“Sanvar bukan sekadar pakaian. Ini pelindung raga, alat komunikasi, cadangan nutrisi hingga berbulan-bulan, sekaligus sistem pengolah sisa tubuh kami.”

Cakra menunduk, menatap busana itu dengan napas tertahan. Di daratan, pakaian hanya soal gaya atau cuaca. Di sini, satu lapis kain berarti hidup.

Selama mendengarkan Mynhemeni, Cakra hanya menyimak dengan tatapan takjub. Gagasan tentang alat yang mampu menopang seluruh kebutuhan manusia pernah terlintas di kepalanya, sekadar mimpi yang terlalu ambisius untuk diwujudkan. Kini, mimpi itu melekat di tubuhnya sendiri.

“Berarti… baju ini bisa jadi toilet?” Cakra bertanya ragu, alisnya bertaut. Pikiran logisnya menolak, tapi tubuhnya justru mengkhianat. Ada dorongan tak nyaman di perut bawah, tiba-tiba terasa mendesak, seolah kantung kemihnya mengingatkan keberadaannya dengan cara paling jujur.

“Bisa dibilang begitu,” jawab Mynhemeni ringan.

“Ya. Baju itu juga toilet.”

“Terus cara pakenya gimana?” Cakra hendak melanjutkan, suaranya menurun canggung.

“Soalnya kebetulan aku...” Kalimat itu terputus.

Tanpa peringatan, sensasi penuh di tubuhnya lenyap. Tidak ada rasa lega, tidak ada aliran, tidak ada sensasi, tidak ada proses, bahkan tidak ada detik transisi. Hanya kekosongan yang tiba-tiba saja terjadi. Seolah kebutuhan itu tak pernah ada sejak awal. Cakra terdiam, matanya membesar, tangannya refleks menekan perutnya sendiri.

Ia menunduk, menatap dirinya dengan wajah kosong.

“Hah…?” Ia menelan ludah.

“Barusan… Kok bisa?”

Mynhemeni hanya mengangkat kedua alisnya, senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.

Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Buah Mangga

buah mangga enak rasanya ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Download Titik & Koma