Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 37 - Tak Lagi Aman

Kalimat itu menghantam Cakra lebih keras daripada ancaman senjata apa pun. Tenggorokannya mengering, seolah ia benar-benar baru saja menelan ludahnya sendiri dan tak tahu harus berbuat apa setelahnya. Ia terdiam, dadanya terasa sesak. Prinsip yang selama ini ia pegang justru runtuh oleh tindakannya sendiri. Ia selalu membenci orang yang menjadikan orang lain sebagai bahan tawa. Baginya, itu hina. Dan barusan, tanpa sadar, ia berdiri di posisi yang sama.

Namun di balik rasa bersalah itu, ada kegelisahan lain yang berdesir pelan. Ia menatap lantai transparan di bawah kakinya, melihat biru laut yang tenang tapi dalam, seperti pikirannya sendiri. Sebenarnya ia tidak menertawakan Mynhemeni. Yang membuatnya kehilangan kendali adalah absurditas teknologi bangsa Porkah. Kemampuan menerjemahkan bahasa apa pun, menembus batas bunyi dan makna, membuat pikirannya seakan berlari tanpa rem. Kekaguman berubah jadi kelakar. Kelakar berubah jadi kebodohan.

“Iya,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.

“Aku paham.” Ia mengangkat pandangan, menatap Mynhemeni tanpa senyum.

“Maksudku bukan menertawakan kamu. Aku cuma… terpancing sama alat komunikasi ini.” Ia menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan.

“Maaf kalau itu bikin kamu tersinggung.”

Tubuhnya masih kaku di atas sofa, bahunya tegang, seolah ancaman tadi belum sepenuhnya pergi. Padahal alat-alat pertahanan bangsa Porkah telah lenyap, kembali menyatu dengan teknologi yang tak lagi terlihat. Ruangan terasa lebih lapang, namun rasa bersalah justru mengisi ruang kosong itu.

Mynhemeni memperhatikannya dalam diam. Tatapan tajamnya melunak, bahunya sedikit turun. Melihat Cakra yang tetap duduk tegap, penuh penyesalan, ada sesuatu yang mengusik dadanya. Ia tahu reaksinya berlebihan. Laut di luar sana tetap bergulir tenang, seolah mengingatkan bahwa tidak semua benturan harus berakhir dengan ancaman.

“Iya, aku juga minta maaf,” ucap Mynhemeni akhirnya. Nada suaranya sudah jauh lebih lunak, rasa jengkelnya mengendap menjadi rasa ingin tahu. Ia sedikit memiringkan kepala, rambut peraknya bergeser mengikuti gerakan itu.

“Boleh jelaskan, kenapa kamu sampai terpingkal-pingkal seperti itu?”

Cakra menghela napas, lalu duduk lebih tegak. Tangannya sempat bergerak canggung, seperti mencari kata yang tepat.

“Begini,” katanya hati-hati. “Di daratan, ada banyak sekali suku dan bangsa. Setiap suku punya bahasa sendiri. Dan kadang, bahasa satu suku bisa terdengar… sangat lucu bagi orang dari luar.”

Ia melirik Mynhemeni, memastikan gadis itu masih mendengarkan. “Tadi aku iseng mengubah bahasa di kepalaku waktu kamu bicara. Aku ketawa bukan karena kamu, tapi karena bunyinya. Apalagi dengan fisikmu.”

Ia berhenti sejenak, lalu buru-buru menambahkan, “Maksudku, penampilanmu kelihatan anggun dan serius. Jadi waktu keluar bahasa-bahasa yang nadanya ringan atau medok, rasanya kontras sekali.”

Mynhemeni mengerutkan kening tipis. Tatapannya kosong beberapa detik, seolah mencoba menarik makna dari penjelasan itu. Melihat raut wajah itu, Cakra langsung tahu. Ia mengendurkan bahunya.

“Kamu mungkin nggak akan paham,” katanya lebih pelan.

“Karena bahasa itu bukan sekadar bunyi. Ada kenangan, kedekatan, dan kebiasaan di dalamnya.” Ia melipat bibir sejenak.

“Jadi sungguh, aku bukan menertawakan kamu. Dan tidak ada yang aneh atau salah dari dirimu.”

Sesaat ruangan itu sunyi. Hanya suara mesin jet yang berdengung halus, seperti angin jauh di balik dinding. Lalu tiba-tiba Mynhemeni tertawa. Tawa pendek, jujur, dan tak ditahan.

Cakra tertegun. “Kenapa kamu tertawa?”

Mynhemeni mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena tertawa. “Karena kamu kelihatan terlalu serius.”

Ia menunjuk Cakra dengan dagu. “Kamu tegang, duduk kaku, suaramu gemetar. Seperti sedang diadili, bukan menjelaskan lelucon.”

Cakra terdiam sepersekian detik, lalu menghela napas panjang. Ketegangan di dadanya sedikit luruh. Laut di luar tetap bergelombang tenang, dan untuk pertama kalinya sejak lama, suasana di antara mereka terasa lebih ringan.

Mynhemeni menatapnya sekilas, lalu mengulas senyum kecil seolah ingin meruntuhkan beban itu.

“Lupakan,” katanya ringan. Ia melangkah mendekat dan merentangkan tangan kanannya.

“Yuk. Kita sudah sampai.”

Cakra menyambut tangan mungil namun kokoh itu. Sentuhannya hangat, mantap, jauh dari kesan rapuh. Ia bangkit dari sofanya yang empuk, lututnya sempat terasa kaku, seolah tubuhnya masih menyesuaikan diri dengan gravitasi aneh di tempat ini.

Rasa penasaran langsung menggerogoti pikirannya. Tanpa sadar, ia memerintahkan otaknya. Seketika, dinding jet yang semula buram kembali transparan, lapis demi lapis menghilang seperti kabut yang disibakkan angin.

Pemandangan di luar membuat napas Cakra tertahan.

Mereka melayang di atas hamparan biru kehijauan, tempat cahaya laut menembus seperti matahari sore di daratan. Di bawah mereka, karang raksasa mengambang tenang, besar dan kokoh, seolah pulau yang lupa jatuh. Di atas salah satu karang itu berdiri bangunan-bangunan dengan garis tegas dan lengkung halus, tersusun rapi membentuk sebuah kompleks perumahan.

Terlihat hidup, tapi hening. Asing, namun terasa nyata.

“Ini… daerah rumahmu?” tanya Cakra, matanya tak berkedip.

Mynhemeni mengangguk pelan, masih menggenggam tangannya. “Rumahku ada di sana.”

Jet melambat, meluncur turun dengan anggun. Di dadanya, Cakra merasakan sesuatu berdesir. Campuran takjub, cemas, dan rasa ingin tahu yang kian membesar. Ia tahu, begitu kakinya menginjak tempat itu, hidupnya tak akan pernah kembali sederhana.

Rumah-rumah di hadapan Cakra tidak besar, namun menjulang anggun meski hanya berlantai satu. Bentuknya memanjang ke atas seperti karang yang tumbuh mengikuti arus, kokoh dan tenang. Di sekelilingnya, pepohonan laut berdiri di antara terumbu karang berwarna-warni yang menyatu dengan hamparan bahari di bawah sana. Air di kawasan itu begitu jernih, menciptakan ilusi udara terbuka, membuat tempat ini terasa lebih seperti permukiman di daratan daripada dunia di bawah laut.

Setiap helai daun memancarkan cahaya lembut dengan warna yang berbeda. Biru, hijau, ungu, dan kuning berpendar perlahan, seolah cahaya itu hidup dan bernapas bersama arus. Seakan di dalam batang dan daun pohon-pohon itu tertanam aliran energi yang stabil. Pemandangan itu memanjakan mata Cakra sampai dadanya terasa hangat oleh kekaguman yang sulit ia jelaskan.

Tanpa sadar, langkahnya melambat. Saat ia hendak kembali menyusul Mynhemeni, gadis itu tiba-tiba berhenti. Tubuhnya menegang, punggungnya lurus, dan wajahnya mengeras seolah sedang mendengar sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga manusia.

Di saat yang sama, tangan mungil yang sejak tadi menarik Cakra telah terlepas. Ia pun tak langsung menyadarinya. Pikirannya masih terpaku pada kenyataan bahwa mereka berdiri di atas terumbu karang melayang, ratusan meter di atas dasar ngarai laut yang gelap dan tak terjangkau pandangan.

“Kenapa? Kok…” Cakra refleks bertanya, namun suaranya terpotong begitu Mynhemeni mengangkat tangan kirinya perlahan.

Isyarat itu sederhana, namun cukup membuat Cakra membeku. Diam.

Ia berkedip dan mengangguk kecil, memilih patuh. Matanya kembali menyapu distrik Porkah yang tampak damai. Cahaya pepohonan bergetar halus, arus bergerak pelan di antara bangunan.

Mereka berdiri dalam keheningan yang terasa terlalu panjang untuk disebut wajar. Cakra tak tahu harus berbuat apa. Waktu merayap pelan, mungkin sudah sepuluh menit, mungkin lebih. Awalnya ia masih menikmati pemandangan di sekelilingnya, cahaya pepohonan laut, bangunan yang berdiri tenang di atas karang melayang. Namun lama-kelamaan, rasa kagum itu bergeser menjadi kebingungan.

Mynhemeni masih berdiri di posisi yang sama. Terlalu diam. Terlalu kaku.

Cakra sempat terpikir untuk menepuk bahunya, sekadar memastikan gadis itu masih sadar. Ia bahkan mulai bertanya-tanya apakah tubuh Mynhemeni tidak kebas atau pegal berdiri setegak itu. Keraguan kecil merambat di benaknya, cukup untuk membuat matanya turun ke arah dada Mynhemeni. Ia menahan napas, lalu menghembuskannya lega ketika melihat dada itu naik dan turun perlahan.

“Syukurlah,” gumamnya tanpa suara.

Merasa tak ingin mengganggu, Cakra memalingkan perhatian. Ia kembali memerintahkan otaknya untuk menutup dinding jet pesawat. Permukaan transparan itu berubah, menutup dunia luar dan menggantinya dengan interior yang terasa hidup. Ornamen dinding yang semula hanya berupa garis-garis bercahaya kini bertransformasi. Bentuk-bentuk abstrak tiga dimensi muncul, saling timbul dan bertindih, bergerak perlahan seperti teka-teki raksasa yang terus disusun ulang.

Kubus-kubus kecil berputar, diikuti lingkaran dan segitiga yang saling mengisi ruang. Cahaya memancar dari tiap sudut, berdenyut lembut mengikuti irama yang tak terdengar. Sesekali, dinding itu mengeluarkan kabut tipis berair yang berkilau, memercik ringan seolah ingin menyentuh kulit Cakra, namun selalu berhenti beberapa senti sebelum mengenainya. Sensasinya persis seperti menatap film tiga dimensi, begitu dekat hingga terasa nyata, namun tetap tak tersentuh.

Cakra larut dalam pertunjukan itu sampai ia merasakan perubahan udara. Sebuah tekanan halus, seperti sesuatu yang mendadak mengeras.

Ia menoleh.

Mynhemeni sudah berbalik menghadapnya. Tatapan gadis itu berbeda. Tak ada kesal, tak ada geli. Yang tersisa hanya kecemasan yang mentah dan dalam.

“Kenapa?” Cakra langsung berdiri lebih tegak. Bahunya ikut menegang.

“Apa yang terjadi? Kenapa kamu kelihatan takut begitu?” Mynhemeni menatapnya sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan. Lalu suaranya keluar, datar dan kosong.

“Sekarang aku juga buron.”

Kalimat itu jatuh pelan, namun menghantam lebih keras dari apa pun yang barusan Cakra lihat di dinding jet.

Other Stories
Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

Jika Nanti

Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Download Titik & Koma