Bab 55 - Sekadar Memastikan
“Untuk kami, Nivar Sanvar ada di hampir setiap tempat yang digunakan untuk mengistirahatkan tubuh,” jelas Mynhemeni.
“Sofa, bangku, tempat tidur, bahkan lantai. Semua tergantung kamu ingin berbaring di mana.” Mata Cakra langsung menyala. Ia menepuk sofa di bawahnya, merasakan permukaan itu sedikit menghangat, seolah merespons kehadirannya.
“Berarti sofa ini juga bisa jadi Nivar Sanvarku?” tanyanya antusias.
“Artinya aku bisa lepasin bajuku, dong?” Mynhemeni menarik napas pendek.
“Maaf. Punyamu tidak bisa dilepaskan begitu saja. Karena Sanvarmu itu—”
“Sanvar tahanan,” sela Cakra cepat. Nadanya ia buat serendah dan sesedih mungkin, seperti anak kecil yang harapannya dipatahkan.
“Aku paham.” Mynhemeni menggeleng pelan.
“Itu salah satunya. Tapi bukan cuma itu. Nivar Sanvarmu hanya ada di ruang tahananmu. Ruangan yang kamu hancurkan. Masih ingat?” Sekejap, ingatan tentang ruang Alpam khusus menyergap kepala Cakra. Cahaya putih, tekanan di pelipis, amarah yang meledak tanpa kendali. Mulutnya sempat terbuka, lalu tertutup lagi.
Ia menghela napas.
“Yah…” katanya lirih.
“Berarti aku harus balik ke ruangan itu cuma buat nunjukin bekas luka operasiku, ya?”
“Memangnya kenapa dengan bekas lukamu?” tanya Mynhemeni heran.
“Kenapa kamu sangat ingin menunjukkannya padaku?” Padahal, ia tahu betul betapa mudahnya bagi Cakra untuk melakukannya. Anak itu hanya perlu memberi perintah pada pikirannya, dan Sanvar bisa dibuat transparan di bagian tertentu. Tapi alih-alih melakukan itu, Cakra malah sibuk menarik ujung pakaian yang jelas tidak akan terlepas.
“Aku cuma mau memastikan,” jawab Cakra akhirnya, nada suaranya turun.
“Apa cuma luka di kakiku aja yang hilang tanpa bekas.”
“Oh,” gumam Mynhemeni, lalu tertawa kecil. Tawanya ringan, tidak mengejek, lebih ke arah gemas.
Cakra mendengus.
“Kenapa sih kamu ketawa terus tanpa sebab?”
Ia bangkit dari posisi rebahnya. Tanpa ia sadari, sandaran di belakangnya ikut bergerak, menyesuaikan postur tubuhnya dengan halus, seperti makhluk hidup yang paham bahasa tubuh. Cakra berhenti sejenak, melirik sofa itu dengan tatapan curiga.
“Kamu lucu… dan menggemaskan…” ucap Mynhemeni ringan. Tidak ada nada menggoda di sana, hanya kejujuran yang meluncur begitu saja.
Justru itu yang membuat Cakra panik.
Ia mendadak kaku, seolah kursi tempatnya duduk berubah lebih keras. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Panas merayap ke wajahnya, cepat dan memalukan, sementara jantungnya berdegup lebih cepat, seperti genderang kecil yang ditabuh terlalu bersemangat.
“Kenapa aku lucu?” tanyanya, berusaha terdengar biasa saja. Ia menatap lurus ke depan, menahan diri agar tidak terlihat terlalu terusik oleh satu kalimat sederhana itu. Mynhemeni memiringkan kepala, rambutnya melayang ringan, seakan air laut di sekitar mereka bergerak malas mengikuti pikirannya.
“Tingkahmu.” Ia tersenyum kecil.
“Kamu jelas cerdas, cepat menangkap sesuatu. Tapi di saat yang sama, kamu seperti anak kecil yang polos, yang masih perlu diberi tahu banyak hal. Kontrasnya itu yang… lucu.”
“Maksudnya…?” Cakra melirik sekilas, ragu.
Alih-alih menjawab, Mynhemeni justru bertanya balik, suaranya tenang namun penuh selidik.
“Kamu ingin menunjukkan apa kepadaku?” Ia lalu menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi kendaraan.
Di luar, cahaya biru kehijauan khas laut menembus jendela transparan, beriak pelan seperti langit yang bernapas. Mynhemeni sempat berpikir perjalanan satu jam ini akan terasa menyiksa. Biasanya ia hanya perlu berteleportasi atau menggunakan Vorna, sekejap dan selesai. Namun anehnya, berbincang dengan manusia darat yang berpotensi menjadi ancaman justru membuat waktu bergerak lebih ramah.
“Bekas lukaku,” jawab Cakra akhirnya. “Waktu operasi usus buntu.”
“Operasi?” Mynhemeni menoleh.
“Maksudmu… membetulkan organ dalam yang bermasalah?”
“Iya.” Nada Cakra naik sedikit.
“Kamu pasti belum pernah mengalaminya. Kalian punya Sanvar. Tanpa melakukan apa pun, tubuh kalian selalu sehat.”
Ia mengepalkan tangan.
“Kami tidak. Kami harus menahan sakit. Harus rela tubuh dipotong dan diacak-acak isinya.”
Ada iri yang tidak sepenuhnya ia sembunyikan di sana.
Mynhemeni justru tertawa, tawa lepas yang membuat bahunya naik turun pelan, seakan mereka tidak sedang berada jauh di bawah laut, di antara teknologi dan rahasia yang bisa memicu kehancuran dunia.
“Iya, ketawa aja terus…” gumam Cakra kesal.
Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke belakang, lalu merebahkan diri sepenuhnya. Di atas kepalanya, cahaya laut beriak lembut, dan untuk sesaat, ia lupa bahwa tempat ini seharusnya mustahil bagi manusia darat seperti dirinya.
“Maaf… hmmm… kamu tinggal minta Sanvar mengubah proyeksinya saja,” kata Mynhemeni sambil mengangkat tangan membuat gerakan kecil, seolah baru menyadari kebingungan Cakra.
“Sanvar akan menyesuaikan penutup tubuhmu dengan apa yang kamu minta. Dan sekarang, bentuknya ya seperti yang kamu pakai itu.” Ia melirik ke bawah.
“Sama seperti sepatumu.” Ucapan itu membuat Cakra terdiam sesaat. Baru sekarang ia ingat bagaimana beberapa waktu lalu sepatunya muncul begitu saja, seolah ia memang selalu mengenakannya.
“Oh iya… lagi-lagi aku seperti orang bodoh,” gumamnya, nyaris tanpa suara. Ia menunduk, memperhatikan kaus hijau yang menempel di tubuhnya. Dengan ragu, ia meminta Sanvar membuka bagian perut kanan bawah. Kain itu berkilau samar, lalu berubah transparan, seakan berlubang rapi mengikuti lekuk tubuhnya.
Cakra mendadak berdiri.
“Eh… eh!” Ia bahkan sempat melonjak kecil, kegirangan yang spontan dan jujur.
Namun kegembiraan itu perlahan mereda.
Ia mendekatkan wajahnya, meneliti area yang seharusnya menyimpan bekas sayatan operasi. Tidak ada garis. Tidak ada bekas jahitan. Kulitnya utuh, mulus, seolah pisau bedah tidak pernah menyentuhnya. Alisnya mengerut. Senyum di wajahnya runtuh pelan.
Beberapa jam lalu, luka itu masih ada. Bukti bahwa tubuhnya pernah dibuka, diperbaiki dengan rasa sakit. Sekarang, jejak itu lenyap begitu saja, dan entah kenapa, kehilangan lukanya itu justru meninggalkan rasa hampa yang tidak ia duga.
Ia tetap menatap perutnya, lama, sementara cahaya laut beriak lembut di sekeliling mereka, seperti dunia yang diam-diam mengingatkan bahwa tubuh Cakra tidak lagi sepenuhnya milik hukum manusia darat.
“Bajuku jadi bolong… dan… bekas lukaku beneran nggak ada,” gumam Cakra bingung. Ia masih berdiri, menunduk, menatap perut kanan bawahnya.
“Bukan bolong,” ujar Mynhemeni cepat, nada suaranya menenangkan.
“Proyeksinya saja yang transparan. Sama seperti saat kamu melihat leherku tadi.”
Cakra mengangguk pelan.
“Iya, aku paham…” Ia menarik napas, lalu menjatuhkan diri kembali duduk.
“Aku juga sebenarnya sudah nyangka lukaku bakal hilang. Tapi tetap aja sedih. Aku nggak bisa lagi pamer luka kebanggaanku ke semua orang.”
Mynhemeni mengernyit.
“Sepenting itu?” Ia benar-benar heran.
“Bukannya manusia darat justru berlomba menghilangkan bekas luka? Jerawat, sayatan, apa pun. Katanya supaya terlihat… estetik?”
“Biar dikira jagoan dan pemberani,” sahut Cakra cepat, lalu tersenyum lebar.
“Operasi itu menakutkan. Aku berhasil ngelewatinya. Jadi ya harus dipamerin.” Mynhemeni hanya mengangguk pelan. Logika itu terasa asing, tapi ia memilih menelannya. Keheningan menyelimuti kabin. Jet melaju tanpa suara, membelah lautan yang terasa seperti udara padat. Di luar, cahaya mulai meredup, dan suhu air turun beberapa derajat, pertanda mereka telah memasuki perairan dingin.
Pandangan Mynhemeni tertuju pada Cakra. Anak itu kini sibuk bereksperimen. Kaus hijau di tubuhnya berlubang lalu menutup lagi, berulang kali, mengikuti kehendaknya. Tingkahnya membuat Mynhemeni teringat pada Georu. Ada kesamaan yang sulit dijelaskan. Saat menyadari dirinya diperhatikan, Cakra melirik sekilas. Lalu kembali menatap perutnya yang mulus dan bersuara, kali ini lebih pelan.
“Aku juga belum ngerti. Kenapa baru sekarang tubuhku bereaksi kayak gini. Delapan belas tahun hidup, nggak pernah sekalipun tubuhku nyembuhin diri sendiri secepat ini.” Tingkahnya tetap memainkan Sanvar. Kini lubang tak hanya muncul di perutnya, melainkan di beberapa titik. Hingga akhirnya berhenti di punggungnya, tak beraturan, seolah kain itu disobek paksa.
“Sundal bolong,” kelakarnya, memamerkan lingkaran hijau yang terbuka di belakang punggungnya. Mynhemeni tak kuasa menahan tawa. Di tengah lautan yang dingin dan sunyi, di dalam jet yang melaju cepat menuju ketidakpastian, tawa itu terasa hangat. Dan entah disadari atau tidak, Cakra telah membuat perjalanan ini terasa jauh lebih hidup daripada yang pernah ia bayangkan.
“Harusnya kamu tambahin efek cacing, belatung, mungkin sedikit daging busuk, dan tulang belakang yang kelihatan,” kata Mynhemeni santai sambil memutar tubuh.
“Kurang lebih… seperti ini.” Ia kini sudah membelakangi Cakra. Sekejap kemudian, bagian punggung seragamnya terbuka. Bukan sekadar lubang. Daging tampak koyak, pucat kehijauan, dengan belatung putih menggeliat malas di sela-sela sesuatu yang menyerupai tulang.
Cakra langsung menutup mulutnya. Perutnya bergejolak.
“Su… sundal bolong!” ucapnya dengan suara tercekat, campuran takut dan jijik yang tak bisa ia sembunyikan.
“Lebay,” balas Mynhemeni ringan. Dalam sekejap, punggung itu kembali normal. Seragamnya rapi, bersih, seolah tidak pernah ada apa pun di sana.
Cakra menatapnya tak percaya. Lalu matanya berbinar.
“Waaaw… mirip banget sama aslinya. Coba lagi dong.” Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah mendekat. Mynhemeni mendengus kecil, lalu kembali memutar badan. Kali ini perubahan terjadi perlahan, seakan memberi waktu pada imajinasi untuk bekerja. Lubang itu terbuka lagi. Belatung muncul, bergerak malas, terlalu nyata untuk sekadar ilusi. Dengan ragu, Cakra mengulurkan tangan. Ujung jarinya menyentuh sesuatu yang licin dan kenyal.
“Ini nyata banget,” gumamnya takjub. Ia bahkan meraih satu belatung, mengangkatnya sejajar dengan wajah. Makhluk itu menggeliat, dan sensasi geli menjalar sampai ke kulit jarinya. Cakra menahan napas, memerhatikannya dengan campuran rasa ingin tahu dan jijik. Lalu, begitu saja, belatung itu menghilang.
“Hah? Kok hilang?” tanyanya bingung. Mynhemeni sudah kembali menghadap ke depan. Seragamnya utuh, tubuhnya bersih, seolah permainan barusan tak pernah terjadi.
“Itu cuma bagian sangat kecil dari Sanvarku yang memantulkan proyeksi sesuai keinginanku,” jelasnya sambil tersenyum.
“Kamu juga bisa melakukannya.” Sesaat, kenangan lama menyusup ke benak Mynhemeni. Masa kecil di asrama. Tawa teman-temannya. Permainan menakut-nakuti ala manusia darat, berlomba siapa yang paling menyeramkan.
Mirip pesta Halloween.
Di dalam jet yang melaju tenang di bawah laut, di dunia yang terasa seperti daratan, tawa kecil dan imajinasi absurd itu kembali hidup. Dan untuk sesaat, ancaman, politik, dan ketakutan terasa jauh.
Cakra memutuskan ikut bermain.
Dengan satu perintah singkat, Sanvar bangsa Porkah yang menempel di tubuhnya bergerak sendiri, berdesis halus seperti kain yang sedang bernapas. Dalam sekejap, tubuhnya terbungkus kain kusam menyerupai kafan. Warnanya tidak rata, cokelat tanah bercampur hitam dan semburat merah gelap, seolah baru digali dari liang yang lembap.
Bau tanah basah terasa samar di udara. Dari balik lipatan kain, cacing tanah merayap pelan, belatung berlendir menggeliat malas, sementara cairan merah kental menetes perlahan, terlalu pekat untuk disebut sekadar cat. Wajah Cakra ikut tenggelam dalam lapisan tanah, cacing, dan lendir, membuatnya nyaris tak dikenali.
Ia meloncat ke depan sambil terhuyung-huyung, mengeluarkan suara lirih yang dibuat-buat. Gerakannya berlebihan, seperti parodi horor murahan. Mynhemeni menatapnya tanpa mundur setapak pun. Tidak ada teriakan. Tidak ada refleks bertahan. Hanya alis yang sedikit terangkat, lebih mirip ilmuwan yang sedang mengamati spesimen aneh daripada seseorang yang sedang diancam makhluk menyeramkan.
“Apakah benar manusia darat pernah melihat makhluk seperti itu?” tanya Mynhemeni akhirnya, suaranya datar namun jelas menyimpan rasa ingin tahu.
“Aku sulit percaya kematian menghasilkan entitas baru yang bebas berkeliaran di planet ini.” Cakra tertawa kecil. Kain kafan itu menghilang, digantikan seragam SMA-nya. Kemeja putih lengan panjang kembali rapi di tubuhnya, tertutup blazer biru tua yang jatuh pas di bahu. Dasi merah bergaris emas melilit lehernya, sementara celana panjang cokelat gading membungkus kaki jenjangnya dengan presisi yang nyaris terlalu sempurna untuk ukuran pakaian sekolah. Sepatu kesayangannya tetap di sana, seperti jangkar kecil dari kehidupannya yang lama.
“Aku sih belum pernah lihat langsung,” katanya sambil merapikan dasi.
“Tapi temanku ada yang ngaku indigo. Katanya dia beberapa kali ketemu makhluk-makhluk kayak gitu.” Ia menatap Mynhemeni, menelisik, kemudian mengangguk.
"Tapi, sejak bertemu denganmu, pikiranku berubah. Sepertinya... Mungkin yang dilihat temanku adalah salah satu bangsa kalian yang sedang menyamar..." Ia menatap kembali pakaian di tubuhnya, lalu ke lengan sendiri, matanya berbinar.
“Berarti kita sebenarnya nggak perlu ganti baju ya?” gumamnya, setengah takjub.
“Alat ini bisa jadi pakaian apa pun yang kita mau.”
“Sofa, bangku, tempat tidur, bahkan lantai. Semua tergantung kamu ingin berbaring di mana.” Mata Cakra langsung menyala. Ia menepuk sofa di bawahnya, merasakan permukaan itu sedikit menghangat, seolah merespons kehadirannya.
“Berarti sofa ini juga bisa jadi Nivar Sanvarku?” tanyanya antusias.
“Artinya aku bisa lepasin bajuku, dong?” Mynhemeni menarik napas pendek.
“Maaf. Punyamu tidak bisa dilepaskan begitu saja. Karena Sanvarmu itu—”
“Sanvar tahanan,” sela Cakra cepat. Nadanya ia buat serendah dan sesedih mungkin, seperti anak kecil yang harapannya dipatahkan.
“Aku paham.” Mynhemeni menggeleng pelan.
“Itu salah satunya. Tapi bukan cuma itu. Nivar Sanvarmu hanya ada di ruang tahananmu. Ruangan yang kamu hancurkan. Masih ingat?” Sekejap, ingatan tentang ruang Alpam khusus menyergap kepala Cakra. Cahaya putih, tekanan di pelipis, amarah yang meledak tanpa kendali. Mulutnya sempat terbuka, lalu tertutup lagi.
Ia menghela napas.
“Yah…” katanya lirih.
“Berarti aku harus balik ke ruangan itu cuma buat nunjukin bekas luka operasiku, ya?”
“Memangnya kenapa dengan bekas lukamu?” tanya Mynhemeni heran.
“Kenapa kamu sangat ingin menunjukkannya padaku?” Padahal, ia tahu betul betapa mudahnya bagi Cakra untuk melakukannya. Anak itu hanya perlu memberi perintah pada pikirannya, dan Sanvar bisa dibuat transparan di bagian tertentu. Tapi alih-alih melakukan itu, Cakra malah sibuk menarik ujung pakaian yang jelas tidak akan terlepas.
“Aku cuma mau memastikan,” jawab Cakra akhirnya, nada suaranya turun.
“Apa cuma luka di kakiku aja yang hilang tanpa bekas.”
“Oh,” gumam Mynhemeni, lalu tertawa kecil. Tawanya ringan, tidak mengejek, lebih ke arah gemas.
Cakra mendengus.
“Kenapa sih kamu ketawa terus tanpa sebab?”
Ia bangkit dari posisi rebahnya. Tanpa ia sadari, sandaran di belakangnya ikut bergerak, menyesuaikan postur tubuhnya dengan halus, seperti makhluk hidup yang paham bahasa tubuh. Cakra berhenti sejenak, melirik sofa itu dengan tatapan curiga.
“Kamu lucu… dan menggemaskan…” ucap Mynhemeni ringan. Tidak ada nada menggoda di sana, hanya kejujuran yang meluncur begitu saja.
Justru itu yang membuat Cakra panik.
Ia mendadak kaku, seolah kursi tempatnya duduk berubah lebih keras. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Panas merayap ke wajahnya, cepat dan memalukan, sementara jantungnya berdegup lebih cepat, seperti genderang kecil yang ditabuh terlalu bersemangat.
“Kenapa aku lucu?” tanyanya, berusaha terdengar biasa saja. Ia menatap lurus ke depan, menahan diri agar tidak terlihat terlalu terusik oleh satu kalimat sederhana itu. Mynhemeni memiringkan kepala, rambutnya melayang ringan, seakan air laut di sekitar mereka bergerak malas mengikuti pikirannya.
“Tingkahmu.” Ia tersenyum kecil.
“Kamu jelas cerdas, cepat menangkap sesuatu. Tapi di saat yang sama, kamu seperti anak kecil yang polos, yang masih perlu diberi tahu banyak hal. Kontrasnya itu yang… lucu.”
“Maksudnya…?” Cakra melirik sekilas, ragu.
Alih-alih menjawab, Mynhemeni justru bertanya balik, suaranya tenang namun penuh selidik.
“Kamu ingin menunjukkan apa kepadaku?” Ia lalu menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi kendaraan.
Di luar, cahaya biru kehijauan khas laut menembus jendela transparan, beriak pelan seperti langit yang bernapas. Mynhemeni sempat berpikir perjalanan satu jam ini akan terasa menyiksa. Biasanya ia hanya perlu berteleportasi atau menggunakan Vorna, sekejap dan selesai. Namun anehnya, berbincang dengan manusia darat yang berpotensi menjadi ancaman justru membuat waktu bergerak lebih ramah.
“Bekas lukaku,” jawab Cakra akhirnya. “Waktu operasi usus buntu.”
“Operasi?” Mynhemeni menoleh.
“Maksudmu… membetulkan organ dalam yang bermasalah?”
“Iya.” Nada Cakra naik sedikit.
“Kamu pasti belum pernah mengalaminya. Kalian punya Sanvar. Tanpa melakukan apa pun, tubuh kalian selalu sehat.”
Ia mengepalkan tangan.
“Kami tidak. Kami harus menahan sakit. Harus rela tubuh dipotong dan diacak-acak isinya.”
Ada iri yang tidak sepenuhnya ia sembunyikan di sana.
Mynhemeni justru tertawa, tawa lepas yang membuat bahunya naik turun pelan, seakan mereka tidak sedang berada jauh di bawah laut, di antara teknologi dan rahasia yang bisa memicu kehancuran dunia.
“Iya, ketawa aja terus…” gumam Cakra kesal.
Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke belakang, lalu merebahkan diri sepenuhnya. Di atas kepalanya, cahaya laut beriak lembut, dan untuk sesaat, ia lupa bahwa tempat ini seharusnya mustahil bagi manusia darat seperti dirinya.
“Maaf… hmmm… kamu tinggal minta Sanvar mengubah proyeksinya saja,” kata Mynhemeni sambil mengangkat tangan membuat gerakan kecil, seolah baru menyadari kebingungan Cakra.
“Sanvar akan menyesuaikan penutup tubuhmu dengan apa yang kamu minta. Dan sekarang, bentuknya ya seperti yang kamu pakai itu.” Ia melirik ke bawah.
“Sama seperti sepatumu.” Ucapan itu membuat Cakra terdiam sesaat. Baru sekarang ia ingat bagaimana beberapa waktu lalu sepatunya muncul begitu saja, seolah ia memang selalu mengenakannya.
“Oh iya… lagi-lagi aku seperti orang bodoh,” gumamnya, nyaris tanpa suara. Ia menunduk, memperhatikan kaus hijau yang menempel di tubuhnya. Dengan ragu, ia meminta Sanvar membuka bagian perut kanan bawah. Kain itu berkilau samar, lalu berubah transparan, seakan berlubang rapi mengikuti lekuk tubuhnya.
Cakra mendadak berdiri.
“Eh… eh!” Ia bahkan sempat melonjak kecil, kegirangan yang spontan dan jujur.
Namun kegembiraan itu perlahan mereda.
Ia mendekatkan wajahnya, meneliti area yang seharusnya menyimpan bekas sayatan operasi. Tidak ada garis. Tidak ada bekas jahitan. Kulitnya utuh, mulus, seolah pisau bedah tidak pernah menyentuhnya. Alisnya mengerut. Senyum di wajahnya runtuh pelan.
Beberapa jam lalu, luka itu masih ada. Bukti bahwa tubuhnya pernah dibuka, diperbaiki dengan rasa sakit. Sekarang, jejak itu lenyap begitu saja, dan entah kenapa, kehilangan lukanya itu justru meninggalkan rasa hampa yang tidak ia duga.
Ia tetap menatap perutnya, lama, sementara cahaya laut beriak lembut di sekeliling mereka, seperti dunia yang diam-diam mengingatkan bahwa tubuh Cakra tidak lagi sepenuhnya milik hukum manusia darat.
“Bajuku jadi bolong… dan… bekas lukaku beneran nggak ada,” gumam Cakra bingung. Ia masih berdiri, menunduk, menatap perut kanan bawahnya.
“Bukan bolong,” ujar Mynhemeni cepat, nada suaranya menenangkan.
“Proyeksinya saja yang transparan. Sama seperti saat kamu melihat leherku tadi.”
Cakra mengangguk pelan.
“Iya, aku paham…” Ia menarik napas, lalu menjatuhkan diri kembali duduk.
“Aku juga sebenarnya sudah nyangka lukaku bakal hilang. Tapi tetap aja sedih. Aku nggak bisa lagi pamer luka kebanggaanku ke semua orang.”
Mynhemeni mengernyit.
“Sepenting itu?” Ia benar-benar heran.
“Bukannya manusia darat justru berlomba menghilangkan bekas luka? Jerawat, sayatan, apa pun. Katanya supaya terlihat… estetik?”
“Biar dikira jagoan dan pemberani,” sahut Cakra cepat, lalu tersenyum lebar.
“Operasi itu menakutkan. Aku berhasil ngelewatinya. Jadi ya harus dipamerin.” Mynhemeni hanya mengangguk pelan. Logika itu terasa asing, tapi ia memilih menelannya. Keheningan menyelimuti kabin. Jet melaju tanpa suara, membelah lautan yang terasa seperti udara padat. Di luar, cahaya mulai meredup, dan suhu air turun beberapa derajat, pertanda mereka telah memasuki perairan dingin.
Pandangan Mynhemeni tertuju pada Cakra. Anak itu kini sibuk bereksperimen. Kaus hijau di tubuhnya berlubang lalu menutup lagi, berulang kali, mengikuti kehendaknya. Tingkahnya membuat Mynhemeni teringat pada Georu. Ada kesamaan yang sulit dijelaskan. Saat menyadari dirinya diperhatikan, Cakra melirik sekilas. Lalu kembali menatap perutnya yang mulus dan bersuara, kali ini lebih pelan.
“Aku juga belum ngerti. Kenapa baru sekarang tubuhku bereaksi kayak gini. Delapan belas tahun hidup, nggak pernah sekalipun tubuhku nyembuhin diri sendiri secepat ini.” Tingkahnya tetap memainkan Sanvar. Kini lubang tak hanya muncul di perutnya, melainkan di beberapa titik. Hingga akhirnya berhenti di punggungnya, tak beraturan, seolah kain itu disobek paksa.
“Sundal bolong,” kelakarnya, memamerkan lingkaran hijau yang terbuka di belakang punggungnya. Mynhemeni tak kuasa menahan tawa. Di tengah lautan yang dingin dan sunyi, di dalam jet yang melaju cepat menuju ketidakpastian, tawa itu terasa hangat. Dan entah disadari atau tidak, Cakra telah membuat perjalanan ini terasa jauh lebih hidup daripada yang pernah ia bayangkan.
“Harusnya kamu tambahin efek cacing, belatung, mungkin sedikit daging busuk, dan tulang belakang yang kelihatan,” kata Mynhemeni santai sambil memutar tubuh.
“Kurang lebih… seperti ini.” Ia kini sudah membelakangi Cakra. Sekejap kemudian, bagian punggung seragamnya terbuka. Bukan sekadar lubang. Daging tampak koyak, pucat kehijauan, dengan belatung putih menggeliat malas di sela-sela sesuatu yang menyerupai tulang.
Cakra langsung menutup mulutnya. Perutnya bergejolak.
“Su… sundal bolong!” ucapnya dengan suara tercekat, campuran takut dan jijik yang tak bisa ia sembunyikan.
“Lebay,” balas Mynhemeni ringan. Dalam sekejap, punggung itu kembali normal. Seragamnya rapi, bersih, seolah tidak pernah ada apa pun di sana.
Cakra menatapnya tak percaya. Lalu matanya berbinar.
“Waaaw… mirip banget sama aslinya. Coba lagi dong.” Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah mendekat. Mynhemeni mendengus kecil, lalu kembali memutar badan. Kali ini perubahan terjadi perlahan, seakan memberi waktu pada imajinasi untuk bekerja. Lubang itu terbuka lagi. Belatung muncul, bergerak malas, terlalu nyata untuk sekadar ilusi. Dengan ragu, Cakra mengulurkan tangan. Ujung jarinya menyentuh sesuatu yang licin dan kenyal.
“Ini nyata banget,” gumamnya takjub. Ia bahkan meraih satu belatung, mengangkatnya sejajar dengan wajah. Makhluk itu menggeliat, dan sensasi geli menjalar sampai ke kulit jarinya. Cakra menahan napas, memerhatikannya dengan campuran rasa ingin tahu dan jijik. Lalu, begitu saja, belatung itu menghilang.
“Hah? Kok hilang?” tanyanya bingung. Mynhemeni sudah kembali menghadap ke depan. Seragamnya utuh, tubuhnya bersih, seolah permainan barusan tak pernah terjadi.
“Itu cuma bagian sangat kecil dari Sanvarku yang memantulkan proyeksi sesuai keinginanku,” jelasnya sambil tersenyum.
“Kamu juga bisa melakukannya.” Sesaat, kenangan lama menyusup ke benak Mynhemeni. Masa kecil di asrama. Tawa teman-temannya. Permainan menakut-nakuti ala manusia darat, berlomba siapa yang paling menyeramkan.
Mirip pesta Halloween.
Di dalam jet yang melaju tenang di bawah laut, di dunia yang terasa seperti daratan, tawa kecil dan imajinasi absurd itu kembali hidup. Dan untuk sesaat, ancaman, politik, dan ketakutan terasa jauh.
Cakra memutuskan ikut bermain.
Dengan satu perintah singkat, Sanvar bangsa Porkah yang menempel di tubuhnya bergerak sendiri, berdesis halus seperti kain yang sedang bernapas. Dalam sekejap, tubuhnya terbungkus kain kusam menyerupai kafan. Warnanya tidak rata, cokelat tanah bercampur hitam dan semburat merah gelap, seolah baru digali dari liang yang lembap.
Bau tanah basah terasa samar di udara. Dari balik lipatan kain, cacing tanah merayap pelan, belatung berlendir menggeliat malas, sementara cairan merah kental menetes perlahan, terlalu pekat untuk disebut sekadar cat. Wajah Cakra ikut tenggelam dalam lapisan tanah, cacing, dan lendir, membuatnya nyaris tak dikenali.
Ia meloncat ke depan sambil terhuyung-huyung, mengeluarkan suara lirih yang dibuat-buat. Gerakannya berlebihan, seperti parodi horor murahan. Mynhemeni menatapnya tanpa mundur setapak pun. Tidak ada teriakan. Tidak ada refleks bertahan. Hanya alis yang sedikit terangkat, lebih mirip ilmuwan yang sedang mengamati spesimen aneh daripada seseorang yang sedang diancam makhluk menyeramkan.
“Apakah benar manusia darat pernah melihat makhluk seperti itu?” tanya Mynhemeni akhirnya, suaranya datar namun jelas menyimpan rasa ingin tahu.
“Aku sulit percaya kematian menghasilkan entitas baru yang bebas berkeliaran di planet ini.” Cakra tertawa kecil. Kain kafan itu menghilang, digantikan seragam SMA-nya. Kemeja putih lengan panjang kembali rapi di tubuhnya, tertutup blazer biru tua yang jatuh pas di bahu. Dasi merah bergaris emas melilit lehernya, sementara celana panjang cokelat gading membungkus kaki jenjangnya dengan presisi yang nyaris terlalu sempurna untuk ukuran pakaian sekolah. Sepatu kesayangannya tetap di sana, seperti jangkar kecil dari kehidupannya yang lama.
“Aku sih belum pernah lihat langsung,” katanya sambil merapikan dasi.
“Tapi temanku ada yang ngaku indigo. Katanya dia beberapa kali ketemu makhluk-makhluk kayak gitu.” Ia menatap Mynhemeni, menelisik, kemudian mengangguk.
"Tapi, sejak bertemu denganmu, pikiranku berubah. Sepertinya... Mungkin yang dilihat temanku adalah salah satu bangsa kalian yang sedang menyamar..." Ia menatap kembali pakaian di tubuhnya, lalu ke lengan sendiri, matanya berbinar.
“Berarti kita sebenarnya nggak perlu ganti baju ya?” gumamnya, setengah takjub.
“Alat ini bisa jadi pakaian apa pun yang kita mau.”
Other Stories
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Horor
horor ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...