Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 35 - Taruhan Bernama Pulang

Namun Mynhemeni tetap bergeming. Di tengah cekikan yang menekan napasnya, gadis itu justru tertawa pelan. Tawa yang patah, diselingi batuk kering yang memaksa dadanya naik turun. Suara itu tipis, serak, namun cukup untuk menusuk kesabaran Cakra. Respons yang sama sekali tak ia harapkan.

Genggaman Cakra menguat tanpa sadar. Jarinya menekan lebih dalam, seolah ingin memaksa tubuh Mynhemeni menyerah. Kilatan listrik di sekeliling mereka membesar, menjalar seperti urat cahaya ungu yang lapar. Beberapa loncatan energi bahkan menyambar ke arah Cakra, mencoba melindungi tuannya.

Namun Cakra tidak merasakan apa pun. Tidak panas. Tidak nyeri. Tidak takut.

“Antarkan aku pulang sekarang juga!” teriaknya. Suaranya pecah, dipenuhi keputusasaan yang tak lagi bisa disembunyikan. Ia tak ingin membunuh gadis itu. Ia hanya ingin semua ini berakhir.

Mynhemeni tersenyum di sela batuknya, napasnya tersendat. Dengan sisa suara yang masih bisa ia kumpulkan, ia berbicara terbata-bata. “Kamu pikir… kamu bisa pulang… tanpa memberi jawaban pada kami?”

Ia terdiam sejenak, menelan udara yang nyaris tak ada. “Kamu pikir… aku menyerahkan diriku… tanpa persiapan?”

Dadanya berguncang lagi oleh batuk, tetapi sorot matanya tetap tajam, menantang.

“Bahkan… aku sudah merelakan nyawaku… lenyap… saat membawamu keluar…”

Kata-kata itu menggantung di udara seperti arus laut yang tiba-tiba berhenti. Di antara mereka, ketegangan semakin menebal. Bukan lagi sekadar ancaman dan sandera. Ini adalah benturan dua kehendak yang sama-sama keras kepala, sama-sama terluka, dan sama-sama tak ingin kalah.

“Apa maksudmu…?” Cakra bertanya dengan suara rendah, berusaha menjaga kendali. Jarinya masih melingkar di leher Mynhemeni, tidak mengendur, tidak juga menekan lebih dalam. Tubuhnya tegang, seperti busur yang ditarik penuh dan menunggu satu kesalahan kecil untuk dilepaskan.

Mynhemeni menarik napas pendek, matanya berkilat. “Ketua kami sudah tahu aku diculik,” katanya tersengal.

“Tanpa tahu bahwa ini rencanaku sendiri.” Ia berhenti sejenak, paru-parunya memohon udara. “Itu artinya… keputusan sepenuhnya ada di tanganku.”

Cakra menelan ludah. “Keputusan apa?”

“Apakah aku harus membunuhmu,” lanjut Mynhemeni perlahan, “atau kamu membunuhku.” Bibirnya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kekurangan napas.

“Atau… kita mati bersama.” Kalimat terakhir nyaris terpotong oleh batuk kering yang memaksanya terdiam.

Ia mengangkat sedikit dagunya, berusaha tetap menatap Cakra. “Sanvarku sudah aku aktifkan.” Senyum tipis, hampir sinis, terlukis di wajahnya. “Peledak otomatis. Jika aku terbunuh, alat ini akan meledak.”

Kata-kata itu menghantam Cakra lebih keras daripada serangan apa pun. Gambaran yang tak ia minta langsung memenuhi kepalanya. Ombak raksasa. Daratan yang terbelah. Wajah ayah dan ibunya tersapu air tanpa sempat berpaling.

“Artinya,” sambung Mynhemeni, suaranya mulai lebih stabil ketika cengkeraman di lehernya sedikit merenggang, “kamu juga akan mati jika aku mati.” Ia menarik napas lebih dalam.

“Dan distrik Nor tentu akan selamat. Teknologi kami menjamin itu. Tapi, ledakannya cukup untuk memicu tsunami besar. Sangat besar.” Tangan Cakra gemetar. Bukan karena lelah, melainkan karena bayangan itu terlalu nyata.

“Setara dengan tsunami akibat gempa dalam laut, berkekuatan sekitar sepuluh skala Richter.” kata Mynhemeni pelan, seolah sedang menjelaskan data ilmiah di ruang aman. Ia menatap lurus ke mata Cakra.

“Coba bayangkan... daratan tempatmu tinggal akan berubah selamanya.” Tentu itu semua hanya ancaman belaka. Cakra tidak tahu, dan memang tidak akan pernah tahu, bahwa ledakan yang dimaksud nyaris tak akan berdampak apa pun di luar jet. Struktur jet itu dirancang untuk menyerap dan meredam gelombang ledakan. Bahkan kemungkinan badan pesawatnya tergores saja hampir mustahil.

Hening menekan mereka. Di dalam laut yang terasa seperti daratan, Cakra akhirnya menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada senjata atau teknologi Porkah. Sekali ia salah langkah, yang dipertaruhkan bukan lagi hidupnya sendiri.

Cakra mempercayai ucapan Mynhemeni. Kepercayaan itu runtuh di dadanya seperti dinding rapuh yang disiram air pasang.

“Tidak… aku mohon…” Suaranya pecah, hampir tak terdengar. Tangan kanannya perlahan terlepas dari leher Mynhemeni, jari-jarinya gemetar seolah kehilangan tenaga sekaligus alasan untuk bertahan. Detik itu juga, kendali berpindah.

Mynhemeni bergerak cepat. Terlalu cepat untuk disusul pikiran Cakra. Dengan satu dorongan keras, ia membanting tubuh Cakra menjauh, lalu tendangan menyusul, presisi dan dingin. Tubuh Cakra terangkat, melayang sesaat di udara yang terasa berat seperti air laut, sebelum sofa di belakangnya menangkap tubuhnya dengan empuk yang menipu. Hentakan itu membuat napasnya tersedak.

“Jadi,” kata Mynhemeni, suaranya kembali stabil, “kamu mau bekerja sama atau tidak?”

Kilatan petir masih menari di sekeliling tubuhnya, cahaya ungu pucat memantul di dinding jet. Cakra menunduk, bahunya jatuh. Di kepalanya berputar bayangan yang tak ingin ia lihat. Wajah ayahnya. Tangis bundanya. Kota yang luluh lantak. Manusia-manusia yang tak ia kenal, tetapi nyawanya kini seperti digantung pada satu jawaban darinya.

Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Cakra hanya mengangguk, pelan dan pasrah, lalu mengangkat wajahnya menatap Mynhemeni.

Gadis itu memejamkan mata sejenak. Senyum kecil terlukis di bibirnya, bukan senyum kemenangan, melainkan sesuatu yang lebih hangat. Hampir bersahabat. Ia menggerakkan kepalanya perlahan, rambut peraknya yang pucat ikut berkibar lembut, seperti ganggang halus yang terombang-ambing di arus tenang.

Cakra terpaku. Di tengah ketakutan dan kekalahan, ia baru menyadari satu hal yang aneh. Mynhemeni menawan. Cantik dengan cara yang tak berisik. Tegas namun menyimpan keluguan yang kontras. Ada sesuatu dari auranya yang terasa akrab, mengusik ingatan lama.

Ia teringat Mia. Perasaan itu sama. Hangat, membingungkan, dan muncul di saat yang paling tidak seharusnya.

“Kamu lagi ngapain?” tanya Cakra setelah beberapa detik hanya memperhatikan Mynhemeni dalam diam. Suaranya lebih rendah, sisa ketegangan masih menggantung di udara seperti buih yang belum pecah.

“Memperbaiki Sanvarku yang rusak akibat seranganmu tadi,” jawab Mynhemeni tanpa menoleh. Lehernya bergerak cepat, seolah menenun ulang cahaya yang sempat tercerai.

“Sepertinya aku keliru menghitungmu. Kamu lebih kuat dari hasil analisaku. Dan mungkin, kekuatanmu belum sepenuhnya keluar.”

Cakra mengernyit. “Sekuat itukah aku?”

Mynhemeni akhirnya menoleh. Tatapannya tenang, namun menyimpan kehati-hatian baru.

“Seharusnya tidak ada satu pun yang bisa menyentuhku saat perisaiku aktif penuh.” Ia mencodongkan tubuhnya selangkah.

“Tapi kamu menembusnya. Kamu mencekikku.” Ia menggeser busana yang menutupi lehernya. Lapisan pelindung itu lenyap perlahan, seperti air yang surut, memperlihatkan kulit seputih salju dengan bekas jemari yang jelas tercetak. Merah keunguan. Nyata. Cakra menahan napas.

“Maaf,” ucapnya cepat, nadanya turun. “Aku tidak bermaksud begitu.”

Dadanya terasa sesak. Amarah tadi kini berubah menjadi beban yang menekan dari dalam. Ia teringat wajah bundanya yang basah oleh air mata, tatapan ayahnya yang penuh harap. Semua itu menumpuk, menenggelamkan akal sehatnya hingga ia nyaris kehilangan kendali. Cakra mengepalkan tangan, menahan penyesalan yang datang terlambat.

Ia menunduk. Ia menyesal bukan hanya karena melukai Mynhemeni, tetapi karena sempat membiarkan pikiran gelap itu muncul. Pikiran untuk membunuh. Dan kesadaran itu menusuk lebih tajam dari rasa sakit mana pun.

“Aku paham,” ujar Mynhemeni pelan. Nada suaranya tidak menghakimi, justru tenang seperti arus laut yang mulai jinak.

“Mungkin aku akan melakukan hal yang sama bila itu terjadi padaku.” Ia berhenti bergerak, berdiri diam dengan bahu mengendur, seolah benar-benar menyerahkan tubuhnya pada sesuatu yang tak terlihat. Dari udara di sekitarnya muncul bola kecil bercahaya, melayang perlahan seperti gelembung yang naik ke permukaan. Bola itu menyentuh dada Mynhemeni lalu menyatu ke dalam tubuhnya. Seketika napasnya terdengar lebih ringan, wajahnya kembali segar, dan kilau pucat di kulitnya menguat.

Cakra menelan ludah. Bekas jemarinya yang tadi jelas tercetak di leher Mynhemeni memudar, lalu lenyap sama sekali, seolah tak pernah ada.

“Hey,” gumam Cakra, mengarahkan tubuhnya ke depan, setengah ragu. “Lehermu…”

Mynhemeni menyentuh lehernya sendiri, lalu menoleh sambil tersenyum kecil. “Hilang, kan? Seperti yang sudah kubilang, teknologi medis kami bekerja mirip dengan tubuhmu. Setelah cedera ditangani melalui baju ini, tubuh kami akan kembali ke kondisi semula.”

“Jadi... Sanvar...?" ia melirik Mynhemeni. Memastikan tidak salah sebut.

"Sanvar bisa menyembuhkan luka apa pun bagi siapa pun yang memakainya?” tanya Cakra. Nadanya terdengar lebih ringan, meski matanya menyala oleh rasa ingin tahu. Mynhemeni mengangguk singkat. Gerakan itu kecil, tapi mantap, seolah ia sudah lelah menjelaskan hal yang sama berkali-kali.

“Kalau begitu,” lanjut Cakra, mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Lutunya merapat, dempet satu sama lain. “Bagaimana dengan kecacatan?”

Mynhemeni menoleh. “Maksudmu?”

Cakra menarik napas, lalu kata-katanya tumpah cepat, nyaris bertabrakan satu sama lain. “Misalnya bagian tubuhmu terpisah dari tubuhmu. Terpotong. Atau terkena ledakan. Apakah bagian itu bisa tumbuh kembali?”

Pertanyaan itu keluar dengan sedikit semangat yang tak bisa ia sembunyikan. Pikiran-pikiran yang tadi tenggelam oleh amarah kini muncul ke permukaan, mendesak untuk dijawab.



Mynhemeni menatapnya beberapa detik, lalu menggeleng pelan. “Kami bukan hewan regeneratif. Dan jelas tidak punya kekuatan super.”



Sudut bibirnya terangkat tipis. “Sepertinya pertanyaan itu justru lebih pantas aku ajukan padamu.”

“Oh.” Cakra terdiam. Kesadarannya menghantam pelan, seperti ombak kecil yang datang terlambat.

“Iya juga.” Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. Ia tahu tubuhnya bisa pulih dengan cepat, luka menutup seolah waktu dipercepat. Namun ada keraguan yang mengendap. Ia tidak pernah benar-benar tahu batas kemampuannya. Apakah tubuhnya hanya memperbaiki yang rusak, atau mampu menciptakan kembali sesuatu yang benar-benar hilang. Di bawah laut yang sunyi ini, pertanyaan itu terasa lebih berat dari air di sekeliling mereka.

“Jadi, teknologi kalian tidak bisa menumbuhkan kembali bagian tubuh yang hilang?” Cakra menatap Mynhemeni, menunggu celah penjelasan lain.

Mynhemeni mengangguk. Rambutnya melayang pelan, seperti tertiup angin yang tak terlihat, meski lantai di bawah mereka tetap terasa kokoh. “Tidak menumbuhkan,” katanya singkat. “Tapi kami bisa menyatukan kembali bagian tubuh yang terpisah, selama bagian itu masih ada.”

“Meski sudah hancur berkeping-keping?” Cakra menyela, alisnya terangkat.

Anggukan lagi. Tenang. Meyakinkan.

Ingatan Cakra langsung berloncatan. Rantai di ruang Alpam khusus itu. Logam yang remuk oleh tinjunya, pecah menjadi serpihan, lalu bergerak sendiri. Menyatu kembali. Menggesek lantai. Mengejarnya tanpa lelah, seolah punya kehendak.

“Seperti rantai yang mengejarku,” ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Mynhemeni.

Anggukan itu datang untuk ketiga kalinya.

Cakra menghela napas, dadanya terasa sesak oleh campuran kagum dan ngeri.

“Bagaimana bisa?” tanyanya.

“Seperti yang sudah aku jelaskan, alat ini bukan sekadar pakaian.” Nada suaranya tenang, seolah ia sedang membicarakan sesuatu yang biasa. “Sanvar juga berfungsi sebagai alat medis. Busana ini mengingat seluruh jaringan di tubuh kami. Setiap lapisan, setiap sambungan.”

Ia menggerakkan kepalanya perlahan. Sebuah bola kecil kembali muncul, berkilau lembut seperti embun laut, lalu melesat masuk ke dalam mulutnya. Seketika, napas Mynhemeni terdengar lebih lega, seolah baru saja meneguk air setelah perjalanan panjang. “Karena itu, jika tubuh seseorang hancur, bagian-bagiannya masih bisa disambungkan kembali. Tapi bukan berarti kematian bisa dihindari. Jika tubuh hancur total, orang tetap mati.”

Cakra menelan ludah. Lantai di bawah kakinya terasa padat seperti batu, namun ia bisa merasakan getaran halus, seakan arus laut berdenyut jauh di bawah sana.

“Kami juga menggunakan teknologi ini pada manusia darat,” lanjut Mynhemeni.

“Apa maksudmu melakukan itu pada manusia darat?” Cakra spontan bertanya.

“Kami menyelamatkan mereka yang hanyut di laut,” jawabnya. Tatapannya lurus, tanpa beban.

“Termasuk kamu dan teman-temanmu. Jika mereka beruntung, mereka pulang hidup. Jika tidak, hanya tubuh mereka yang kembali.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam keras.

“Sering kali kami menemukan tubuh yang sudah rusak parah,” sambung Mynhemeni. “Akibat kecelakaan kapal, pesawat, atau arus yang terlalu kejam. Ada yang berhasil kami kembalikan, ada juga yang tidak. Terkadang kami terlambat. Terkadang manusia darat sudah lebih dulu menanganinya.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap Cakra. “Intinya, kami berusaha. Laut memang bukan rumah kalian, tapi selama kalian terjebak di dalamnya, kami tidak akan tinggal diam.”

Other Stories
Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Kelabu

Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...

Escape [end]

Setelah setahun berlarut- larut dalam luka masa lalunya, Nadine pun dipaksa oleh sahabatny ...

Bayangan Malam

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Mozarella (bukan Cinderella)

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Download Titik & Koma