Bab 41 - Rencana Rumsun
“Kak, bagaimana keadaan anak itu? Kakak baik-baik saja kan?”
Suara Georu bergema lembut di dalam kepala Mynhemeni, seperti riak kecil yang menyentuh dinding batinnya. Sang adik mencoba menjalin komunikasi diam-diam, tepat ketika Rumsun masih sibuk memberi arahan pada pasukan keamanan dan pertahanan Distrik Nor.
Mynhemeni tetap melangkah tanpa memperlambat gerak. Tanpa ia sadari, tangan mungil yang sejak tadi menggenggam dan menyeret Cakra sudah terlepas. Cakra pun tidak menyadarinya. Perhatiannya sepenuhnya tercuri oleh pemandangan di hadapannya. Terumbu karang raksasa melayang di udara laut, menggantung anggun lima ratus meter di atas dasar ngarai yang menganga seperti jurang tak berdasar. Rasanya seperti berdiri di tepi tebing di daratan, hanya saja seluruh dunia berkilau biru dan berdenyut pelan.
“Dia sudah menerima kenyataan kalau dirinya masih hidup,” jawab Mynhemeni akhirnya, tetap tanpa menggerakkan bibir, “dia juga tidak tahu kenapa tubuhnya bisa bekerja seperti itu. Kakak percaya dia jujur.”
Ia berhenti sejenak, mengamati bayangan karang yang bergeser perlahan akibat arus. “Sekarang dia mau bekerja sama. Kakak bawa dia ke ruang kerja pribadi kakak. Kita analisis bersama di sana. Seperti yang kakak bilang, lebih aman kalau kakak yang menangani sendiri, bukan di ruang kerja kantor.”
Tangan kirinya masih terangkat di udara, seolah Cakra masih berada tepat di depannya. Padahal jarak di antara mereka sudah kosong. Cakra kini berdiri beberapa langkah di belakang, memutar tubuhnya, menatap Nor dengan mata berbinar. Kota bawah laut itu membentang luas, menyerupai daratan dengan bangunan bertingkat, jalan-jalan transparan, dan cahaya yang memantul seperti matahari sore.
“Memangnya ada masalah apa? Bukankah tadi kakak sudah bilang, jangan hubungi kakak kecuali kakak yang menghubungi kamu?” lanjut Mynhemeni, nada suaranya mengeras tipis
Ia menurunkan tangannya saat melihat Cakra tiba-tiba berlari ke depan, mendekati tepian terumbu karang melayang itu. Mynhemeni menghela napas pendek.
Dalam hatinya, ia berasumsi anak itu mulai bertingkah seperti manusia darat yang baru pertama kali melihat keajaiban. Terlalu antusias. Terlalu polos. Ia yakin Cakra hanya ingin menikmati pemandangan itu lebih dekat.
“Sekarang operasi diambil alih Rumsun,” bisik Georu di dalam kepala Mynhemeni. Suaranya begitu lirih, seolah takut gema pikirannya sendiri bocor keluar. Ia tetap berdiri mematung di antara para perwira lain, menatap panggung arahan seakan ia hanyalah salah satu rekan sejawat. Tubuhnya kaku, dadanya nyaris tak bergerak. Ia tidak berani mengubah sikap, tidak berani menoleh, takut satu gerakan kecil saja akan mengundang kecurigaan bagi sekelilingnya.
“Bagaimana bisa?” balas Mynhemeni pelan, pikirannya berputar cepat. Operasi ini seharusnya sunyi. Terkunci rapat. Bahkan ayahnya sendiri tidak akan turun tangan tanpa adanya kabar darinya. Ayahnya memang berkuasa, tetapi tidak gegabah. Terlebih jika nyawa anak pertamanya menjadi taruhannya.
Dalam bayangannya, ayahnya akan menunggu. Berdoa. Menyerahkan keputusan sepenuhnya padanya. Menanti kepulangan Mynhemeni dengan kabar baik. Dengan kepastian bahwa Cakra bukan ancaman. Bahwa anak itu bisa dilepaskan, setelah ingatannya dibersihkan, dan semuanya kembali seperti semula.
“Aku juga tidak tahu caranya,” suara Georu kembali terdengar, kali ini sedikit bergetar.
“Tapi Ayah sudah menyetujuinya. Sekarang Rumsun mengerahkan seluruh pasukan pertahanan dan keamanan Nor. Perintahnya jelas. Bawa anak itu hidup-hidup.” Mynhemeni merasakan dadanya mengencang. Dari kejauhan, suara Rumsun menggema, tegas dan penuh keyakinan, seperti palu yang mengetuk satu keputusan mutlak.
“Lebih baik kakak menyerahkan anak itu,” lanjut Georu cepat, seolah mengejar waktu.
“Rumsun sudah memerintahkan mereka untuk tidak mendengarkan kakak. Dia tidak peduli kalau kakak terbunuh dalam misi ini.” Pikiran Mynhemeni berdesir. Ia teringat tatapan Cakra. Ketakutan yang ditahan. Kepercayaan yang rapuh, namun nyata.
“Kakak sudah berjanji, kalau anak ini mau bekerja sama, kakak akan membawanya pulang,” balasnya. Ada nada goyah yang tak bisa ia sembunyikan.
Ia menelan kegelisahan yang menyesak. “Kalau anak itu jatuh ke tangan Rumsun, kakak yakin dia tidak akan pernah dilepaskan. Kakak tidak mungkin mengingkari janji kakak.”
Di tengah gemuruh laut dan hiruk pikuk perintah, Mynhemeni berdiri terjepit di antara dua dunia. Antara kesetiaan pada kerajaan, dan satu janji yang kini terasa jauh lebih berat daripada seluruh tekanan samudra. Ia tak ingin menodai janjinya, terlebih jika Cakra benar-benar bukan ancaman. Janji itu masih terngiang di kepalanya, berat dan menekan, seolah arus laut mendorongnya ke arah yang tak ia pilih. Ia juga tidak tahu kekuatan apa lagi yang tersembunyi di dalam diri anak itu. Satu hal yang pasti, amarah Cakra bukan sesuatu yang ingin ia saksikan untuk kedua kalinya.
Bayangan cekikan beberapa menit lalu kembali terasa nyata di lehernya. Bukan sakitnya yang membuat Mynhemeni bergidik, melainkan kesadaran bahwa Cakra menahan diri. Tekanan itu cukup untuk melumpuhkannya, namun tidak cukup untuk membunuh. Seakan anak itu sengaja berhenti di batas tertentu. Mynhemeni yakin, jika Cakra melepaskan seluruh kekuatannya, hasilnya bukan sekadar kematian satu dua orang.
Pikirannya melayang lebih jauh. Terlalu jauh. Ia membayangkan konflik terbuka. Senjata bangsa Porkah dilepaskan tanpa kendali. Bukan hanya Cakra yang hancur, tetapi permukaan bumi pun ikut terbakar. Laut akan mendidih, daratan runtuh, dan planet itu menjadi abu. Semua karena satu kesalahan membaca ancaman.
Ia menolak kemungkinan itu.
“Georu,” panggilnya akhirnya, pelan namun mendesak.
“Georu, kamu dengar?” Tak ada jawaban. Sunyi sejenak memenuhi kepalanya, hanya diisi gema instruksi Rumsun dari kejauhan. Mynhemeni langsung paham. Georu tak mungkin menjawab sekarang.
Di hadapan panggung, Georu berdiri tegap. Tangan kanannya terangkat lurus, sikapnya rapi seperti pasukan teladan. Rumsun menghentikan ucapannya dan menoleh.
“Iya, silakan,” katanya singkat.
Georu menarik napas, lalu berbicara dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. “Bagaimana jika anak itu akhirnya mau menyerahkan diri dan bekerja sama?” Ia berhenti sejenak, menimbang kata-katanya.
“Dengan jaminan bahwa dia akan dibebaskan, jika memang terbukti bukan ancaman.” Di dalam kepalanya, Mynhemeni menahan napas. Ia berharap pertanyaan itu bukan sekadar formalitas. Ia berharap kata-kata Georu bukan hanya gema kosong di ruang rapat yang dingin, tetapi benih dari satu kemungkinan. Satu jalan keluar yang tidak berakhir dengan kehancuran.
“Pertanyaan yang sulit,” ucap Rumsun akhirnya. Ia menautkan kedua tangannya, suaranya terdengar tenang namun berkilat oleh gairah yang sulit disembunyikan.
“Jika memang anak itu mau bekerja sama, tentu itu kabar baik. Tapi untuk menjamin pembebasannya... tidak.” Ia berhenti sejenak, menatap pasukan satu per satu.
“Anak itu tetap harus berada di Porkah. Hidup-hidup. Di sinilah tempatnya.” Beberapa pasukan saling melirik. Rumsun melanjutkan dengan nada meyakinkan.
“Jika dia bukan ancaman, dia bisa menjadi bagian penting bagi kelangsungan hidup bangsa kita. Bahan penelitian. Sumber pengetahuan. Jadi pastikan, tangkap anak itu tanpa membunuhnya.” Di balik ketenangan suaranya, pikirannya bergerak jauh melampaui ruang itu. Cakra bukan sekadar anomali. Anak itu adalah peluang. Jackpot yang jatuh tepat di hadapannya. Kemampuan penyembuhan yang nyaris instan, tubuh yang menolak kehancuran, semua itu adalah kunci bagi masa depan Porkah. Ia membayangkan para pemimpin riset medis, teknologi pertahanan, hingga ilmuwan tingkat tinggi mengerumuni satu subjek yang sama. Cakra.
Tak satu mili pun dari tubuh anak itu ingin ia sia-siakan.
Rumsun bahkan sudah melihat lebih jauh. Cakra bukan hanya alat penelitian, melainkan tameng politik. Dengan anak itu di sisinya, kursi ketua bukan lagi sekadar ambisi. Bahkan tak mustahil, mahkota pun bisa diraih. Ia yakin, Cakra akan mau bekerja sama. Gelar pahlawan, kedudukan terhormat, kekayaan, semua itu umpan yang terlalu manis bagi manusia darat.
Jika Cakra terbukti aman, tentu ia tidak akan dipenjara. Ia akan dibujuk. Diberi pilihan yang tampak mulia. Tinggal di Porkah, membantu peradaban, mengizinkan tubuhnya diteliti demi teknologi baru. Sebagai imbalan, seluruh keinginannya akan dipenuhi.
Rumsun tersenyum dalam hati. Manusia darat terkenal mencintai harta dan takhta. Tidak mungkin menolak.
Ia juga sudah menyiapkan jalan lain. Jika para petinggi menentangnya, voting akan digelar. Dan ia yakin, mayoritas bangsa Porkah lebih memilih menyimpan keajaiban itu daripada melepaskannya kembali ke darat.
Yang tak pernah ia pikirkan adalah satu hal sederhana. Bahwa Cakra tidak menginginkan takhta, gelar, atau kekayaan. Anak itu hanya ingin pulang. Kembali pada orang tuanya, pada sahabat-sahabatnya. Pada hidup yang direnggut darinya.
Di benak Mynhemeni, suara Georu akhirnya kembali terdengar, terburu dan dipenuhi kecemasan. “Kak… Rumsun merencanakan sesuatu. Kalau anak itu tidak berbahaya, dia tetap ingin menelitinya. Dia tidak berniat membebaskannya.”
Mynhemeni menegang.
“Jadi kakak sekarang dihadapkan pada pilihan sulit,” lanjut Georu lirih. “Lebih baik kakak serahkan anak itu… demi nyawa kakak sendiri.”
“Gila,” desis Mynhemeni, suaranya bergetar namun matanya mengeras.
“Kakak tahu sejak awal ada yang tidak beres dengan Rumsun, tapi ini sudah keterlaluan.” Ia mengepalkan tangannya, merasakan tekanan air menempel di kulit seperti hawa dingin malam.
“Kakak memutuskan melindungi anak ini. Kalau dia memang bukan ancaman, kakak akan menghadap Baginda Raja. Anak ini tidak bersalah. Daratan adalah tempatnya.”
Suara Georu menyusup lagi ke kepalanya, kali ini cepat dan tegang. “Terlambat, Kak. Rumsun sudah membubarkan pasukan.” Ada jeda singkat, napas tertahan.
“Pelacakan sedang dimulai. Dia ingin menemukan kakak dan anak itu. Dan sekarang dia langsung menuju Istana.”
Nada Georu menajam.
“Aku yakin, dia akan meminta dukungan dari Ratu.” Mynhemeni menghela napas perlahan. Georu tak pernah menyembunyikan kebenciannya pada Ratu, dan Mynhemeni paham betul alasannya. Ratu yang kini mendampingi Baginda Raja adalah adik kandung Rumsun. Perempuan yang sejak lama gemar mencari celah untuk menjatuhkan keluarganya. Sejak kecil, tatapan Ratu selalu dingin setiap kali memandang orang tua Mynhemeni, seolah mereka noda yang menodai istana.
Ia sering bertanya dalam diam, bagaimana perempuan sepicik itu dapat bersanding dengan Raja yang begitu bijaksana dan lembut. Pikiran nakal sempat menyelinap. Tentang Ravin sebuah sistem gen jodoh bangsa Porkah yang mungkin rusak saat memasangkan Raja dan Ratu mereka saat ini. Atau lebih buruk, Ravin diutak-atik oleh keluarga Rumsun, sepupu ibunya itu. Mynhemeni segera mengusir prasangka itu. Tak mungkin Ravin rusak, apalagi diutak-atik oleh bangsanya. Hal itu sangat mustahil terjadi. Meski keyakinan lain tetap tertinggal. Selama ini, Raja terlalu sering mengikuti kehendak Ratu.
Belum lagi Perdana Menteri yang merupakan sahabat lama Rumsun.
Mynhemeni merasakan pahit di tenggorokannya. Rumsun berdiri di tengah pusaran kekuasaan, dikelilingi para penguasa kerajaan. Tak heran ia begitu yakin dengan rencananya. Meneliti Cakra, menahannya, dan menyebutnya demi kebaikan bersama. Dan jika Cakra memang bukan ancaman, seluruh Porkah hampir pasti akan mengangguk setuju.
Di kejauhan, cahaya distrik Nor berkilau lembut seperti lampu kota yang terlihat dari bukit. Mynhemeni menatap ke arah itu, dadanya mengencang. Waktu tidak lagi berpihak padanya.
Suara Georu bergema lembut di dalam kepala Mynhemeni, seperti riak kecil yang menyentuh dinding batinnya. Sang adik mencoba menjalin komunikasi diam-diam, tepat ketika Rumsun masih sibuk memberi arahan pada pasukan keamanan dan pertahanan Distrik Nor.
Mynhemeni tetap melangkah tanpa memperlambat gerak. Tanpa ia sadari, tangan mungil yang sejak tadi menggenggam dan menyeret Cakra sudah terlepas. Cakra pun tidak menyadarinya. Perhatiannya sepenuhnya tercuri oleh pemandangan di hadapannya. Terumbu karang raksasa melayang di udara laut, menggantung anggun lima ratus meter di atas dasar ngarai yang menganga seperti jurang tak berdasar. Rasanya seperti berdiri di tepi tebing di daratan, hanya saja seluruh dunia berkilau biru dan berdenyut pelan.
“Dia sudah menerima kenyataan kalau dirinya masih hidup,” jawab Mynhemeni akhirnya, tetap tanpa menggerakkan bibir, “dia juga tidak tahu kenapa tubuhnya bisa bekerja seperti itu. Kakak percaya dia jujur.”
Ia berhenti sejenak, mengamati bayangan karang yang bergeser perlahan akibat arus. “Sekarang dia mau bekerja sama. Kakak bawa dia ke ruang kerja pribadi kakak. Kita analisis bersama di sana. Seperti yang kakak bilang, lebih aman kalau kakak yang menangani sendiri, bukan di ruang kerja kantor.”
Tangan kirinya masih terangkat di udara, seolah Cakra masih berada tepat di depannya. Padahal jarak di antara mereka sudah kosong. Cakra kini berdiri beberapa langkah di belakang, memutar tubuhnya, menatap Nor dengan mata berbinar. Kota bawah laut itu membentang luas, menyerupai daratan dengan bangunan bertingkat, jalan-jalan transparan, dan cahaya yang memantul seperti matahari sore.
“Memangnya ada masalah apa? Bukankah tadi kakak sudah bilang, jangan hubungi kakak kecuali kakak yang menghubungi kamu?” lanjut Mynhemeni, nada suaranya mengeras tipis
Ia menurunkan tangannya saat melihat Cakra tiba-tiba berlari ke depan, mendekati tepian terumbu karang melayang itu. Mynhemeni menghela napas pendek.
Dalam hatinya, ia berasumsi anak itu mulai bertingkah seperti manusia darat yang baru pertama kali melihat keajaiban. Terlalu antusias. Terlalu polos. Ia yakin Cakra hanya ingin menikmati pemandangan itu lebih dekat.
“Sekarang operasi diambil alih Rumsun,” bisik Georu di dalam kepala Mynhemeni. Suaranya begitu lirih, seolah takut gema pikirannya sendiri bocor keluar. Ia tetap berdiri mematung di antara para perwira lain, menatap panggung arahan seakan ia hanyalah salah satu rekan sejawat. Tubuhnya kaku, dadanya nyaris tak bergerak. Ia tidak berani mengubah sikap, tidak berani menoleh, takut satu gerakan kecil saja akan mengundang kecurigaan bagi sekelilingnya.
“Bagaimana bisa?” balas Mynhemeni pelan, pikirannya berputar cepat. Operasi ini seharusnya sunyi. Terkunci rapat. Bahkan ayahnya sendiri tidak akan turun tangan tanpa adanya kabar darinya. Ayahnya memang berkuasa, tetapi tidak gegabah. Terlebih jika nyawa anak pertamanya menjadi taruhannya.
Dalam bayangannya, ayahnya akan menunggu. Berdoa. Menyerahkan keputusan sepenuhnya padanya. Menanti kepulangan Mynhemeni dengan kabar baik. Dengan kepastian bahwa Cakra bukan ancaman. Bahwa anak itu bisa dilepaskan, setelah ingatannya dibersihkan, dan semuanya kembali seperti semula.
“Aku juga tidak tahu caranya,” suara Georu kembali terdengar, kali ini sedikit bergetar.
“Tapi Ayah sudah menyetujuinya. Sekarang Rumsun mengerahkan seluruh pasukan pertahanan dan keamanan Nor. Perintahnya jelas. Bawa anak itu hidup-hidup.” Mynhemeni merasakan dadanya mengencang. Dari kejauhan, suara Rumsun menggema, tegas dan penuh keyakinan, seperti palu yang mengetuk satu keputusan mutlak.
“Lebih baik kakak menyerahkan anak itu,” lanjut Georu cepat, seolah mengejar waktu.
“Rumsun sudah memerintahkan mereka untuk tidak mendengarkan kakak. Dia tidak peduli kalau kakak terbunuh dalam misi ini.” Pikiran Mynhemeni berdesir. Ia teringat tatapan Cakra. Ketakutan yang ditahan. Kepercayaan yang rapuh, namun nyata.
“Kakak sudah berjanji, kalau anak ini mau bekerja sama, kakak akan membawanya pulang,” balasnya. Ada nada goyah yang tak bisa ia sembunyikan.
Ia menelan kegelisahan yang menyesak. “Kalau anak itu jatuh ke tangan Rumsun, kakak yakin dia tidak akan pernah dilepaskan. Kakak tidak mungkin mengingkari janji kakak.”
Di tengah gemuruh laut dan hiruk pikuk perintah, Mynhemeni berdiri terjepit di antara dua dunia. Antara kesetiaan pada kerajaan, dan satu janji yang kini terasa jauh lebih berat daripada seluruh tekanan samudra. Ia tak ingin menodai janjinya, terlebih jika Cakra benar-benar bukan ancaman. Janji itu masih terngiang di kepalanya, berat dan menekan, seolah arus laut mendorongnya ke arah yang tak ia pilih. Ia juga tidak tahu kekuatan apa lagi yang tersembunyi di dalam diri anak itu. Satu hal yang pasti, amarah Cakra bukan sesuatu yang ingin ia saksikan untuk kedua kalinya.
Bayangan cekikan beberapa menit lalu kembali terasa nyata di lehernya. Bukan sakitnya yang membuat Mynhemeni bergidik, melainkan kesadaran bahwa Cakra menahan diri. Tekanan itu cukup untuk melumpuhkannya, namun tidak cukup untuk membunuh. Seakan anak itu sengaja berhenti di batas tertentu. Mynhemeni yakin, jika Cakra melepaskan seluruh kekuatannya, hasilnya bukan sekadar kematian satu dua orang.
Pikirannya melayang lebih jauh. Terlalu jauh. Ia membayangkan konflik terbuka. Senjata bangsa Porkah dilepaskan tanpa kendali. Bukan hanya Cakra yang hancur, tetapi permukaan bumi pun ikut terbakar. Laut akan mendidih, daratan runtuh, dan planet itu menjadi abu. Semua karena satu kesalahan membaca ancaman.
Ia menolak kemungkinan itu.
“Georu,” panggilnya akhirnya, pelan namun mendesak.
“Georu, kamu dengar?” Tak ada jawaban. Sunyi sejenak memenuhi kepalanya, hanya diisi gema instruksi Rumsun dari kejauhan. Mynhemeni langsung paham. Georu tak mungkin menjawab sekarang.
Di hadapan panggung, Georu berdiri tegap. Tangan kanannya terangkat lurus, sikapnya rapi seperti pasukan teladan. Rumsun menghentikan ucapannya dan menoleh.
“Iya, silakan,” katanya singkat.
Georu menarik napas, lalu berbicara dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. “Bagaimana jika anak itu akhirnya mau menyerahkan diri dan bekerja sama?” Ia berhenti sejenak, menimbang kata-katanya.
“Dengan jaminan bahwa dia akan dibebaskan, jika memang terbukti bukan ancaman.” Di dalam kepalanya, Mynhemeni menahan napas. Ia berharap pertanyaan itu bukan sekadar formalitas. Ia berharap kata-kata Georu bukan hanya gema kosong di ruang rapat yang dingin, tetapi benih dari satu kemungkinan. Satu jalan keluar yang tidak berakhir dengan kehancuran.
“Pertanyaan yang sulit,” ucap Rumsun akhirnya. Ia menautkan kedua tangannya, suaranya terdengar tenang namun berkilat oleh gairah yang sulit disembunyikan.
“Jika memang anak itu mau bekerja sama, tentu itu kabar baik. Tapi untuk menjamin pembebasannya... tidak.” Ia berhenti sejenak, menatap pasukan satu per satu.
“Anak itu tetap harus berada di Porkah. Hidup-hidup. Di sinilah tempatnya.” Beberapa pasukan saling melirik. Rumsun melanjutkan dengan nada meyakinkan.
“Jika dia bukan ancaman, dia bisa menjadi bagian penting bagi kelangsungan hidup bangsa kita. Bahan penelitian. Sumber pengetahuan. Jadi pastikan, tangkap anak itu tanpa membunuhnya.” Di balik ketenangan suaranya, pikirannya bergerak jauh melampaui ruang itu. Cakra bukan sekadar anomali. Anak itu adalah peluang. Jackpot yang jatuh tepat di hadapannya. Kemampuan penyembuhan yang nyaris instan, tubuh yang menolak kehancuran, semua itu adalah kunci bagi masa depan Porkah. Ia membayangkan para pemimpin riset medis, teknologi pertahanan, hingga ilmuwan tingkat tinggi mengerumuni satu subjek yang sama. Cakra.
Tak satu mili pun dari tubuh anak itu ingin ia sia-siakan.
Rumsun bahkan sudah melihat lebih jauh. Cakra bukan hanya alat penelitian, melainkan tameng politik. Dengan anak itu di sisinya, kursi ketua bukan lagi sekadar ambisi. Bahkan tak mustahil, mahkota pun bisa diraih. Ia yakin, Cakra akan mau bekerja sama. Gelar pahlawan, kedudukan terhormat, kekayaan, semua itu umpan yang terlalu manis bagi manusia darat.
Jika Cakra terbukti aman, tentu ia tidak akan dipenjara. Ia akan dibujuk. Diberi pilihan yang tampak mulia. Tinggal di Porkah, membantu peradaban, mengizinkan tubuhnya diteliti demi teknologi baru. Sebagai imbalan, seluruh keinginannya akan dipenuhi.
Rumsun tersenyum dalam hati. Manusia darat terkenal mencintai harta dan takhta. Tidak mungkin menolak.
Ia juga sudah menyiapkan jalan lain. Jika para petinggi menentangnya, voting akan digelar. Dan ia yakin, mayoritas bangsa Porkah lebih memilih menyimpan keajaiban itu daripada melepaskannya kembali ke darat.
Yang tak pernah ia pikirkan adalah satu hal sederhana. Bahwa Cakra tidak menginginkan takhta, gelar, atau kekayaan. Anak itu hanya ingin pulang. Kembali pada orang tuanya, pada sahabat-sahabatnya. Pada hidup yang direnggut darinya.
Di benak Mynhemeni, suara Georu akhirnya kembali terdengar, terburu dan dipenuhi kecemasan. “Kak… Rumsun merencanakan sesuatu. Kalau anak itu tidak berbahaya, dia tetap ingin menelitinya. Dia tidak berniat membebaskannya.”
Mynhemeni menegang.
“Jadi kakak sekarang dihadapkan pada pilihan sulit,” lanjut Georu lirih. “Lebih baik kakak serahkan anak itu… demi nyawa kakak sendiri.”
“Gila,” desis Mynhemeni, suaranya bergetar namun matanya mengeras.
“Kakak tahu sejak awal ada yang tidak beres dengan Rumsun, tapi ini sudah keterlaluan.” Ia mengepalkan tangannya, merasakan tekanan air menempel di kulit seperti hawa dingin malam.
“Kakak memutuskan melindungi anak ini. Kalau dia memang bukan ancaman, kakak akan menghadap Baginda Raja. Anak ini tidak bersalah. Daratan adalah tempatnya.”
Suara Georu menyusup lagi ke kepalanya, kali ini cepat dan tegang. “Terlambat, Kak. Rumsun sudah membubarkan pasukan.” Ada jeda singkat, napas tertahan.
“Pelacakan sedang dimulai. Dia ingin menemukan kakak dan anak itu. Dan sekarang dia langsung menuju Istana.”
Nada Georu menajam.
“Aku yakin, dia akan meminta dukungan dari Ratu.” Mynhemeni menghela napas perlahan. Georu tak pernah menyembunyikan kebenciannya pada Ratu, dan Mynhemeni paham betul alasannya. Ratu yang kini mendampingi Baginda Raja adalah adik kandung Rumsun. Perempuan yang sejak lama gemar mencari celah untuk menjatuhkan keluarganya. Sejak kecil, tatapan Ratu selalu dingin setiap kali memandang orang tua Mynhemeni, seolah mereka noda yang menodai istana.
Ia sering bertanya dalam diam, bagaimana perempuan sepicik itu dapat bersanding dengan Raja yang begitu bijaksana dan lembut. Pikiran nakal sempat menyelinap. Tentang Ravin sebuah sistem gen jodoh bangsa Porkah yang mungkin rusak saat memasangkan Raja dan Ratu mereka saat ini. Atau lebih buruk, Ravin diutak-atik oleh keluarga Rumsun, sepupu ibunya itu. Mynhemeni segera mengusir prasangka itu. Tak mungkin Ravin rusak, apalagi diutak-atik oleh bangsanya. Hal itu sangat mustahil terjadi. Meski keyakinan lain tetap tertinggal. Selama ini, Raja terlalu sering mengikuti kehendak Ratu.
Belum lagi Perdana Menteri yang merupakan sahabat lama Rumsun.
Mynhemeni merasakan pahit di tenggorokannya. Rumsun berdiri di tengah pusaran kekuasaan, dikelilingi para penguasa kerajaan. Tak heran ia begitu yakin dengan rencananya. Meneliti Cakra, menahannya, dan menyebutnya demi kebaikan bersama. Dan jika Cakra memang bukan ancaman, seluruh Porkah hampir pasti akan mengangguk setuju.
Di kejauhan, cahaya distrik Nor berkilau lembut seperti lampu kota yang terlihat dari bukit. Mynhemeni menatap ke arah itu, dadanya mengencang. Waktu tidak lagi berpihak padanya.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...