Bab 36 - Bahasa, Tawa, Dan Ancaman
“Kenapa kalian melakukannya?” tanya Cakra. Suaranya lebih pelan dari yang ia maksudkan, tenggelam di antara dengung halus ruang itu. Ia sama sekali tidak menyadari perubahan ritme di sekelilingnya, atau getaran halus yang mulai merambat di lantai, seperti roda raksasa yang tengah mengunci arah. Jet pesawat yang membawanya kian mendekati tujuan Mynhemeni.
“Tidak perlu alasan khusus untuk membantu sesama makhluk bumi, bukan?” ucap Mynhemeni ringan, seolah kalimat itu hanyalah angin yang lewat. Tatapannya tetap tenang, namun di balik ketenangan itu ada sesuatu yang ia simpan rapat. Ia tidak ingin Cakra tahu bahwa Porkah bukan penduduk asli bumi. Tidak juga tentang rasa berutang yang diam-diam mengikat bangsanya pada planet ini, pada laut yang memberi mereka tempat berlindung ketika mereka tak lagi memiliki rumah.
“Lagi pula,” lanjutnya, suaranya lebih dalam kini, “laut selalu mengambil.” Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi gema kata-katanya.
“Dan kami memilih untuk mengembalikan.” Cakra tidak segera memberi respon. Ia hanya menatap Mynhemeni, lalu mengangguk pelan. Gerakan kecil itu membuat bahu Mynhemeni mengendur, napasnya terasa lebih ringan. Ia tidak menyangka jawaban sesederhana itu akan diterima tanpa bantahan. Tanpa curiga.
Namun bagi Cakra, kalimat itu sama sekali tidak sederhana. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya, sesuatu yang terasa akrab. Suara ayahnya seolah menyusup di antara dengung mesin dan desiran air di luar sana. Tak perlu alasan untuk membantu sesama. Itulah prinsip yang Adipramana, ayahnya, selalu hembuskan padanya.
Senyum tipis terbit di wajah Cakra. Bukan senyum lega, melainkan senyum yang penuh kenangan. Ia menghargai prinsip bangsa Porkah, dan tanpa ia sadari, ia baru saja menemukan pantulan nilai yang selama ini ia genggam, bahkan ketika dunia di sekelilingnya terasa asing.
“Kenapa kamu tersenyum?” suara Mynhemeni terdengar ringan, namun matanya waspada, mengikuti perubahan ekspresi di wajah Cakra. Cakra menghela napas pendek, lalu tersenyum lebih lebar, bukan mengejek, melainkan tulus.
“Kalian keren,” ujarnya jujur. “Baru sekarang aku benar-benar sadar. Dengan kemampuan kalian, harusnya aku sudah mati dari tadi. Aku yakin, membunuhku bukan perkara sulit bagimu.”
Mynhemeni mengangkat alis tipis. Ada kilatan geli di matanya. “Kau baru menyadarinya?” katanya, hampir seperti tertawa kecil.
Cakra hanya menggeleng pelan. “Kalau aku tidak melihat semuanya dengan kepalaku sendiri, mungkin aku takkan percaya. Manusia yang hidup di bawah laut. Teknologi secanggih ini. Tempat ini terasa seperti daratan, tapi aku tahu kita jauh dari permukaan.”
“Lucu,” balas Mynhemeni sambil menyilangkan tangan. “Aku juga berpikir hal yang sama. Kalau aku tak menyaksikannya sendiri, mungkin aku takkan percaya ada manusia darat yang bisa bernapas di dalam air, menyembuhkan dirinya, dan memukul sekeras badai.”
Cakra terkekeh singkat, lalu matanya berbinar. “Ngomong soal itu, bagaimana caranya supaya kamu bisa dapat jawaban tentang diriku? Tentang semua kemampuan ini?”
“Kita akan melakukan beberapa tes di tempatku,” jawab Mynhemeni tenang. “Dan bersiaplah. Kita hampir sampai.”
Kalimat itu membuat Cakra tersentak. Ia baru menyadari dengungan halus yang konsisten sejak tadi. Jet itu ternyata sudah bergerak lama. Ia menoleh ke samping dan dadanya menghangat oleh rasa kaget. Dinding transparan yang memperlihatkan lautan kini telah tertutup sepenuhnya.
“Sejak kapan ruangan ini tertutup?” tanyanya, tak bisa menyembunyikan kekaguman.
Cakra bangkit sedikit dari duduknya, memutar kepala, menyusuri setiap sudut ruangan. Ornamen di dinding berkilau lembut, berpola seperti arus laut yang dibekukan. Ia merasa seperti berada di sebuah aula megah di daratan, hanya saja dengan denyut laut yang terus bernapas di sekelilingnya. Rasa penasaran di dadanya tumbuh semakin dalam, dan untuk pertama kalinya sejak diculik, ia menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Itu karena otakmu yang memerintahkannya,” ujar Mynhemeni tenang. “Sepertinya, di saat kamu mulai menyerangku, alam bawah sadarmu menginginkan ruang tertutup. Tempat di mana kau merasa punya kendali.”
“Oh. Iya juga,” gumam Cakra.
Seolah menanggapi pikirannya, dinding ruangan kembali memudar. Transparan. Bahkan lantainya ikut menghilang, menyingkap hamparan laut yang membentang jauh di bawah. Cakra refleks menahan napas. Tubuhnya terasa melayang di atas sofa, seperti terbang rendah tanpa sayap. Ada sensasi ringan di dadanya, campuran antara takut dan kagum.
Ia mengernyit, lalu berdeham kecil. Dalam hati, ia memerintahkan kebalikannya.
Dinding itu perlahan menutup kembali. Warna, tekstur, dan ornamen ruangan muncul satu per satu, solid dan nyata. Cakra mengangguk puas. Ia masih ingin menikmati interior aneh namun indah itu, ruang bawah laut yang terasa lebih kokoh dari bangunan di daratan.
“Oh iya,” katanya sambil menoleh ke Mynhemeni. “Kok kamu ngomong sama aku pakai bahasa formal sih?”
Mynhemeni mengernyit, jelas tidak paham. “Apa maksudmu?”
“Itu kan… kaku,” Cakra menggerakkan tangannya asal. “Kayak lagi pidato.”
“Itu permintaan otakmu,” balas Mynhemeni cepat.
Cakra mendengus pelan. “Terus kalau kita pakai lu-gue gitu bisa?”
Mynhemeni terdiam sesaat. Matanya bergerak cepat, seperti sedang memproses sesuatu.
“Ya terserah elu keleus,” ucapnya akhirnya, pelafalannya terdengar canggung di telinga Cakra. Cakra tak tahan. Senyumnya pecah, hampir tertawa. Mynhemeni hanya menatapnya bingung, seolah baru saja mengucapkan mantra terlarang.
“Maaf,” kata Cakra sambil menahan tawa. “Kayaknya emang nggak cocok ngomong bahasa gaul sama bule kayak kamu.”
Ia lalu bersandar sedikit, tatapannya nakal. Dengan nada ringan, ia melontarkan kalimat dalam bahasa asing.
“So, we’re friends now?”
“We’re not friends, we’re just…” Mynhemeni terhenti. Kalimatnya menggantung ketika ia menangkap tatapan Cakra yang mendadak berubah. Bukan marah, bukan takut, melainkan kosong bercampur tak percaya, seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang seharusnya mustahil.
Alis Mynhemeni berkerut. Ia memiringkan kepala sedikit. “What’s going on?”
Cakra menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena ancaman, tapi karena keterkejutan yang aneh.
“We just talked in English,” serunya, nyaris seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.
Mynhemeni menatapnya semakin bingung. “Ну и что тут такого?” katanya spontan. Menggunakan bahasa Rusia, yang artinya lalu, ada yang salah dengan hal itu?
Cakra membeku.
“Ты мне даже ответила по-русски!” seru Cakra, nadanya melonjak, nyaris tertawa. Ia membalas dengan bahasa yang sama, bahasa Rusia. Matanya berbinar seperti anak kecil yang berhasil menebak trik sulap. kamu bahkan menjawabku dalam bahasa Rusia! adalah kata yang terlontar dari mulut Mynhemeni.
Tawanya pecah, ringan dan puas, hasil dari keisengan yang tak pernah ia bayangkan akan berhasil. Ia tak menyangka gadis berparas Kaukasia di hadapannya itu akan merespons bukan hanya dengan bahasa formal, tetapi juga bahasa gaul, Inggris, bahkan Rusia, seolah pikirannya sendiri menjadi pintu yang bebas dilewati kata-kata apa pun.
Mynhemeni semakin mengernyit. Ia menatap Cakra lebih lama, mencoba membaca sesuatu yang tak tertangkap oleh analisisnya. Lalu ia bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih waspada.
“도대체 너한테 무슨 일이 있었던 거야?” kali ini bahasa Korea yang keluar. Cakra paham maksudnya. Karena memang Cakra pandai menggunakan bahasa Korea. Gadis itu bertanya, apa yang sebenarnya terjadi padanya.
“Enggak, gue iseng tadi,” kata Cakra sambil masih menahan tawa. Bahunya naik turun, matanya menyipit geli.
“Penasaran aja, lu bisa nggak jawab gue pake bahasa asing. Eh, ternyata bisa. Lucu bangeet.” Mynhemeni menghela napas panjang. Cahaya biru laut di balik dinding jet memantul di wajahnya yang pucat, membuat ekspresinya terlihat campur aduk antara lega dan jengkel. Sempat terlintas di benaknya kemungkinan terburuk, bahwa ada sesuatu yang rusak di dalam diri Cakra setelah semua kejadian barusan. Kini, kekhawatiran itu menguap, digantikan rasa sebal yang tak sepenuhnya ia sembunyikan.
“Kirain kenapa,” gumamnya. Lalu ia menatap Cakra dengan tatapan datar.
“Norak banget sih lu.” Kalimat itu menghantam Cakra seperti peluru kejutan. Ia terdiam sepersekian detik, lalu tawa meledak tanpa bisa dicegah. Suaranya menggema di ruangan, bercampur dengung halus mesin jet yang melaju tenang di bawah laut.
“Anjiiiir,” katanya sambil menepuk sofa di sampingnya. “Sumpah, nggak cocok bat lu ngomong kayak gitu.”
Mynhemeni memalingkan wajah, jelas tak mengerti apa yang begitu lucu. Namun sudut bibirnya berkedut tipis, hampir seperti senyum yang tertahan. Cakra menangkapnya dan justru makin semangat.
“Coba dong,” pintanya, tubuhnya condong ke depan. “Ngomong lagi kayak tadi.” Nada suaranya penuh antusias, seperti seseorang yang baru menemukan mainan aneh dan belum siap meletakkannya.
“เธออยากให้ฉันพูดอะไร?” Mynhemeni menjawab tanpa ragu, bahasa Thailand mengalir dari bibirnya dengan aksen yang terasa sangat medok di telinga Cakra. Ia sendiri terkejut karena memahami setiap katanya, padahal ia tak pernah sekalipun mempelajari bahasa itu. Kamu mau aku bicara apa? Maknanya langsung sampai, jernih, seolah otaknya menerjemahkan sebelum ia sempat berpikir. Cakra kembali tertawa, kali ini lebih lepas. Ada sesuatu yang absurd melihat kalimat asing keluar dari mulut kecil Mynhemeni yang tipis bergelombang, dengan wajah serius seakan itu hal paling wajar di dunia.
Belum sempat tawanya reda, Mynhemeni kembali bersuara. “Heh, kowek ki napa? Nyong ana sing ora genah, ta?”
Cakra nyaris tersedak tawanya sendiri. Bahunya terguncang, kepalanya menunduk, lalu ia menepuk sofanya berulang kali, tak kuasa menahan geli. Bahasa ngapak itu terdengar begitu medok, begitu membumi, kontras dengan ruangan futuristis yang melayang di dasar laut. Padahal kalimatnya sederhana saja. Kamu kenapa? Apa ada yang aneh dari diriku?
“Ya ampun,” gumam Cakra sambil mengusap sudut matanya yang basah karena tertawa. Ia menatap Mynhemeni, masih tak percaya.
Mynhemeni jelas tak menikmati tingkah Cakra yang menurutnya makin tak masuk akal. Ia memalingkan wajah, rahangnya mengeras, matanya menyapu pantulan dinding jet seolah mencari sesuatu yang salah pada dirinya sendiri. Tidak ada. Namun tawa Cakra masih terdengar, terputus-putus, tertahan, lalu meledak lagi. Melihat itu, Cakra berusaha menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Sayangnya, setiap kali ia hampir berhasil, bayangan Mynhemeni berbicara dengan bahasa ngapak beraksen medok kembali muncul begitu saja, lengkap dengan ekspresi seriusnya. Tawa itu lolos lagi, lebih pelan tapi tetap menggoda.
Kesabaran Mynhemeni habis. Ia berbalik, menatap Cakra dengan sorot tajam yang jelas bukan sekadar kesal. “Meneng ora! Apa inyong kudu nodongna senjatak kiyek maning maring kowek, hah?” ucapnya ketus.
Alih-alih takut, Cakra justru semakin terguncang oleh tawa. Ia sampai terguling di atas sofa, menepuk-nepuk bantalan empuknya, membuat perabot itu ikut bergeser pelan seperti didorong arus laut yang tak terlihat. Ancaman itu baginya terdengar konyol, padahal maknanya jelas. Diam tidak. Apa aku harus menodongkan senjata lagi ke arahmu.
Namun keceriaan itu lenyap seketika. Udara di ruangan terasa menegang ketika satu per satu alat pertahanan bangsa Porkah kembali bermunculan, melayang dan mengitari tubuh Cakra. Kilatan cahaya dan dengung halus memenuhi ruang. Tawa Cakra mati di tenggorokannya. Ia berhenti bergerak, lalu buru-buru duduk tegap, punggungnya lurus, tangan di atas paha, persis anak kecil yang baru sadar telah melampaui batas.
“Maaf,” katanya cepat, suaranya mendadak patuh. “Aku tadi bercanda.”
“Bercanda dengan menertawakan orang lain?” balas Mynhemeni dingin. “Itu bukan lucu. Itu egois dan hina.” Cakra menelan ludah.
“Tidak perlu alasan khusus untuk membantu sesama makhluk bumi, bukan?” ucap Mynhemeni ringan, seolah kalimat itu hanyalah angin yang lewat. Tatapannya tetap tenang, namun di balik ketenangan itu ada sesuatu yang ia simpan rapat. Ia tidak ingin Cakra tahu bahwa Porkah bukan penduduk asli bumi. Tidak juga tentang rasa berutang yang diam-diam mengikat bangsanya pada planet ini, pada laut yang memberi mereka tempat berlindung ketika mereka tak lagi memiliki rumah.
“Lagi pula,” lanjutnya, suaranya lebih dalam kini, “laut selalu mengambil.” Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi gema kata-katanya.
“Dan kami memilih untuk mengembalikan.” Cakra tidak segera memberi respon. Ia hanya menatap Mynhemeni, lalu mengangguk pelan. Gerakan kecil itu membuat bahu Mynhemeni mengendur, napasnya terasa lebih ringan. Ia tidak menyangka jawaban sesederhana itu akan diterima tanpa bantahan. Tanpa curiga.
Namun bagi Cakra, kalimat itu sama sekali tidak sederhana. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya, sesuatu yang terasa akrab. Suara ayahnya seolah menyusup di antara dengung mesin dan desiran air di luar sana. Tak perlu alasan untuk membantu sesama. Itulah prinsip yang Adipramana, ayahnya, selalu hembuskan padanya.
Senyum tipis terbit di wajah Cakra. Bukan senyum lega, melainkan senyum yang penuh kenangan. Ia menghargai prinsip bangsa Porkah, dan tanpa ia sadari, ia baru saja menemukan pantulan nilai yang selama ini ia genggam, bahkan ketika dunia di sekelilingnya terasa asing.
“Kenapa kamu tersenyum?” suara Mynhemeni terdengar ringan, namun matanya waspada, mengikuti perubahan ekspresi di wajah Cakra. Cakra menghela napas pendek, lalu tersenyum lebih lebar, bukan mengejek, melainkan tulus.
“Kalian keren,” ujarnya jujur. “Baru sekarang aku benar-benar sadar. Dengan kemampuan kalian, harusnya aku sudah mati dari tadi. Aku yakin, membunuhku bukan perkara sulit bagimu.”
Mynhemeni mengangkat alis tipis. Ada kilatan geli di matanya. “Kau baru menyadarinya?” katanya, hampir seperti tertawa kecil.
Cakra hanya menggeleng pelan. “Kalau aku tidak melihat semuanya dengan kepalaku sendiri, mungkin aku takkan percaya. Manusia yang hidup di bawah laut. Teknologi secanggih ini. Tempat ini terasa seperti daratan, tapi aku tahu kita jauh dari permukaan.”
“Lucu,” balas Mynhemeni sambil menyilangkan tangan. “Aku juga berpikir hal yang sama. Kalau aku tak menyaksikannya sendiri, mungkin aku takkan percaya ada manusia darat yang bisa bernapas di dalam air, menyembuhkan dirinya, dan memukul sekeras badai.”
Cakra terkekeh singkat, lalu matanya berbinar. “Ngomong soal itu, bagaimana caranya supaya kamu bisa dapat jawaban tentang diriku? Tentang semua kemampuan ini?”
“Kita akan melakukan beberapa tes di tempatku,” jawab Mynhemeni tenang. “Dan bersiaplah. Kita hampir sampai.”
Kalimat itu membuat Cakra tersentak. Ia baru menyadari dengungan halus yang konsisten sejak tadi. Jet itu ternyata sudah bergerak lama. Ia menoleh ke samping dan dadanya menghangat oleh rasa kaget. Dinding transparan yang memperlihatkan lautan kini telah tertutup sepenuhnya.
“Sejak kapan ruangan ini tertutup?” tanyanya, tak bisa menyembunyikan kekaguman.
Cakra bangkit sedikit dari duduknya, memutar kepala, menyusuri setiap sudut ruangan. Ornamen di dinding berkilau lembut, berpola seperti arus laut yang dibekukan. Ia merasa seperti berada di sebuah aula megah di daratan, hanya saja dengan denyut laut yang terus bernapas di sekelilingnya. Rasa penasaran di dadanya tumbuh semakin dalam, dan untuk pertama kalinya sejak diculik, ia menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Itu karena otakmu yang memerintahkannya,” ujar Mynhemeni tenang. “Sepertinya, di saat kamu mulai menyerangku, alam bawah sadarmu menginginkan ruang tertutup. Tempat di mana kau merasa punya kendali.”
“Oh. Iya juga,” gumam Cakra.
Seolah menanggapi pikirannya, dinding ruangan kembali memudar. Transparan. Bahkan lantainya ikut menghilang, menyingkap hamparan laut yang membentang jauh di bawah. Cakra refleks menahan napas. Tubuhnya terasa melayang di atas sofa, seperti terbang rendah tanpa sayap. Ada sensasi ringan di dadanya, campuran antara takut dan kagum.
Ia mengernyit, lalu berdeham kecil. Dalam hati, ia memerintahkan kebalikannya.
Dinding itu perlahan menutup kembali. Warna, tekstur, dan ornamen ruangan muncul satu per satu, solid dan nyata. Cakra mengangguk puas. Ia masih ingin menikmati interior aneh namun indah itu, ruang bawah laut yang terasa lebih kokoh dari bangunan di daratan.
“Oh iya,” katanya sambil menoleh ke Mynhemeni. “Kok kamu ngomong sama aku pakai bahasa formal sih?”
Mynhemeni mengernyit, jelas tidak paham. “Apa maksudmu?”
“Itu kan… kaku,” Cakra menggerakkan tangannya asal. “Kayak lagi pidato.”
“Itu permintaan otakmu,” balas Mynhemeni cepat.
Cakra mendengus pelan. “Terus kalau kita pakai lu-gue gitu bisa?”
Mynhemeni terdiam sesaat. Matanya bergerak cepat, seperti sedang memproses sesuatu.
“Ya terserah elu keleus,” ucapnya akhirnya, pelafalannya terdengar canggung di telinga Cakra. Cakra tak tahan. Senyumnya pecah, hampir tertawa. Mynhemeni hanya menatapnya bingung, seolah baru saja mengucapkan mantra terlarang.
“Maaf,” kata Cakra sambil menahan tawa. “Kayaknya emang nggak cocok ngomong bahasa gaul sama bule kayak kamu.”
Ia lalu bersandar sedikit, tatapannya nakal. Dengan nada ringan, ia melontarkan kalimat dalam bahasa asing.
“So, we’re friends now?”
“We’re not friends, we’re just…” Mynhemeni terhenti. Kalimatnya menggantung ketika ia menangkap tatapan Cakra yang mendadak berubah. Bukan marah, bukan takut, melainkan kosong bercampur tak percaya, seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang seharusnya mustahil.
Alis Mynhemeni berkerut. Ia memiringkan kepala sedikit. “What’s going on?”
Cakra menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena ancaman, tapi karena keterkejutan yang aneh.
“We just talked in English,” serunya, nyaris seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.
Mynhemeni menatapnya semakin bingung. “Ну и что тут такого?” katanya spontan. Menggunakan bahasa Rusia, yang artinya lalu, ada yang salah dengan hal itu?
Cakra membeku.
“Ты мне даже ответила по-русски!” seru Cakra, nadanya melonjak, nyaris tertawa. Ia membalas dengan bahasa yang sama, bahasa Rusia. Matanya berbinar seperti anak kecil yang berhasil menebak trik sulap. kamu bahkan menjawabku dalam bahasa Rusia! adalah kata yang terlontar dari mulut Mynhemeni.
Tawanya pecah, ringan dan puas, hasil dari keisengan yang tak pernah ia bayangkan akan berhasil. Ia tak menyangka gadis berparas Kaukasia di hadapannya itu akan merespons bukan hanya dengan bahasa formal, tetapi juga bahasa gaul, Inggris, bahkan Rusia, seolah pikirannya sendiri menjadi pintu yang bebas dilewati kata-kata apa pun.
Mynhemeni semakin mengernyit. Ia menatap Cakra lebih lama, mencoba membaca sesuatu yang tak tertangkap oleh analisisnya. Lalu ia bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih waspada.
“도대체 너한테 무슨 일이 있었던 거야?” kali ini bahasa Korea yang keluar. Cakra paham maksudnya. Karena memang Cakra pandai menggunakan bahasa Korea. Gadis itu bertanya, apa yang sebenarnya terjadi padanya.
“Enggak, gue iseng tadi,” kata Cakra sambil masih menahan tawa. Bahunya naik turun, matanya menyipit geli.
“Penasaran aja, lu bisa nggak jawab gue pake bahasa asing. Eh, ternyata bisa. Lucu bangeet.” Mynhemeni menghela napas panjang. Cahaya biru laut di balik dinding jet memantul di wajahnya yang pucat, membuat ekspresinya terlihat campur aduk antara lega dan jengkel. Sempat terlintas di benaknya kemungkinan terburuk, bahwa ada sesuatu yang rusak di dalam diri Cakra setelah semua kejadian barusan. Kini, kekhawatiran itu menguap, digantikan rasa sebal yang tak sepenuhnya ia sembunyikan.
“Kirain kenapa,” gumamnya. Lalu ia menatap Cakra dengan tatapan datar.
“Norak banget sih lu.” Kalimat itu menghantam Cakra seperti peluru kejutan. Ia terdiam sepersekian detik, lalu tawa meledak tanpa bisa dicegah. Suaranya menggema di ruangan, bercampur dengung halus mesin jet yang melaju tenang di bawah laut.
“Anjiiiir,” katanya sambil menepuk sofa di sampingnya. “Sumpah, nggak cocok bat lu ngomong kayak gitu.”
Mynhemeni memalingkan wajah, jelas tak mengerti apa yang begitu lucu. Namun sudut bibirnya berkedut tipis, hampir seperti senyum yang tertahan. Cakra menangkapnya dan justru makin semangat.
“Coba dong,” pintanya, tubuhnya condong ke depan. “Ngomong lagi kayak tadi.” Nada suaranya penuh antusias, seperti seseorang yang baru menemukan mainan aneh dan belum siap meletakkannya.
“เธออยากให้ฉันพูดอะไร?” Mynhemeni menjawab tanpa ragu, bahasa Thailand mengalir dari bibirnya dengan aksen yang terasa sangat medok di telinga Cakra. Ia sendiri terkejut karena memahami setiap katanya, padahal ia tak pernah sekalipun mempelajari bahasa itu. Kamu mau aku bicara apa? Maknanya langsung sampai, jernih, seolah otaknya menerjemahkan sebelum ia sempat berpikir. Cakra kembali tertawa, kali ini lebih lepas. Ada sesuatu yang absurd melihat kalimat asing keluar dari mulut kecil Mynhemeni yang tipis bergelombang, dengan wajah serius seakan itu hal paling wajar di dunia.
Belum sempat tawanya reda, Mynhemeni kembali bersuara. “Heh, kowek ki napa? Nyong ana sing ora genah, ta?”
Cakra nyaris tersedak tawanya sendiri. Bahunya terguncang, kepalanya menunduk, lalu ia menepuk sofanya berulang kali, tak kuasa menahan geli. Bahasa ngapak itu terdengar begitu medok, begitu membumi, kontras dengan ruangan futuristis yang melayang di dasar laut. Padahal kalimatnya sederhana saja. Kamu kenapa? Apa ada yang aneh dari diriku?
“Ya ampun,” gumam Cakra sambil mengusap sudut matanya yang basah karena tertawa. Ia menatap Mynhemeni, masih tak percaya.
Mynhemeni jelas tak menikmati tingkah Cakra yang menurutnya makin tak masuk akal. Ia memalingkan wajah, rahangnya mengeras, matanya menyapu pantulan dinding jet seolah mencari sesuatu yang salah pada dirinya sendiri. Tidak ada. Namun tawa Cakra masih terdengar, terputus-putus, tertahan, lalu meledak lagi. Melihat itu, Cakra berusaha menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Sayangnya, setiap kali ia hampir berhasil, bayangan Mynhemeni berbicara dengan bahasa ngapak beraksen medok kembali muncul begitu saja, lengkap dengan ekspresi seriusnya. Tawa itu lolos lagi, lebih pelan tapi tetap menggoda.
Kesabaran Mynhemeni habis. Ia berbalik, menatap Cakra dengan sorot tajam yang jelas bukan sekadar kesal. “Meneng ora! Apa inyong kudu nodongna senjatak kiyek maning maring kowek, hah?” ucapnya ketus.
Alih-alih takut, Cakra justru semakin terguncang oleh tawa. Ia sampai terguling di atas sofa, menepuk-nepuk bantalan empuknya, membuat perabot itu ikut bergeser pelan seperti didorong arus laut yang tak terlihat. Ancaman itu baginya terdengar konyol, padahal maknanya jelas. Diam tidak. Apa aku harus menodongkan senjata lagi ke arahmu.
Namun keceriaan itu lenyap seketika. Udara di ruangan terasa menegang ketika satu per satu alat pertahanan bangsa Porkah kembali bermunculan, melayang dan mengitari tubuh Cakra. Kilatan cahaya dan dengung halus memenuhi ruang. Tawa Cakra mati di tenggorokannya. Ia berhenti bergerak, lalu buru-buru duduk tegap, punggungnya lurus, tangan di atas paha, persis anak kecil yang baru sadar telah melampaui batas.
“Maaf,” katanya cepat, suaranya mendadak patuh. “Aku tadi bercanda.”
“Bercanda dengan menertawakan orang lain?” balas Mynhemeni dingin. “Itu bukan lucu. Itu egois dan hina.” Cakra menelan ludah.
Other Stories
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Just, Open Your Heart
Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...
Kota Ini
Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...