Bab 42 - Juga Buron
Setelah membubarkan pasukan, Rumsun melayang santai di atas plitan menuju ruang kerjanya. Senyum puas tak lepas dari wajahnya, seolah arus laut pun ikut mendorong langkahnya. Bagi Rumsun, siapa pun Cakra sebenarnya tidak pernah menjadi masalah. Keberadaan anak itu justru membuka semua pintu yang ia butuhkan. Cakra adalah lampu hijau yang selama ini ia tunggu. Bila anak itu tidak berbahaya, dukungan rakyat Porkah akan mengalir deras padanya. Seorang pemimpin yang tenang, bijak, dan berpihak pada kepentingan bangsa akan disematkan padanya.
Jika Cakra benar ancaman, terlebih bila ia terbukti sebagai salah satu makhluk yang pernah menghancurkan planet Porkah, Rumsun akan berdiri paling depan meminta Raja mengerahkan pasukan. Atas nama perlindungan, atas nama kesiapsiagaan. Bumi harus dijaga, seakan itu bukan sekadar dalih. Dan bila serangan benar-benar datang, Rumsun sudah siap berada di posisi pahlawan. Ia akan dikenang sebagai penyelamat dua dunia.
Hadiah akhirnya tetap sama, singgasana Raja.
Di kejauhan, bayangan tawa puas Rumsun seakan menyatu dengan suara Perdana Menteri dan Ratu. Gambaran itu menghantam benak Mynhemeni seperti gelombang dingin yang tiba-tiba menerjang kaki di daratan.
Ia mengatupkan rahangnya, dadanya mengeras.
“Kakak yakin, dia pasti ingin memprovokasi Ratu,” gumamnya pelan, lebih seperti napas yang lolos dari dada. Mynhemeni mengangkat wajahnya, menatap kehampaan air seolah Georu berdiri tepat di depannya. Arus laut berdesir lembut di sekelilingnya, terasa seperti angin tipis di dataran tinggi.
“Georu,” ucapnya tegas, nada suaranya mengeras.
“Jalankan peranmu sebagai pasukan keamanan gedung pusat pemerintahan. Ikuti perintah Rumsun. Jangan pedulikan kakak.” Ia berhenti sejenak, menelan kegelisahan.
“Begitu kakak mendapatkan jawabannya, kakak akan melepaskan anak itu dan datang ke istana. Kakak akan menjelaskan semuanya, menunjukkan bukti bahwa dia bukan ancaman.” Matanya menyipit, tekadnya kian padat.
“Tapi kalau ternyata dia memang berbahaya, kakak sendiri yang akan menyeretnya ke penjara pelepasan jiwa. Kakak pula yang akan membeberkan siapa dia sebenarnya dan ancaman apa yang dia bawa.”
Suara Georu terdengar tertahan, ia menoleh ke sekeliling sebelum bicara. Seakan suaranya akan di dengar jelas. “Baiklah, Kak. Tolong jangan sampai tertangkap.”
Ada jeda singkat, lalu ia melanjutkan dengan nada cemas. “Mereka akan mewawancarai seluruh warga. Semoga usaha mereka sia-sia.”
Sambungan itu terputus. Mynhemeni terdiam, membiarkan air asin yang tenang mengalir di sekelilingnya. Dadanya terasa sesak, pikirannya berkelindan antara harapan dan ketakutan. Ia tahu, setelah ini tak ada jalan kembali.
Kecemasan terlukis jelas di wajah Mynhemeni, bercampur dengan rasa takut yang tak sempat ia sembunyikan. Rencananya runtuh begitu saja, seperti bangunan pasir yang disapu arus. Ia tak lagi tahu apa langkah berikutnya, atau apa yang harus ia lakukan saat keberadaan mereka benar-benar terlacak.
Pikirannya berputar tanpa arah.
Haruskah ia menolong Cakra, anak yang diyakininya berkata jujur sejak awal, atau justru membiarkannya menjadi objek penelitian Rumsun? Lebih menakutkan lagi, ia tak mampu menebak apa yang akan dilakukan Cakra jika suatu hari ia sadar dirinya hanya dimanfaatkan. Bayangan kekacauan di Porkah muncul silih berganti, membuat tubuh Mynhemeni bergidik, seolah lantai jet yang dipijaknya mendadak retak.
Rasa cemas itu kian menebal, menekan dadanya hingga sulit bernapas.
Dan perasaan itu rupanya menular.
Cakra merasakan perubahan udara di sekeliling mereka. Ia menoleh, menatap Mynhemeni yang kini sudah berbalik menghadapnya. Tatapan gadis itu berbeda. Tak ada lagi kesal atau geli yang biasa ia lihat. Yang tersisa hanyalah kecemasan mentah, dalam, dan nyaris tak terlindungi.
“Kenapa?” Cakra langsung berdiri lebih tegak. Bahunya ikut menegang.
“Apa yang terjadi? Kenapa kamu kelihatan takut begitu?” desak Cakra, suaranya merendah, tapi jelas bergetar oleh kekhawatiran. Mynhemeni menatap lurus ke depan. Pandangannya kosong, seolah pikirannya tertinggal jauh di belakang.
“Sekarang aku juga buron,” suaranya keluar, datar dan kosong.
“Apa maksudmu buron?” Cakra mengernyit. Kebingungan mulai bercampur dengan rasa waswas. Ia tak yakin apakah harus panik atau menunggu penjelasan.
Mynhemeni tidak langsung menjawab. Ia melangkah kembali ke kursinya, jemarinya bergerak cepat memberi perintah pada jet. Mesin berdengung halus, lalu arah mereka berubah. Jet itu mundur perlahan, kemudian bergerak cepat, bergeser ke kanan, menjauh dari area penelitian pribadinya. Menuju Vorna. Rumah di atas karang yang melayang itu kian mengecil, tersapu cahaya laut yang temaram.
“Kita nggak jadi turun?” tanya Cakra, suaranya tertahan ketika menyadari mereka justru menjauh dengan sangat cepat.
Jet itu bergerak tanpa perlu berputar, seolah lantai di bawah mereka adalah daratan luas yang patuh pada kemauan Mynhemeni. Maju, mundur, menyamping, bahkan sedikit menyilang, semuanya terasa mulus. Cakra menahan napas, lagi-lagi takjub. Tak ada guncangan, tak ada sensasi berkendara. Rasanya seperti berdiri di sebuah ruangan sunyi yang melayang, sementara laut dan karang berlalu pelan di balik dinding transparan.
“Rencanaku kacau, seluruh pasukan diperintahkan untuk menangkapmu. Mereka bahkan tidak peduli kalau ternyata kamu benar-benar membunuhku.” ucap Mynhemeni akhirnya, suaranya menegang.
Tatapannya tetap tertuju ke depan, bukan pada Cakra, seolah jika ia menoleh sedikit saja, pikirannya akan runtuh. Di balik ketenangannya yang dipaksakan, otak dan Sanvarnya bekerja tanpa henti, saling berbenturan, memaksa diri mencari celah di tengah arus yang kian menyempit. Dengung halus jet mengisi keheningan, seperti detak waktu yang terus mendesak.
Pilihan paling masuk akal saat ini adalah membawa mereka sejauh mungkin dari Distrik Nor. Tidak lama kemudian, mereka telah melewati Vorna, gerbang antar distrik Kerajaan Porkah. Jet itu muncul kembali jauh dari jalur mana pun, di tengah Samudra Pasifik utara. Tepatnya di antara gugusan pulau Hawaii dan Alaska, pada kedalaman empat ribu meter di bawah permukaan laut.
Cakra melangkah pelan dan berhenti ketika menyadari pemandangan di luar telah berubah sepenuhnya. Tidak ada lagi siluet Kerajaan Porkah, tidak ada cahaya buatan atau tanda peradaban. Yang tersisa hanya lautan dalam, gelap dan sunyi. Ia berbalik, lalu duduk kembali tepat di hadapan Mynhemeni. Wajahnya kini serius, rasa takjub yang tadi sempat muncul telah lenyap, tergantikan oleh kesadaran bahwa mereka benar-benar dalam pelarian.
“Kalau mereka menangkapku, apa yang akan terjadi padaku?” tanyanya pelan. Mynhemeni terdiam beberapa detik. Rahangnya mengeras. Cakra bisa merasakannya, gadis itu tidak sedang menimbang kemungkinan. Ia sedang menolak satu pilihan dengan sekuat tenaga. Menyerahkannya pada pasukan keamanan yang pernah ia lumpuhkan sejam lalu bukanlah sesuatu yang sanggup ia lakukan.
Di antara mereka, air laut berkilau lembut. Tenang di luar, tapi penuh ancaman di dalam. Cakra menunggu, sadar bahwa jawaban apa pun yang akan keluar, hidupnya tak lagi berada di tangannya sendiri.
“Mereka akan memastikan kalau kamu benar-benar bukan ancaman,” jelas Mynhemeni pelan. Nada suaranya terkendali, meski kepalanya terasa penuh. Ia sebenarnya ingin berpikir tanpa gangguan, merangkai kemungkinan satu per satu. Namun, ia juga tak sanggup mengabaikan Cakra begitu saja.
“Lalu kenapa dari awal kalian menganggap aku ancaman?” potong Cakra. Tubuhnya sedikit condong ke depan, alisnya berkerut.
“Dari tadi aku bertanya soal itu, tapi kamu selalu menghindar. Ancaman apa yang kalian takutkan dariku?” Jet melayang stabil, seolah berpijak di tanah tak kasatmata. Di luar, hamparan laut terbentang tenang, cahaya biru kehijauan menari di dinding transparan. Keheningan itu justru membuat pertanyaan Cakra terasa lebih tajam.
Mynhemeni terdiam. Pandangannya jatuh ke lantai jet, jemarinya mengepal perlahan. Ia sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar jawaban singkat. Apakah bijaksana membuka rahasia yang selama ini dikubur bangsanya? Apakah adil menyeret manusia darat ini ke dalam ketakutan lama bangsa Porkah?
Ia menarik napas dalam. Di kepalanya, bayangan asal-usul mereka berkelebat. Kehancuran. Perpindahan. Penyesuaian diri di planet baru. Upaya bangsanya untuk bertahan hidup. Dan semua itu, entah bagaimana, kini bertaut pada sosok Cakra yang duduk di hadapannya, menunggu jawaban yang bisa mengubah segalanya.
“Kenapa diam?” desak Cakra, suaranya naik satu tingkat. “Ancaman apa yang kalian takutkan sampai harus bersikap se-defensif ini terhadapku?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada arus laut di luar dinding jet. Mynhemeni merasakan dadanya mengencang. Detak jantungnya berpacu, cepat dan tak beraturan, seolah tubuhnya sudah lebih dulu bersiap untuk bahaya yang belum sepenuhnya ia pahami. Otot-ototnya menegang, nalurinya berteriak untuk bertindak, tapi pikirannya justru membeku.
Ia memilih diam.
Bukan karena tak punya jawaban, melainkan karena terlalu banyak jawaban yang seharusnya tak keluar dari mulutnya. Pandangannya beralih, bukan pada Cakra, melainkan pada ruang di depan mereka, pada jalur pelarian yang terus ia hitung ulang di kepalanya. Ia memaksa pikirannya berbelok, mencari skenario terbaik. Sebuah jalan di mana Cakra tetap aman. Sebuah jalan di mana ia masih bisa mengawasi, meneliti, dan melindunginya. Tanpa harus hidup sebagai buronan. Tanpa harus menghadapi rekan-rekannya sendiri.
“Apa karena kekuatanku?” tanya Cakra kemudian. Nada suaranya lebih tenang, tapi justru itu yang membuatnya terasa berat. Seolah ia sedang menyusun kepingan yang tak ingin ia akui.
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, lebih pada dirinya sendiri, di dalam benaknya. Ia tahu bagaimana dunia bekerja. Perang selalu lahir dari rasa takut atau dari ketamakan. Dari bangsa yang merasa terancam lalu memilih menyerang lebih dulu, atau dari mereka yang ingin memiliki lebih dari yang seharusnya. Jika begitu, kesimpulannya jelas. Bangsa Porkah merasa tidak aman dengan kehadirannya. Bahkan sebelum ia sendiri mengerti siapa dirinya sebenarnya. Dalam pikirannya, menggantung pertanyaan yang ingin segera menerobos pintu kebenaran.
Mengapa ia begitu kuat? Dari mana datangnya kekuatan ini?
“Iya,” sahut Mynhemeni akhirnya. Matanya lurus menatap mata Cakra yang sibuk memindai tubuhnya. Suaranya terdengar lebih tegas daripada yang ia rasakan.
“Karena kamu berbeda dari manusia darat lainnya.” lanjutnya. Ia menangkap tatapan Cakra yang mengeras, lalu mengendur, seolah jawaban itu sekaligus melukai dan melegakan. Mynhemeni memanfaatkan momen itu. Lebih baik Cakra percaya bahwa semua ini berakar pada kekuatannya. Lebih baik ia mengira ketakutan itu lahir dari perbedaan.
Bukan dari kebenaran yang jauh lebih mengerikan.
Bukan dari ketakutan lama bangsa Porkah, bahwa Cakra mungkin bukan sekadar manusia kuat, melainkan bayangan dari kehancuran yang pernah memusnahkan planet mereka.
Jika Cakra benar ancaman, terlebih bila ia terbukti sebagai salah satu makhluk yang pernah menghancurkan planet Porkah, Rumsun akan berdiri paling depan meminta Raja mengerahkan pasukan. Atas nama perlindungan, atas nama kesiapsiagaan. Bumi harus dijaga, seakan itu bukan sekadar dalih. Dan bila serangan benar-benar datang, Rumsun sudah siap berada di posisi pahlawan. Ia akan dikenang sebagai penyelamat dua dunia.
Hadiah akhirnya tetap sama, singgasana Raja.
Di kejauhan, bayangan tawa puas Rumsun seakan menyatu dengan suara Perdana Menteri dan Ratu. Gambaran itu menghantam benak Mynhemeni seperti gelombang dingin yang tiba-tiba menerjang kaki di daratan.
Ia mengatupkan rahangnya, dadanya mengeras.
“Kakak yakin, dia pasti ingin memprovokasi Ratu,” gumamnya pelan, lebih seperti napas yang lolos dari dada. Mynhemeni mengangkat wajahnya, menatap kehampaan air seolah Georu berdiri tepat di depannya. Arus laut berdesir lembut di sekelilingnya, terasa seperti angin tipis di dataran tinggi.
“Georu,” ucapnya tegas, nada suaranya mengeras.
“Jalankan peranmu sebagai pasukan keamanan gedung pusat pemerintahan. Ikuti perintah Rumsun. Jangan pedulikan kakak.” Ia berhenti sejenak, menelan kegelisahan.
“Begitu kakak mendapatkan jawabannya, kakak akan melepaskan anak itu dan datang ke istana. Kakak akan menjelaskan semuanya, menunjukkan bukti bahwa dia bukan ancaman.” Matanya menyipit, tekadnya kian padat.
“Tapi kalau ternyata dia memang berbahaya, kakak sendiri yang akan menyeretnya ke penjara pelepasan jiwa. Kakak pula yang akan membeberkan siapa dia sebenarnya dan ancaman apa yang dia bawa.”
Suara Georu terdengar tertahan, ia menoleh ke sekeliling sebelum bicara. Seakan suaranya akan di dengar jelas. “Baiklah, Kak. Tolong jangan sampai tertangkap.”
Ada jeda singkat, lalu ia melanjutkan dengan nada cemas. “Mereka akan mewawancarai seluruh warga. Semoga usaha mereka sia-sia.”
Sambungan itu terputus. Mynhemeni terdiam, membiarkan air asin yang tenang mengalir di sekelilingnya. Dadanya terasa sesak, pikirannya berkelindan antara harapan dan ketakutan. Ia tahu, setelah ini tak ada jalan kembali.
Kecemasan terlukis jelas di wajah Mynhemeni, bercampur dengan rasa takut yang tak sempat ia sembunyikan. Rencananya runtuh begitu saja, seperti bangunan pasir yang disapu arus. Ia tak lagi tahu apa langkah berikutnya, atau apa yang harus ia lakukan saat keberadaan mereka benar-benar terlacak.
Pikirannya berputar tanpa arah.
Haruskah ia menolong Cakra, anak yang diyakininya berkata jujur sejak awal, atau justru membiarkannya menjadi objek penelitian Rumsun? Lebih menakutkan lagi, ia tak mampu menebak apa yang akan dilakukan Cakra jika suatu hari ia sadar dirinya hanya dimanfaatkan. Bayangan kekacauan di Porkah muncul silih berganti, membuat tubuh Mynhemeni bergidik, seolah lantai jet yang dipijaknya mendadak retak.
Rasa cemas itu kian menebal, menekan dadanya hingga sulit bernapas.
Dan perasaan itu rupanya menular.
Cakra merasakan perubahan udara di sekeliling mereka. Ia menoleh, menatap Mynhemeni yang kini sudah berbalik menghadapnya. Tatapan gadis itu berbeda. Tak ada lagi kesal atau geli yang biasa ia lihat. Yang tersisa hanyalah kecemasan mentah, dalam, dan nyaris tak terlindungi.
“Kenapa?” Cakra langsung berdiri lebih tegak. Bahunya ikut menegang.
“Apa yang terjadi? Kenapa kamu kelihatan takut begitu?” desak Cakra, suaranya merendah, tapi jelas bergetar oleh kekhawatiran. Mynhemeni menatap lurus ke depan. Pandangannya kosong, seolah pikirannya tertinggal jauh di belakang.
“Sekarang aku juga buron,” suaranya keluar, datar dan kosong.
“Apa maksudmu buron?” Cakra mengernyit. Kebingungan mulai bercampur dengan rasa waswas. Ia tak yakin apakah harus panik atau menunggu penjelasan.
Mynhemeni tidak langsung menjawab. Ia melangkah kembali ke kursinya, jemarinya bergerak cepat memberi perintah pada jet. Mesin berdengung halus, lalu arah mereka berubah. Jet itu mundur perlahan, kemudian bergerak cepat, bergeser ke kanan, menjauh dari area penelitian pribadinya. Menuju Vorna. Rumah di atas karang yang melayang itu kian mengecil, tersapu cahaya laut yang temaram.
“Kita nggak jadi turun?” tanya Cakra, suaranya tertahan ketika menyadari mereka justru menjauh dengan sangat cepat.
Jet itu bergerak tanpa perlu berputar, seolah lantai di bawah mereka adalah daratan luas yang patuh pada kemauan Mynhemeni. Maju, mundur, menyamping, bahkan sedikit menyilang, semuanya terasa mulus. Cakra menahan napas, lagi-lagi takjub. Tak ada guncangan, tak ada sensasi berkendara. Rasanya seperti berdiri di sebuah ruangan sunyi yang melayang, sementara laut dan karang berlalu pelan di balik dinding transparan.
“Rencanaku kacau, seluruh pasukan diperintahkan untuk menangkapmu. Mereka bahkan tidak peduli kalau ternyata kamu benar-benar membunuhku.” ucap Mynhemeni akhirnya, suaranya menegang.
Tatapannya tetap tertuju ke depan, bukan pada Cakra, seolah jika ia menoleh sedikit saja, pikirannya akan runtuh. Di balik ketenangannya yang dipaksakan, otak dan Sanvarnya bekerja tanpa henti, saling berbenturan, memaksa diri mencari celah di tengah arus yang kian menyempit. Dengung halus jet mengisi keheningan, seperti detak waktu yang terus mendesak.
Pilihan paling masuk akal saat ini adalah membawa mereka sejauh mungkin dari Distrik Nor. Tidak lama kemudian, mereka telah melewati Vorna, gerbang antar distrik Kerajaan Porkah. Jet itu muncul kembali jauh dari jalur mana pun, di tengah Samudra Pasifik utara. Tepatnya di antara gugusan pulau Hawaii dan Alaska, pada kedalaman empat ribu meter di bawah permukaan laut.
Cakra melangkah pelan dan berhenti ketika menyadari pemandangan di luar telah berubah sepenuhnya. Tidak ada lagi siluet Kerajaan Porkah, tidak ada cahaya buatan atau tanda peradaban. Yang tersisa hanya lautan dalam, gelap dan sunyi. Ia berbalik, lalu duduk kembali tepat di hadapan Mynhemeni. Wajahnya kini serius, rasa takjub yang tadi sempat muncul telah lenyap, tergantikan oleh kesadaran bahwa mereka benar-benar dalam pelarian.
“Kalau mereka menangkapku, apa yang akan terjadi padaku?” tanyanya pelan. Mynhemeni terdiam beberapa detik. Rahangnya mengeras. Cakra bisa merasakannya, gadis itu tidak sedang menimbang kemungkinan. Ia sedang menolak satu pilihan dengan sekuat tenaga. Menyerahkannya pada pasukan keamanan yang pernah ia lumpuhkan sejam lalu bukanlah sesuatu yang sanggup ia lakukan.
Di antara mereka, air laut berkilau lembut. Tenang di luar, tapi penuh ancaman di dalam. Cakra menunggu, sadar bahwa jawaban apa pun yang akan keluar, hidupnya tak lagi berada di tangannya sendiri.
“Mereka akan memastikan kalau kamu benar-benar bukan ancaman,” jelas Mynhemeni pelan. Nada suaranya terkendali, meski kepalanya terasa penuh. Ia sebenarnya ingin berpikir tanpa gangguan, merangkai kemungkinan satu per satu. Namun, ia juga tak sanggup mengabaikan Cakra begitu saja.
“Lalu kenapa dari awal kalian menganggap aku ancaman?” potong Cakra. Tubuhnya sedikit condong ke depan, alisnya berkerut.
“Dari tadi aku bertanya soal itu, tapi kamu selalu menghindar. Ancaman apa yang kalian takutkan dariku?” Jet melayang stabil, seolah berpijak di tanah tak kasatmata. Di luar, hamparan laut terbentang tenang, cahaya biru kehijauan menari di dinding transparan. Keheningan itu justru membuat pertanyaan Cakra terasa lebih tajam.
Mynhemeni terdiam. Pandangannya jatuh ke lantai jet, jemarinya mengepal perlahan. Ia sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar jawaban singkat. Apakah bijaksana membuka rahasia yang selama ini dikubur bangsanya? Apakah adil menyeret manusia darat ini ke dalam ketakutan lama bangsa Porkah?
Ia menarik napas dalam. Di kepalanya, bayangan asal-usul mereka berkelebat. Kehancuran. Perpindahan. Penyesuaian diri di planet baru. Upaya bangsanya untuk bertahan hidup. Dan semua itu, entah bagaimana, kini bertaut pada sosok Cakra yang duduk di hadapannya, menunggu jawaban yang bisa mengubah segalanya.
“Kenapa diam?” desak Cakra, suaranya naik satu tingkat. “Ancaman apa yang kalian takutkan sampai harus bersikap se-defensif ini terhadapku?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada arus laut di luar dinding jet. Mynhemeni merasakan dadanya mengencang. Detak jantungnya berpacu, cepat dan tak beraturan, seolah tubuhnya sudah lebih dulu bersiap untuk bahaya yang belum sepenuhnya ia pahami. Otot-ototnya menegang, nalurinya berteriak untuk bertindak, tapi pikirannya justru membeku.
Ia memilih diam.
Bukan karena tak punya jawaban, melainkan karena terlalu banyak jawaban yang seharusnya tak keluar dari mulutnya. Pandangannya beralih, bukan pada Cakra, melainkan pada ruang di depan mereka, pada jalur pelarian yang terus ia hitung ulang di kepalanya. Ia memaksa pikirannya berbelok, mencari skenario terbaik. Sebuah jalan di mana Cakra tetap aman. Sebuah jalan di mana ia masih bisa mengawasi, meneliti, dan melindunginya. Tanpa harus hidup sebagai buronan. Tanpa harus menghadapi rekan-rekannya sendiri.
“Apa karena kekuatanku?” tanya Cakra kemudian. Nada suaranya lebih tenang, tapi justru itu yang membuatnya terasa berat. Seolah ia sedang menyusun kepingan yang tak ingin ia akui.
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, lebih pada dirinya sendiri, di dalam benaknya. Ia tahu bagaimana dunia bekerja. Perang selalu lahir dari rasa takut atau dari ketamakan. Dari bangsa yang merasa terancam lalu memilih menyerang lebih dulu, atau dari mereka yang ingin memiliki lebih dari yang seharusnya. Jika begitu, kesimpulannya jelas. Bangsa Porkah merasa tidak aman dengan kehadirannya. Bahkan sebelum ia sendiri mengerti siapa dirinya sebenarnya. Dalam pikirannya, menggantung pertanyaan yang ingin segera menerobos pintu kebenaran.
Mengapa ia begitu kuat? Dari mana datangnya kekuatan ini?
“Iya,” sahut Mynhemeni akhirnya. Matanya lurus menatap mata Cakra yang sibuk memindai tubuhnya. Suaranya terdengar lebih tegas daripada yang ia rasakan.
“Karena kamu berbeda dari manusia darat lainnya.” lanjutnya. Ia menangkap tatapan Cakra yang mengeras, lalu mengendur, seolah jawaban itu sekaligus melukai dan melegakan. Mynhemeni memanfaatkan momen itu. Lebih baik Cakra percaya bahwa semua ini berakar pada kekuatannya. Lebih baik ia mengira ketakutan itu lahir dari perbedaan.
Bukan dari kebenaran yang jauh lebih mengerikan.
Bukan dari ketakutan lama bangsa Porkah, bahwa Cakra mungkin bukan sekadar manusia kuat, melainkan bayangan dari kehancuran yang pernah memusnahkan planet mereka.
Other Stories
Hold Me Closer
Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Cinta Kadang Kidding
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Kk
jjj ...