Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 49 - Di Luar Jalur Resmi

“Hubungi dia. Kalau dia menolak membantu kakak, hapus ingatannya sampai ke titik awal, saat pertama kali kamu menghubunginya,” kata Mynhemeni tenang, terlalu tenang untuk situasi seberat itu.

Georu menarik napas. “Oke, Kak. Tapi setelah ingatannya dihapus, aku harus bilang apa? Kita bahkan tidak pernah saling menghubungi sebelumnya.”

Ada jeda singkat sebelum ia menambahkan, nadanya ragu, “Itu akan terasa janggal.”

Mynhemeni tidak langsung menjawab. Sejenak, hanya ada dengung lembut arus laut yang terdengar seperti angin jauh di daratan. “Kamu bilang saja,” ujarnya akhirnya, “aku menitip pesan untuk keluarganya. Katakan aku tidak bisa menghadiri upacara hari kematian Chuvohus.”

Georu terdiam, membiarkan kata-kata itu tenggelam.

“Bilang ada keadaan genting di distrik Nor,” lanjut Mynhemeni. “Dan aku tidak bisa diganggu. Jadi kamu yang menyampaikannya.”

Ia tidak sepenuhnya berbohong. Upacara hari kematian mendiang suaminya memang akan berlangsung tiga hari lagi. Dan jauh di dalam dirinya, Mynhemeni tahu, selama ia masih diburu dan terjebak dalam pelarian ini, menghadiri upacara itu hanyalah harapan kosong. Pemahaman itu terasa seperti beban di dada, berat dan dingin, seolah tekanan laut ikut menekan dari segala arah.

“Oke, Kak… aku akan menghubunginya sekarang,” ucap Georu pelan, suaranya menahan gelombang cemas.

“Semoga Shiva mau membantu Kakak. Tapi kalau tidak…” Ia terdiam sesaat, menarik napas pendek.

“Aku mohon, Kak. Serahkan anak itu.”

Permohonannya tidak bernada memaksa. Georu tahu betul, kakaknya bukan tipe yang bisa didorong atau dipatahkan dengan logika dingin. Mynhemeni selalu memilih bertahan, sekalipun dunia di sekitarnya mendesak dari segala arah. Maka Georu hanya bisa meminta, berharap kata-katanya cukup untuk menggoyahkan keras kepala yang ia kenal sejak kecil.

Setelah koneksi dengan kakaknya ditutup, Georu mengedipkan mata. Udara di hadapannya bergetar halus. Dua bola cahaya kecil muncul, berkilau pucat seperti mutiara basah, lalu meregang dan beriak menyerupai gelombang air. Gelombang itu melayang diam selama hampir satu menit, berputar perlahan, hingga akhirnya menyatu dan membentuk sosok manusia.

Seorang perempuan muncul utuh di hadapannya. Wajahnya cantik dengan garis halus khas ras Asia Timur, rambutnya pendek berwarna ungu berkilau seperti cahaya senja di bawah laut. Gaun perak yang membalut tubuhnya tampak hidup, berpendar lembut dan bergerak seolah mengikuti arus, seperti tarian yang hanya bisa dilihat di kedalaman samudra.

“Tumben kamu menghubungiku, Uru?” ucapnya sambil tersenyum. Suaranya hangat, namun jelas menyimpan tanda tanya.

Ia sedikit memiringkan kepala, menatap Georu lebih saksama. “Ada apa?”

Keheranan tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan dari raut wajahnya. Dalam ingatannya, hubungan mereka selalu sebatas formal. Pertemuan singkat di acara keluarga, sapaan seperlunya, lalu kembali ke dunia masing-masing. Berkomunikasi langsung seperti ini hampir tak pernah terjadi. Dan justru karena itulah, kehadiran Georu di hadapannya terasa seperti pertanda bahwa sesuatu yang tidak biasa sedang berlangsung.

“Kak Hemy butuh bantuanmu. Kamu bisa datang ke sini sekarang juga?” ucap Georu dengan wajah mengeras. Nada suaranya rendah, tapi tekanannya jelas, seolah setiap detik yang terlewat akan membawa konsekuensi. Ia menatap Saljiva tanpa berkedip, memberi isyarat bahwa ini bukan permintaan biasa.

Saljiva menangkap keseriusan itu dalam sekejap.

“Oke,” jawabnya cepat. “Kebetulan aku belum menggunakan jatah teleportasiku tahun ini.”

Hampir tak sampai satu detik, tubuh perempuan itu berpendar aneh. Wujudnya seperti terpotong-potong oleh kilatan cahaya, bergetar halus layaknya pantulan air yang terganggu arus. Lalu, seolah ruang di antara mereka dilipat, Saljiva sudah berdiri nyata di hadapan Georu.

“Jadi,” katanya sambil melangkah mendekat, nada suaranya kini lebih waspada, “apa yang terjadi pada Kak Hemy sampai kamu harus memintaku datang langsung?”

Gaun peraknya tetap bergerak lembut, bergelombang seperti disentuh arus laut yang tenang, meski tubuh Saljiva telah berhenti tepat satu meter di depan Georu. Kilau cahaya dari kain itu memantul di dinding kaca keemasan ruangan, menciptakan suasana ganjil yang kontras dengan ketegangan di udara.

Georu menelan ludah. Jarak yang dekat itu terasa berat, seakan ia berdiri di ambang pengakuan yang akan mengubah banyak hal.

“Ini…” Georu berhenti di tengah kata. Dari balik telinga kirinya, sebuah bola hitam seperti kelereng super nano, bahkan lebih kecil dari semut terkecil, melayang keluar, berkilau redup seperti logam basah. Benda itu meluncur halus di udara, lalu menyelinap ke balik telinga kiri Saljiva tanpa suara, seolah arus laut yang menemukan celahnya sendiri.

Saljiva refleks mengerjap. Alisnya berkerut tipis. Svalin.

Ia benar-benar tidak mengerti. Ini pertama kalinya ia menggunakan alat komunikasi anti sadap itu. Dan seingatnya, ia tak pernah mengajukan permintaan terhadap Svalin pada bagian logistik. Pekerjaannya tidak menuntut perlindungan semacam ini, begitu pula kehidupan pribadinya. Tidak ada alasan logis bagi sistem untuk menganggap Svalin sebagai kebutuhannya. Aturan itu terlintas jelas di benaknya.

Seperti yang pernah dijelaskan Mynhemeni, setiap bangsa Porkah memang akan diberi fasilitas sesuai tingkat kebutuhan mereka. Namun jika seseorang meminta sesuatu di luar urusan pribadi maupun profesional, interogasi lanjutan pasti menanti. Tujuannya akan dipertanyakan. Niatnya ditimbang. Jika alasannya tak cukup kuat, permintaan itu akan ditolak mentah-mentah oleh logistik.

Itulah sebabnya kebingungan Saljiva semakin dalam.

Belum sempat ia membuka mulut, Svalin itu menyatu dengan Sanvar di tubuhnya. Ada sensasi dingin singkat, seperti air laut menyentuh kulit sebelum surut kembali. Lalu, tanpa peringatan, sebuah suara bergema di kepalanya.

Suara Mynhemeni.

“Shiva…” suara iparnya terdengar antusias begitu Svalin benar-benar terhubung, hangat namun tegas, seolah ia berdiri tepat di samping telinga Saljiva.

“Iya, Kak…” jawab Saljiva refleks. Matanya membesar, napasnya tertahan sepersekian detik. Ia takjub bukan main. Suara itu bergema jelas di dalam kepalanya, bukan seperti gema Sanvar yang selama ini setia menemaninya, melainkan suara lain, nyata, hidup, dan berasal dari luar dirinya.

Ia menelan ludah. Sensasinya aneh, seperti mendengar orang berbicara tepat di belakang bahu, padahal ruang di sekitarnya hanya dipenuhi air laut yang tenang, berkilau seperti udara siang di daratan.

“Kamu bisa ngobrol sama Kak Hemy tanpa bersuara,” celetuk Georu cepat, nyaris tak bisa menyembunyikan kepuasannya melihat ekspresi Saljiva.

“Mirip telepati.” Saljiva menoleh padanya, masih setengah tidak percaya. Bibirnya terbuka, lalu tertutup lagi, sebelum akhirnya ia mencoba diam. Tidak ada suara yang keluar. Namun di kepalanya, kehadiran Mynhemeni tetap terasa.

Jantungnya berdebar.

“Apa yang Kakak butuhkan dariku?” Saljiva bertanya di dalam hati. Ia ragu, setengah menguji, apakah Mynhemeni benar-benar bisa mendengarnya tanpa satu pun suara keluar dari bibirnya.

“Saljiva, sepertinya aku harus meminjam tempatmu,” jawab Mynhemeni segera. Nadanya rendah dan penuh permohonan. Ia bahkan tidak memanggil nama kecil Saljiva, sesuatu yang jarang terjadi dan hanya dilakukan saat permintaan itu bersifat profesional.

Saljiva tercekat. Dadanya terasa menghangat oleh rasa takjub yang sulit dijelaskan. Jadi benar. Mynhemeni mendengarnya. Tanpa suara. Tanpa gerakan bibir. Hanya pikiran yang mengalir lurus, seperti arus laut yang tak terlihat namun pasti arahnya.

Ia nyaris tersenyum kecil. Alat ini luar biasa. Svalin bekerja jauh melampaui bayangannya. Sesaat terlintas keinginan untuk memilikinya juga, tetapi pikiran itu cepat ia tepis. Ia tahu betul, ia tak punya alasan yang cukup kuat untuk mengajukannya.

Bangsa Porkah sebenarnya tidak pernah kekurangan cara untuk berkomunikasi. Pesan teks bisa langsung diterima oleh Sanvar, dengan pilihan apakah ingin dibacakan atau dilihat sendiri. Jika dipilih untuk dibaca, layar transparan akan muncul sesuai kehendak penerima. Bisa tepat di depan mata, bisa jauh seperti layar bioskop manusia darat, atau bahkan hadir di dalam benak, menyerupai bayangan khayal yang terasa nyata.

Belum lagi komunikasi tatap muka yang menyerupai panggilan video, tetapi dengan resolusi nyaris sempurna. Mereka bahkan bisa saling menyentuh, merasakan kehadiran satu sama lain. Dan jika itu masih kurang, selalu ada opsi paling sederhana dan paling ekstrem. Bertemu langsung. Teleportasi memungkinkan itu, selama kuota tahunan belum habis.

Justru karena itulah Svalin menjadi sesuatu yang langka. Alat ini hanya diberikan pada mereka yang benar-benar membutuhkannya dalam pekerjaan. Pekerjaan Saljiva tidak termasuk di dalamnya. Tak ada celah bagi petugas logistik untuk menyetujui permintaannya.

Pikiran Saljiva kembali pada suara Mynhemeni.

“Kenapa Kak Hemy membutuhkan tempatku?” tanyanya pelan, kali ini tanpa ragu. Kebingungan merambat di benaknya, bercampur rasa waspada yang mulai tumbuh.

“Aku perlu menganalisis sesuatu,” jawab Mynhemeni singkat, justru membuat kebingungan Saljiva semakin mengental.

Saljiva mengerjap pelan. Ia memang pengembang teknologi analisis, tetapi apa yang ia tangani masih sebatas konsep dan prototipe. Hasilnya jauh dari sempurna. Tidak mungkin sebanding dengan perangkat analisis yang digunakan Mynhemeni, alat mutakhir yang lahir dari kerja kolektif para pengembang, termasuk dirinya sendiri.

Ironisnya, meski mereka ikut menciptakannya, alat itu bukan milik mereka. Begitu desain awal dinyatakan selesai, tim distribusi akan langsung mengambil alih. Dalam sekejap, apa pun yang mereka bangun tak lagi berada dalam jangkauan mereka.

Karena itu, Saljiva sulit memahami apa yang sebenarnya diharapkan Mynhemeni darinya.

“Boleh saja, tapi bukankah tempat Kak Hemy harusnya lebih mendukung? Tempatku…” Saljiva belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika suara Mynhemeni menyela, lembut namun tegas.

“Kamu akan mengerti setelah menyaksikan ini.”

Sesaat kemudian, dunia Saljiva berubah. Rangkaian peristiwa mengenai Cakra mengalir deras ke dalam kepalanya. Terlalu nyata untuk disebut bayangan, terlalu dalam untuk sekadar data. Ia merasakan apa yang Cakra rasakan, melihat dari sudut pandangnya, terjebak di antara tekanan laut dan ketegangan yang menyerupai daratan. Napasnya tertahan. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Saljiva terpaku, seolah baru saja terbangun dari mimpi yang terlalu nyata. Rentetan kisah Cakra masih berputar di benaknya, berlapis-lapis dan saling tindih. Ia menyaksikan semuanya, dari hari pertama remaja itu menginjakkan kaki di Jakarta, hingga detik-detik menegangkan ketika Cakra bersama Mynhemeni berada di dalam jet anti sadap kiriman Thungsiruv. Setiap emosi terasa utuh, takut, bingung, marah, juga tekad yang keras kepala.

Kini Saljiva paham. Dan pemahaman itu datang bersama perasaan bahwa apa pun yang sedang dianalisis Mynhemeni bukanlah perkara kecil.

Jika bukan Mynhemeni yang menautkan ingatan itu langsung ke kepalanya, Saljiva pasti mengira ia baru saja menonton sebuah film. Bahkan kualitasnya terasa terlalu sempurna, seperti produksi tim hiburan bangsa Porkah yang biasa ia tonton saat senggang. Ia sempat membandingkannya dengan film-film milik manusia darat tentang mereka yang mendapatkan kekuatan aneh. Atau film bangsa mereka yang menceritakan tentang upaya invasi manusia darat terhadap bangsa Porkah, serta mengusir mereka dari bumi. Planet yang telah menampung mereka selama puluhan ribu tahun, dengan sabar dan sunyi.

Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak.

Saljiva mengangkat wajahnya perlahan, menatap ruang di hadapannya yang kembali tenang. Arus laut di luar dinding kaca bergerak lembut, seperti angin sore di daratan.

“Anak itu… benar-benar manusia darat kan, Kak?” tanyanya akhirnya. Suaranya pelan, hampir ragu, seakan sedikit saja lebih keras, kenyataan itu akan pecah dan menghilang.

Other Stories
Plan B

Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...

Ijr

hrj ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Rumah Nenek

Liburan memang menyenangkan. Piyan, yang berumur 9 tahun. Hanya mengerti, liburan itu adal ...

Dua Tangkai Edelweis

Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...

Kesempurnaan Cintamu

Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...

Download Titik & Koma